← Hukuman Kedua

Chapter Three

Bab 3 — Sapu Tangan Abu-Abu

POV: Shella

“Mas mau nemenin aku ke makam Ayah?”

Aku menanyakannya di hari keempat, lewat telepon, pukul sembilan malam, saat aku tahu ia sudah pulang dari bengkel dan tidak punya alasan sibuk.

Di seberang sana, hening. Aku mendengar bunyi televisi yang samar, suara sinetron, dan seorang perempuan muda yang berteriak, “Kak, sambalnya abis lagi!”

“Kinan,” kata laki-laki itu, menjauhkan ponselnya sedikit. “Beli di warung.”

“Duitnya mana?”

“Di kaleng.”

“Kalengnya kosong!”

“Kaleng yang satunya.”

Lalu suara langkah kaki menjauh dan pintu yang dibanting.

Ia kembali ke ponsel. “Maaf.”

“Nggak apa-apa.” Aku tersenyum, meski ia tidak bisa melihatnya. Senyum membuat suara terdengar lebih hangat; aku pernah membacanya di buku komunikasi dokter-pasien. “Gimana, Mas? Sabtu ini. Aku jemput.”

Hening lagi.

“Kenapa aku?” tanyanya.

Pertanyaan yang sama. Kenapa. Laki-laki ini sepertinya punya kebiasaan bertanya kenapa untuk hal-hal yang orang lain terima begitu saja.

“Karena aku pengin Ayah lihat,” kataku pelan. “Aku pengin Ayah lihat aku udah bisa duduk sama Mas tanpa marah. Aku pengin Ayah tahu aku baik-baik aja.”

Itu kalimat yang bagus. Aku menyusunnya sore tadi di sela-sela menulis status pasien.

Di seberang, aku mendengarnya menarik napas. Panjang. Lalu mengembuskannya.

“Jam berapa?”


Ayah dimakamkan di San Diego Hills, Karawang. Jauh dari Jakarta, di atas bukit yang rumputnya dipotong rapi seperti lapangan golf, dengan pemandangan yang terlalu indah untuk tempat orang mati.

Mama yang memilih tempat itu. “Ayahmu suka tempat yang luas,” katanya. Aku tidak membantah. Ayah memang suka tempat yang luas. Tapi Ayah juga suka martabak pinggir jalan dan nasi uduk di gang sempit, dan tidak ada satu pun dari itu di San Diego Hills.

Sabtu pagi aku menjemputnya di depan gang kontrakannya.

Ia sudah berdiri di sana saat aku tiba. Kemeja biru tua yang disetrika sampai lipatannya tajam, celana bahan hitam, sepatu pantofel yang solnya sudah tipis tapi disemir mengilap. Rambut cepaknya disisir rapi. Ia terlihat seperti laki-laki yang mau datang ke wawancara kerja, atau ke sidang.

Ia membawa kantong plastik putih berisi bunga. Bunga sedap malam dan melati, yang dijual di pasar dengan harga murah.

“Mas beli bunga?”

“Nggak sopan datang tangan kosong.”

Aku menatap kantong plastik itu. Di jok belakang mobilku sudah ada rangkaian bunga lili putih yang kupesan dari florist di Kemang, dengan pita satin dan kartu ucapan. Harganya mungkin sepuluh kali lipat bunga pasar itu.

“Masuk, Mas.”

Ia membuka pintu mobil pelan, seolah takut merusaknya, lalu duduk di jok penumpang dengan punggung lurus. Kantong bunga di pangkuannya. Ia tidak menyandar sama sekali selama perjalanan.


Perjalanan ke Karawang memakan waktu dua jam karena tol Cikampek sedang ada perbaikan. Dua jam berdua dengan laki-laki itu di dalam ruang tertutup.

Aku sudah menyiapkan daftar topik. Cuaca. Pekerjaan. Kinan. Hal-hal netral yang membuatnya bicara sementara aku mengamati.

“Kinan mau kuliah di mana, Mas?”

“Belum tahu. Dia pengin farmasi.”

“Wah, deket sama dunia aku. Nanti kalau butuh info, aku bisa bantu.”

“Makasih.”

“Dia pinter?”

“Pinter. Galak.”

Aku tertawa. Kali ini tawaku hampir asli, dan itu membuatku kesal.

“Galak gimana?”

