Chapter Fifty Eight
Bab 58 — Fondasi
POV: Arya
Besi pertama datang hari Senin pukul enam pagi, di atas truk bak terbuka dengan pelat nomor Karawang.
Aku sudah berdiri di gerbang proyek sejak setengah enam. Kopi hitam di gelas plastik dari warung sebelah. Helm putih yang masih kaku, dengan stiker kecil di sisi kiri: Ahli Struktur. Kinan yang menempelnya semalam, miring sedikit, dan menolak memperbaikinya.
“Biar Kakak inget,” katanya, “ini helm orang, bukan helm tukang las.”
Sopir truk turun dan menyodorkan surat jalan. Aku membacanya. Lalu aku naik ke bak truk.
Sopir itu menatapku. Mandor proyek, Pak Kasim, yang sudah tiga puluh tahun memimpin tukang di Bekasi, juga menatapku. Biasanya insinyur tidak naik ke bak truk. Biasanya insinyur menandatangani surat jalan di bawah tenda, sambil sarapan.
Aku mengeluarkan jangka sorong dari saku kemejaku.
Satu batang. Enam belas milimeter. Batang kedua. Enam belas. Ketiga. Enam belas koma satu.
Aku mengukur empat puluh batang dari dua ratus. Dari bagian atas tumpukan, tengah, dan bawah, karena kalau ada yang mau curang, ia menyembunyikan yang kecil di bawah.
Tiga tahun lalu, di lahan yang sama, besinya tiga belas milimeter, dan aku mengukurnya terlambat.
“Pak Insinyur,” kata Pak Kasim pelan dari bawah truk. Ia sudah mendengar ceritanya. Semua orang di Bekasi sudah mendengar ceritanya. “Semuanya enam belas?”
“Semuanya enam belas.”
Aku turun dari bak. Aku menandatangani surat jalan itu. Tanganku tidak gemetar. Aku memperhatikannya dengan seksama, karena tanganku sering gemetar akhir-akhir ini, dan aku ingin tahu kapan ia tidak.
Ia tidak gemetar.
Lahan bekas ruko itu sudah dibersihkan sejak bulan lalu.
Puing-puingnya diangkut dua tahun lalu, setelah polisi selesai. Yang tersisa hanya tanah merah, ilalang setinggi pinggang, dan lubang-lubang bekas tiang pancang lama yang terisi air hujan dan jentik nyamuk. Aku pernah berdiri di sini dengan kemeja yang kotor, di depan Shella, dengan kertas hitungan yang ia lempar ke punggungku. Aku pernah bilang sudah di sini dengan suara yang paling dingin yang pernah kugunakan padanya.
Sekarang ada pagar seng biru di keliling lahan. Ada papan proyek besar di dekat gerbang.
PEMBANGUNAN GEDUNG SERBAGUNA SARIP–WALUYO
Pemilik: Yayasan Tiga Nama
Ahli Struktur: Ir. Arya Mahesa
Aku tidak memilih namaku di sana. Mbak Dewanti yang memasukkannya, dengan alasan hukum yang ia jelaskan dalam empat paragraf dan aku tidak benar-benar dengar. Aku hanya dengar kalimat terakhirnya.
Orang-orang harus lihat nama itu di papan yang benar.
Gugatan itu selesai di bulan keempat. Lebih cepat dari yang dikatakan siapa pun. Bu Ratna, sebagai komisaris, berdiri di ruang rapat direksi Wijaya Konstruksi dan berkata bahwa perusahaan tidak akan membela diri. Direksi protes. Bu Ratna menunggu sampai mereka selesai protes, lalu berkata sekali lagi, lebih pelan.
Shella yang menceritakannya padaku. Ia bilang ibunya tidak meletakkan pisau di piring kali itu. Ia meletakkan pulpen.
Ganti rugi dibayar penuh. Dan lahan ini, yang tiga tahun dibiarkan kosong karena tidak ada pembeli yang mau tanah tempat tiga orang mati, dihibahkan ke yayasan baru yang pengurusnya tiga orang perempuan. Bu Sarip. Bu Waluyo. Istri Mang Udin, Bu Imas.
Tiga nama. Tiga laki-laki yang tidak pulang.
