← Hukuman Kedua

Chapter Sixteen

Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja

POV: Arya

Pemilik proyek ruko di jalan raya Bogor menelepon hari Senin pukul enam pagi.

Namanya Pak Rusdi. Pengusaha kain dari Tanah Abang yang membangun ruko pertamanya untuk anak laki-lakinya. Ia jarang ke proyek. Ia lebih sering menelepon mandor.

Ia tidak pernah meneleponku sebelumnya, kecuali sekali, waktu aku meneleponnya lebih dulu soal kolom yang retak.

“Mas Arya,” katanya. Suaranya tidak enak. “Kolom yang Mas bilang itu. Saya suruh orang cek. Konsultan dari luar. Bener retak. Katanya kalau lantai dua jadi dicor minggu kemarin, kolomnya bisa gagal. Sudah dibongkar. Dicor ulang.”

“Syukur, Pak.”

“Saya berterima kasih, Mas. Sungguh.”

Ia diam sebentar. Aku mendengar napasnya. Aku tahu kalimat berikutnya sebelum ia mengucapkannya.

“Tapi Mas jangan datang lagi ke proyek, ya.”

“Iya, Pak.”

“Anak saya liat video itu. Di TikTok. Calon penyewa ruko juga ada yang nanya. Katanya takut bangunannya dikerjain sama… ya. Mas ngerti, kan.”

“Ngerti, Pak.”

“Upah minggu ini saya transfer penuh. Plus sedikit. Buat terima kasih soal kolom.”

“Nggak usah, Pak.”

“Udah saya transfer.”

Ia menutup telepon.

Aku duduk di anak tangga besi di depan kamar kos dengan ponsel di tangan. Di bawah, mesin cuci laundry Cik Lani mulai berputar. Bunyinya seperti gerinda yang tumpul.

Kolom itu selamat. Aku tidak.

Itu pertukaran yang adil. Kolom itu akan menahan beban dua lantai dan sebuah keluarga yang tinggal di atasnya selama tiga puluh tahun. Aku hanya kehilangan seratus dua puluh ribu sehari.

Aku menulis angka itu di buku cokelat. Lalu aku menulis satu kalimat di bawahnya.


Wali kelas Kinan menelepon hari Rabu pukul sepuluh pagi.

Bu Hastuti. Guru kimia. Orang yang dulu mendaftarkan Kinan ke olimpiade dan menangis waktu Kinan menang. Suaranya di telepon pelan dan hati-hati.

“Pak Arya bisa ke sekolah? Hari ini, kalau bisa.”

Aku tidak punya pekerjaan untuk ditinggalkan. Aku sampai di sekolah dalam empat puluh menit, naik angkot dua kali.

Bu Hastuti menunggu di ruang BK. Kinan tidak ada di sana.

“Kinan di UKS,” kata Bu Hastuti sebelum aku sempat bertanya. “Dia nggak apa-apa. Fisiknya nggak apa-apa.”

Lalu ia menunjukkan foto di ponselnya.

Meja Kinan. Meja kayu di baris kedua dekat jendela. Aku tahu meja itu. Aku pernah datang ke sekolah ini untuk mengambil rapor, dan Kinan menunjuk mejanya dengan bangga. Di situ aku duduk, Kak. Paling deket papan. Biar nggak ketinggalan.

Di permukaan meja itu, seseorang menulis dengan spidol permanen hitam. Huruf besar. Ditekan keras sampai tintanya meresap ke serat kayu.

ADIK PEMBUNUH.

Di bawahnya, lebih kecil.

Hati-hati kalau dia bikin larutan. Bisa meledak kayak gedung kakaknya.

Aku menatap foto itu.

“Sudah tiga hari,” kata Bu Hastuti. “Sejak video itu viral. Ada yang sebar potongan videonya di grup kelas. Ada yang bikin stiker WhatsApp pakai muka Bapak dari video itu, terus dikasih tulisan. Kinan nggak pernah lapor. Saya tahu dari teman sebangkunya.”

“Pelakunya siapa, Bu?”

“Kami sedang cari. Tapi Pak…” Ia ragu. “Masalahnya bukan satu atau dua anak. Masalahnya sudah satu angkatan. Anak-anak itu cuma ikut-ikutan. Mereka nggak tahu apa-apa. Mereka cuma lihat video.”

Aku mengangguk.

“Kinan masih mau sekolah?”

Bu Hastuti menatapku lama.

“Tadi pagi dia nangis di UKS. Dia bilang dia mau pindah. Atau berhenti.” Ia menurunkan suaranya. “Tiga bulan lagi ujian, Pak. Dan nilai rapornya penting buat jalur prestasi. Buat beasiswanya juga.”

“Mejanya boleh saya bersihkan, Bu?”

Bu Hastuti menatapku. “Spidol permanen, Pak. Sudah dicoba pakai macam-macam.”

“Saya bawa amplas.”

Aku selalu membawa amplas di tas. Kebiasaan bengkel.

