Chapter Ten
Bab 10 — Bengkel Dijual
POV: Shella
Koh Ahong datang sendiri ke bengkel pada hari Kamis, dengan mobil boks bertuliskan TOKO BESI SINAR JAYA di pintunya dan wajah yang tidak bisa memutuskan apakah ia ingin marah atau minta maaf.
Aku tidak ada di sana. Tapi Kinan ada, karena ia mengantar makan siang, dan Kinan menceritakannya padaku malam itu lewat telepon dengan detail yang membuatku tidak perlu bertanya apa pun.
“Koh Ahong itu baik, Kak,” katanya. “Dia nggak teriak-teriak. Dia malah bawa jeruk. Tapi dia bilang tokonya juga lagi susah. Dia bilang dia nggak bisa nunggu sampai tahun depan. Dia butuh lima belas juta akhir bulan ini. Sisanya boleh nyicil.”
“Terus Pak Gondo bilang apa?”
“Pak Gondo diem. Terus dia masuk ke dalam, terus keluar lagi bawa sertifikat tanah.” Kinan menelan ludah di ujung telepon. “Kak Arya langsung ambil sertifikatnya dari tangan Pak Gondo terus dimasukin lagi ke laci. Terus mereka berantem. Pertama kali aku liat Kak Arya ngomong keras ke Pak Gondo.”
“Ngomong apa?”
“‘Jangan, Pak. Itu rumah Bapak juga.’”
Aku tidak menjawab.
“Kak?” panggil Kinan.
“Iya. Aku dengerin.”
“Kak Shella bisa bantu nggak?” Suara Kinan mengecil. Untuk pertama kalinya, ia tidak terdengar galak sama sekali. Ia terdengar seperti anak tujuh belas tahun yang ketakutan. “Kakak kan orang kaya. Maksudku, bukan minta duit. Tapi mungkin Kakak kenal orang. Yang bisa minjemin dengan bunga kecil. Atau apa gitu.”
Aku menatap langit-langit kamarku. Lampu gantung kristal yang Mama pasang lima tahun lalu berkilauan seperti es.
“Aku coba cari ya, Kinan,” kataku.
“Makasih, Kak.” Suaranya bergetar sedikit. “Maaf aku dulu galak.”
Ia menutup telepon sebelum aku sempat menjawab.
Aku memegang ponsel itu lama di dadaku. Lalu aku membuka pesan ke nomor yang tidak tersimpan.
Sekarang.
Pembelinya datang empat hari kemudian.
Seorang laki-laki berkemeja putih rapi dengan dasi biru, yang memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari PT Sinar Karya Logam, perusahaan fabrikasi baja yang katanya sedang memperluas jaringan bengkel kecil di wilayah Jakarta Timur. Mereka tertarik membeli Bengkel Las Gondo beserta tanahnya. Harganya wajar. Bahkan sedikit di atas pasaran.
Dan mereka bersedia membayar lunas utang ke Koh Ahong sebagai bagian dari transaksi.
Pak Hadi menyusun semuanya dengan sempurna. Tawaran yang terlalu bagus untuk ditolak oleh orang yang sedang tenggelam, tapi tidak terlalu bagus sampai terlihat mencurigakan. Perusahaan yang benar-benar terdaftar, dengan alamat kantor di sebuah gedung di Sudirman, dengan akta notaris dan nomor pajak. Tidak ada yang bisa melacaknya kembali ke namaku, atau ke nama Wijaya.
Pak Gondo menolak tiga kali.
Lalu Koh Ahong menelepon lagi. Lalu anak perempuan Pak Gondo di Bogor menelepon, menyuruh bapaknya pensiun dan pulang, karena tekanan darahnya sudah seratus delapan puluh dan ia sudah dua kali hampir pingsan di bengkel tanpa memberitahu siapa pun.
Aku tidak tahu soal tekanan darahnya. Pak Hadi juga tidak.
Pada penolakan keempat, Pak Gondo tidak menolak lagi.
Aku datang di hari terakhirnya.
Bengkel itu sudah setengah kosong. Mesin-mesin besar tetap tinggal karena ikut terjual, tapi barang-barang pribadi Pak Gondo sudah dikemas dalam kardus-kardus bekas mi instan. Kalender dinding bergambar artis dangdut. Radio tua. Termos air panas bermotif bunga. Kaleng Khong Guan yang sudah kosong.
Seratus meter pagar abu-abu antrasit masih bersandar di sepanjang trotoar. PT Sinar Karya Logam membelinya sebagai stok. Pagar-pagar itu akhirnya punya pemilik, tapi tetap tidak punya rumah.
Pak Gondo duduk di kursi plastiknya di bawah pohon jambu untuk terakhir kali. Ia memakai kemeja batik yang sama dengan yang ia pakai ke kondangan. Sangkar Presiden ada di pangkuannya.