Lantai satu untuk kios. Warung nasi Bu Sarip, yang dulu di gang sempit di belakang pasar. Konveksi kecil Bu Waluyo. Satu kios untuk Bu Imas, yang belum tahu mau jualan apa. Lantai dua untuk klinik pratama. Lantai tiga untuk ruang belajar anak-anak tukang, dengan meja-meja panjang dan jendela besar menghadap ke barat.
Gambar arsitekturnya dibuat teman Dimas. Gambar strukturnya kubuat sendiri, di meja kerja Pak Gondo, selama enam minggu, setiap malam setelah bengkel tutup, dengan Presiden mengawasi dari sangkarnya.
Aku menghitung semuanya tiga kali. Lalu aku minta Dimas memeriksanya. Lalu aku minta dosen lamaku di ITB memeriksanya, lewat surel yang kutulis ulang lima kali karena aku malu.
Dosen itu membalas dalam dua hari. Hitunganmu masih yang paling rapi yang pernah saya lihat, Arya. Faktor keamanannya terlalu tinggi. Tapi saya mengerti kenapa.
Anak kerja praktik dari kampus datang hari Rabu.
Ia berdiri di depan tenda proyek dengan helm kuning yang terlalu besar dan map plastik berisi surat pengantar dari jurusan teknik sipil. Badannya tinggi kurus. Rahangnya keras.
Aku mengenalnya sebelum ia memperkenalkan diri.
Aku pernah melihat foto ayahnya. Di dinding rumah petak di belakang pasar, foto pernikahan anak tetangga, satu-satunya foto Pak Sarip yang bagus. Aku melihatnya dari jauh, dari seberang gang, berkali-kali, di tanggal sepuluh, saat aku memastikan Bu Sarip masih membuka warungnya.
Rahang yang sama.
“Saya Dodi,” katanya. “Kerja praktik dua bulan, Pak. Dari kampus.”
Ia tidak menjabat tanganku. Ia menyerahkan surat pengantar itu, dengan dua tangan, sopan, seperti yang diajarkan dosennya. Matanya tidak sopan.
Aku menerimanya.
“Kamu yang minta ditempatkan di sini?” tanyaku.
“Iya.” Ia menatapku lurus. “Saya mau lihat sendiri. Gedung yang dibangun di tempat bapak saya meninggal. Sama orang yang dulu bilang dia yang salah.”
Pak Kasim, di belakangku, berhenti menggulung meteran.
“Saya baca semua beritanya,” kata Dodi. “Saya tahu Bapak nggak salah. Saya tahu yang salah Pak Hendra sama Mang Udin.” Ia menelan ludah. “Tapi saya tiga tahun doain Bapak tiap malam. Doain yang jelek. Saya belum tahu harus ngapain sama tiga tahun itu.”
“Nggak usah ngapa-ngapain,” kataku.
“Itu bukan jawaban, Pak.”
Aku menatapnya. Anak umur dua puluh dua tahun dengan helm yang terlalu besar, yang membenciku dengan seluruh jujur hatinya, karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk ayahnya.
Aku pernah mengenal seseorang seperti itu. Aku jatuh cinta padanya.
“Kamu ikut saya ukur bekisting,” kataku. “Bawa meteran.”
Selama dua minggu, Dodi mengikutiku ke mana-mana.
Ia mencatat semuanya. Ia bertanya dengan nada orang yang mencari kesalahan. Kenapa sengkangnya serapat itu, Pak? Kenapa selimut betonnya lima senti, bukan empat? Kenapa Bapak cek slump tiap truk, bukan sampel aja?
Aku menjawab semuanya.
Ia tidak berterima kasih. Ia hanya menulis jawabanku di buku catatannya dengan tulisan yang semakin lama semakin rapi.
Di hari kesepuluh, ia menemukan kesalahan. Jarak sengkang di satu sloof, di sisi utara, empat belas senti, bukan dua belas. Tukangnya salah baca gambar.
Dodi berdiri di depan sloof itu dengan meteran di tangan dan wajah yang tidak tahu harus menang atau takut.
“Pak,” katanya. “Ini salah.”
Aku datang dan mengukurnya sendiri. Empat belas.
“Bongkar,” kataku pada Pak Kasim.
Pak Kasim menatapku. “Pak, itu satu sloof aja. Selisih dua senti. Masih masuk toleransi kalau…”
“Bongkar,” kataku. “Hari ini. Sebelum cor.”
