Chapter Forty Five
Bab 45 — PEMBUNUH
POV: Shella
Deretan rumah petak di ujung gang hijau itu masih milik perusahaan cangkang yang kubayar.
Mbak Dewanti menemukan aktanya di antara dokumen-dokumen yang dikirim Pak Hadi. Enam unit rumah petak. Atas nama sebuah perusahaan properti yang direkturnya orang yang dibayar untuk tanda tangan.
“Lima unit lain masih disewakan,” kata Mbak Dewanti di telepon. “Dengan harga yang dinaikkan. Penghuninya protes, tapi tidak punya pilihan.”
“Turunin, Mbak. Balikin ke harga Bu Romlah.”
“Bisa. Unit paling ujung?”
Unit paling ujung. Kontrakan hijau. Dua ruangan. Kipas angin yang berputar malas di atas lemari. Pot lidah buaya di teras.
“Kosong,” kata Mbak Dewanti. “Sejak mereka pindah. Agennya bilang mau dijadikan gudang, tapi tidak pernah jadi.”
“Bisa diserahkan ke orang lain? Hibah?”
“Ke siapa?”
“Kinan Mahesa.”
Mbak Dewanti diam sebentar.
“Dia di bawah umur,” katanya. “Hibah ke anak di bawah umur perlu persetujuan dan tanda tangan walinya.”
“Walinya Arya.”
“Iya.”
Aku menatap langit-langit kamar kos.
“Siapin aja dokumennya, Mbak. Kosongkan bagian tanda tangan wali. Kalau dia mau, dia tanda tangan. Kalau nggak, biar kosong.”
“Mbak Shella,” kata Mbak Dewanti. “Sudah berapa dokumen yang Mbak siapkan dengan kolom tanda tangan yang kosong?”
Akta bengkel, dengan nama Pak Gondo yang masih tertulis di kolom penerima, karena Pak Gondo menolaknya. Hibah rumah, dengan kolom wali yang kosong. Dan suatu hari nanti, kalau ia mau, permohonan peninjauan kembali.
“Tiga,” kataku.
“Semuanya menunggu tanda tangan yang sama,” kata Mbak Dewanti.
“Iya.”
Aku pergi ke gang hijau itu hari Sabtu, dua minggu setelah Riko menyiramku dengan air cucian.
Aku tidak pergi ke papan pengumuman. Kertas yang kutempel masih ada di sana, sedikit pudar karena gerimis, tapi tidak dicopot. Seseorang menambahkan selotip di salah satu sudutnya yang mulai lepas.
Aku berjalan ke ujung gang. Ke unit paling ujung.
Pot lidah buaya di teras sudah kering. Daunnya cokelat dan keriput. Pintunya dikunci dengan gembok baru yang dipasang agen perusahaan.
Dan di dinding depan rumah itu, di samping jendela, di cat hijau muda yang sudah kusam, ada tulisan.
Cat semprot merah. Huruf kapital. Masing-masing setinggi lenganku.
PEMBUNUH.
Aku berdiri di depan tulisan itu.
Aku tidak tahu kapan ditulis. Mungkin setelah Jejak Perkara tayang. Mungkin setelah video di pasar viral. Mungkin malam setelah ia pergi, saat rumah ini sudah kosong dan tidak ada lagi yang bisa disakiti, dan seseorang tetap ingin meninggalkan pesan.
Huruf P-nya ditekan paling tebal. Catnya meleleh di bawah huruf itu, membentuk garis-garis merah tipis yang mengalir ke bawah seperti air mata.
Seperti darah.
Aku menatapnya lama.
Lalu aku membuka tas ranselku dan mengeluarkan semua yang kubeli di toko bangunan di jalan raya Cipayung pagi tadi. Thinner. Sikat kawat. Kerokan. Amplas, tiga nomor: dua ratus, empat ratus, delapan ratus. Sarung tangan karet. Masker.
Aku tidak tahu nomor amplas yang benar. Aku memilih nomor yang sama dengan yang ia pakai untuk meja Kinan. Bu Hastuti menceritakannya pada Kinan. Kinan menceritakannya padaku, di gerbang sekolah, sambil menangis.
