Chapter Twelve
Bab 12 — Dipecat
POV: Shella
Pak Hadi mengirim pesan hari Kamis malam.
Besok. Jam empat sore. Mbak bisa datang kalau mau lihat. — H
Aku membaca pesan itu di ruang jaga koas, di antara tumpukan rekam medis dan gelas kopi sachet yang sudah dingin. Mitha tertidur di sofa usang di pojok ruangan dengan mulut terbuka dan stetoskop masih menggantung di lehernya.
Aku menghapus pesannya.
Lalu aku mengeluarkan stetoskop dari saku jas putihku. Bukan stetoskop lamaku yang bocor dan diselotip. Stetoskop dengan kepala dada yang mengilap seperti cermin, dan selang silikon hitam yang lembut.
Aku sudah memakainya selama seminggu. Mitha menyadarinya di hari kedua. Wih, stetoskop baru. Mahal tuh. Dari pacar? Aku bilang aku membelinya sendiri di toko alat kesehatan. Ia tidak percaya, tapi ia juga tidak memaksa.
Suaranya jelas. Sangat jelas. Bunyi katup jantung pasien terdengar tajam dan bersih, seolah aku menempelkan telingaku langsung ke dada mereka. Residen yang biasanya mengulang pemeriksaanku sekarang jarang mengulang.
Setiap kali aku memasang ujung telinganya, aku teringat tiga malam yang tidak kulihat. Tangan yang mengukur diameter selang dengan jangka sorong. Tangan yang mengamplas ring penjepit sampai rata.
Aku memasukkan stetoskop itu kembali ke saku.
Lalu aku membalas pesan Pak Hadi.
Saya datang.
Jumat sore, aku memarkir mobil di seberang bengkel seperti hari pertama. Mesin kubiarkan menyala. Jendela tertutup.
Dari balik kaca, aku melihat bengkel itu sudah berubah dalam dua minggu. Plang kayu biru Pak Gondo sudah dicopot dan diganti spanduk vinil putih dengan logo PT Sinar Karya Logam berwarna merah. Pohon jambu di halaman dipangkas habis sampai tinggal batang. Kursi plastik Pak Gondo sudah tidak ada. Tiang tempat sangkar Presiden dulu tergantung kosong.
Laki-laki itu sedang mengelas di halaman.
Ia memakai kemeja yang kuberikan. Kemeja katun abu-abu muda dengan kancing yang berat. Ia menggulung lengannya sampai siku dan memakai celemek kulit di depannya, supaya kemeja itu tidak terkena percikan api. Aku tidak memintanya memakai kemeja itu untuk bekerja. Ia memakainya sendiri. Mungkin karena aku bilang aku ingin melihatnya memakai kemeja itu, dan ia menganggapnya sebagai permintaan.
Pukul empat lewat sepuluh, Pak Benny keluar dari kantor kecil di bagian belakang bengkel. Ia membawa amplop cokelat dan map.
Ia berhenti di depan laki-laki itu dan berbicara.
Aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Aku hanya melihat. Pak Benny bicara dengan wajah datar, menunjuk sesuatu di map. Laki-laki itu mematikan alat lasnya, melepas topengnya, dan mendengarkan. Ia tidak menyela. Ia tidak membantah. Ia hanya berdiri di sana dengan kemeja abu-abu muda dan celemek kulit, mendengarkan.
Pak Benny menyerahkan amplop cokelat itu.
Laki-laki itu menatap amplop itu sebentar. Lalu ia mengambilnya.
Ia mengangguk sekali. Hanya sekali.
Lalu ia melepas celemek kulitnya, melipatnya dengan rapi, dan meletakkannya di atas meja kerja. Ia berjalan ke pojok bengkel dan mengambil sebuah kotak perkakas besi tua berwarna merah yang catnya sudah mengelupas. Ia membukanya, memeriksa isinya, menutupnya kembali.
Kotak perkakas itu miliknya sendiri. Bukan milik bengkel. Aku pernah melihatnya membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah kunci inggris tua dengan gagang yang sudah aus. Punya Bapak, katanya waktu itu.
Pak Benny berdiri di samping, mengawasi, seperti satpam yang mengawasi karyawan yang ketahuan mencuri.
Aku mematikan mesin dan turun dari mobil.
“Mas!”
Ia menoleh saat aku menyeberang jalan. Wajahnya tidak berubah, tapi aku melihat sesuatu bergerak di matanya. Ia tidak mengira aku datang. Tentu saja tidak. Aku tidak bilang padanya.
“Shella. Kamu kok—”
“Aku mau ngajak Mas makan. Kebetulan lewat.” Aku menatap kotak perkakas di tangannya, lalu Pak Benny, lalu amplop cokelat yang terselip di saku kemejanya. Aku membuat wajahku bingung. “Ada apa?”
Pak Benny yang menjawab.