Ia mengangguk dan memanggil tukang.
Dodi masih berdiri di depan sloof itu. Ia menatapku dengan cara yang berbeda.
“Bapak nggak marah?” tanyanya. “Saya yang nemuin.”
“Makanya kamu di sini,” kataku. “Tiga tahun lalu nggak ada yang nemuin. Ada yang nemuin, tapi telat. Ada yang nemuin, tapi disuruh nunggu seminggu.”
Dodi diam.
“Kalau kamu nemuin yang salah,” kataku, “kamu bilang. Ke saya. Ke siapa pun. Hari itu juga. Jangan nunggu.”
Ia menatapku lama. Lalu ia menulis sesuatu di buku catatannya. Aku tidak tahu apa.
Pengecoran fondasi dijadwalkan hari Sabtu, tanggal sepuluh.
Aku tidak memilih tanggal itu. Jadwal beton ready-mix yang memilihnya. Tapi aku melihat kalender di tenda proyek saat Pak Kasim menempelkannya, dan aku duduk di kursi plastik cukup lama sampai ia bertanya apa aku sakit.
Truk molen pertama datang pukul tujuh pagi.
Bu Sarip datang pukul setengah tujuh. Dengan kerudung cokelat dan rantang nasi uduk, karena menurutnya orang tidak boleh mengecor dengan perut kosong. Bu Waluyo datang dengan termos teh. Bu Imas datang dengan anak bungsunya, yang langsung lari ke tumpukan pasir dan dimarahi tiga orang sekaligus.
Bu Ratna datang dengan Mbok Sum. Ia berdiri di dekat pagar seng, dengan kacamata hitam dan topi lebar, dan tidak mendekat. Bu Sarip yang mendekatinya. Aku melihat mereka dari jauh. Dua perempuan yang suaminya mati di lahan yang sama. Satu yang suaminya menyebabkannya. Satu yang tidak.
Bu Sarip memberinya sebungkus nasi uduk.
Bu Ratna memegang bungkusan itu dengan dua tangan, lama, seperti Shella memegang gelas teh tawar di teras rumah petak.
Shella datang terakhir. Dari klinik, setelah jaga malam. Rambutnya diikat asal. Matanya merah kurang tidur. Jas putihnya ia lipat di lengan.
Ia berjalan langsung ke arahku.
“Udah mulai?”
“Belum. Nunggu kamu.”
“Bohong. Nunggu slump test.”
“Dua-duanya.”
Ia tersenyum. Lalu ia merogoh saku celananya.
Dua meteran pita. Kuningan. Sebesar tutup botol. Satu dengan lubang kecil di ujungnya, bekas gantungan kunci mobil yang sudah tidak ia punya. Satu yang lebih bersih, yang selama tiga tahun terkunci di kotak perkakas ayahnya di gudang, bersama buku tulis biru.
Pak Hendra membelinya sepasang. Satu untuk ulang tahun ketujuh belas anaknya, satu untuk dirinya sendiri. Shella menceritakannya padaku di pangkal dermaga, berbulan-bulan lalu, dengan suara yang hampir habis. Teman-temanku dapat tas. Aku dapat meteran.
Aku dulu sering melihat meteran yang satunya di kotak perkakas Pak Hendra, di kantor proyek. Kadang ia mengeluarkannya saat inspeksi, mengukur sesuatu yang tidak perlu diukur, lalu tersenyum seperti orang yang sedang memikirkan rumah.
“Shel,” kataku.
“Yang ini punya Ayah,” katanya, mengangkat meteran yang bersih. “Aku mau taruh di fondasi timur. Boleh?”
Fondasi timur. Titik di mana aku menemukannya. Di mana ia masih sadar, dan mencengkeram lenganku sampai kukunya meninggalkan bekas.
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk.
Pak Kasim menghentikan truk molen pertama di depan bekisting fondasi timur.
Semua orang berkumpul. Tukang-tukang dengan sepatu bot karet. Bu Sarip dan Bu Waluyo dan Bu Imas. Bu Ratna, yang akhirnya melepas kacamata hitamnya. Mbok Sum. Dodi, dengan helm kuning dan buku catatan di dada.