Dia amplas mejaku sendiri, Kak. Dua puluh menit.
Aku memakai sarung tangan.
Aku mulai.
Thinner tidak cukup.
Cat semprot itu sudah meresap ke cat dinding yang lama, dan cat dinding yang lama sudah meresap ke plester. Thinner hanya membuat merahnya menjadi merah muda yang berlumuran, menyebar lebih luas dari huruf aslinya.
Sikat kawat mengangkat sebagian. Kerokan mengangkat sebagian lagi. Di bawahnya, plester abu-abu, dan di bawah plester itu, merah yang lebih samar, yang menolak pergi.
Aku mengamplas.
Nomor dua ratus dulu. Untuk mengangkat lapisan. Debu merah dan debu plester abu-abu jatuh ke tanah di depan teras, ke pot lidah buaya yang kering, ke sepatuku.
Satu jam. Dua jam.
Tanganku perih. Jari-jariku, meski di dalam sarung tangan karet, mulai melepuh di pangkal. Bahuku sakit karena terus terangkat. Punggungku sakit karena berdiri miring di teras yang sempit.
Orang-orang lewat.
Bu Darsih lewat dengan ember cucian. Ia berhenti, menatapku, lalu berjalan lagi tanpa bicara.
Pak Rahmat lewat dengan sarung dan rokok. Ia berhenti lebih lama. Ia menatap dinding itu, lalu menatapku, lalu mendengus dan pergi.
Anak-anak kecil berkumpul di ujung teras. Mereka menatapku dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan. Salah satunya, anak laki-laki kecil mungkin enam tahun, dengan sandal jepit yang talinya sudah diperbaiki dengan paku kecil.
“Tante ngapain?” tanyanya.
“Ngapus tulisan.”
“Tulisan apa?”
Aku menatap dinding itu. Huruf P dan E sudah hilang. Huruf M dan B masih samar. U, N, U, H masih jelas.
“Tulisan yang salah,” kataku.
Anak itu menatap sandalnya.
“Om yang tinggal di situ yang benerin sandal aku,” katanya. “Ibu bilang Om itu orang baik. Ibu bilang Ibu salah ngomong.”
Aku berhenti mengamplas.
Ibu pemilik warung. Ia menepati janjinya. Untuk anaknya. Bukan untukku.
“Ibumu bener,” kataku pelan. “Om itu orang baik.”
Aku datang lagi hari Minggu. Lalu Sabtu berikutnya. Lalu Minggu berikutnya.
Empat hari, di empat akhir pekan, dengan travel jam empat subuh dari Pelabuhanratu dan travel malam kembali.
Mitha datang di akhir pekan kedua. Ia berdiri di depan teras, melihatku mengamplas dengan wajah penuh debu plester, dan menghela napas panjang.
“Lo bisa bayar tukang, Shel.”
“Bisa.”
“Terus kenapa nggak?”
Aku tidak menjawab. Aku terus mengamplas.
Mitha menatapku lama. Lalu ia meletakkan tasnya di teras, mengambil sepasang sarung tangan karet dari ranselku, memakainya, dan mengambil amplas nomor empat ratus.
“Gue bagian bawah,” katanya. “Gue pendek.”
Ia mengamplas bersamaku sampai sore, sambil mengeluh tentang residen internsipnya, tentang pasien yang menyebutnya dokter galak, tentang harga cilok yang naik. Ia tidak sekali pun bertanya kenapa aku tidak membayar tukang.
Di akhir pekan ketiga, Riko datang.
Riko, lima belas tahun, yang menyiramku dengan air cucian. Ia berdiri di ujung teras dengan tangan di saku celana pendek dan wajah yang tidak tahu harus berekspresi apa.
Ia menatapku mengamplas. Lama.
Lalu ia pergi.
Satu jam kemudian, ia kembali. Membawa tangga bambu dari rumahnya. Ia menyandarkannya ke dinding, di bagian atas, tempat huruf U terakhir masih samar dan aku tidak bisa menjangkaunya tanpa berjinjit.
