Chapter Thirty Nine

Tiga Juta

POV: Bimo Tokoh: Bimo, Ranti Jumlah kata: ±1.150


Dia datang jam sebelas pagi.

Itu jam yang salah. Dia tidak pernah datang jam sebelas.

Warung ramai — jam makan siang belum, tapi ada tukang bangunan dari proyek ujung gang, ada anak ojol, ada Bu Yatmi yang mampir minta air panas.

Dan Ranti berdiri di ambang pintu.

Dia tidak masuk.

Dia berdiri di situ, dengan tas di bahu, dan matanya menemukan mataku dari seberang ruangan.

Dan aku tahu.


“Mad.”

“Iya, Bang.”

“Tutup.”

Mamad menoleh ke arah ruangan yang berisi sebelas orang.

“Bang, ini lagi rame—“

Tutup, Mad.


Butuh empat menit untuk mengosongkan warung.

Aku tidak mendengar apa yang Mamad katakan kepada orang-orang itu. Aku berdiri di balik meja panjang dengan kedua tangan di kayu dan aku tidak bergerak sama sekali.

Dan Ranti berdiri di ambang pintu selama empat menit itu.

Tidak duduk. Tidak masuk lebih dalam.

Berdiri.

Pintu ditutup. Gembok dipasang dari dalam. Mamad keluar lewat belakang tanpa berkata apa-apa.

Dan warung itu jadi sunyi.


“Mas.”

“Ya.”

Dia tidak menatapku. Dia menatap lantai keramik di dekat kakinya.

“Aku ketemu Damar.”

“Iya.”

“Semalem.”

“Iya.”

Dan aku berdiri di sana dan aku menunggu, dan aku sudah tahu sebagian besar dari apa yang akan dia katakan, dan aku sudah menyiapkan diri selama empat bulan untuk mendengarnya.

Aku salah tentang bagian mana yang akan dia katakan.

“Bapakku pinjem tiga juta,” katanya.


Ada beberapa hal yang berhenti pada saat yang sama.

Bunyi kipas — tidak, kipas masih berputar. Aku hanya berhenti mendengarnya.

Bunyi kulkas. Bunyi motor di gang. Bunyi apa pun.

“Buat modal,” lanjutnya, dan suaranya sangat datar, dan aku pernah mendengar suara itu sekali — di Bab tujuh, di bawah lilin, waktu hujan tidak berhenti. “Cicilan tiga ratus lima puluh, sepuluh bulan.”

Tanganku di kayu meja panjang.

“Kita nggak ngerti bunga harian, Mas. Bapak pikir sebulan lunas.”

Aku menutup mataku.

“Tiga bulan jadi delapan kali lipat.”


“Ran.”

“Aku belum selesai.”

Dan aku berhenti.

“Terus penagihnya datang.” Dia masih menatap lantai. “Bukan dari perusahaannya. Yang lain. Yang disewa.”

Aku tidak bisa bernapas dengan benar.

“Terus mereka minta akses HP Bapak. Bapak kasih, karena Bapak pikir itu bagian dari prosedur.”

Hening.

“Terus mereka sebar foto KTP-nya ke semua kontak.”


Aku ingin menuliskan apa yang kurasakan, dan aku tidak bisa.

Ada bagian dari diriku yang sudah empat tahun menyiapkan diri untuk hari di mana aku harus berdiri di depan seseorang dan mendengar apa yang kubangun diucapkan kembali kepadaku.

Aku sudah menyiapkannya.

Aku sudah membayangkannya. Ratusan kali. Di kursi belakang, jam enam pagi, sambil menghitung.

Aku membayangkan orang asing.

Aku tidak pernah — satu kali pun, dalam empat tahun — membayangkan bahwa orang itu akan berdiri di ambang pintu warungku memakai jaket abu-abu yang sudah lama bukan milikku.


“Nama aplikasinya Ringan,” katanya.

Dan dia mengangkat kepalanya.

Dan menatapku.

Untuk pertama kalinya sejak dia masuk.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu yang bikin?”


Ada satu detik di mana aku bisa berbohong.

Aku ingin mencatat itu, karena aku ingin ada catatan bahwa detik itu ada, dan bahwa aku mengenalinya, dan bahwa aku memilikinya.

Satu detik.

Aku bisa berkata bukan. Aku bisa berkata saya cuma karyawan. Aku bisa berkata sistemnya bukan saya yang bikin, saya keluar sebelum fitur itu jalan — dan itu bahkan benar, sebagian, dan sebagian yang benar itu cukup untuk membuat perempuan di ambang pintu itu tetap di sana.

