Chapter Twenty Seven
Bab 27 — Ibu Tahu?
POV: Shella
Mama sedang menonton drama Korea saat aku masuk ke ruang tengah.
Masker wajah hijau. Selimut tipis di pangkuan. Sepiring potongan mangga di meja kecil di sampingnya. Di layar, seorang perempuan berlari di bawah hujan, mengejar mobil yang menjauh.
“Shel? Udah pulang? Mau mangga?”
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke depan televisi dan mematikannya.
Mama menatapku. Mataku. Wajahku. Buku tulis biru di tanganku.
Sesuatu di wajahnya berubah. Aku melihatnya. Di balik masker hijau itu, sesuatu menjadi diam dan waspada, seperti hewan yang mendengar ranting patah di hutan.
“Itu apa?” tanyanya.
Aku meletakkan buku itu di atas meja kecil, di samping piring mangga.
“Dari kotak perkakas Ayah,” kataku. “Di gudang.”
Mama tidak bergerak.
“Mama pernah liat ini?”
Ia menatap buku itu. Ia tidak menyentuhnya.
“Nggak.”
“Baca, Ma.”
“Shel—”
“Baca.”
Mama mengulurkan tangannya pelan-pelan. Jari-jarinya sedikit gemetar saat membuka sampul biru yang lecek itu. Halaman pertama. Kedua. Ketiga.
Aku melihat matanya bergerak dari kiri ke kanan. Kolom demi kolom. Besi D16 → D13. Selisih 1,2 ton.
Aku melihat matanya berhenti.
Aku melihatnya membalik halaman. Dipakai untuk: Gaji tukang. Cicilan bank. Uang semester Shella.
Untuk jas putih Shella.
Aku melihatnya membalik ke halaman terakhir.
Arya tahu. Dia ukur sendiri. Minggu depan bongkar semua. Ya Allah, ampuni saya.
Mama menutup buku itu.
Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Ia hanya duduk di sana dengan buku itu di pangkuannya, di atas selimut tipis, dan menatap layar televisi yang hitam. Masker hijau di wajahnya mulai retak di sekitar mulut.
“Mama tahu,” kataku. Bukan pertanyaan.
Mama diam lama.
“Mama nggak tahu soal ini,” katanya akhirnya. Ia menyentuh sampul buku itu. “Soal besi. Soal semen. Mama nggak tahu.”
“Tapi Mama tahu sesuatu.”
Mama menatapku.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku melihat Mama tanpa lapisan apa pun. Bukan Mama yang cantik dengan cara yang terawat dan mahal. Bukan Mama yang lebih suka jawaban yang membuat semua orang bisa kembali makan. Hanya perempuan berusia lima puluh dua tahun dengan masker wajah yang retak, yang terlihat sangat, sangat lelah.
“Mama tahu perusahaan lagi susah,” katanya pelan. “Setahun sebelum… itu. Ayahmu nggak cerita. Tapi Mama liat surat-surat dari bank. Mama liat Ayahmu nggak tidur. Mama liat dia jual jam tangan kesayangannya diam-diam. Mama nanya, dia bilang nggak apa-apa. Dia selalu bilang nggak apa-apa.”
Nggak apa-apa.
Aku memejamkan mata sebentar.
“Terus?”
“Terus setelah Ayahmu meninggal, Om Freddy sama Pak Darmawan datang ke sini. Ke ruang ini.” Mama menatap sofa di seberangnya, seolah mereka masih duduk di sana. “Mereka bilang, kalau di persidangan terbukti kesalahan ada di insinyur, itu kelalaian individu. Asuransi bayar. Perusahaan aman. Tapi kalau terbukti kesalahan ada di perusahaan, di manajemen, di… pemilik…”
Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.
“Semua disita,” kataku.
Mama mengangguk.
“Rumah ini. Mobil. Tabungan. Kuliahmu. Tiga ratus karyawan kehilangan kerja.” Suaranya mulai bergetar. “Om Freddy bilang, kebetulan insinyurnya mau mengaku. Kebetulan. Dia bilang, Bu, ini rezeki. Jangan ditanya-tanya.”
“Dan Mama nggak nanya.”
“Mama nggak nanya.” Air mata akhirnya jatuh. Mengalir melewati masker hijau, meninggalkan jejak bening di permukaannya yang retak. “Mama nggak nanya kenapa insinyur yang Ayahmu bilang paling teliti tiba-tiba salah hitung. Mama nggak nanya kenapa dia nggak pakai pengacara bagus. Mama nggak nanya kenapa dia nggak naik banding. Mama nggak nanya apa-apa, Shel. Karena Mama takut. Kalau Mama nanya, Mama harus milih.”
“Milih apa?”
“Milih antara kamu dan dia.”
Hening.
Di dapur, aku mendengar Mbok Sum mencuci piring. Bunyi air keran. Bunyi piring beradu. Bunyi-bunyi biasa dari rumah yang biasa.
