Chapter Eight

Adik

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Dimas (via telepon), Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.400


Aku bangun jam sembilan pagi di kursi panjang sebuah warung, memakai kaus laki-laki yang kebesaran, dengan cahaya matahari masuk lewat celah pintu dan mendarat tepat di mataku.

Dan hal pertama yang kupikirkan bukan aku di mana.

Hal pertama yang kupikirkan adalah: aku tidur nyenyak.

Aku berbaring di situ selama beberapa menit sambil mencerna kenyataan itu. Delapan jam. Tanpa bangun. Tanpa mimpi. Tanpa terbangun jam tujuh dengan dada berdebar karena mengira ada yang mengetuk pintu.

Aku belum pernah tidur seperti itu di kontrakanku sendiri.

Di meja panjang, ada piring tertutup tudung saji. Di sampingnya, secarik kertas dari buku tulis, ditulis dengan pulpen, tulisan tangan yang jelek sekali untuk ukuran orang yang tangannya sepresisi itu:

Bubur di panci. Panasin dulu. Kompor kiri agak seret, puter dua kali. Baju kamu udah kering, di jemuran belakang. B.

Aku memandangi kertas itu terlalu lama.

Lalu aku melipatnya dan memasukkannya ke saku celana pendek yang bahkan bukan celanaku, dan aku tidak akan menjelaskan alasannya kepada siapa pun, termasuk diriku sendiri.


“Bang Bimo ke pasar, Mbak.”

Mamad muncul dari belakang sambil menyeret ember. Rambutnya berdiri ke arah tenggara hari itu.

“Jam berapa?”

“Jam enam.”

“Dia tidur nggak?”

Mamad berhenti menyeret ember.

“Emmm.”

“Mad.”

“Kayaknya nggak, sih.”

Aku menatapnya.

“Kayaknya?”

“Waktu saya balik jam lima, dia lagi duduk di depan.” Mamad menggaruk kepalanya. “Terus jam enam dia berangkat ke pasar. Kayaknya sih nggak tidur.”

“Dia sering gitu?”

“Nggak, Mbak.” Mamad mengangkat embernya lagi. “Biasanya dia tidur empat jam. Dari jam enam sampe sepuluh.”

“Terus kenapa kemarin nggak?”

Mamad menoleh ke arah kursi panjang di pojok. Ke bantal yang masih di sana. Ke selimut yang sudah dilipat rapi olehku beberapa menit lalu.

Lalu dia menoleh ke arahku dengan tatapan yang, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tidak bodoh sama sekali.

“Ya nggak tau, Mbak,” katanya. “Coba tanya sendiri.”


Dimas menelepon jam sebelas siang, saat aku sudah pulang dan sedang mencuci kaus abu-abu yang jelas-jelas bukan milikku.

“Halo, Mbak.”

“Dim. Kenapa? Kok siang?”

“Lagi istirahat.”

“Sekolah gimana?”

“Ya gitu.”

“Gitu gimana?”

“Ya gitu aja.”

Tujuh belas tahun. Aku ingat pernah jadi tujuh belas tahun dan menjawab semua pertanyaan ibuku dengan dua kata.

“Uang bulan ini udah masuk?”

“Udah. Makasih, Mbak.”

“Cukup?”

“Cukup.”

“Dim.”

“Iya, cukup. Beneran.”

“Kalau nggak cukup bilang.”

“Iya.”

Ada jeda. Aku mendengar suara anak-anak di belakangnya, suara kantin, suara sekolah yang bunyinya sama di seluruh Indonesia.

“Mbak.”

“Hm.”

“Mbak kerjanya apa, sih?”

Tanganku berhenti di dalam ember.

Ini bukan pertanyaan baru. Dimas menanyakannya kira-kira dua kali setahun, selalu tiba-tiba, selalu dengan nada yang terlalu enteng untuk pertanyaan seberat itu.

Dan aku selalu punya jawaban yang sama.

“Di perusahaan. Bagian administrasi.”

“Perusahaan apa?”

“Kenapa nanya?”

“Ya nanya aja.”

“Dim.”

“Temen-temen nanya.” Suaranya berubah. Lebih kecil. “Aku nggak tau harus jawab apa.”

