Chapter Forty Seven
Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
POV: Shella
Idenya dari Kinan.
Ia meneleponku hari Rabu malam. Bukan pesan. Telepon. Pertama kalinya Kinan meneleponku sejak hari ia meneleponku dengan suara anak tujuh belas tahun yang ketakutan, meminta aku mencari orang yang bisa meminjamkan uang untuk bengkel Pak Gondo.
“Kak,” katanya. “Minggu depan Kak Arya ulang tahun.”
Aku diam.
Aku tahu. Aku tahu tanggalnya. Hari ke-97. Kue tart cokelat dengan lilin dua batang. Kemeja abu-abu muda. Dua puluh tiga foto.
“Tahun lalu Kakak yang rayain,” kata Kinan.
“Iya.”
“Palsu.”
“Iya.”
Kinan diam sebentar di ujung telepon. Aku mendengar suara televisi di belakangnya. Suara ibu Dita memanggil seseorang untuk makan.
“Sebelum itu, dia nggak pernah ngerayain,” kata Kinan. “Sejak Ibu meninggal. Tiap tahun dia pura-pura lupa. Satu-satunya ulang tahun yang dia rayain dalam sepuluh tahun itu yang palsu.”
Aku memejamkan mata.
“Aku mau bikin yang beneran,” kata Kinan. “Di Pelabuhanratu. Sabtu. Di warung Mak Ijah. Kecil aja.”
“Kinan, aku nggak tahu apa aku…”
“Aku nggak minta Kakak yang bikin,” potong Kinan. “Aku yang bikin. Aku udah ngomong sama Mak Ijah. Sama Asep. Aku cuma…” Ia berhenti. “Aku cuma mau Kakak dateng.”
Aku menatap dinding kamar kos yang hijau muda.
“Kenapa?”
Kinan diam lama.
“Karena Kakak yang bikin ulang tahun dia jadi palsu,” katanya pelan. “Kakak juga yang harus liat ulang tahun dia jadi beneran.”
Aku tidak tahu harus memberi apa.
Semua yang pernah kuberikan padanya adalah pisau. Kopi manis. Kemeja. Kue tart. Pelukan. Setiap kebaikanmu dulu itu pisau.
Kopi hitam di dermaga itu satu-satunya yang bukan. Dan aku tidak berani mengulanginya, karena aku takut kalau diulang, ia akan berubah jadi rutinitas, dan rutinitas akan berubah jadi rencana, dan rencana adalah sesuatu yang pernah kupakai untuk menghancurkannya.
Kinan yang memberiku ide.
“Kotak Bapak,” katanya di telepon, Kamis malam. “Yang merah. Kak Arya ninggalin buat aku. Di dalemnya ada barang-barang Kak Arya dari kuliah. Jangka. Penggaris skala. Pensil-pensil gambar. Rapido. Semuanya udah karatan. Dia nggak pernah buka sejak sertifikatnya dicabut.”
“Kamu mau kasih itu?”
“Aku mau Kakak yang benerin,” kata Kinan. “Biar dia bisa pakai lagi. Kalau suatu hari dia mau.”
Aku menatap tanganku. Jari-jari yang masih ada bekas lepuh dari amplas.
“Aku nggak ngerti alat gambar teknik, Kinan.”
“Kak Arya juga nggak ngerti stetoskop,” kata Kinan. “Dia benerin juga.”
Kinan menitipkan kotak kecil itu lewat travel hari Jumat pagi.
Kotak kayu tipis, sudah kusam, dengan engsel yang berkarat. Di dalamnya, di atas busa yang sudah mengeras dan menguning, terbaring alat-alat gambar. Jangka dengan ujung yang tumpul dan sekrup yang macet. Penggaris skala segitiga yang angkanya mulai pudar. Tiga rapido dengan tinta yang sudah mengering di ujung jarumnya. Pensil mekanik dengan grip karet yang sudah lengket.
Di tutup kotak, di bagian dalam, ada tulisan dengan spidol yang sudah memudar.
Arya Mahesa. Teknik Sipil. Angkatan—
Tahunnya sudah tidak terbaca.
Aku menghabiskan Jumat malam dengan kotak itu di meja kamar kos.
