← Hukuman Kedua

Chapter Sixty One

Epilog — Hari ke-365

POV: Arya

Aku bangun pukul lima, seperti biasa, dan tangan kananku sudah tahu harus ke mana sebelum kepalaku.

Ke sisi kiri tempat tidur. Ke bahu yang hangat di bawah selimut biru muda, sprei mahal dari Mitha yang sudah dicuci empat puluh kali dan masih, menurut Mitha, jangan dipakai buat yang aneh-aneh. Ke rambut yang berantakan di bantal.

Shella masih tidur.

Ia tidur dengan mulut sedikit terbuka. Ia tidak pernah percaya kalau aku bilang begitu. Ia bilang itu fitnah, dan bahwa sebagai dokter ia tahu persis posisi rahangnya saat tidur, dan aku bilang dokter tidak bisa memeriksa dirinya sendiri saat tidur, dan ia bilang aku insinyur, bukan ahli anatomi, dan kami bertengkar soal itu selama dua puluh menit di hari ke-43.

Aku menang. Aku memotretnya.

Ia menghapus fotonya dari ponselku saat aku mandi. Aku sudah mengirimnya ke Kinan lebih dulu.

Sekarang aku menatapnya dalam cahaya abu-abu yang masuk dari celah gorden, dari jendela yang menghadap ke tembok bengkel. Wajah yang dulu kupikir paling berbahaya di dunia. Bulu mata yang panjang. Alis yang sedikit berkerut, bahkan dalam tidur, seolah ia sedang memikirkan dosis.

Ia cantik. Aku sudah berhenti terkejut setiap kali menyadarinya. Tapi aku belum berhenti menyadarinya.

Aku tidak membangunkannya. Ia jaga malam dua hari lalu. Ia butuh tidur.

Aku turun dari tempat tidur pelan-pelan, supaya kasurnya tidak berderit. Kasurnya selalu berderit. Aku sudah mencoba memperbaikinya tiga kali, dengan baut, dengan ganjal kayu, dengan las titik di rangka besinya. Ia tetap berderit. Shella bilang itu bukan masalah struktural. Itu masalah karakter.


Dapur kami sempit. Satu kompor dua tungku. Satu rak piring yang kulas sendiri dari besi siku sisa proyek. Satu jendela kecil di atas bak cuci, tempat Shella menaruh pot lidah buaya ketiga, karena dua yang sebelumnya mati.

Aku merebus air.

Di rak, ada dua toples. Satu berisi kopi bubuk dari warung Mak Ijah, yang dikirim lewat bus Pelabuhanratu setiap bulan dengan tulisan spidol di tutupnya: BUAT SI DIEM. JANGAN DIKASIH GULA. Satu lagi berisi gula pasir. Untuk tamu. Untuk Kinan, yang minum teh manis dengan tiga sendok dan bilang itu kebutuhan otak mahasiswa farmasi.

Aku menyeduh satu gelas kopi hitam.

Lalu, karena kebiasaan, karena tangan kananku tahu sebelum kepalaku, aku mengambil gelas kedua.

Aku berhenti.

Gelas itu kosong di tanganku.

Dua minggu ini, Shella tidak minum kopi. Ia bilang perutnya tidak enak. Ia bilang mungkin asam lambung, karena jaga malam dan makan tidak teratur. Ia minum teh jahe. Lalu susu hangat. Lalu air putih saja, dengan muka seperti orang minum obat.

Aku meletakkan gelas kedua kembali di rak.

Aku memanaskan susu.


Sambil menunggu susu mendidih, aku duduk di kursi plastik di dapur dan membuka buku cokelat.

Buku ketiga. Tiga ribu rupiah dari warung fotokopi di depan klinik Kramat Jati. Sampulnya sudah lecek di sudut-sudut, ada noda kopi di halaman lima puluhan, ada bekas sambal di halaman seratus, ada coretan pensil warna Fadli, anak tetangga di gang hijau yang suka menginap kalau ibunya kerja shift malam.