“Biar nggak jatoh,” katanya. Tidak menatapku.
Lalu ia memegangi tangga itu sementara aku naik dan mengamplas.
Ia tidak bilang maaf. Aku tidak bilang terima kasih. Kami tidak bicara sama sekali selama dua jam.
Saat aku turun, ia menatap dinding itu.
“Udah ilang,” katanya.
Udah ilang.
Di dinding itu sekarang hanya ada plester abu-abu yang diamplas sampai halus, dengan sedikit bayangan merah muda yang sangat samar kalau dilihat dari dekat. Seperti bekas luka yang sudah sembuh tapi masih kelihatan kalau kau tahu harus melihat ke mana.
Di akhir pekan keempat, aku mengecatnya.
Cat dasar putih dulu. Lalu cat hijau muda. Warna yang sama persis dengan yang dulu, yang kucocokkan di toko cat dengan potongan kecil plester yang kukerok dari pojok bawah dinding.
Riko memegangi tangga lagi. Kali ini ia juga memegang kuas.
Saat cat terakhir selesai, matahari sudah turun. Gang itu mulai gelap.
Aku menatap dinding itu. Hijau muda. Bersih. Seperti tidak pernah ada apa-apa di sana.
Lalu aku menatap ke tengah gang. Ke tiang listrik dengan satu lampu jalan yang mati.
Aku sudah menelepon Pak RT dua minggu lalu. Pak RT bilang anggarannya belum turun. Aku sudah bertanya pada tukang listrik di toko bangunan. Ia menjelaskan padaku tentang fitting lampu, tentang kabel yang longgar, tentang sekring di kotak sambungan. Ia menggambar diagramnya di kertas bungkus paku.
Aku sudah membeli bohlam baru.
“Riko,” kataku. “Bisa pegang tangganya sekali lagi?”
Riko menatap tiang listrik itu. Lalu menatapku.
“Om Arya dulu juga gini,” katanya. “Jam sepuluh malem. Naik tangga sendiri. Nggak ada yang pegangin.”
“Iya.”
“Aku liat dari jendela.” Ia menunduk. “Aku nggak pernah bantuin.”
Ia mengangkat tangga bambu itu dan menyandarkannya ke tiang listrik.
Butuh empat puluh menit. Aku salah mengencangkan kabel dua kali. Sekali aku hampir jatuh, dan Riko berteriak dan memeluk kaki tangga dengan seluruh badannya.
Lalu, akhirnya, aku memutar bohlam itu ke fittingnya, dan turun, dan Riko membuka sekring di kotak sambungan seperti yang kuajarkan dari gambar di kertas bungkus paku.
Lampu itu menyala.
Kuning. Hangat. Tidak berkedip.
Cahayanya jatuh di tengah gang hijau, di atas tanah yang becek, di atas teras rumah petak paling ujung dengan dinding yang baru dicat.
Anak-anak kecil yang tadi berkumpul di ujung teras bersorak. Pintu-pintu rumah terbuka. Bu Darsih menjulurkan kepala. Pak Rahmat berdiri di terasnya dengan rokok di bibir, menatap lampu itu.
Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ia mengangguk sekali. Pada lampu itu. Bukan padaku.
Aku menatap lampu itu.
Lalu aku melihat seseorang berdiri di mulut gang.
Seragam putih abu-abu. Tas sekolah di bahu. Kacamata berbingkai hitam yang terlalu besar, memantulkan cahaya lampu jalan.
Kinan.
Ia tidak mendekat. Ia berdiri di mulut gang, di samping papan pengumuman, dan menatap lampu jalan itu.
Lalu ia menatap dinding hijau muda di ujung gang.
Lalu ia menatapku.
Aku tidak bergerak ke arahnya. Aku tetap berdiri di bawah tiang listrik, dengan tangan yang melepuh di dalam sarung tangan karet dan wajah yang penuh debu plester.
Kinan berjalan pelan ke tengah gang. Ia berhenti di bawah lampu. Satu meter dariku.
