← Hukuman Kedua

Chapter Five

Bab 5 — Sudah?

POV: Shella

dr. Ronald, residen penyakit dalam tahun ketiga, punya dua kebiasaan buruk: memanggil semua koas dengan sebutan “Dek”, dan memarahi orang di depan pasien.

Selasa pagi, aku menjadi korban kedua-duanya.

“Dek. Ini siapa yang kasih furosemid jam enam?”

Ia mengangkat lembar observasi pasien di bed tujuh, seorang bapak dengan gagal jantung yang tekanan darahnya turun pagi ini. Seluruh bangsal mendadak hening. Perawat berhenti menulis. Pasien di bed delapan berhenti mengunyah biskuit.

“Bukan saya, Dok,” kataku. “Saya jaga sampai jam lima. Yang jaga jam enam—”

“Saya nggak nanya jadwal jaga kamu. Saya nanya siapa yang kasih.”

“Saya nggak tahu, Dok. Tapi bukan saya.”

“Paraf kamu di sini.”

Ia menunjuk sebuah coretan di kolom pukul enam. Coretan itu sama sekali tidak mirip parafku. Parafku huruf S yang rapi dengan garis bawah. Coretan itu lebih mirip cacing yang sedang sekarat.

“Itu bukan paraf saya, Dok.”

“Terus paraf siapa? Hantu?”

Di belakangnya, Mitha membuat gerakan kecil dengan tangannya, gerakan menggorok leher, yang artinya diam aja, Shel, jangan dilawan. Tapi aku sudah dua malam tidak tidur nyenyak, dan aku tidak pernah pandai diam saat aku benar.

“Bisa jadi, Dok,” kataku. “Di bangsal ini kan banyak yang meninggal.”

Pasien di bed delapan tersedak biskuitnya.

dr. Ronald menatapku selama tiga detik penuh. Lalu ia menyerahkan lembar observasi itu padaku.

“Dek. Kamu bikin laporan kasus bed tujuh. Lengkap. Sama telaah jurnal tiga. Kumpulin Jumat.”

Ia pergi. Mitha mendekat dan menepuk bahuku dengan wajah orang yang menghadiri pemakaman.

“Lo gila,” bisiknya. “Hantu. Lo bilang hantu.”

“Dia yang mulai.”

“Dia residen, Shel. Residen itu kayak cuaca. Lo nggak debat sama hujan. Lo bawa payung.”


Sore itu, aku tiba di bengkel dengan dua gelas kopi dan wajah yang masih panas.

Aku tidak berniat menceritakannya. Aku sudah menyiapkan topik lain, cerita ringan yang membuatku terlihat manis. Tapi begitu laki-laki itu mematikan gerinda dan bertanya, “Kenapa?”, semuanya keluar sendiri.

Aku bercerita tentang dr. Ronald. Tentang paraf cacing sekarat. Tentang furosemid jam enam. Tentang caranya memanggilku “Dek” seolah aku anak SD yang ketahuan nyontek. Tentang laporan kasus dan tiga jurnal yang harus selesai dalam tiga hari, padahal aku jaga malam dua kali minggu ini. Tentang bagaimana koas selalu jadi tempat sampah di rumah sakit, tempat semua orang membuang kesalahan yang tidak mau mereka akui.

Aku bicara lama. Mungkin sepuluh menit. Mungkin lebih. Suaraku naik, turun, naik lagi. Di satu titik aku bahkan menirukan suara dr. Ronald, dan Presiden berbunyi seolah ikut mencibir.

Laki-laki itu tidak menyela sekali pun.

Ia duduk di tumpukan besi, gelas kopi manisnya di tangan, dan mendengarkan. Ia tidak mengangguk-angguk. Ia tidak berkata sabar ya atau namanya juga kerja. Ia hanya menatapku dengan perhatian yang tenang, menunggu.

Akhirnya aku kehabisan napas. Aku berhenti, terengah, dan menatap gelas kopiku sendiri yang belum kusentuh.

Hening sebentar.

Lalu ia bertanya pelan.

“Sudah?”

Aku mengangkat wajah.

Bukan nada mengejek. Bukan nada bosan, seperti orang yang menunggu kapan lawan bicaranya akan berhenti. Nadanya lembut. Hati-hati. Seolah ia sedang memeriksa apakah masih ada yang tersisa di dalam diriku yang perlu dikeluarkan, dan ia bersedia menunggu kalau masih ada.

“Belum,” kataku, sedikit ketus.

Ia mengangguk sekali. “Ya udah. Lanjut.”

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Semua kemarahan yang tadi menggelembung mendadak terasa kempis. Aku mencoba mengingat apa lagi yang ingin kukatakan tentang dr. Ronald, dan aku tidak menemukan apa-apa.

“Sudah,” kataku akhirnya.

“Oke.”

Ia meletakkan gelasnya, berdiri, lalu masuk ke dalam bengkel. Ia keluar lagi membawa sebotol air mineral dingin dari kulkas kecil Pak Gondo yang berbunyi seperti mesin cuci. Ia membuka tutupnya dan menyodorkannya padaku.