Isinya bergantian. Tulisanku, yang tegak dan kaku. Tulisannya, yang lebih miring dan lebih cepat, seperti resep dokter yang sudah berlatih menjadi lebih jelas.

Hari ke-12. Pintu kamar mandi masih harus diangkat. Dia bilang jangan diperbaiki. Katanya itu ciri khas rumah ini. —S.

Hari ke-12. Aku perbaiki diam-diam. Sekarang tidak perlu diangkat. Dia belum sadar. —A.

Hari ke-14. Aku sadar. Aku marah. Terus aku seneng. Terus aku marah lagi karena aku seneng. —S.

Aku membalik halaman.

Hari ke-58. Dia diterima PPDS Penyakit Dalam. UI. Dia nelepon Bu Ratna sambil nangis. Bu Ratna juga nangis. Mbok Sum juga nangis di belakang. Aku dengar semuanya dari dapur. —A.

Hari ke-58. Jas putih baru. Yang ini lengannya lebih panjang. Ayah, aku pakai. —S.

Hari ke-97. Kinan IP semester satu 3,91. Dia bilang 0,09 itu salah dosennya. Mitha bilang itu salah Kinan karena kebanyakan ngurusin Dodi. Kinan bilang siapa itu Dodi. Telinga Kinan merah. —S.

Aku berhenti di halaman itu. Aku masih belum tahu harus merasakan apa tentang Dodi. Shella bilang aku harus menunggu sampai Kinan sendiri yang cerita. Kinan belum cerita. Telinganya masih merah setiap kali nama itu disebut.

Aku membalik lagi.

Hari ke-140. Pak Gondo pensiun. Presiden pensiun juga, katanya. Mereka berdua tinggal di Ciawi sekarang. Bengkel atas namaku. Aku belum biasa. Plang di depan masih “Las Gondo”. Aku nggak mau ganti. —A.

Hari ke-201. Jembatan gantung di Cisolok mulai dibangun. Buat anak-anak yang nyebrang sungai ke sekolah. Asep jadi mandornya. Mak Ijah datang tiap pagi bawa kopi, dan ngatur semua tukang kayak ngatur warung. Dia bilang lagi, “Jembatannya, aku yang bangun.” Kali ini beneran. —S.

Aku menyentuh halaman itu.

Dulu, saat dua puluh tiga lembar hitunganku hilang dan berkas sertifikasiku ditolak, aku berpikir jembatan apa pun yang kugambar tidak akan pernah berdiri. Sekarang jembatan itu berdiri. Seratus empat puluh meter. Kabel baja. Lantai kayu ulin.

Anak-anak menyeberang di atasnya setiap pagi. Ada satu anak perempuan, kelas tiga SD, yang selalu berhenti di tengah dan melompat dua kali untuk memastikan jembatannya kuat.

Jembatannya kuat. Aku menghitungnya empat kali.


Susu mendidih.

Aku menuangnya ke gelas kedua. Aku tidak menambahkan gula. Shella tidak suka manis. Ia tidak pernah suka manis. Ia hanya pernah pura-pura suka, berbulan-bulan, di warung kopi depan bengkel, dengan muka seperti orang minum obat.

Aku sudah mencatatnya. Di buku yang pertama.

Saat aku berbalik dengan dua gelas di tangan, ia sudah berdiri di ambang pintu dapur.

Daster batik. Rambut diikat asal. Mata masih setengah tertutup. Dan wajah yang pucat. Sedikit lebih pucat dari biasanya.

“Kok nggak bangunin,” katanya.

“Kamu jaga malam.”

“Itu dua hari lalu.”

“Kamu masih tidur dengan mulut terbuka. Itu tanda capek. Fakta teknik.”

Ia memelototiku. Lalu ia menatap dua gelas di tanganku. Satu hitam. Satu putih.

Ia diam.

“Susu,” katanya pelan.

“Iya.”

“Kamu bikinin aku susu.”

“Kamu dua minggu nggak minum kopi.”