Ada sesuatu yang menekan di belakang mataku.

“Bilang aja kantoran,” kataku. “Bagian keuangan.”

“Oh.”

“Iya.”

“Ya udah, Mbak. Makasih.”

“Dim.”

“Iya?”

“Belajar yang bener.”

“Iya, Mbak.”

Dia menutup teleponnya, dan aku duduk di lantai kamar mandi selama sepuluh menit dengan tangan yang masih basah, memandangi kaus abu-abu yang mengambang di dalam ember.


Aku datang jam empat pagi seperti biasa.

Aku tidak berencana bicara. Aku cuma ingin duduk di kursiku, makan apa pun yang ditaruh di depanku, dan mendengarkan orang lain hidup untuk beberapa jam.

Bimo menaruh mangkuk di depanku.

Dan berkata, “Kamu kenapa.”

“Nggak apa-apa.”

“Ran.”

“Beneran nggak apa-apa.”

Dia tidak mendesak. Dia kembali ke kompor.

Dan itu justru yang membuatku bicara, tiga menit kemudian, tanpa ditanya lagi.

“Adikku telepon tadi siang.”

“Hm.”

“Namanya Dimas. Kelas dua SMA.”

“Pinter?”

“Pinter banget.” Aku mengaduk mangkukku. “Ranking terus. Mau masuk teknik katanya.”

“Bagus.”

“Iya.”

Aku berhenti. Bimo tidak mengisi keheningan itu, seperti biasa, dan aku mengisinya sendiri, seperti biasa.

“Dia nanya aku kerja apa.”

Bunyi irisan di talenan berhenti.

“Kamu bilang apa?”

“Kantoran. Bagian keuangan.”

“Hm.”

“Aku bohong ke adikku sendiri, Mas.” Aku menaruh sendokku. “Tiga tahun. Dua kali setahun dia nanya, dua kali setahun aku bohong. Enam kali. Aku ngitung.”

“Iya.”

“Kamu nggak mau bilang apa-apa?”

“Enggak.”

“Kok enggak?”

Bimo memindahkan irisan bawangnya ke mangkuk kecil. Mengelap pisaunya. Menaruhnya.

Lalu dia berkata:

“Karena kamu udah tahu apa yang mau saya bilang.”

“Apa emangnya?”

“Bahwa dia bakal ngerti.”

Aku tertawa. Bunyinya jelek.

“Kamu nggak kenal Dimas.”

“Nggak.”

“Dia tujuh belas tahun. Anak tujuh belas tahun nggak ngerti apa-apa.”

“Mungkin.”

“Dia bakal malu.”

“Mungkin.”

“Dia bakal—“ Suaraku pecah di tengah, dan aku benci itu, dan aku berhenti untuk memperbaikinya sebelum melanjutkan. “Dia bakal mikir sekolahnya dibayar pakai apa.”

Warung itu sunyi.

Bimo tidak menjawab selama, mungkin, sepuluh detik.

Lalu dia bertanya, dengan nada yang sama seperti orang menanyakan harga cabai:

“Kamu malu?”

Aku mengangkat kepalaku.

“Apa?”

“Kamu. Malu sama diri sendiri?”

Dan pertanyaan itu — pertanyaan yang seharusnya kasar, yang seharusnya membuatku berdiri dan pergi dan tidak kembali lagi — keluar dari mulutnya dengan cara yang sama sekali tidak menghakimi, sehingga yang bisa kulakukan cuma menjawabnya dengan jujur.

“Kadang.”

“Kapan?”

Aku memikirkannya.

“Kalau lagi ngobrol sama Dimas.”

“Terus kalau lagi nggak ngobrol sama Dimas?”

“Enggak.”

“Kenapa enggak?”

“Karena—“ Aku berhenti.

Karena adikku sekolah. Karena ibuku tidak perlu pinjam ke siapa-siapa lagi. Karena obat bapakku tidak pernah telat sekali pun dalam tiga tahun. Karena aku menghitung semuanya, setiap bulan, dan angkanya selalu masuk.

“Karena angkanya masuk,” kataku pelan.

Bimo mengangguk sekali.

“Ya udah.”

“Ya udah apa?”