Kelas Kinan kosong. Anak-anaknya sedang olahraga di lapangan. Aku berdiri di depan meja di baris kedua dekat jendela, dan aku membaca tulisan itu sekali lagi dari dekat. Hurufnya miring ke kanan. Ditulis oleh tangan kanan. Ditekan paling keras di huruf P.

Aku mulai mengamplas.

Amplas nomor dua ratus dulu, untuk mengangkat lapisan tinta. Lalu nomor empat ratus. Lalu delapan ratus, supaya permukaannya halus lagi dan tidak melukai lengan Kinan saat ia menulis. Serbuk kayu dan tinta hitam jatuh ke lantai. Aku mengumpulkannya dengan tangan dan membuangnya ke tempat sampah di pojok kelas.

Butuh dua puluh menit. Mejanya sekarang punya lekukan tipis yang warnanya lebih terang dari bagian lain.

Tapi tulisannya hilang.


Kinan duduk di ranjang UKS dengan seragam yang kusut. Kacamatanya dilepas, diletakkan di pangkuan. Matanya bengkak.

Saat aku masuk, ia memalingkan wajah ke jendela.

“Ayo pulang,” kataku.

Ia tidak menjawab. Ia memakai kacamatanya, mengambil tasnya, dan berjalan keluar lebih dulu. Ia tidak menungguku. Ia tidak menoleh.

Di sepanjang lorong sekolah, anak-anak berseragam putih abu-abu menatap kami. Mereka berbisik. Beberapa menutup mulut sambil tertawa. Seorang anak laki-laki di depan kelas XI mengangkat ponselnya ke arahku.

Aku tidak menutupi wajahku.

Kinan berjalan lebih cepat.


Ia tidak bicara di angkot. Ia tidak bicara saat kami naik tangga besi ke kamar kos. Ia tidak bicara saat aku memanaskan nasi dan menggoreng telur, dan meletakkan piringnya di depan kasur lipat.

Ia tidak menyentuh piring itu.

Aku duduk di tikar di lantai, di ruang sempit di tengah kamar. Di bawah, mesin pengering laundry berbunyi. Dari jendela, cahaya sore masuk miring dan jatuh di dinding, di atas piagam-piagam yang Shella gantung minggu lalu.

Piagam olimpiade kimia. Piagam beasiswa.

“Kinan,” kataku. “Makan.”

“Nggak laper.”

“Dari pagi belum makan.”

“Kakak nggak tahu aku makan apa nggak.”

“Bu Hastuti bilang.”

Kinan tertawa. Pendek. Tajam. Bukan tawa.

“Bu Hastuti bilang,” ulangnya. “Bu Hastuti bilang apa lagi? Bilang aku nangis di UKS? Bilang aku mau pindah sekolah? Bilang semua orang di kelas manggil aku adik pembunuh?”

“Kinan—”

“Tiga hari, Kak.” Suaranya naik. Ia duduk tegak di kasur lipat, tangannya mencengkeram selimut. “Tiga hari aku duduk di meja itu. Tulisannya nggak bisa diapus. Spidol permanen. Aku gosok pakai tisu basah, pakai alkohol, pakai penghapus. Nggak ilang. Aku duduk di atas tulisan itu tiga hari. Semua orang liat. Guru-guru liat. Nggak ada yang ngomong apa-apa sampai temen sebangkuku lapor.”

Aku diam.

“Mereka bikin stiker muka Kakak. Kakak tahu nggak? Muka Kakak dari video itu, dikasih tulisan bangunan siapa yang mau dirobohin hari ini? Terus dikirim ke grup kelas. Tiap jam. Tiap ada yang ngomong, ada yang bales pakai stiker itu.”

Kinan menangis sekarang. Ia tidak mengusap air matanya. Ia membiarkannya jatuh.

“Aku juara olimpiade, Kak. Aku ranking satu dari kelas sepuluh. Aku nggak pernah bolos. Aku nggak pernah nyontek. Tapi sekarang aku cuma adik pembunuh. Itu aja. Itu nama aku sekarang.”

“Maaf,” kataku.

“Maaf?” Kinan berdiri dari kasur lipat. Ia berdiri di depanku, dan karena aku duduk di lantai, ia menjulang di atasku. Untuk pertama kalinya sejak ia lahir, adikku terlihat lebih besar dariku. “Maaf? Kakak selalu bilang maaf! Maaf, nggak apa-apa, udah, nanti dicari lagi! Kakak nggak pernah ngelawan! Kakak nggak pernah bilang itu bukan salah Kakak!”

“Kinan.”

“Kakak tahu nggak, aku nggak pernah percaya Kakak salah hitung? Dari awal! Dari sidang! Kakak itu orang yang ngitung uang belanja sampai ke perak. Kakak ngitung dosis obat Ibu sampai ke miligram. Kakak nggak mungkin salah hitung gedung!” Suaranya pecah. “Tapi Kakak ngaku. Kakak berdiri di depan hakim terus bilang semua salah Kakak. Kenapa? Kenapa Kakak ngaku?”

Aku menatap adikku.

Ada jawaban untuk pertanyaan itu. Jawaban itu tidak bisa kuucapkan. Tidak padanya. Tidak pada siapa pun.