Shella berlutut di tepi galian.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia menatap meteran kuningan di tangannya sebentar. Lalu ia membungkuk dan meletakkannya di dasar bekisting, di antara besi-besi enam belas milimeter yang kuukur satu per satu, di dalam keranjang tulangan yang sengkangnya dua belas senti, persis.
Ia menekannya sedikit ke dalam, supaya tidak bergeser saat beton dituang.
Lalu ia berdiri, dan mundur, dan memegang tanganku.
“Cor,” kataku.
Beton abu-abu mengalir dari talang molen. Menutupi besi. Menutupi sengkang. Menutupi meteran kuningan yang mengilap sebentar di bawah matahari pagi, lalu hilang.
Bu Waluyo menangis. Bu Sarip mengucap bismillah dengan suara keras. Anak bungsu Bu Imas bertanya kenapa semua orang nangis padahal cuma semen.
Shella tidak menangis. Ia hanya menatap fondasi itu sampai talang molen berhenti. Tangannya di tanganku, erat.
“Sekarang dia di bawah gedung yang bener,” katanya pelan.
Lalu ia membuka telapak tangannya dan menatap meteran yang tersisa. Miliknya. Hadiah ulang tahun ketujuh belas.
“Yang ini aku simpen,” katanya. “Buat ngukur yang belum dibangun.”
Ia memasukkannya kembali ke saku celana. Lalu ia menyandarkan kepalanya di bahuku, dan kami menatap truk molen berikutnya mundur ke bekisting.
Pukul sepuluh, saat truk molen ketiga sedang dituang, ponselku bergetar.
Pengingat. Yang sudah tiga tahun berbunyi setiap tanggal sepuluh, pukul sepuluh pagi, dengan tulisan yang sama.
Transfer.
Aku tidak menghentikannya setelah PK dikabulkan. Gugatan sudah selesai, ganti rugi sudah dibayar, tapi aku tetap tidak menghentikannya. Shella pernah bertanya kenapa. Aku bilang aku tidak tahu. Itu jujur.
Aku duduk di kursi plastik di bawah tenda, membuka aplikasi bank, dan mengetik nominal yang sama. Tiga kali. Tiga nama.
Aku tidak sadar ada orang yang berdiri di belakangku.
“Pak.”
Aku menoleh. Dodi. Dengan dua gelas teh dari termos Bu Waluyo, satu untukku.
Matanya tidak menatapku. Matanya menatap layar ponsel di tanganku.
Penerima: SARAH BINTI ROHMAN.
Pengirim: ARYA MAHESA.
Berita: A.M.
Gelas teh itu tidak jatuh. Dodi memegangnya terlalu erat.
“Itu nama ibu saya,” katanya.
Aku tidak bisa menutup layarnya. Sudah terlambat untuk itu. Aku sudah tiga tahun pandai menyembunyikan banyak hal, dan semuanya ketahuan oleh orang-orang yang salah, di waktu yang salah.
“A.M.,” kata Dodi. Suaranya pecah di huruf kedua. “Tanggal sepuluh. Tiap bulan. Dari bulan pertama setelah bapak saya…”
Ia berhenti.
“Kuliah saya,” katanya. “Semester satu sampai sekarang.”
Aku diam.
“Saya doain Bapak,” kata Dodi. Air mata keluar dari matanya, tapi suaranya tidak berhenti. “Tiap malam. Pakai uang Bapak buat bayar kuliah, terus malamnya doain Bapak nggak pernah tenang.”
“Dodi.”
“Kenapa Bapak nggak bilang?”
Aku menatapnya. Lalu aku menatap fondasi timur, yang masih basah, dengan meteran kuningan di dalamnya.
“Karena kamu butuh benci seseorang,” kataku pelan. “Waktu itu. Lebih gampang benci saya daripada benci nggak ada siapa-siapa.”
Dodi menangis. Keras. Anak laki-laki dua puluh dua tahun dengan helm kuning yang terlalu besar, di bawah tenda proyek, di tempat ayahnya meninggal.
Aku berdiri. Aku tidak memeluknya. Aku tidak tahu apakah ia mau dipeluk oleh orang yang tiga tahun ia doakan celaka.
Aku hanya mengambil gelas teh dari tangannya, sebelum gelas itu pecah.
“Doanya dikabulkan,” kataku. “Saya memang nggak tenang. Tiga tahun.” Aku meletakkan gelas itu di meja. “Tapi sekarang kamu udah boleh berhenti.”