Aku tidak tahu caranya. Aku mencari di internet. Aku menonton video tentang cara membersihkan rapido yang tintanya mengering. Rendam dengan air hangat dan sedikit sabun. Dorong kawatnya pelan-pelan dengan jarum halus. Jangan dipaksa, nanti patah.
Aku merendamnya. Aku menunggu. Aku mendorong kawatnya pelan-pelan, dengan jarum suntik bekas yang kuminta dari Bu Nengsih.
Dua rapido berhasil. Satu patah.
Aku membersihkan karat di sekrup jangka dengan minyak dan sikat gigi bekas. Aku mengamplas ujungnya dengan amplas nomor delapan ratus yang tersisa dari dinding hijau muda. Aku mengganti grip pensil mekanik dengan grip karet baru yang kubeli di toko alat tulis di dekat pasar.
Penggaris skala segitiga itu tidak bisa diperbaiki. Angka-angkanya sudah terlalu pudar.
Aku membiarkannya. Aku tidak mau menggantinya dengan yang baru. Itu miliknya. Angka-angka pudar itu sudah ia sentuh ribuan kali.
Pukul tiga pagi, aku menutup kotak itu.
Lalu aku membuka koperku dan mengeluarkan map plastik berisi dua puluh tiga lembar hitungan lapangan. Tulisan pensil yang kecil, tegak, presisi. Kolom ini harus dibongkar. Ada keluarga yang akan tinggal di atasnya.
Aku meletakkan map itu di atas kotak kayu.
Aku tidak membungkusnya. Aku tidak memberinya pita. Aku hanya meletakkannya di sana.
Sabtu, pukul empat sore.
Warung Mak Ijah tidak berubah. Terpal biru. Bangku kayu. Etalase gorengan. Tapi di meja kayu paling ujung, ada kue bolu pandan bulat di atas piring plastik, dengan satu lilin kecil berwarna biru yang belum dinyalakan.
Kinan yang membelinya di toko kue dekat terminal. Bolu pandan. Bukan tart cokelat.
“Kak Arya nggak suka manis,” katanya padaku, saat aku tiba. “Bolu pandan paling nggak manis.”
Asep datang dengan kemeja batik yang terlalu besar, pinjaman dari mandor. Bu Nengsih datang dengan kotak bekal berisi tongkol balado, “buat yang ulang tahun, biar ada yang pedes.” Mak Ijah sibuk menggoreng bakwan dalam jumlah yang tidak masuk akal untuk enam orang.
Aku berdiri di ujung terpal. Jauh dari meja. Kotak kayu tipis dan map plastik di tanganku.
“Kakak duduk,” kata Kinan.
“Aku di sini aja.”
Kinan menatapku. Lalu ia mengangguk, seolah ia mengerti.
Pukul lima lewat sepuluh, Arya keluar dari gerbang proyek.
Ia berhenti saat melihat warung Mak Ijah. Melihat Kinan berdiri di depan meja. Melihat Asep dengan kemeja batik. Melihat Bu Nengsih. Melihat bolu pandan dengan satu lilin biru.
Lalu ia melihatku. Di ujung terpal.
Wajahnya tidak berubah. Tapi ia berjalan ke arah warung. Pelan.
“Selamat ulang tahun, Kak!” teriak Kinan. Lalu ia memukul lengan kakaknya. “Itu buat Kakak pura-pura lupa sepuluh tahun.”
Asep menyalakan lilin dengan korek api. Mak Ijah keluar dari balik etalase dengan sepiring bakwan. Bu Nengsih menyanyi. Suaranya parau dan sumbang. Asep ikut menyanyi lebih keras dan lebih sumbang. Kinan menyanyi sambil tertawa.
Aku tidak menyanyi. Aku berdiri di ujung terpal dan menatapnya.
Ia berdiri di depan bolu pandan itu dengan wajah yang tidak tahu harus melakukan apa. Seperti di ambang pintu kontrakan hijau, setahun lalu, dengan tas perkakas di bahu.
“Tiup, Bang!” teriak Asep. “Lilinnya meleleh ke bolu!”
Ia meniup lilin itu.
Semua orang bertepuk tangan.