“Neng Shella,” katanya saat melihatku. Senyumnya lebar, terlalu lebar. “Neng datang. Saya kira Neng sibuk.”
“Masa saya nggak datang, Pak.”
“Duduk, duduk.”
Aku duduk di bangku kayu di sampingnya. Laki-laki itu sedang mengangkat kardus-kardus ke bak mobil pikap sewaan yang diparkir di depan. Ia bekerja tanpa bicara. Kinan duduk di jok depan pikap, kakinya terangkat ke dasbor, wajahnya cemberut dengan cara yang terlalu disengaja, seperti orang yang menahan tangis.
“Saya pulang ke Bogor,” kata Pak Gondo, seolah aku belum tahu. “Anak saya punya rumah di Ciawi. Ada kebun kecil. Saya mau tanam cabai. Presiden juga senang. Udaranya bagus buat perkutut.”
“Bagus, Pak.”
“Bagus,” ulangnya. Ia menatap bengkelnya. Atap seng yang berkarat. Plang kayu biru yang hurufnya mengelupas. Lantai semen yang penuh noda oli dan bekas percikan las. “Dua puluh tiga tahun, Neng. Saya buka bengkel ini dari nol. Dari cuma punya satu trafo las pinjaman. Anak saya lulus kuliah dari sini. Istri saya…” Ia berhenti. “Istri saya meninggal di sini. Di dalam situ. Serangan jantung. Pas lagi nyiapin kopi buat saya.”
Aku tidak tahu itu.
Ia tertawa kecil, dan tawa itu pecah di tengah.
“Maaf, Neng. Saya jadi cerita macem-macem. Orang tua.”
“Nggak apa-apa, Pak.”
Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, cepat, lalu menepuk-nepuk sangkar Presiden di pangkuannya.
“Presiden ini hadiah dari istri saya. Ulang tahun pernikahan yang ke-25. Dia bilang, biar saya ada teman ngobrol kalau dia udah nggak ada. Saya bilang, ngaco kamu. Eh, dua tahun kemudian beneran nggak ada.” Ia menatap burung itu. “Tapi bener juga. Presiden ini teman ngobrol yang bagus. Nggak pernah bantah. Nggak pernah ngadu.”
Kuk-kurruk, kata Presiden.
“Tuh. Setuju dia.”
Aku menatap burung itu. Mata hitam kecilnya menatapku balik. Aku teringat Sabtu siang itu, saat aku berjongkok di depan laci paling bawah, dan burung ini satu-satunya saksi.
Kamu nggak lihat apa-apa, aku bilang padanya waktu itu.
Tenggorokanku terasa kering.
Kardus terakhir sudah naik ke pikap. Laki-laki itu berdiri di samping mobil, menyeka keringat di dahinya dengan lengan kaus. Ia menunggu.
Pak Gondo berdiri dari kursi plastiknya dengan susah payah, satu tangan memegang sangkar Presiden, satu tangan menekan lutut. Ia berjalan ke arah laki-laki itu. Pelan. Langkahnya berat.
Ia berhenti di depannya.
Mereka saling menatap. Laki-laki tua dengan kemeja batik yang terlalu sempit, dan laki-laki muda dengan kaus yang basah keringat. Dua orang yang sudah sebulan ini tidak benar-benar bicara sejak kaleng biskuit itu ditemukan kosong.
“Ar,” kata Pak Gondo.
“Pak.”
“Saya mau ngomong sesuatu.”
“Nggak usah, Pak.”
“Diem. Saya yang tua. Saya yang ngomong.” Pak Gondo menarik napas. Kumisnya bergetar. “Soal duit di kaleng itu.”
Laki-laki itu tidak bergerak.
“Saya nggak percaya kamu yang ambil,” kata Pak Gondo. Suaranya serak. “Dari awal saya nggak percaya. Saya kenal kamu dari kamu masih jadi insinyur, datang ke sini pakai helm proyek, nanyain railing tangga sampai detail-detailnya. Orang kayak kamu nggak ambil duit dari kaleng biskuit orang tua.”
“Pak—”
“Tapi saya takut, Ar.” Air mata menetes dari mata Pak Gondo, jatuh ke kumisnya. Ia tidak mengusapnya. “Saya takut. Saya udah tua. Saya udah nggak punya apa-apa selain bengkel ini. Terus duitnya hilang, terus saya panik, terus saya liat kamu dan saya mikir yang jelek-jelek. Saya malu, Ar. Saya malu banget sama kamu. Sebulan saya nggak bisa liat muka kamu.”
Laki-laki itu menatap Pak Gondo lama.
“Bapak nggak salah,” katanya pelan. “Bapak wajar curiga.”
“Nggak wajar! Saya orang tua bodoh!”
“Pak.”