“Mama dateng ke sidang sekali,” kata Mama. “Kamu inget? Sekali aja, terus Mama berhenti. Kamu kira Mama nggak kuat liat pembunuh Ayahmu.”
Ia menatapku.
“Mama nggak kuat liat dia ngaku.”
Aku duduk di lantai, di depan sofa.
Aku tidak tahu kapan aku duduk. Kakiku menyerah begitu saja. Aku duduk di karpet tebal yang Mama impor dari Turki, dengan punggung bersandar ke meja kecil, di samping piring mangga yang mulai dikerubungi semut kecil.
“Mama bilang ke Pak Darmawan,” kataku. “Biarin aja dia hidup. Di makan malam itu.”
“Iya.”
“Mama tahu dia ditolak di mana-mana.”
“Iya.”
“Mama tahu beasiswa adiknya dicabut. Mama nanya ke aku. Aku bilang nggak tahu.”
Mama diam.
“Mama tahu aku bohong,” kataku.
Mama tidak menjawab. Ia tidak perlu menjawab.
Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang tidak gemetar saat menulis daftar di lounge hotel Senayan. Tangan yang tidak gemetar saat mengambil uang dari kaleng Khong Guan. Tangan yang tidak gemetar saat menekan tombol format.
Tangan itu gemetar sekarang. Tidak bisa berhenti.
“Ma,” kataku. “Aku yang ngelakuin semuanya.”
Dan aku menceritakannya.
Semuanya. Dari pesan Om Freddy di hari Selasa. Pak Hadi. Kertas di papan RT. Pagar fiktif. Kaleng biskuit. Bengkel Pak Gondo. Daftar hitam. Kontrakan. Foto ulang tahun di televisi. Lampiran hitungan dan flashdisk. Surat keberatan. Beasiswa Kinan.
Lahan bekas ruko. Ludah.
Aku menceritakannya dengan suara yang datar. Seperti laki-laki itu melaporkan hasil sertifikasinya di halte bus. Seperti membacakan hasil laboratorium. Angka. Fakta. Tanpa intonasi.
Karena kalau aku membiarkan intonasi masuk, aku tidak akan bisa menyelesaikannya.
Mama mendengarkan.
Di tengah cerita, ia melepas masker hijau dari wajahnya. Pelan-pelan, seperti mengupas kulit. Di bawahnya, wajahnya basah dan merah.
Saat aku selesai, ia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang sangat lama.
Lalu ia turun dari sofa dan duduk di lantai di sampingku. Mama, yang tidak pernah duduk di lantai. Yang selalu bilang lantai itu untuk kaki, bukan untuk pantat. Ia duduk di sampingku di atas karpet Turki, dengan daster sutranya yang mahal, dan ia memelukku.
Ia memelukku dan ia menangis. Bukan tangisan yang tenang. Tangisan yang keras, yang tersengal, yang membuat Mbok Sum berhenti mencuci piring di dapur.
“Ini salah Mama,” katanya di rambutku. “Ini salah Mama. Mama diem. Mama biarin kamu benci dia tiga tahun. Mama liat kamu tiap pagi pakai jas putih sambil nyimpen dendam, dan Mama diem. Mama kira benci itu bakal ilang sendiri. Mama kira…”
Aku tidak menangis. Aku tidak bisa. Aku hanya duduk di sana di pelukan Mama, dengan mata kering yang perih, dan menatap buku tulis biru di atas meja kecil.
Untuk jas putih Shella. ☺
Lama setelah tangis Mama reda, ia berbicara lagi. Pelan. Hati-hati.
“Shel.”
“Hm.”
“Kamu mau apa sekarang?”
Aku tidak tahu jawabannya. Tapi aku tahu satu hal.
“Aku mau cari dia, Ma.”
Mama diam.
“Aku mau dia tahu aku udah tahu. Aku mau…” Kalimat itu tidak punya ujung. Aku tidak tahu apa yang kumau. “Aku mau buka semuanya. Aku mau orang tahu dia nggak salah.”
Mama melepas pelukannya. Ia memegang kedua bahuku dan menatapku.
“Jangan dibuka, Shel.”
Aku menatapnya.
“Mama mohon.” Matanya basah lagi. “Kalau dibuka, perusahaan habis. Tiga ratus orang. Rumah ini. Nama Ayahmu. Nama kamu. Kamu baru disumpah jadi dokter. Kamu mau internsip. Kalau orang tahu kamu anak koruptor yang bikin gedung runtuh, kamu…”
“Dia dipenjara dua tahun, Ma.”
“Mama tahu.”
“Buat kita. Buat rumah ini. Buat jas putihku.”
