Chapter Thirty Four
Bab 34 — Surat
POV: Shella
Aku menulis surat itu selama sembilan malam.
Bukan karena panjang. Karena setiap malam aku menulis, lalu membacanya pagi harinya, lalu merobeknya.
Malam pertama, aku menulis lima halaman. Paginya, aku membacanya di meja periksa sebelum puskesmas buka, dan aku menyadari bahwa empat dari lima halaman itu berisi tentang aku. Tentang perasaanku. Tentang duka yang kubekukan jadi kebencian. Tentang Ayah. Tentang betapa menyesalnya aku.
Seperti seseorang yang menabrak orang di jalan, lalu turun dari mobil dan bercerita panjang tentang betapa kagetnya ia.
Aku merobeknya.
Malam kedua, aku memulai dengan kalimat yang terasa wajar.
Arya, aku nggak tahu harus mulai dari mana.
Aku menatap kalimat itu.
Aku nggak tahu harus mulai dari mana, kataku di halaman bengkel Pak Gondo, di hari pertama. Getaran pertama dalam suara yang sudah kulatih di depan cermin. Tiga tahun ini aku marah banget sama Mas.
Kalimat yang sama. Ia akan mengenalinya. Ia mengingat semuanya.
Aku merobeknya.
Malam ketiga sampai kedelapan, aku menulis dan merobek, menulis dan merobek. Tempat sampah plastik di sudut kamar kos Bu Atin penuh dengan sobekan kertas folio bergaris.
Bu Atin melihatnya saat membersihkan kamar.
“Dokter nulis apa? Skripsi?”
“Surat, Bu.”
“Buat siapa?”
Aku tidak menjawab. Bu Atin menatap tumpukan sobekan kertas itu, lalu menatapku, lalu mengangguk dengan wajah seorang pensiunan guru yang sudah membaca terlalu banyak surat cinta murid-muridnya.
“Surat yang ditulis sembilan kali,” katanya, “biasanya cuma butuh satu kalimat.”
Bu Nengsih juga melihat.
Ia melihatku menulis di sela-sela pasien, di meja periksa, dengan kertas folio yang kusembunyikan di bawah rekam medis.
“Dok,” katanya saat istirahat siang, sambil membuka kotak bekal berisi tongkol balado yang sama. “Surat itu kail juga.”
Aku berhenti menulis.
“Kail yang dikasih umpan kata-kata,” lanjutnya. “Kerapu yang pernah kena kail, liat surat, ya liatnya kail.”
“Terus saya harus gimana, Bu? Diam aja?”
“Dokter udah diam dua minggu. Bagus.” Bu Nengsih mengunyah tongkolnya. “Tapi kadang orang perlu tahu apa yang mau diucapkan, walaupun yang dengerin nggak mau dengerin. Bukan buat yang dengerin. Buat yang ngomong.”
“Jadi saya kasih?”
“Kasih aja.” Ia mengangkat bahu. “Tapi jangan berharap dia makan umpannya. Anggap aja Dokter lempar batu ke laut. Batunya tenggelam. Lautnya nggak berubah. Tapi Dokter jadi tahu batunya udah nggak di tangan.”
Malam kesembilan, aku menulis surat yang tidak kurobek.
Aku tidak memulai dengan aku nggak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak menulis tentang perasaanku. Aku menulis seperti ia menulis di buku cokelatnya. Fakta. Satu per satu. Dengan huruf yang berusaha tegak, meski tanganku tidak stabil.
Arya.
Ini yang aku tahu sekarang.
Kamu tidak salah menghitung. Ayahku yang menyuruh Mang Udin mengganti besi enam belas dengan tiga belas, mengurangi semen, dan menjual selisihnya. Untuk gaji tukang. Untuk cicilan bank. Untuk kuliahku. Aku menemukan bukunya di kotak perkakas Ayah. Baris terakhirnya: untuk jas putih Shella.
Kamu menemukannya dua hari sebelum gedung itu runtuh. Kamu menyuruh Ayah membongkar semuanya. Ayah minta seminggu. Kamu setuju.
Kamu mengaku bersalah di sidang supaya perusahaan tidak disita, supaya Mama tidak kehilangan rumah, supaya aku tetap bisa kuliah, supaya nama Ayah tetap bersih.
Kamu mengirim uang ke Bu Sarip dan Bu Waluyo setiap tanggal sepuluh. Dari penjara. Lima puluh ribu. Dodi kuliah di politeknik dari uang itu. IP-nya tiga koma lima. Bu Sarip titip makasih.
Kamu tahu sejak hari pertama. Kamu menulisnya di buku cokelat. Seratus delapan puluh tujuh hari.
Ini yang aku lakukan.
Lalu aku menuliskannya. Semuanya. Seperti di lahan bekas ruko. Kertas di papan RT. Pagar. Kaleng biskuit. Bengkel. Daftar hitam. Kontrakan. Foto. Lampiran. Flashdisk. Surat keberatan. Beasiswa Kinan.