Satu detik.

“Iya,” kataku.


Dia tidak menangis.

Itu yang paling sulit.

Aku sudah empat bulan mengenal perempuan ini, dan aku sudah melihatnya menangis enam kali, dan setiap kali dia menangis dengan cara yang jelek dan berisik dan tidak dijaga.

Dia tidak menangis.

Dia berdiri di sana dengan wajah yang benar-benar tenang, dan dia mengangguk sekali, pelan, seperti orang yang baru saja mendapat konfirmasi atas sesuatu yang sudah dia hitung.

“Oke,” katanya.


“Ran.”

“Sebentar.”

“Ran—“

“Sebentar, Mas.”

Dan dia berdiri di situ selama mungkin dua puluh detik, memandangi satu titik di lantai, dan aku bisa melihat bahwa dia sedang melakukan sesuatu di dalam kepalanya.

Aku tahu apa yang sedang dia lakukan.

Dia sedang menghitung.

Empat bulan aku menonton perempuan ini menghitung. Aku hafal wajahnya kalau sedang menghitung. Matanya bergerak sedikit ke kiri, dan dia berhenti berkedip, dan sudut mulutnya turun sepersekian milimeter.

Aku menonton dia menghitung selama dua puluh detik.

Dan aku tahu, dengan kepastian yang paling total yang pernah kumiliki tentang apa pun, bahwa angkanya tidak akan masuk.


“Mas.”

“Ya.”

Dan dia mengangkat kepalanya lagi.

“Bubur kacang ijo,” katanya.

Aku tidak mengerti.

“Malam ketiga aku ke sini. Kamu bikinin aku bubur kacang ijo yang nggak ada di menu.” Suaranya masih datar. “Aku inget aku mikir: orang ini baik banget.”

Aku memegang kayu meja panjang lebih erat.

“Terus sambal kacang. Terus minyak angin. Terus sandalku.”

“Ran.”

“Terus kamu tidur di lantai kamarku.”

“Ran—“

“Terus kamu bilang ‘jangan bales’.”

Dan suaranya akhirnya pecah, satu kali, di kata terakhir.

“Mas,” katanya. “Empat bulan.”


“Aku duduk di kursi itu empat bulan,” katanya. “Dan tiap malam aku mikir: kenapa orang ini sebaik ini sama aku.”

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Tiap malam, Mas. Empat bulan. Aku nyari alesannya.”

Dia menghapus wajahnya dengan lengan, satu kali, cepat.

“Dan ternyata alesannya udah ada dari awal.”


“Ran, itu bukan—“

“Bukan apa?”

Dan aku membuka mulutku, dan aku menyadari bahwa apa pun yang akan keluar berikutnya adalah pembelaan.

Aku menutupnya.

“Bukan kenapa, Mas?” Suaranya naik. “Bukan karena aku? Bukan karena kamu tau siapa aku?”

“Saya nggak tau.”

“Kamu bilang kamu nggak tau?”

“Ran, saya nggak tau bapak kamu—“

“AKU CERITA, MAS.”

Dan bunyi itu memenuhi seluruh ruangan.

“Aku cerita di Bab—“ Dia berhenti. Menghapus wajahnya lagi. “Malam hujan itu. Yang listriknya mati. Aku cerita semuanya. Utangnya. Penagihnya. Fotonya.”

Aku menutup mataku.

“Dan kamu nanya,” katanya. “Kamu nanya ‘foto?’. Aku inget banget. Kamu yang nanya duluan.”

Warung itu sunyi.

“Kamu udah tau dari malam itu, kan?”


Aku bisa berbohong.

Lagi.

Dan kali ini aku tidak bahkan punya satu detik, karena jawabannya sudah ada di wajahku sebelum aku sempat menyusun apa pun.

“Iya,” kataku.


Ranti berdiri di ambang pintu Warung Sembilan.

Dan dia mengangguk sekali lagi, pelan, dengan cara yang sama seperti tadi.

“Oke,” katanya.

“Ran.”

“Aku pulang dulu.”

“Ran.”

Dan dia membuka pintu.

“Ranti.”

Dia berhenti.

Setengah keluar, dengan satu tangan di gagang pintu, dan langit di luar sangat terang karena ini jam sebelas siang dan bukan jam lima pagi.

“Aku nggak marah, Mas,” katanya.

Dan itu adalah kalimat paling buruk yang pernah kudengar dari siapa pun seumur hidupku.

“Aku cuma perlu tau harus naruh perasaan ini di mana.”

Dan dia keluar.


Bersambung ke Bab 40 — “Porsi Dua”