Dan untuk sesaat, hanya sesaat, aku melihat sudut bibirnya terangkat. Sedikit. Ke arah Kinan.
Aku tersenyum.
Aku tidak merencanakannya. Aku tidak melatihnya. Senyum itu keluar sendiri, dari tempat yang sudah lama tidak kubuka, karena aku melihat sudut bibirnya terangkat ke arah adiknya di bawah terpal biru di Pelabuhanratu, dan tidak ada yang palsu di sana sama sekali.
“Dok! Foto!” teriak Asep. Ia mengangkat ponselnya yang layarnya retak. “Semuanya! Ayo foto! Dok, sini! Dok, pegang bolunya! Dok senyum!”
Aku tidak sempat menolak. Asep sudah menarik tanganku ke meja. Ia meletakkan piring bolu pandan di tanganku. Ia mendorongku ke samping Arya.
Ia mengangkat ponselnya.
Klik.
Bunyi itu.
Aku tidak memikirkannya. Bunyi kamera ponsel yang biasa, kecil, yang terdengar ratusan kali sehari di mana-mana.
Tapi Arya membeku.
Aku merasakannya sebelum aku melihatnya. Tubuh di sampingku, yang tadi sedikit lebih santai dari biasanya, tiba-tiba menegang. Seperti batang besi. Seperti malam di trotoar depan bengkel, saat aku memeluknya dan mengetik lanjut di balik punggungnya.
Aku menoleh.
Ia menatapku.
Bukan menatap Asep. Bukan menatap ponsel. Menatapku. Menatap wajahku. Menatap senyumku, yang masih ada di sana, dan piring bolu pandan di tanganku.
Wajahnya. Matanya.
Aku sudah melihat banyak hal di mata itu. Kosong, di dermaga lama. Marah, di halte bus. Ketakutan, sepersekian detik, di bawah terpal biru saat hujan.
Ini bukan itu semua.
Ini lebih buruk.
Ini mata seseorang yang tiba-tiba berada di tempat lain. Di kontrakan hijau. Di bawah lampu neon yang terlalu terang. Dengan kue tart cokelat dan lilin dua batang dan perempuan bergaun hijau pupus yang memotretnya dua puluh tiga kali.
Saat ia tidak tersenyum. Terutama saat ia tidak tersenyum.
“Waktu itu,” katanya.
Suaranya sangat pelan. Hampir tidak terdengar di antara suara Asep yang masih tertawa dan Mak Ijah yang menawarkan bakwan.
“Waktu itu kamu juga senyum begini.”
Piring di tanganku hampir jatuh.
Kinan berhenti tertawa. Bu Nengsih berhenti menuang teh. Asep menurunkan ponselnya, wajahnya bingung.
Arya mundur satu langkah dariku.
Lalu satu langkah lagi.
“Bang?” kata Asep. “Bang, kenapa?”
Arya tidak menjawab. Ia menatap bolu pandan di tanganku, lilin biru yang sudah mati dengan asap tipis yang masih naik.
Lalu ia berbalik dan berjalan pergi.
Keluar dari bawah terpal. Ke jalan. Bukan ke arah mess. Bukan ke arah dermaga. Ke arah kebun kelapa. Jalan belakang.
Ia tidak menoleh.
Kinan yang pertama bergerak.
Ia berlari menyusul kakaknya ke mulut gang kebun kelapa. Aku melihatnya memanggil. Aku melihat Arya tidak berhenti. Aku melihat Kinan berdiri di mulut gang itu, sendirian, dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.
Lalu ia kembali ke warung.
Ia berjalan lurus ke arahku. Aku masih berdiri di samping meja, dengan piring bolu pandan di tanganku, dan aku menunggu.
Menunggu dimaki. Menunggu dipukul. Menunggu buku cokelat itu dilempar lagi ke wajahku.
Kinan berhenti di depanku.
“Kakak nggak salah kali ini,” katanya.
Aku menatapnya.
“Asep yang foto. Aku yang bikin pesta. Kakak cuma senyum.” Suara Kinan bergetar. “Kakak senyum beneran. Aku liat. Itu bukan senyum yang dulu.”
“Dia nggak tahu bedanya, Kinan.”