Ia menatapku. Lama. Dengan mata yang mulai terbuka sepenuhnya, dan sesuatu di dalamnya yang bergerak cepat, seperti ia sedang menghitung sesuatu dan tidak suka hasilnya karena hasilnya terlalu cepat ketemu.

“Mas,” katanya.

“Hm.”

“Duduk dulu.”

Aku duduk. Di kursi plastik. Dengan dua gelas di meja kecil di depanku.

Shella tidak duduk. Ia berdiri di depanku, memegang ujung dasternya dengan dua tangan, seperti anak kecil yang mau mengaku memecahkan piring.

Lalu ia merogoh saku dasternya.


Ia meletakkannya di meja. Di antara gelas kopi hitam dan gelas susu.

Benda kecil dari plastik putih. Panjang. Dengan jendela kecil di tengahnya.

Dua garis.

Aku menatapnya.

“Aku tes tadi jam tiga,” kata Shella. Suaranya bergetar. “Waktu kamu tidur. Aku kebangun mual, terus aku… aku udah curiga tiga hari. Tapi aku dokter, Mas, aku nggak mau ngomong sebelum ada data. Terus aku tes. Terus aku duduk di lantai kamar mandi sejam. Pintunya nggak perlu diangkat, makasih ya. Terus aku balik ke kasur dan pura-pura tidur, karena aku nggak tahu harus ngomong apa, dan aku mau ngomongnya pas, di saat yang pas, dengan kalimat yang pas, aku udah nyiapin di kepala, aku mau bilang…”

Ia berhenti. Ia menatapku.

“Mas,” katanya. “Aku hamil.”

Aku menatap dua garis itu.

Lalu aku menatapnya.

“Aku tahu,” kataku.

Hening.

Shella membeku.

“Apa?”

“Aku tahu,” ulangku pelan.

“Gimana kamu bisa tahu?!” Suaranya naik satu oktaf penuh. “Aku aja baru tahu jam tiga! Aku dokter! Aku nggak bilang siapa-siapa!”

“Kamu nggak minum kopi dua minggu,” kataku. “Kamu tidur jam delapan malam tiga kali minggu ini. Kamu muntah di kamar mandi hari Selasa, kamu bilang gara-gara nasi padang. Kamu nggak pernah muntah gara-gara nasi padang. Kamu pernah makan nasi padang basi di Pelabuhanratu dan nggak apa-apa.” Aku menatapnya. “Kamu nangis nonton iklan sabun cuci piring hari Kamis.”

“Iklannya sedih!”

“Itu iklan sabun, Shel.”

“Ibunya nyuci piring sendirian sementara anaknya kuliah di luar kota!”

“Kamu juga ngecek kalender di HP tiap pagi, terus ngitung pakai jari, terus diem.”

Shella menatapku dengan mulut terbuka. Seperti saat tidur. Aku tidak mengatakannya.

“Kamu nulis di buku,” katanya pelan. “Ya kan. Kamu nulis semuanya.”

“Hari ke-354,” kataku. “Dia nggak minum kopi. Kubiarkan. Nanti dia cerita sendiri.”

Shella menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Kamu,” katanya dari balik telapak tangannya, “selalu tahu duluan. Dari hari pertama. Ini nggak adil. Aku udah nyiapin kalimatnya.”

“Bilang aja kalimatnya.”

“Udah nggak ada artinya!”

“Ada,” kataku. “Aku mau denger.”

Ia menurunkan tangannya. Matanya basah. Bibirnya gemetar, antara mau menangis dan mau marah dan mau tertawa.

Lalu ia berlutut di depan kursi plastikku. Di lantai dapur yang sempit. Seperti di lantai ruang belajar lantai tiga, di bawah jendela barat.

Ia memegang tanganku. Tangan kanan. Ia membalik telapaknya ke atas, dan ibu jarinya menyusuri bekas jahitan sembilan tusuk yang sekarang hanya garis tipis yang pucat.

“Dulu,” katanya, “aku nggak tahu tangan ini bisa jadi apa aja. Aku cuma tahu tangan ini yang aku pikir ngebunuh Ayah.”