“Saudara Arya sudah tidak bekerja di sini lagi, Mbak.” Ia bicara dengan nada sopan yang dingin. “Hasil pemeriksaan latar belakang dari kantor pusat. Perusahaan kami tidak dapat mempekerjakan mantan narapidana kasus kelalaian konstruksi yang mengakibatkan kematian. Pertimbangan asuransi dan reputasi.”
“Tapi Pak Gondo bilang Mas Arya bisa tetap kerja. Itu syarat jual belinya.”
“Syarat itu tidak tercantum dalam akta jual beli, Mbak.” Pak Benny mengangkat map di tangannya. “Saya sudah periksa. Mungkin hanya kesepakatan lisan dengan tim negosiasi sebelumnya. Tidak mengikat.”
Tentu saja tidak tercantum. Aku yang memastikan itu. Pak Hadi mengatakannya padaku dua minggu lalu: Janji lisan. Biar Pak Gondo tenang. Tidak usah ditulis.
“Pesangonnya sudah sesuai aturan,” lanjut Pak Benny. “Masa kerja di bawah tiga bulan dengan pemilik baru.”
Aku menatap amplop cokelat di saku kemeja laki-laki itu. Tipis. Sangat tipis.
“Udah, Shella,” kata laki-laki itu pelan. “Nggak apa-apa.”
Ia mengangguk sopan pada Pak Benny, seperti karyawan yang berpamitan dengan baik-baik. Lalu ia berjalan keluar dari halaman bengkel dengan kotak perkakas di tangan kanannya.
Ia tidak menoleh ke belakang. Tidak sekali pun.
Aku menyusulnya di trotoar.
Ia berjalan pelan, kotak perkakas yang berat itu menarik bahu kanannya sedikit turun. Seratus meter pagar abu-abu antrasit masih bersandar di sepanjang jalan, sekarang dengan stiker vinil merah bertuliskan PROPERTI PT SINAR KARYA LOGAM di setiap panelnya. Ia melewati pagar-pagar itu, satu per satu, pagar-pagar yang ia las sendiri dalam sembilan malam tanpa tidur.
“Mas,” kataku. “Mas, berhenti dulu.”
Ia berhenti.
Aku berdiri di depannya. Ia menurunkan kotak perkakas ke trotoar.
Ponselnya berdering.
Ia mengeluarkannya dari saku celana dan menatap layar. Lalu, setelah menarik napas, ia mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara. Ia selalu menyalakan pengeras suara untuk satu orang ini, karena orang itu bicara terlalu keras dan telinganya bisa sakit.
“ARYA! Assalamualaikum!”
Suara Pak Gondo. Di belakangnya, samar, terdengar bunyi kuk-kurruk.
“Waalaikumsalam, Pak.”
“Gimana bengkel? Lancar? Manajer barunya baik? Kamu dikasih gaji naik nggak?”
Laki-laki itu menatap spanduk vinil putih di kejauhan. Lalu menatap kotak perkakas di kakinya.
“Lancar, Pak,” katanya. “Manajernya baik.”
Aku membeku.
“Alhamdulillah! Saya khawatir terus, Ar. Saya nggak bisa tidur mikirin kamu. Cabai saya udah tumbuh, nih. Kecil-kecil. Presiden juga sehat. Dia suka udara sini. Tiap pagi bunyinya tambah keras!”
“Syukur, Pak.”
“Neng Shella masih sering datang?”
Laki-laki itu menatapku.
“Masih, Pak. Ini lagi di sini.”
“NENG SHELLA! Jagain Arya, ya! Inget janji!”
Aku membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
“Shella bilang iya, Pak,” kata laki-laki itu ke ponsel.
“Bagus! Udah dulu ya, pulsanya mau abis. Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam.”
Telepon terputus. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Aku menatapnya.
“Mas bohong,” kataku. Suaraku aneh. “Mas bohong ke Pak Gondo.”
“Bapak tekanan darahnya tinggi,” katanya. “Kalau dia tahu, dia bakal balik ke sini. Dia bakal ngerasa bersalah karena jual bengkel. Dia nggak perlu tahu.”
Aku tidak pernah mendengarnya berbohong sebelumnya. Dalam lebih dari seratus hari, ia tidak pernah berbohong padaku. Ia diam, ia menjawab pendek, ia bilang nggak apa-apa, tapi ia tidak pernah berbohong.
Kebohongan pertamanya adalah untuk melindungi orang lain dari kebohongan yang kubuat.
Dadaku sesak. Sesak sekali, seperti ada yang menginjaknya.
Aku memeluknya.
Di trotoar, di samping seratus meter pagar dengan stiker merah, dengan orang-orang yang lewat dan menoleh. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya dan menempelkan wajahku di dadanya, di atas kemeja abu-abu muda yang kubelikan. Kemeja itu bau besi dan sedikit gosong di bagian ujung lengan, tempat percikan las mengenainya meski ia sudah berhati-hati.
“Aku ikut sedih, Mas,” bisikku. “Ini nggak adil.”