“Aku tahu,” kata Kinan. Air mata jatuh dari balik kacamatanya. “Dia belum bisa. Bukan Kakak yang salah. Dia yang belum bisa.”
Asep berdiri di samping meja dengan ponsel di tangan dan wajah pucat.
“Dok,” katanya. “Maaf. Saya nggak tahu. Saya cuma mau foto.”
“Bukan salah kamu, Sep.”
“Saya hapus, Dok. Fotonya saya hapus.”
Ia menekan layar ponselnya dengan jari gemetar. Aku melihatnya menghapus foto itu. Satu foto. Bukan dua puluh tiga.
Bu Nengsih mengambil piring bolu pandan dari tanganku, pelan, dan meletakkannya di meja.
Mak Ijah tidak berkata apa-apa. Ia hanya menuang teh hangat ke gelas dan menyodorkannya padaku.
Aku tidak meminumnya.
Aku menatap kotak kayu tipis dan map plastik yang kuletakkan di ujung meja, di samping tongkol balado Bu Nengsih. Hadiah yang tidak sempat kuberikan.
Jangka yang sudah kuminyaki. Rapido yang sudah kubersihkan. Dua puluh tiga lembar hitungan.
Malam itu, Asep datang ke puskesmas. Aku jaga malam.
Ia berdiri di pintu UGD dengan kemeja batik yang sudah diganti kaus dan wajah yang tidak bisa memutuskan apa yang ingin ia katakan.
“Dok,” katanya. “Bang Diem pindah.”
Aku berdiri dari meja jaga.
“Pindah ke mana?”
“Mess proyek tanggul. Di Cisolok. Lima belas kilo dari sini.” Asep menatap lantai. “Dia minta mandor mindahin dia tadi sore. Mandor bilang di sana butuh orang. Dia langsung bawa ransel. Nggak pamit ke siapa-siapa.”
Aku memegang tepi meja jaga.
“Dia bawa toples sambel,” kata Asep. “Yang dari Pak Gondo. Kata dia dari Pak Gondo.”
Aku tidak bisa bicara.
“Dok,” kata Asep pelan. “Bang Diem nggak marah sama Dok. Saya liat mukanya pas dia ngemas ransel. Itu bukan muka marah.”
“Terus muka apa, Sep?”
Asep diam lama.
“Muka orang yang takut, Dok,” katanya. “Takut sama dirinya sendiri.”
Aku membuka buku cokelat pukul dua pagi, di meja jaga UGD yang sepi, di bawah lampu sorot yang kakinya diganjal kardus.
Hari ke-176. Ulang tahun Arya. Bolu pandan. Satu lilin biru. Ide Kinan.
Dia tersenyum ke Kinan.
Aku tersenyum. Tidak kurencanakan.
Asep memotret. Klik.
Dia bilang: waktu itu kamu juga senyum begini.
Dia pindah ke Cisolok. Lima belas kilo. Bawa toples sambal.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu aku menulis sesuatu yang sudah lama tidak kutulis. Sesuatu tentang diriku sendiri.
Aku pikir kopi itu awal. Aku pikir dia sudah mulai bisa membedakan.
Dia belum bisa. Aku tidak berhak marah karena dia belum bisa.
Aku mengajarinya selama seratus delapan puluh tujuh hari bahwa senyumku adalah pisau. Dua puluh tiga foto. Satu kue tart cokelat. Satu kemeja abu-abu.
Satu kopi hitam tidak menghapus itu.
Satu bolu pandan tidak menghapus itu.
Aku berhenti.
Lalu aku menulis satu kalimat lagi. Dengan huruf yang tidak tegak sama sekali.
Aku tidak tahu berapa yang bisa menghapusnya. Mungkin tidak ada angkanya.
Di sampingku, di meja jaga, kotak kayu tipis dan map plastik itu masih ada. Belum diberikan. Belum dibuka.
Aku tidak menyimpannya di koper malam itu.
Aku meletakkannya di laci meja jaga UGD. Di tempat yang bisa kulihat setiap kali aku jaga malam.
Supaya aku ingat bahwa beberapa hal harus menunggu, bahkan setelah semuanya sudah siap.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini reading
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365