Ia menatap jalan di depan.

“Kemarin dia nanya kenapa ada cewek nelepon jam sembilan malam,” katanya. “Terus dia nanya kamu siapa.”

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

“Mas jawab apa?”

“Teman.”

“Terus?”

“Terus dia bilang, ‘Kakak nggak punya teman.’”

Kali ini aku benar-benar tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Laki-laki itu menoleh sekilas ke arahku, lalu kembali menatap jalan, dan aku melihat bayangan senyum yang sama seperti di bengkel. Muncul sekejap, lalu dibatalkan.

Aku berhenti tertawa. Aku menyalakan radio. Lagu pop yang terlalu ceria memenuhi mobil, dan aku membiarkannya.

Aku harus lebih hati-hati.

Di rest area kilometer 39, aku berhenti untuk ke toilet. Saat aku kembali, laki-laki itu sudah berdiri di samping mobil, memegang sebuah kotak makan plastik biru dengan tutup yang diikat karet gelang.

“Apa itu, Mas?”

Ia terlihat seperti orang yang tertangkap basah.

“Kinan,” katanya. “Dia bangun subuh. Masak.”

Ia membuka tutupnya. Di dalamnya ada dua bungkus nasi yang dibungkus daun pisang, telur dadar yang dipotong-potong tidak rata, dan sambal dalam plastik kecil yang diikat. Di atas semua itu, ada selembar kertas sobekan buku tulis dengan tulisan tangan yang besar dan miring.

Aku membacanya sebelum ia sempat menyembunyikannya.

BUAT KAKAK DAN TEMAN KAKAK YANG ITU. JANGAN MALU-MALUIN. JANGAN DIEM AJA KAYAK TIANG LISTRIK. —K

Aku menggigit bibir. Laki-laki itu melipat kertas itu dengan cepat dan memasukkannya ke saku kemejanya. Telinganya merah, dan kali ini aku yakin bukan karena matahari.

“Dia memang begitu,” katanya.

“Galak,” kataku.

“Galak.”

Kami makan di bangku beton di bawah pohon ketapang, dengan truk-truk besar yang berderet di parkiran dan bau solar di udara. Telurnya keasinan. Sambalnya terlalu pedas sampai mataku berair. Nasinya masih hangat karena dibungkus daun.

Aku sudah makan di restoran-restoran yang namanya sulit dieja. Tapi aku menghabiskan nasi itu sampai butir terakhir, dan aku tidak tahu kenapa.

Mungkin karena aku lapar. Mungkin karena tidak sopan menyisakan makanan yang dimasak orang lain.

Itu saja, kataku pada diriku sendiri. Itu cuma soal sopan santun.

Laki-laki itu makan pelan-pelan di ujung bangku yang lain, menjaga jarak sejauh mungkin dariku tanpa terlihat menjauh. Saat aku selesai, ia mengulurkan botol air mineral yang tutupnya sudah ia buka lebih dulu.

Aku mengambilnya tanpa menyentuh jarinya.


Di gerbang San Diego Hills, petugas keamanan mengarahkan kami ke area parkir, lalu seorang bapak berseragam dengan golf cart menawarkan diri mengantar kami ke blok makam.

“Mari, Mbak, Mas. Blok mana?”

“Garden of Peace. Blok C,” kataku.

Bapak itu mengangguk dan menyetir dengan gaya yang terlalu bersemangat untuk lokasi pemakaman. Ia bercerita tentang pengunjung kemarin yang tersesat dua jam, tentang rusa yang kadang muncul di bukit sebelah, tentang anak orang kaya yang dimakamkan bersama mobil-mobilan remote control kesayangannya.

“Mas ini suaminya, ya?” tanyanya tiba-tiba, menoleh ke belakang.

“Bukan,” kataku cepat.

“Oh, calon.”

“Bukan, Pak.”

“Oh. Saudara?”

Laki-laki itu menatap lurus ke depan. “Bukan, Pak.”

Bapak itu menatap kami bergantian lewat spion, wajahnya penuh pertanyaan yang tidak sopan ia tanyakan. Lalu ia menyerah dan menyalakan musik dangdut dari ponselnya, dengan volume rendah, sebagai bentuk penghormatan untuk orang-orang yang sudah meninggal.