“Mama tahu, Shel. Mama tahu.” Mama menggenggam bahuku lebih keras. “Mama tahu tiap malam. Tapi itu sudah lewat. Dia sudah keluar. Kalau kita buka sekarang, pengorbanannya sia-sia. Dia sendiri yang milih, Shel. Dia sendiri yang mau.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Dia sendiri yang mau.
Aku menatap Mama, dan untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa ada sesuatu yang lebih mengerikan dari kebencian.
Rasa syukur yang diam. Yang tahu. Yang memilih tidak tahu.
Aku berdiri. Aku mengambil buku tulis biru dari meja.
“Aku capek, Ma,” kataku. “Aku tidur dulu.”
Mama tidak menahanku.
Di tangga, Mbok Sum menungguku dengan segelas teh hangat. Matanya merah. Ia pasti mendengar semuanya dari dapur.
“Mbak,” katanya pelan, menyodorkan gelas itu. “Mbok mau cerita sesuatu. Boleh?”
Aku mengangguk.
“Mas Arya itu,” kata Mbok Sum, “dulu sering ke sini. Waktu Mbak masih kuliah, tinggal di kos deket kampus. Nganter berkas buat Bapak, malem-malem. Bapak suka kerja di ruang kerja sampai jam dua.”
Aku menatapnya.
“Tiap dateng, dia bawa gorengan. Buat Mbok sama Pak Mamat. Katanya, Mbok, ini dari warung depan, masih anget. Padahal nggak ada yang nyuruh.” Mbok Sum tersenyum kecil, lalu senyumnya pecah. “Dia sopan banget. Nunggu di teras, nggak mau masuk. Katanya sepatunya kotor kena lumpur proyek.”
Aku memegang gelas teh itu dengan dua tangan.
“Pas sidang, Mbok nggak percaya, Mbak,” lanjutnya. “Mbok bilang ke Pak Mamat, nggak mungkin. Anak sesopan itu. Tapi Mbok cuma pembantu. Mbok nggak berani ngomong.”
Ia mengusap matanya dengan ujung celemek.
“Maafin Mbok, Mbak.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya mengangguk, membawa teh itu ke kamarku, dan meletakkannya di meja rias tanpa meminumnya. Teh itu dingin sampai pagi.
Pak Hadi Kusuma tetap tidak memesan apa pun selain air putih.
Lounge hotel yang sama di Senayan. Meja yang sama di pojok, menghadap dinding kaca. Lampu-lampu Sudirman yang sama berderet seperti untaian manik-manik.
Ia mendengarkan tanpa menyela. Aku menceritakan semuanya padanya. Mang Udin. Buku tulis biru. Bu Sarip yang tidak bisa membaca. TRF DR A.M.
Saat aku selesai, ia diam lama. Ia menatap gelas air putihnya. Embun mengalir pelan di dindingnya.
“Saya ingin Bapak mencarinya,” kataku. “Bapak bisa menemukan siapa saja. Bapak menemukan alamatnya waktu itu dalam dua minggu. Saya akan bayar berapa pun.”
Pak Hadi mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajah yang mudah dilupakan itu menunjukkan sesuatu. Bukan marah. Lebih dingin dari marah. Seperti dokter yang menatap hasil rontgen dan melihat sesuatu yang sudah terlambat untuk ditangani.
“Saya sudah bekerja untuk banyak orang jahat, Mbak,” katanya pelan. “Politikus. Pengusaha. Artis. Orang-orang yang ingin menghancurkan saingannya, mantan istrinya, saudaranya sendiri. Saya tidak pernah bertanya. Saya tidak pernah peduli. Itu pekerjaan saya.”
Ia meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja. Tebal.
“Tapi saya belum pernah dibayar untuk menghancurkan orang yang menyelamatkan klien saya sendiri.”
Aku menatap amplop itu.
“Pembayaran terakhir dari Mbak,” katanya. “Saya kembalikan. Saya tidak mau uang itu.”
“Pak Hadi—”
“Saya tidak akan mencarinya untuk Mbak.” Ia berdiri, merapikan jasnya. “Kalau Mbak ingin menemukannya, temukan sendiri. Itu satu-satunya hal dalam urusan ini yang pantas Mbak lakukan dengan tangan sendiri.”
Ia menatapku sekali lagi.
“Selamat malam, Mbak Shella.”
Ia pergi. Gelas air putihnya tidak tersentuh sama sekali.
Aku duduk sendirian di meja pojok itu, dengan amplop cokelat di depanku dan lampu-lampu Sudirman di balik kaca.
Seorang pelayan datang dan bertanya apakah aku ingin memesan sesuatu.
“Kopi,” kataku. “Hitam. Tanpa gula.”
Kopi itu datang dalam cangkir porselen putih. Aku meminumnya. Pahit. Seperti seharusnya. Seperti yang selalu ia minta, dan tidak pernah kuberikan.
Aku meminumnya sampai habis, sampai tetes terakhir, sampai cangkirnya kosong.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu? reading
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365