“Dita bilang Kakak di sini tiap akhir pekan,” katanya. “Sebulan.”
“Iya.”
“Ngapus tulisan.”
“Iya.”
“Pakai amplas.”
“Iya.”
Kinan menatap dinding itu.
“Nomor berapa?”
“Dua ratus. Empat ratus. Delapan ratus.”
Kinan diam lama.
“Itu nomor yang Kak Arya pakai,” katanya pelan. “Buat mejaku.”
“Aku tahu.”
Kinan menatapku. Matanya di balik kacamata itu basah, tapi tidak ada air mata yang jatuh.
“Kak Arya telepon aku,” katanya.
Aku menahan napas.
“Tiga minggu lalu. Kamis malam. Jam satu pagi. Pertama kali sejak dia pergi.” Suara Kinan bergetar. “Dia nanya nilaiku. Aku bohong. Aku bilang baik. Dia bilang, ranking sebelas, Kinan. Aku nggak tahu dia tahu dari mana.”
Aku diam.
“Dia marah,” kata Kinan. “Dia nggak pernah marah sama aku. Sekali pun. Dari aku kecil. Dia marah, Kak. Bukan teriak. Suaranya pelan. Tapi marah.” Kinan menghapus matanya dengan punggung tangan. “Dia bilang, kamu nggak boleh berhenti gara-gara Kakak. Kakak nggak mau jadi alasan kamu berhenti. Dia bilang aku harus ke Pelabuhanratu. Tiap Sabtu. Dia mau liat aku belajar.”
Aku menatapnya.
“Aku udah ke sana tiga kali,” lanjut Kinan. “Naik travel. Dia jemput di terminal. Kita belajar di warung Mak Ijah sampai sore. Dia ngajarin aku fisika pakai saus sambel di piring.” Kinan tertawa kecil, pecah. “Kakak di sini tiap Sabtu. Aku di sana tiap Sabtu. Kita nggak pernah ketemu.”
“Itu bagus, Kinan.”
“Kakak yang bilang ke dia,” kata Kinan. Bukan pertanyaan.
“Iya,” kataku. “Maaf. Aku tahu kamu nggak mau dia tahu.”
Kinan menatapku lama.
“Kakak nggak bilang ke kelasku kali ini,” katanya. “Kakak bilang ke dia. Cuma ke dia.”
“Iya.”
Ia menatap lampu jalan di atas kami. Cahayanya kuning dan hangat, dan tidak berkedip.
“Lampunya,” kata Kinan.
“Riko yang buka sekringnya.”
Kinan menoleh ke arah Riko, yang berdiri di samping tangga bambu dengan wajah malu-malu. Riko mengangkat tangan sedikit, seperti melambai, lalu menurunkannya cepat-cepat.
Kinan menatapku lagi.
“Makasih,” katanya. Hampir tidak terdengar. “Lampunya.”
Ia berbalik dan berjalan pergi ke mulut gang, sebelum aku sempat menjawab.
Aku tidak menyusulnya.
Di travel malam menuju Sukabumi, dengan tangan yang dibalut plester di setiap jari, aku membuka buku cokelat.
Hari ke-170. Dinding hijau. Empat akhir pekan. Amplas 200, 400, 800.
Mitha bantu. Riko pegang tangga.
Lampu jalan menyala. Tidak berkedip.
Kinan datang. Dia bilang Arya telepon tiga minggu lalu. Arya marah. Kinan ke Pelabuhanratu tiap Sabtu. Arya mengajarinya fisika pakai saus sambal.
Kami bertukar kota tiap akhir pekan tanpa tahu.
Kinan bilang makasih. Untuk lampunya.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu aku membuka map dari Mbak Dewanti yang ada di ranselku. Akta hibah rumah petak paling ujung. Atas nama Kinan Mahesa. Kolom tanda tangan wali kosong.
Aku tidak memberikannya pada Kinan malam itu.
Aku menyimpannya.
Belum waktunya, aku menulis. Kalau dipaksa, retak.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH reading
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365