“Minum dulu,” katanya. “Suaramu serak.”

Aku mengambil botol itu.

“Lembar observasi itu,” katanya sambil kembali duduk. “Biasanya ada jam pemberian obat sama nama yang nyiapin, kan? Di catatan farmasi bangsal?”

Aku menatapnya. “Kok Mas tahu?”

“Dulu Ibu dirawat lama.” Ia menatap rangka pagar di depannya. “Aku sering liat.”

Hanya itu. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut, dan aku tidak bertanya. Tapi aku mengerti apa yang ia maksud. Catatan farmasi. Tentu saja. Kalau aku membawa catatan itu ke dr. Ronald besok, ia bisa melihat siapa yang sebenarnya menyiapkan furosemid itu.

Aku tidak memikirkannya tadi. Aku terlalu sibuk marah.

“Makasih, Mas,” kataku.

Dan aku kesal. Aku sangat kesal. Karena aku baru saja mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh, tanpa merencanakannya.

Aku kesal karena kata sudah itu terasa hangat.

Aku kesal karena untuk sepuluh menit tadi, aku lupa siapa yang sedang duduk di hadapanku.


Malam harinya, aku menerima pesan dari nomor yang tidak tersimpan.

Mulai. Grup WA RT 04 dan RT 05. Papan pengumuman di mulut gang. Pemilik kontrakan sudah dapat kiriman juga. — H

Pesan itu disertai foto. Sebuah kliping berita lama dari portal online tiga tahun lalu, dicetak di kertas A4, dengan judul besar: Insinyur Akui Salah Hitung, Ruko Runtuh Tewaskan Tiga Orang. Di bawahnya ada foto laki-laki itu saat digiring keluar ruang sidang dengan rompi tahanan.

Dan di bagian bawah kertas, seseorang menambahkan tulisan dengan spidol:

SEKARANG TINGGAL DI GANG INI. HATI-HATI. JAGA ANAK-ANAK KALIAN.

Aku menatap foto itu lama.

Aku tidak menyuruh Pak Hadi menambahkan tulisan itu. Tapi aku juga tidak menyuruhnya untuk tidak menambahkannya.

Aku menghapus pesannya.


Rabu pagi, sebelum visite, aku pergi ke ruang farmasi bangsal dan meminta catatan penyiapan obat hari Selasa.

Apoteker jaga, seorang perempuan paruh baya berkacamata tebal, menatapku curiga. Koas jarang datang ke ruangannya kecuali untuk meminjam stapler. Tapi ia memberikan bukunya, dan di sana, di baris pukul 05.50, tertulis jelas nama yang menyiapkan furosemid untuk bed tujuh.

Bukan namaku. Nama koas dari kelompok lain, yang parafnya memang mirip cacing sekarat.

Aku membawa buku itu ke dr. Ronald di ruang residen. Ia membacanya sambil mengunyah roti sobek, lama sekali, lalu menutupnya.

“Kok kamu kepikiran ngecek ini, Dek?”

“Dikasih tahu teman, Dok.”

“Teman kamu pinter.” Ia menyerahkan buku itu kembali. “Laporan kasusnya nggak usah.”

“Makasih, Dok.”

“Jurnalnya tetap tiga.”

“Dok—”

“Biar kamu nggak ngomong soal hantu lagi di depan pasien.”

Di lorong, Mitha menungguku dengan wajah penuh harap. Saat aku menceritakan hasilnya, ia memelukku begitu keras sampai stetoskopku tersangkut di kancing jasnya.

“Lo menang lawan cuaca,” katanya takjub. “Lo bawa payung. Siapa yang ngajarin lo bawa payung?”

Aku membuka mulut untuk menjawab, lalu menutupnya lagi.

“Nggak ada,” kataku. “Kepikiran sendiri.”

Mitha menatapku dengan alis terangkat, tapi tidak bertanya lagi.

Kebohongan kecil. Tidak penting. Aku hanya tidak mau mengakui, bahkan pada diriku sendiri, bahwa payung itu datang dari tangan laki-laki itu.


Jumat, aku sengaja datang lebih sore, dan sengaja menawarkan untuk mengantarnya pulang.

“Nggak usah,” katanya. “Deket.”

“Hujan, Mas.”

Memang gerimis. Aku tidak merencanakan cuaca, tapi aku bersyukur untuk itu.

Ia akhirnya masuk ke mobil. Aku menyetir pelan melewati jalan raya Cipayung, lalu berbelok ke jalan kecil yang ia tunjuk, dan berhenti di depan sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk motor.

Di mulut gang, ada papan pengumuman kayu dengan kaca yang sudah buram. Di baliknya, di antara jadwal posyandu dan pengumuman kerja bakti, tertempel selembar kertas A4 yang masih baru.

