Chapter Twenty Two
Api
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Bu Yatmi, Pak Har, warga gang Jumlah kata: ±2.450
Kebakaran itu terjadi hari Minggu, jam satu pagi, dan aku kebetulan sedang tidak bekerja.
Itu penting, karena artinya aku ada di sana dari awal.
Warung sedang ramai. Malam Minggu selalu ramai — anak-anak ojol berkumpul, tukang parkir bergantian makan, dan ada rombongan lima orang dari luar gang yang entah bagaimana menemukan tempat ini.
Aku duduk di kursiku, makan mie rebus, dan mengeluh soal kaki.
Dan kemudian terdengar bunyi.
Bukan ledakan. Bunyinya lebih rendah dari itu — seperti sesuatu yang berat jatuh di dalam ruangan tertutup, diikuti bunyi kaca.
Semua orang menoleh.
Dan tiga detik kemudian, dari ujung gang, terdengar seseorang berteriak.
“KEBAKARAN!”
Yang terjadi berikutnya di dalam warung itu berlangsung mungkin lima detik, dan aku mengingatnya dengan detail yang tidak masuk akal.
Semua orang berdiri sekaligus.
Kursi terdorong, meja bergeser, seseorang menjatuhkan gelas. Anak-anak ojol berlari ke pintu. Rombongan lima orang itu berteriak sesuatu satu sama lain. Mamad muncul dari belakang dengan wajah panik dan langsung ikut berlari.
Dan di tengah semua itu, Bimo tidak bergerak.
Dia berdiri di balik meja panjang. Memegang gayung kuah.
Dan aku melihatnya melakukan sesuatu yang aneh: dia menoleh ke arah bunyi, memiringkan kepalanya sedikit, dan mendengarkan.
Selama dua detik.
Lalu dia menaruh gayung itu.
Dan berkata — tidak keras, tidak berteriak, tapi entah bagaimana terdengar sampai ke ujung ruangan:
“Berhenti.”
Semua orang berhenti.
Aku serius. Dua belas orang di ruangan itu, semuanya sudah setengah jalan ke pintu, berhenti sekaligus seperti ada yang mencabut kabelnya.
Karena suara itu bukan suara yang kami kenal.
Suara itu turun satu oktaf dari suara Bimo yang biasa. Dan ada sesuatu di dalamnya — bukan panik, bukan marah — sesuatu yang membuat setiap orang di ruangan itu langsung mengerti, tanpa berpikir, bahwa mereka harus menunggu perintah.
“Mad.”
“I-iya Bang!”
“Belakang. Matiin gas. Semua tabung. Bawa keluar ke gang, taruh jauh dari tembok.”
“Iya Bang!”
“Pak Har.”
“Iya, Bim.”
“Ambil selang di depan ruko Kirana. Yang panjang. Sambung ke keran depan Bu Yatmi, jangan yang di sini, tekanannya lebih gede.”
“Iya.”
“Rizal.”
“Bang?”
“Telepon damkar. Bilang gang sembilan, dari Jalan Melati masuk yang kedua, gangnya sempit, kirim yang kecil.” Bimo sudah bergerak ke pintu. “Bilang ada tabung gas di sekitarnya. Itu yang penting, jangan lupa bilang.”
“Iya, Bang.”
“Yang lain, keluar. Jangan ngumpul di depan. Ke ujung gang, ke arah jalan besar.”
Dan dia keluar.
Aku mengikutinya.
Aku tidak tahu kenapa. Semua orang bergerak ke arah berlawanan dan aku bergerak ke arahnya, dan aku baru menyadari apa yang kulakukan waktu aku sudah di tengah gang.
Apinya di rumah nomor lima. Tiga pintu dari warung.
Bukan besar — belum. Api di jendela dapur, asap tebal keluar dari celah atap, dan bunyi yang seperti kertas diremas terus-menerus.
Dan di depan rumah itu, seorang perempuan berteriak.
“ANAK SAYA! ANAK SAYA MASIH DI DALEM!”
Aku ingin menuliskan bagian berikutnya dengan tepat, karena setiap kali aku menceritakannya orang selalu salah membayangkannya.
Bimo tidak lari masuk ke dalam rumah.
Aku pikir dia akan melakukannya. Selama setengah detik aku benar-benar yakin dia akan melakukannya, dan aku sudah membuka mulut untuk berteriak.
Dia tidak.
Dia berhenti di depan rumah itu. Dan bertanya:
“Umur berapa?”
“Apa?!”
“Anaknya umur berapa, Bu.”
“Em-empat! Empat tahun!”
“Kamarnya di mana?”
“Belakang! Sebelah dapur!”
“Pintunya kebuka apa ketutup?”
“S-saya nggak—“
“Bu.” Bimo memegang bahu perempuan itu, sekali, dan menatapnya. “Pintu kamarnya. Kebuka apa ketutup.”
“...Ketutup. Ketutup, saya tutup tadi.”
Dan sesuatu di bahu Bimo turun.
“Ya udah,” katanya. “Dia aman.”
“MAS, ANAK SAYA—“
“Bu, dengerin saya.” Bimo menoleh ke arah rumah, ke asap yang keluar dari atap. “Apinya di dapur. Asapnya naik ke atas, bukan nyebar ke samping. Kalau pintu kamarnya ketutup, asapnya belum masuk.”
“Tapi—“
“Ada jendela di kamar itu?”
“Ada.”