Ludah.
Aku menuliskannya tanpa alasan. Tanpa karena aku sedih. Tanpa karena aku kehilangan Ayah. Hanya apa yang kulakukan. Seperti daftar kerusakan di laporan teknis.
Lembar hitungan lapanganmu ada padaku. Dua puluh tiga lembar. Aku membawanya ke sini. Aku akan mengembalikannya kapan pun kamu mau.
Jaket parasutmu juga. Dari malam ketujuh.
Lalu, di bagian akhir, aku menulis satu-satunya kalimat yang bukan fakta.
Aku tidak minta dimaafkan. Aku tidak berhak. Aku cuma ingin kamu tahu bahwa aku tahu. Dan bahwa aku akan memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, satu per satu, dengan tanganku sendiri. Bahkan kalau kamu tidak mau melihatnya.
Shella.
Aku melipat surat itu. Empat halaman. Aku memasukkannya ke dalam amplop putih biasa dan menulis namanya di depan.
Arya.
Lalu aku membuka laci lemari kayu dan mengeluarkan amplop lain. Amplop yang sudah dua bulan kubawa ke mana-mana, sejak bangsal paru lantai lima. Terlipat empat. Kertasnya sudah lecek.
Surat dari Mang Udin.
Aku belum pernah membukanya. Surat itu bukan untukku.
Aku menunggunya di ujung dermaga lama, Selasa sore.
Bukan di tempatnya. Aku duduk di tiang kayu di pangkal dermaga, tempat ia duduk sore itu saat aku duduk di ujung. Supaya ia tidak perlu memilih antara berbalik atau duduk di dekatku.
Ia datang setelah sirene, seperti biasa. Ia berhenti saat melihatku.
Aku berdiri. Aku tidak mendekat. Aku mengulurkan dua amplop dengan tangan kananku, setinggi dada, jauh dari wajahnya.
“Dua surat,” kataku. “Satu dari aku. Satu dari Mang Udin.”
Ia menatap kedua amplop itu.
“Mang Udin sakit,” lanjutku. “Kanker paru. Stadium empat. Dia dirawat di bangsalku, sebelum aku lulus. Dia yang cerita semuanya. Dia nulis surat ini buat kamu. Dia minta ketemu kamu. Sebelum…”
Aku tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ia diam lama. Ombak menghantam tiang dermaga di bawah kami.
Lalu ia mengulurkan tangan. Pelan. Tangannya berhenti di udara sebentar, sejengkal dari tanganku, seolah ia sedang mengukur jarak yang aman.
Ia mengambil amplop yang lecek. Amplop Mang Udin.
Ia menatap tulisan di depannya. Tulisan tangan yang gemetar, besar-besar, miring ke kanan, dengan pulpen yang tintanya sudah hampir habis.
Untuk Mas Arya. Dari Udin. Mohon maaf lahir batin.
Rahangnya bergerak. Sedikit. Hampir tidak terlihat.
Ia memasukkan amplop itu ke saku kausnya, di dada kiri, di atas jantung.
Lalu ia menatap amplop yang satunya. Amplop putih. Arya.
Ia tidak mengambilnya.
“Aku tahu isinya, Dok,” katanya.
Aku menatapnya. “Kamu belum baca.”
“Kamu udah tahu semuanya,” katanya pelan. “Mang Udin. Buku ayahmu. Bu Sarip. Buku cokelatku. Kamu tulis semua yang kamu tahu. Terus kamu tulis semua yang kamu lakuin. Terus kamu bilang kamu nggak minta dimaafin. Terus kamu bilang kamu mau benerin.”
Aku tidak bisa bernapas.
Empat halaman. Sembilan malam. Ia menyebutkannya dalam empat kalimat, tanpa membuka amplopnya.
“Aku tahu,” katanya.
Dua kata.
Aku tahu.
Di atap parkiran gedung B, saat aku bilang aku sayang padanya, ia menjawab dengan dua kata yang sama. Aku pikir ia canggung. Aku mencubit lengannya.
Sekarang aku tahu apa artinya.
“Terus kenapa kamu nggak mau baca?” tanyaku. Suaraku pecah.
Ia menatap amplop putih itu sebentar lagi.
“Karena kalau aku baca,” katanya, “aku harus jawab.”
Ia berbalik dan berjalan ke ujung dermaga. Ke tempatnya. Ia duduk di sana, di atas papan kayu yang basah, dengan kaki menggantung di atas air. Punggungnya ke arahku.
Tangan kirinya menyentuh saku kausnya. Di dada kiri. Tempat amplop Mang Udin terselip.
Aku berdiri di pangkal dermaga dengan amplop putih di tanganku.