Aku melihatnya. Aku tahu ia juga melihatnya.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia membuka pintu mobil, turun, dan berjalan ke papan pengumuman itu di bawah gerimis. Ia membuka pintu kaca papan itu, yang ternyata tidak dikunci. Ia melepas kertas itu dengan hati-hati, satu per satu selotipnya, seolah kertas itu sesuatu yang mudah sobek dan perlu dijaga.

Ia melipatnya dua kali. Rapi. Lalu memasukkannya ke saku kemejanya.

Dua ibu-ibu yang berteduh di bawah atap warung di samping gang menatapnya. Salah satunya menarik tangan anak laki-laki kecil yang sedang bermain di dekatnya, menariknya cukup keras sampai anak itu mengaduh, dan membawanya masuk ke dalam rumah. Pintunya ditutup.

Laki-laki itu kembali ke jendela mobilku. Gerimis membasahi rambut cepaknya dan bahu kemejanya.

“Makasih udah nganter,” katanya.

“Mas.” Aku menatap saku kemejanya, tempat kertas itu terlipat. “Itu tadi apa?”

Ia menatapku. Tenang. Seperti biasa.

“Nggak ada apa-apa.”

“Tapi tadi—”

“Pengumuman lama,” katanya. “Udah nggak berlaku.”

Ia menegakkan tubuh, mengetuk atap mobilku dua kali dengan ujung jari, isyarat untuk menyuruhku pergi, lalu berjalan masuk ke gang. Punggungnya lurus. Langkahnya tidak lebih cepat dari biasanya. Seolah tidak ada yang terjadi. Seolah ibu-ibu di warung itu tidak sedang menatapnya. Seolah anak kecil tadi tidak ditarik menjauh darinya seperti dari anjing liar.

Di tengah gang, di bawah satu-satunya lampu jalan yang menyala, ia berhenti sebentar.

Ia mengeluarkan buku cokelatnya. Ia menulis sesuatu di bawah gerimis, melindungi halamannya dengan telapak tangan. Lalu ia memasukkannya kembali dan menghilang di tikungan.

Aku duduk di dalam mobil dengan mesin menyala dan wiper yang bergerak bolak-balik.

Ini yang kuinginkan. Inilah tepatnya yang kuinginkan. Ia dipermalukan di depan tetangga-tetangganya. Ia menjadi orang yang membuat ibu-ibu menarik anak mereka masuk rumah. Ia tidak bisa melawan, karena tidak ada yang bisa dilawan. Tidak ada wajah. Tidak ada nama. Hanya selembar kertas.

Aku menunggu rasa puas itu datang.

Ia memang datang. Sedikit. Seperti tegukan pertama air dingin di tenggorokan yang kering.

Tapi di bawahnya ada sesuatu yang lain. Rasa kesal yang tidak bisa kujelaskan. Kesal karena ia tidak marah. Kesal karena ia tidak bertanya siapa yang menempelnya. Kesal karena ia melipat kertas itu dengan sangat rapi, seolah ia sedang menyimpannya, bukan membuangnya.

Kenapa orang menyimpan kertas yang menghinanya?

Aku memasukkan gigi dan menyetir pergi.


Di rumah, Mama sedang menonton drama Korea di ruang tengah dengan masker wajah berwarna hijau. Ia menoleh saat aku masuk.

“Kamu dari mana, Shel? Basah gitu.”

“Dari teman, Ma.”

“Teman yang mana? Mitha?”

“Bukan. Teman baru.”

Mama mengangguk dan kembali ke dramanya. Di layar, seorang laki-laki tampan sedang berlutut di bawah hujan, memohon maaf pada perempuan yang membelakanginya.

“Kasihan banget cowoknya,” kata Mama. “Padahal bukan dia yang salah. Ceweknya aja yang nggak mau dengerin.”

Aku berhenti di kaki tangga.

“Ma,” kataku. “Kalau ada orang yang beneran salah, terus dia minta maaf, Mama maafin?”

Mama menatapku dari balik masker hijaunya. Ada jeda yang sedikit terlalu panjang.

“Tergantung salahnya apa,” katanya hati-hati. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Cuma nanya.”

Aku naik ke kamar.

Aku membuka folder Proyek dan menulis:

Hari ke-25. Kertasnya sudah ditempel. Dia lepas sendiri, dilipat, disimpan. Tetangga mulai menjauh. Dia bilang: nggak ada apa-apa.

Aku berhenti mengetik.

Lalu, entah kenapa, aku menambahkan satu baris lagi.

Dia nanya: sudah?

Aku menatap baris terakhir itu. Itu tidak ada hubungannya dengan rencana. Itu tidak penting. Itu cuma satu kata yang ia ucapkan saat aku mengomel soal residen.

Aku menghapusnya.

Lalu aku berbaring di tempat tidur dengan rambut yang masih basah, dan sampai tertidur, aku masih bisa mendengar nada suaranya saat mengucapkan kata itu. Pelan. Hati-hati. Seperti seseorang yang bersedia menunggu.