Makam Ayah berbentuk persegi panjang rapi dengan nisan granit hitam. Namanya terukir dengan huruf emas.

HENDRA WIJAYA Suami dan Ayah Tercinta

Aku meletakkan lili putihku di atas makam. Laki-laki itu berdiri satu langkah di belakangku, memegang kantong plastiknya.

“Boleh?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk.

Ia berjongkok. Ia mengeluarkan bunga sedap malam dan melati dari kantong plastik, lalu menaburkannya di atas tanah dengan gerakan yang sangat hati-hati, merata, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Melatinya ia letakkan dekat nisan. Bunga-bunga pasar itu tampak kecil dan sederhana di samping lili mahal yang kubawa, tapi wanginya lebih kuat.

Lalu ia tidak berdiri.

Ia tetap berjongkok di sana, kemudian perlahan menurunkan lututnya ke rumput, hingga ia berlutut di samping makam Ayah. Ia menunduk. Kedua tangannya terangkat sedikit di depan dada.

Ia berdoa.

Lama.

Aku berdiri di belakangnya dan menatap punggungnya. Kemeja biru tua itu menegang di bahunya. Aku melihat lehernya yang menunduk, garis rambut cepak di tengkuknya, telinganya yang memerah terbakar matahari Karawang.

Inilah yang kuinginkan. Aku ingin ia berlutut di sini. Di depan orang yang ia bunuh. Aku ingin ia merasakan beratnya.

Tapi yang kurasakan bukan kepuasan.

Yang kurasakan adalah sesuatu yang lebih dingin dan lebih tajam. Karena ia terlihat terlalu tulus. Karena orang yang tidak tulus tidak akan berlutut selama itu di rumput basah dengan celana bahan satu-satunya. Dan kalau ia tulus, itu artinya ia merasa bersalah. Dan kalau ia merasa bersalah, itu artinya ia memang melakukannya.

Ya. Itu artinya ia memang melakukannya.

Aku mengepalkan tangan.

Ia akhirnya mengangkat kepala. Bibirnya bergerak pelan, mengucapkan sesuatu yang hanya untuk nisan itu, tapi angin bukit membawanya sampai ke telingaku.

“Maaf, Pak.”

Hanya itu. Dua kata.

Maaf tidak menghidupkan orang, pikirku. Maafmu tidak mengembalikan siapa pun.


Aku sudah merencanakan bagian ini. Aku akan berjongkok di samping makam, menyentuh nisan, lalu menangis. Sedikit. Cukup untuk membuatnya merasa bersalah. Cukup untuk membuatnya ingin melindungiku.

Aku berjongkok. Aku menyentuh huruf-huruf emas itu dengan ujung jari.

HENDRA.

Dan sesuatu yang tidak kurencanakan terjadi.

Mataku panas. Bukan panas yang kubuat. Panas yang datang dari tempat yang lebih dalam, tempat yang sudah tiga tahun kututup rapat-rapat dengan kemarahan. Aku teringat suara Ayah yang terlalu keras. Siulan sumbangnya di kamar mandi. Martabak manis yang ia selundupkan ke kamarku jam sebelas malam. Semua yang berdiri itu ada hitungannya, Shel.

Tenggorokanku tercekat.

Tidak. Bukan sekarang. Bukan di depan dia.

Aku menunduk. Air mataku jatuh, satu, dua, dan aku tidak tahu lagi mana yang kubuat dan mana yang bocor dari tempat yang tidak boleh dibuka. Aku menggigit bagian dalam pipiku sampai terasa asin. Aku menarik napas pendek-pendek dan memaksa semuanya kembali ke tempatnya.

Ini akting, kataku pada diriku sendiri. Ini cuma akting.

Sesuatu muncul di sudut pandangku.

Sebuah sapu tangan. Kain katun abu-abu, terlipat rapi menjadi persegi kecil, disodorkan oleh tangan dengan bekas luka bakar di punggungnya.

Aku menatap sapu tangan itu.

Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak menyentuh bahuku. Ia tidak berkata sudah, jangan nangis, atau Ayahmu sudah tenang, atau kalimat kosong lain yang diucapkan orang di pemakaman. Ia hanya menyodorkan sapu tangan itu, lalu memalingkan wajahnya ke arah bukit, memberiku ruang untuk menangis tanpa ditonton.

Aku mengambil sapu tangan itu.