Aku diam.

Kinan menatapku dengan wajah basah dan merah. Ia menunggu. Lima detik. Sepuluh. Lalu aku melihat sesuatu di matanya padam. Sesuatu yang selama ini ia simpan untukku, yang bertahan dua tahun selama aku di penjara, yang bertahan melewati kertas A4 dan kontrakan dan kos di atas laundry.

Padam.

“Kenapa Kakak nggak mati aja di penjara?”

Kalimat itu keluar pelan. Tidak berteriak. Seperti sesuatu yang sudah lama ia pikirkan dan akhirnya ia izinkan untuk keluar.

“Kalau Kakak mati di penjara,” lanjutnya, “orang-orang bakal kasihan sama aku. Bukan ngeledek. Aku bakal jadi adik dari orang yang udah nebus dosanya. Bukan adik pembunuh yang masih jalan-jalan di pasar.”

Ia mengambil tas sekolahnya. Ia memakai sandal jepit yang talinya kuperbaiki bulan lalu.

“Aku nginep di rumah Dita,” katanya. “Jangan cari aku.”

Pintu kamar kos tertutup.

Aku mendengar langkahnya di tangga besi. Cepat. Lalu suara pintu laundry di bawah. Lalu tidak ada.


Aku tidak menyusulnya.

Dita teman sebangkunya. Rumahnya dua gang dari sini. Orang tuanya baik. Ibunya pernah membawakan kami rendang saat Lebaran. Kinan akan aman di sana malam ini.

Aku duduk di tikar.

Piring nasi dan telur goreng masih di depan kasur lipat yang kosong. Telurnya sudah dingin. Minyaknya mulai membeku menjadi lapisan putih tipis di pinggir piring.

Aku menatap piagam-piagam di dinding.

Kenapa Kakak ngaku?

Aku memikirkan ambulans. Bau darah dan debu semen. Tangan Pak Hendra yang mencengkeram lenganku. Suaranya yang tinggal setengah.

Aku berhenti memikirkannya.

Ponselku bergetar di saku. Shella.

Mas, udah makan? Besok aku jaga malam. Lusa aku ke sana ya. Bawa martabak.

Aku membaca pesan itu. Aku tidak membalasnya.


Malam itu aku tidak masuk ke kamar.

Aku duduk di anak tangga besi paling atas, di depan pintu kamar kos, dengan punggung bersandar ke dinding. Udara malam bau deterjen dan asap knalpot. Lampu papan nama laundry berkedip di bawah. CIK LANI LAUNDRY KILOAN — CEPAT, BERSIH, WANGI.

Di dalam kamar, kasur lipat Kinan kosong. Aku tidak bisa tidur di ruang yang begitu sempit dengan sesuatu yang begitu kosong.

Pukul sebelas, Cik Lani menutup laundry. Ia naik tangga untuk menjemur di atap, membawa ember besar penuh cucian basah. Ia melihatku duduk di anak tangga.

“Kok di luar?”

“Cari angin, Cik.”

Ia menatapku lama. Lalu ia meletakkan embernya, masuk ke ruang kecil di samping tangga, dan keluar lagi membawa segelas teh hangat dalam gelas plastik.

“Minum,” katanya. “Angin malem nggak bikin kenyang.”

Ia tidak bertanya apa pun. Ia naik ke atap, menjemur, lalu turun lagi dan masuk ke rumahnya di belakang laundry. Lampunya mati pukul dua belas.

Aku memegang gelas teh itu sampai dingin. Lalu aku meminumnya. Tehnya manis. Aku meminumnya sampai habis.

Pukul satu, aku membuka buku cokelat.

Aku membaca catatan-catatanku dari awal. Tidak semuanya. Hanya beberapa. Aku membacanya di bawah cahaya papan nama laundry yang berkedip, merah, biru, merah, biru.

Lalu aku menulis catatan hari ini. Lebih panjang dari biasanya. Tiga baris.

Aku menutup bukunya.

Pukul tiga, hujan turun. Gerimis tipis yang tidak cukup untuk membuatku masuk. Aku duduk di sana dan membiarkannya membasahi bahuku.

Pukul empat lewat tiga puluh, azan subuh terdengar dari masjid di ujung gang. Suara muazinnya tua dan serak, dan pengeras suaranya berdengung.

Aku berdiri. Lututku kaku. Punggungku dingin.

Aku turun tangga, berjalan ke masjid, mengambil wudu di keran yang airnya sangat dingin, dan salat di saf paling belakang.

Saat sujud terakhir, aku tidak meminta apa-apa.

Aku sudah lama berhenti meminta. Aku hanya menempelkan dahiku ke lantai masjid yang dingin dan diam di sana, sedikit lebih lama dari biasanya, sampai imam mengucapkan salam dan orang-orang di depanku mulai berdiri.

Lalu aku pulang, mencuci piring nasi dan telur yang sudah dingin, dan menyiapkan sarapan untuk Kinan.

Kalau ia pulang, ia akan lapar.