“Kamu nggak pernah belain diri kamu sendiri, Ar.” Pak Gondo hampir berteriak sekarang, sambil menangis. “Kenapa sih? Kenapa kamu nggak pernah bilang, bukan saya, Pak? Kenapa kamu cuma bilang, nanti saya ganti? Kamu bikin saya makin yakin kamu yang ambil, terus saya makin benci sama diri saya sendiri karena yakin!”
Laki-laki itu tidak menjawab.
Lalu Pak Gondo meletakkan sangkar Presiden di atas kap pikap, dan memeluknya.
Pelukan itu canggung. Pak Gondo lebih pendek satu kepala, dan perutnya yang bulat menghalangi. Laki-laki itu berdiri kaku di dalam pelukan itu, tangannya terangkat setengah di udara, seolah tidak tahu harus diletakkan di mana. Lalu perlahan, sangat perlahan, ia menurunkan tangannya dan menepuk punggung Pak Gondo. Sekali. Dua kali.
“Nggak apa-apa, Pak,” katanya. “Udah. Nggak apa-apa.”
Di jok depan pikap, Kinan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aku berdiri di bawah pohon jambu dengan tangan terkepal di sisi tubuhku.
Aku tidak boleh menangis. Aku tidak punya hak untuk menangis. Ini yang kuinginkan. Ini persis yang kurencanakan. Bengkel ini jatuh ke tangan perusahaan yang kubayar. Laki-laki itu kehilangan tempat ia bisa bekerja dengan tenang. Pak Gondo hanya korban yang tidak bisa dihindari.
Kerusakan sampingan, kata Pak Hadi waktu itu, dengan istilah yang dingin dan bersih.
Aku menatap kumis Pak Gondo yang basah, dan istilah itu terasa seperti kebohongan.
Pikap itu berangkat pukul empat sore.
Pak Gondo duduk di jok penumpang dengan sangkar Presiden di pangkuannya. Ia membuka kaca jendela dan melambaikan tangan. Kepada laki-laki itu. Kepada Kinan, yang sudah turun dan berdiri di pinggir jalan dengan mata merah. Kepadaku.
“Neng Shella!” teriaknya dari jendela. “Jagain Arya, ya! Dia itu bego! Nggak bisa jaga diri sendiri! Kalau nggak ada yang jagain, dia bisa dimakan orang!”
Aku tersenyum dan melambaikan tangan.
“Iya, Pak!”
“Janji?”
Pikap itu sudah mulai bergerak. Aku harus berteriak supaya terdengar.
“Janji, Pak!”
Kebohongan. Kebohongan yang paling mudah keluar dari mulutku sejak semua ini dimulai, dan entah kenapa juga yang paling berat.
Pak Gondo mengangkat sangkar Presiden ke jendela, seolah burung itu juga perlu berpamitan. Burung itu berbunyi panjang. Kuk-kurruuuk. Lalu pikap itu berbelok di ujung jalan dan menghilang.
Kami bertiga berdiri di depan bengkel yang sudah bukan milik siapa pun yang kami kenal.
Kinan menghapus matanya dengan lengan baju, keras, seperti marah pada air matanya sendiri.
“Bengkelnya dijual ke siapa sih, Kak?” tanyanya pada kakaknya. “Perusahaan apa?”
“PT Sinar Karya Logam.”
“Kok aneh. Perusahaan gede ngapain beli bengkel kecil di Cipayung?”
Laki-laki itu menatap plang kayu biru yang hurufnya mengelupas. Ia tidak menjawab.
“Kak?”
“Mungkin mereka punya alasan,” katanya akhirnya.
Ia mengatakannya tanpa menatapku. Tapi aku merasakan dingin merambat di tengkukku, seperti angin yang masuk lewat celah jendela yang tidak tertutup rapat.
Lalu ia berbalik padaku, dan wajahnya biasa saja. Tenang. Lelah.
“Pemilik barunya bilang aku masih bisa kerja di sini,” katanya. “Pak Gondo yang minta, sebagai syarat. Mulai Senin ada manajer baru.”
“Syukurlah, Mas,” kataku.
“Hm.”
Ia mengeluarkan buku cokelat dari saku celananya dan menulis sesuatu. Pendek. Lalu memasukkannya kembali.
Aku tidak bertanya kali ini.
Malam itu aku tidak menulis apa-apa di folder Proyek.
Aku membukanya. Aku menatap kursor yang berkedip di bawah catatan terakhir. Aku mengetik Hari ke-, lalu berhenti, karena aku tidak ingat lagi hari ke berapa sekarang.
Aku menutup ponselku.
Di meja rias, kunci mobilku tergeletak dengan meteran pita kuningan di gantungannya. Di sebelahnya ada secarik kertas kusut yang kusimpan sejak malam di masjid. Cicilan Koh Ahong. Minggu ke-3.
Aku menarik pita meteran itu sepanjang lengan, lalu melepaskannya.
Crek.
Semua yang berdiri itu ada hitungannya, kata Ayah.
Aku tidak tahu kenapa malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak yakin hitunganku benar.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual reading
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365