Dodi menatapku.
Lalu ia yang memelukku. Canggung. Seperti Pak Gondo di depan pikap. Lalu tidak canggung lagi.
Dari luar tenda, aku melihat Bu Sarip berdiri dengan rantang kosong di tangan, menatap kami. Ia tidak bisa membaca. Ia tidak perlu membaca. Ia sudah tahu sejak lama. Ia hanya menunggu anaknya tahu sendiri.
Shella berdiri di sebelahnya. Ia menatapku dari jauh, dengan mata yang merah.
Ia tidak datang mendekat. Ia membiarkan ini milik Dodi.
Malam itu, di bengkel, aku membuka buku cokelat yang kami tulis bergantian.
Hari ke-301. Fondasi timur dicor. Besi enam belas. Sengkang dua belas. Semua kuukur sendiri.
Meteran Pak Hendra ada di dalamnya.
Dodi tahu.
Aku diam lama.
Lalu aku menulis satu baris lagi, di bawahnya. Dengan tangan kanan, yang bekas jahitannya sembilan tusuk, yang tidak gemetar.
Pak, kali ini ukurannya sama.
- 1 Bab 1 — Tiga Tahun
- 2 Bab 2 — Maaf yang Bukan Maaf
- 3 Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu
- 4 Bab 4 — Kopi Tanpa Gula
- 5 Bab 5 — Sudah?
- 6 Bab 6 — Kinan
- 7 Bab 7 — Pagar Seratus Meter
- 8 Bab 8 — Aku Tahu
- 9 Bab 9 — Bibir yang Digosok
- 10 Bab 10 — Bengkel Dijual
- 11 Bab 11 — Stetoskop
- 12 Bab 12 — Dipecat
- 13 Bab 13 — Daftar Hitam
- 14 Bab 14 — Kontrakan
- 15 Bab 15 — Wajah di Televisi
- 16 Bab 16 — Kenapa Kakak Nggak Mati Aja
- 17 Bab 17 — Satu-Satunya Harapan
- 18 Bab 18 — Berkas yang Hilang
- 19 Bab 19 — Beasiswa
- 20 Bab 20 — Malam Sebelumnya
- 21 Bab 21 — Ludah
- 22 Bab 22 — Aku Tahu Sejak Hari Pertama
- 23 Bab 23 — Menang
- 24 Bab 24 — Mang Udin
- 25 Bab 25 — Untuk Jas Putih Shella
- 26 Bab 26 — A.M.
- 27 Bab 27 — Ibu Tahu?
- 28 Bab 28 — Seratus Delapan Puluh Tujuh Hari
- 29 Bab 29 — Hari ke-1 Aku Menebus
- 30 Bab 30 — Pelabuhanratu
- 31 Bab 31 — Neng Dokter
- 32 Bab 32 — Tangan
- 33 Bab 33 — Makanan untuk Mak Ijah
- 34 Bab 34 — Surat
- 35 Bab 35 — Novum
- 36 Bab 36 — Mang Udin Pergi
- 37 Bab 37 — Kursi Paling Belakang
- 38 Bab 38 — Pengorbanan yang Dibuang
- 39 Bab 39 — Media yang Sama
- 40 Bab 40 — Rumah yang Dijual
- 41 Bab 41 — Pak Gondo
- 42 Bab 42 — Tetangga
- 43 Bab 43 — Sekolah Kinan
- 44 Bab 44 — Jahitan
- 45 Bab 45 — PEMBUNUH
- 46 Bab 46 — Kopinya Pas
- 47 Bab 47 — Waktu Itu Kamu Juga Senyum Begini
- 48 Bab 48 — Yang Tidak Tumbuh Lurus
- 49 Bab 49 — Pecah
- 50 Bab 50 — Hari ke-188
- 51 Bab 51 — Tanda Tangan
- 52 Bab 52 — Matanya Juga
- 53 Bab 53 — Pulang
- 54 Bab 54 — Bibir yang Tidak Diusap
- 55 Bab 55 — Pacaran Beneran
- 56 Bab 56 — Ibu
- 57 Bab 57 — Kak
- 58 Bab 58 — Fondasi reading
- 59 Bab 59 — Sapu Tangan
- 60 Bab 60 — Sudah?
- 61 Epilog — Hari ke-365