Kainnya lembut, sudah sering dicuci. Baunya seperti sabun batangan murah dan, samar-samar, besi.

Aku menyeka mataku.

Laki-laki yang membunuh ayahku meminjamkan sapu tangannya supaya aku bisa menangisi ayahku.

Aku ingin tertawa. Aku ingin berteriak. Aku ingin melempar sapu tangan itu ke wajahnya. Aku tidak melakukan satu pun dari itu. Aku menyeka air mataku sampai kering, melipat sapu tangan itu kembali, dan menyodorkannya padanya.

“Makasih, Mas.”

Ia menatap sapu tangan itu, lalu menggeleng sedikit.

“Simpan aja. Mungkin nanti perlu lagi.”


Kami turun dari bukit dengan golf cart yang sama. Bapak sopir itu menatap mataku yang merah lewat spion, lalu mematikan musik dangdutnya tanpa diminta. Sepanjang jalan ke parkiran, ia diam. Itu bentuk kebaikan yang aneh, dan aku tidak tahu harus merasa apa tentangnya.

Di mobil, perjalanan pulang terasa lebih panjang dari perjalanan pergi.

Laki-laki itu masih duduk tegak. Tapi kali ini ia tidak menatap jalan. Ia menatap jendela samping, ke arah sawah-sawah yang lewat dan pabrik-pabrik di kejauhan.

“Mas,” kataku setelah setengah jam hening.

“Hm.”

“Tadi Mas ngomong apa sama Ayah?”

Ia diam cukup lama sampai aku mengira ia tidak akan menjawab.

“Minta maaf,” katanya akhirnya.

“Cuma itu?”

“Cuma itu yang boleh aku bilang.”

Aku menoleh padanya. “Maksudnya?”

Ia tetap menatap jendela.

“Nggak ada yang lain yang pantas,” katanya.

Aku kembali menatap jalan. Kalimat itu terasa ganjil, tapi aku tidak punya energi untuk menggalinya. Mataku masih panas. Kepalaku berat. Dan aku marah, sangat marah, pada diriku sendiri karena menangis sungguhan di depannya.


Aku mengantarnya sampai ke mulut gang. Ia turun, lalu membungkuk sedikit ke arah jendela.

“Terima kasih udah ngajak aku,” katanya.

“Makasih udah mau ikut, Mas.”

Ia mengangguk. Lalu ia berdiri di sana, menunggu, seperti kemarin. Menunggu sampai aku pergi.

Aku menyetir pergi.

Di pom bensin pertama, aku berhenti. Aku mengambil sapu tangan abu-abu itu dari pangkuanku, tempat aku meletakkannya sejak di makam. Aku membuka pintu, berjalan ke tempat sampah di samping pompa bensin, dan berdiri di depannya.

Tutup tempat sampah itu terbuka. Di dalamnya ada botol plastik, bungkus rokok, dan tisu bekas.

Aku memegang sapu tangan itu di atas lubang tempat sampah.

Petugas pom bensin memanggil dari belakang. “Mbak! Mbak, mobilnya mau diisi apa?”

Aku menoleh. “Pertamax. Full.”

Lalu, tanpa benar-benar memikirkannya, aku memasukkan sapu tangan itu ke saku dalam tas jinjingku. Nanti saja, pikirku. Nanti aku buang di rumah. Tempat sampah ini terlalu kotor, dan aku tidak mau ada orang yang memungutnya.

Alasan yang bodoh. Aku tahu itu alasan yang bodoh.

Aku kembali ke mobil dan menunggu tangki diisi.

Di rumah malam itu, aku mandi lama sekali. Aku mencuci rambutku dua kali seolah bau bunga sedap malam dan rumput bukit bisa hilang dengan sampo. Aku menulis catatan di aplikasi ponselku, di folder yang kuberi nama Proyek.

Hari ke-4. Dia berlutut di makam Ayah. Bagus.

Aku menatap kata bagus itu lama sekali, sampai layar ponselku meredup sendiri.

Lalu aku tidur.

Sapu tangan abu-abu itu tetap tinggal di saku dalam tas jinjingku, terlipat rapi di samping kunci mobil dan meteran pita kuningan milik Ayah. Aku lupa membuangnya malam itu.

Dan malam berikutnya.

Dan malam setelah itu.