Lalu, karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, aku melakukan apa yang Bu Nengsih bilang. Aku berjalan ke pinggir dermaga, di sisi yang jauh darinya, dan aku menatap laut abu-abu yang marah.
Aku tidak melempar surat itu. Aku tidak bisa. Batu itu belum siap lepas dari tanganku, atau tanganku belum siap melepasnya. Aku tidak tahu yang mana.
Aku memasukkannya kembali ke tas, di samping buku cokelat tiga ribuan dan stetoskop dengan kepala dada yang mengilap.
Bu Atin sedang menyiram tanaman di halaman saat aku pulang. Ia melihat amplop putih yang masih menyembul dari tasku.
“Nggak diterima?”
“Nggak, Bu.”
“Dibalikin?”
“Nggak dibuka.”
Bu Atin meletakkan gembor plastiknya di atas tanah. Ia mengelap tangannya di daster, lalu menatapku dengan mata seorang guru yang sedang membaca jawaban ujian yang salah tapi menarik.
“Dia bilang apa?”
“Dia bilang dia udah tahu isinya.”
“Terus dia bener?”
Aku menatap amplop itu.
“Bener, Bu. Semuanya.”
Bu Atin mengangguk pelan, lalu tersenyum. Senyum kecil yang tidak kuharapkan.
“Berarti suratnya sampai, Dok,” katanya. “Nggak perlu dibuka buat sampai. Dulu murid-murid saya juga gitu. Surat cinta nggak dibalas, mereka nangis seminggu. Saya bilang, kalau dia tahu isinya tanpa baca, berarti kamu udah ngomong lewat cara lain. Lewat muka. Lewat kelakuan. Suratnya cuma kertas.”
“Tapi saya belum ngelakuin apa-apa, Bu.”
“Dokter pindah dari Jakarta ke sini. Dokter tidur di kasur kardus. Dokter beliin dia sarapan tiap pagi padahal dia nggak makan.” Bu Atin mengambil gemborannya lagi. “Itu bukan apa-apa?”
Aku tidak menjawab.
“Tapi ya,” tambah Bu Atin sambil kembali menyiram, “kalau laki-laki udah bilang aku tahu, biasanya dia juga udah tahu jawabannya. Cuma belum berani ngomong.”
Mak Ijah menceritakan sisanya padaku keesokan paginya.
“Si Diem duduk di dermaga sampai jam sembilan malem,” katanya sambil menuang kopi. “Mak liat dari jendela. Dia baca kertas. Lama. Terus dilipat. Terus dibuka lagi. Terus dibaca lagi.”
Aku memegang gelas kopi dengan dua tangan.
“Dia nangis, Mak?”
Mak Ijah menggeleng pelan.
“Nggak. Dia diem aja. Tapi pas dia lewat warung Mak mau ke mess, dia berhenti.” Mak Ijah menatapku. “Dia nanya, Mak, travel ke Jakarta paling pagi jam berapa?”
Gelas kopi di tanganku berhenti di tengah jalan.
“Mak bilang jam empat subuh, dari terminal. Dia bilang makasih.” Mak Ijah duduk di sebelahku. “Terus tadi pagi Mak liat dia jalan ke terminal. Bawa ransel. Pakai kemeja. Kemeja abu-abu yang ujung lengannya ditambal.”
Kemeja abu-abu.
Ia membawanya. Dari Jakarta. Ke sini. Kemeja yang kuberikan, yang ia pakai saat dipecat, saat wawancara sertifikasi, saat aku meludahinya.
Ia masih menyimpannya.
“Ke Jakarta,” kataku pelan.
“Iya. Katanya ada yang harus dia temuin. Orang sakit.” Mak Ijah menepuk lututku. “Neng tahu siapa?”
Aku mengangguk pelan, tanpa bisa bicara sepatah kata pun.
Aku tahu siapa. Aku tahu di mana. Ruang perawatan paliatif lantai tujuh, atau mungkin sudah pulang ke rumahnya di Bekasi, menunggu waktunya tiba.
Mang Udin ingin minta maaf sebelum mati.
Dan ia pergi. Subuh-subuh. Dengan travel jam empat. Dengan kemeja abu-abu.
Untuk memaafkan orang yang menjual besi di gedung yang ia akui sendiri ia hitung salah.
Aku membuka buku cokelat.
Hari ke-87. Dia ambil surat Mang Udin. Dia tidak ambil suratku. Dia bilang: aku tahu isinya.
Dia benar. Dia selalu tahu.
Dia bilang: kalau aku baca, aku harus jawab.
Pagi ini dia ke Jakarta. Ke Mang Udin. Pakai kemeja abu-abu.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu aku menambahkan satu baris.
Dia bisa memaafkan Mang Udin. Dia belum bisa memaafkan dirinya sendiri.
Mungkin itu yang harus aku tebus duluan. Bukan diriku. Dia.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat reading
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365