Ia mengangkat tanganku. Pelan. Ia meletakkannya di perutnya. Di atas daster batik. Di bawah pusar.

Masih rata. Belum ada apa-apa yang bisa dirasakan. Tapi tanganku diam di sana, dan tidak gemetar.

“Sekarang aku tahu,” katanya. “Tangan ini yang bakal gendong dia pertama kali.”

Aku tidak bisa bicara.

Aku sudah berhenti mencoba bicara di saat-saat seperti ini. Shella bilang tidak apa-apa. Shella bilang aku bicara dengan cara lain.

Jadi aku turun dari kursi plastik. Aku berlutut di depannya, di lantai dapur, sehingga kami sama tinggi. Tanganku masih di perutnya. Tangannya masih di atas tanganku.

Dan aku menangis.

Bukan tanpa suara, seperti di belakang kursi Kinan. Bukan diam-diam, seperti di dermaga. Aku menangis seperti orang yang tidak perlu menyembunyikan apa-apa lagi dari siapa pun. Di dapur sempit yang rak piringnya kulas sendiri. Di depan perempuan yang dulu meludahiku, dan sekarang menghapus air mataku dengan ujung daster batiknya.

“Sudah?” tanyanya pelan, setelah lama.

Aku tertawa. Basah.

“Belum,” kataku.

“Ya udah,” katanya. “Keluarin semua. Aku nunggu.”


Kopiku dingin. Susunya juga.

Kami tidak meminumnya.

Pukul enam lewat sedikit, Shella mengambil buku cokelat ketiga dari meja dapur. Ia membuka halaman yang kosong. Ia menulis tanggal. Lalu ia menyerahkan pulpen padaku.

“Kamu duluan,” katanya. “Kamu selalu tahu duluan.”

Aku menulis.

Hari ke-365. Dia bilang hamil.

Aku sudah tahu.

Matanya juga.

Shella membaca tulisanku dari balik bahuku. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyandarkan pipinya di punggungku, lama, dan aku merasakan kaus putihku basah lagi di satu titik.

Lalu ia mengambil pulpen dariku, dan menulis di bawahnya.

Hari ke-365. Aku hamil. Dia nangis. Aku juga.

Ayah, kamu jadi kakek.

Pakai jas putih.


Ponselnya berdering pukul tujuh. Jadwal klinik. Ponselku berdering pukul tujuh lewat lima. Mandor proyek di Bekasi.

Kami membiarkan keduanya berdering.

Ini hari Minggu. Hari ke-365. Bengkel tutup. Klinik ada dokter jaga lain. Proyek bisa menunggu satu hari.

Shella menarik tanganku, pelan, kembali ke kamar. Ke kasur yang berderit karena masalah karakter. Ke sprei biru muda yang mahal.

“Mas,” katanya, di ambang pintu kamar.

“Hm.”

“Kinan jangan dikasih tahu dulu. Nanti dia bilang ke Mitha, Mitha bilang ke Mak Ijah, Mak Ijah kirim kakap sekontainer.”

“Iya.”

“Mama juga jangan dulu. Mama bakal mesen ballroom.”

“Iya.”

“Pak Gondo…”

“Shel.”

Ia berhenti.

“Sudah?” tanyaku.

Ia menatapku. Lalu ia tersenyum. Senyum yang tidak dilatih di depan cermin. Senyum yang dulu kuhitung harinya, satu per satu, di buku cokelat yang pertama, dan tidak pernah kutemukan.

Sekarang aku menemukannya setiap pagi.

“Sudah,” katanya.

Aku menutup pintu kamar di belakang kami.

Pintunya tidak perlu diangkat. Sudah kuperbaiki.

Di dapur, di atas meja kecil, di antara gelas kopi yang dingin dan gelas susu yang dingin, buku cokelat ketiga terbuka di halaman tiga ratus enam puluh lima, dan sinar matahari pagi masuk dari jendela kecil di atas bak cuci, dan jatuh di atas tulisan kami berdua.

Masih banyak halaman kosong sesudahnya.

Kami punya waktu.


TAMAT