Kali ini ia membalas pelukanku.
Tangannya naik pelan-pelan ke punggungku. Ragu-ragu. Lalu menetap di sana. Telapak tangannya yang lebar dan kasar menempel di tulang belikatku, hangat menembus blusku. Ia tidak memelukku erat. Ia memelukku seperti orang memegang benda yang ia tahu akan diambil darinya, dan ia ingin merasakannya sebentar sebelum itu terjadi.
Dagunya menyentuh puncak kepalaku.
“Nggak apa-apa,” katanya. Napasnya hangat di rambutku. “Nanti cari lagi.”
Aku memejamkan mata.
Di balik punggungnya, tangan kananku masih memegang ponsel. Aku membuka mata, menatap layar dari balik bahunya, dan dengan jempol, tanpa melihat keyboard, aku mengetik pesan ke nomor yang tidak tersimpan.
Lanjut.
Kirim.
Aku mengunci ponselku dan memasukkannya ke saku. Lalu aku kembali menempelkan wajahku di dadanya, dan aku mendengar jantungnya. Tidak perlu stetoskop. Jantungnya berdetak tepat di bawah telingaku.
Dug-dug. Dug-dug.
Teratur. Pelan. Seperti orang yang sudah tidak terkejut lagi oleh apa pun.
Aku mengantarnya pulang dengan mobil. Kotak perkakas merah itu ada di jok belakang, di samping bekas kotak kue ulang tahunnya yang lupa kubuang.
Di mulut gang, Kinan sedang duduk di teras warung, makan es lilin. Ia melihat mobilku, lalu melihat kotak perkakas yang diturunkan kakaknya dari jok belakang.
Es lilinnya berhenti di tengah jalan menuju mulutnya.
“Kak,” katanya. “Kok bawa kotak Bapak?”
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia berjalan masuk ke gang.
Kinan menatapku. Aku melihatnya mengerti. Aku melihat wajahnya berubah, dari bingung jadi marah jadi takut, dalam waktu tiga detik.
“Dipecat?” tanyanya padaku. Bukan pada kakaknya. Padaku. Seolah aku yang paling tahu.
Aku mengangguk.
Kinan menatap es lilinnya yang mulai meleleh di tangannya. Ia menatapnya lama. Lalu ia membuangnya ke tempat sampah di samping warung, berdiri, dan berlari menyusul kakaknya ke dalam gang.
Aku tinggal sendirian di dalam mobil.
Ibu pemilik warung menatapku dari balik etalase gorengan. Ia tidak berkata apa-apa, tapi tatapannya jelas. Perempuan kaya dengan mobil bagus, duduk di mulut gang tempat laki-laki dari kertas A4 itu tinggal. Ia pasti bertanya-tanya apa yang kuinginkan dari tempat ini.
Aku menyalakan mesin sebelum ia sempat menghampiriku.
Di kaca spion, gang hijau itu terlihat sama seperti biasa. Sempit, lembap, dengan satu lampu jalan yang berkedip. Tidak ada yang menunggu di bawahnya malam itu.
Malam itu, aku membuka folder Proyek.
Aku menggulir ke atas, membaca semua catatanku dari awal.
Hari ke-4. Dia berlutut di makam Ayah. Bagus. Hari ke-18. Kopi manis lagi. Hari ke-25. Kertasnya sudah ditempel. Hari ke-41. Utang 18 juta. Hari ke-53. Dia bilang: aku tahu. Hari ke-70. Kaleng kosong. Aku menciumnya.
Lalu catatan kosong di hari bengkel dijual.
Aku mengetik catatan baru.
Hari ke-106. Dipecat. Dia bohong ke Pak Gondo supaya Pak Gondo nggak sedih. Dia pakai kemeja dariku waktu dipecat.
Aku menatap kalimat terakhir itu.
Lalu aku membuka laci meja rias, mengambil stetoskop dari kotak kardus berlapis flanel, dan memasang ujung telinganya. Aku menempelkan diafragmanya ke dadaku, di sebelah kiri tulang dada.
Dug-dug. Dug-dug. Dug-dug.
Cepat. Terlalu cepat. Tidak teratur.
Itu cuma capek, kataku pada diriku sendiri.
Aku melepas stetoskop itu dan menyimpannya di laci. Aku menutup laci itu rapat-rapat.
Di luar jendela kamarku, Jakarta Selatan berkilauan seperti biasa. Enam puluh kilometer jauhnya, di Ciawi, seorang laki-laki tua sedang tidur nyenyak karena percaya bengkelnya baik-baik saja.
Dan di sebuah kontrakan hijau di ujung gang di Cipayung, seorang laki-laki yang baru kehilangan pekerjaannya mungkin sedang duduk di teras, menulis sesuatu di buku cokelat kecil.
Aku tidak tahu apa yang ia tulis.
Untuk pertama kalinya, aku ingin tahu.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat reading
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365