“Ya udah. Berarti kamu nggak malu.” Dia menyalakan kompor. “Kamu cuma takut dia malu. Itu beda.”

Aku duduk di sana dan merasakan sesuatu terlepas di dalam dadaku, sesuatu yang sudah tiga tahun terikat terlalu kencang sampai aku lupa itu ada.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu tuh sebenernya siapa, sih.”

Bimo mengangkat wajan.

“Tukang warung.”

“Bohong.”

“Bahu saya nggak naik.”

“Kamu jawabnya kecepetan.”

Dan Bimo — untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — tersenyum.

Bukan senyum besar. Cuma sudut mulutnya naik, sekitar dua milimeter, selama mungkin satu detik.

Tapi aku melihatnya.

Dan aku memikirkannya sepanjang perjalanan pulang, dan sepanjang mandi, dan sepanjang berbaring di kasur menatap langit-langit sampai jam sepuluh pagi.


Ada satu hal lagi yang terjadi malam itu, dan aku hampir melewatkannya.

Menjelang subuh, saat aku sudah memakai jaketku dan sudah setengah jalan ke pintu, aku teringat sesuatu.

“Mas.”

“Ya.”

“Kemarin kamu nanya soal ibuku.”

Bimo, yang sedang menyusun gelas, tidak berhenti.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Mas.”

“Cuma nanya.”

Aku berdiri di ambang pintu dan menatap punggungnya, dan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, aku menyadari sesuatu yang seharusnya kusadari jauh lebih awal.

Aku sudah menceritakan padanya tentang bapakku. Tentang utang itu. Tentang penagih, tentang foto, tentang kuliah yang berhenti di semester lima, tentang adikku yang tidak tahu apa-apa.

Dia sudah tahu hampir segalanya tentangku.

Dan yang kutahu tentang dia adalah: dia bisa masak, dia pernah kerja di hotel, ibunya sudah meninggal, dia tidak minum kopi, dan ada gitar di sudut yang tidak boleh disentuh.

Tiga minggu. Itu saja hasilnya.

“Mas.”

“Hm.”

“Nama belakang kamu apa?”

Gelas itu berhenti di udara.

Cuma sebentar. Setengah detik. Lalu diletakkan ke rak seperti tidak terjadi apa-apa.

“Prayoga,” katanya.

“Bimo Prayoga.”

“Iya.”

“Bagus.”

“Iya.”

Aku membuka pintu. Udara subuh masuk.

“Sampai ketemu besok, Mas Bimo Prayoga.”

Dan aku keluar sebelum sempat melihat wajahnya, yang mungkin bagus, karena kalau aku melihatnya mungkin aku akan menyadari sesuatu tiga puluh bab lebih awal daripada seharusnya.


Di depan warung, Bu Yatmi sedang menyusun bungkusan nasi di meja lipatnya.

“Neng.”

“Pagi, Bu.”

“Sini bentar.”

Aku menghampiri. Bu Yatmi menyodorkan sebungkus nasi kuning tanpa diminta, dan aku sudah belajar untuk tidak menolak apa pun dari perempuan ini.

“Neng.”

“Iya, Bu?”

Bu Yatmi menoleh ke arah warung sebelah. Ke pintu yang baru saja kututup.

“Anak itu,” katanya, “empat tahun di sini. Saya kenal dari hari pertama dia datang.”

“Iya, Bu.”

“Empat tahun, Neng. Nggak pernah sekali pun dia keluar dari gang ini.”

Aku mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Ya nggak pernah.” Bu Yatmi mengikat kantong plastik dengan gerakan yang sudah dia lakukan sejuta kali. “Ke pasar iya. Ke pasar tiap pagi. Selain itu nggak pernah.”

“Ke mana-mana nggak pernah?”

“Nggak. Nggak ke mal, nggak ke bioskop, nggak mudik, nggak ke mana-mana.” Bu Yatmi menatapku. “Orang kayak gitu tuh biasanya bukan lagi tinggal, Neng.”

“Terus apa?”

Dan Bu Yatmi, penjual nasi bungkus lima puluh delapan tahun yang tahu segalanya tentang semua orang di gang ini, mengangkat bahunya.

“Lagi sembunyi.”


Bersambung ke Bab 9 — “Surat”