“Yang menghadap gang?”
“Iya.”
Bimo sudah berjalan.
“Pak Har! Selangnya bawa ke sini! Semprot atapnya, bukan pintunya! Atapnya!”
Dan dia berjalan ke sisi rumah itu, ke jendela kecil di dinding samping, dan aku berlari mengikutinya.
“Mas—“
“Ran, mundur.”
“Mas, aku—“
“Mundur.”
Aku mundur.
Dan aku menonton laki-laki itu mengetuk jendela tertutup dengan telapak tangan, tiga kali, keras.
“Dek.”
Tidak ada jawaban.
“Dek. Bangun.”
Tidak ada.
Bimo menoleh ke belakang, ke gang, dan matanya menemukan sesuatu di dekat tembok — batu bata pecah.
Dia mengambilnya.
Dan dia tidak langsung memecahkan jendelanya.
Dia melepas kaosnya lebih dulu.
Dia membungkus batu bata itu dengan kaosnya, memukul kaca di sudut bawah — bukan di tengah — dan kaca itu retak dan runtuh ke luar, bukan ke dalam.
Lalu dia memakai kaosnya kembali di tangan seperti sarung tangan dan membersihkan pecahan di bingkai jendela dengan tiga sapuan cepat.
“Dek.”
Dan dari dalam, akhirnya, terdengar suara anak kecil.
Menangis.
Anak itu keluar lewat jendela dalam waktu kurang dari dua puluh detik.
Bimo mengangkatnya, memberikannya kepada ibunya, dan langsung berbalik ke arah gang tanpa berhenti satu detik pun untuk apa pun.
“Pak Har, atapnya!”
“Udah, Bim!”
“Mad, tabungnya udah keluar semua?”
“Udah Bang! Tiga!”
“Tetangga sebelah kanan kiri, tabungnya juga!”
“Iya Bang!”
Damkar datang dua belas menit kemudian.
Api padam dalam waktu setengah jam.
Yang terbakar cuma dapur dan sebagian ruang tengah. Tidak ada yang terluka. Tidak ada yang mati.
Jam tiga pagi, gang itu penuh orang yang berdiri dan tidak tahu harus melakukan apa.
Bimo membuka warungnya lagi.
Dan selama dua jam berikutnya, warung itu berubah jadi sesuatu yang lain — tempat empat puluh orang duduk di lantai, di kursi, di depan pintu, minum teh manis panas yang dibuat dalam panci besar, makan apa pun yang bisa dibuat cepat.
Semuanya gratis. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang membayar.
Aku menuang teh. Mamad membagikan gelas. Bu Yatmi membuka warungnya jam tiga pagi untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan menggoreng entah berapa telur.
Dan Bimo berdiri di balik meja panjang, memasak, dengan kaos yang penuh jelaga dan bekas darah kecil di punggung tangannya dari pecahan kaca.
Dia tidak duduk sekali pun sampai jam lima pagi.
“Mas.”
“Ya.”
“Tangan kamu.”
“Nggak apa-apa.”
“Berdarah.”
“Dikit.”
Aku sudah mengambil kotak P3K dari rak dekat pintu dapur — di sebelah obeng dan senter dan krim mata yang sudah terpakai sepertiga.
“Sini.”
“Ran, nanti aja.”
“Sini, Mas.”
Dan Bimo, yang dua jam terakhir memerintah empat puluh orang tanpa satu kali pun ditanya kenapa, menyerahkan tangannya kepadaku seperti anak kecil.
Aku membersihkannya di kursi, dengan alkohol dan kapas, jam lima pagi, di warung yang akhirnya sudah kosong.
Dan aku memperhatikan tangan itu dari jarak dua puluh senti.
Ada tiga luka kecil di punggung tangan kanan. Satu yang agak dalam di pangkal jari telunjuk.
“Perih?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Iya.”
Aku menempelkan kapas. Dia tidak berkedip.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu tau dari mana?”
“Tau apa.”
“Semuanya.” Aku mengangkat kepalaku. “Pintu ketutup berarti asapnya belum masuk. Selang dari keran Bu Yatmi tekanannya lebih gede. Semprot atapnya bukan pintunya. Mecahin kaca di sudut bawah biar runtuhnya ke luar.”
Bimo memandangi tangannya.
“Ya tau aja.”
“Mas.”
“Ran.”
“Orang nggak ‘tau aja’ soal begituan.”
Dan Bimo diam beberapa detik, dan aku bisa melihat dia memilih dari beberapa jawaban di kepalanya.
“Saya pernah ikut pelatihan,” katanya akhirnya.
“Pelatihan apa?”
“Tanggap darurat.”
“Di mana?”
“Kantor.”
Tanganku berhenti.
“Kantor?”
Bimo tidak menjawab.
Dan aku duduk di sana, memegang tangan seorang laki-laki dengan kapas beralkohol, jam lima pagi, di warung yang bau jelaga.
Kantor.
Empat tahun aku tidak pernah mendengar dia menyebut kata itu.
Aku tidak bertanya lagi.
Aku menempelkan plester, satu per satu, dengan sangat hati-hati.
Dan waktu selesai, aku tidak melepaskan tangannya.
Aku tidak tahu berapa lama.
Mungkin lima detik. Mungkin lima belas.
Tangannya di tanganku, di atas mejaku, dengan tiga plester dan bau alkohol dan jelaga di kukunya.
Dan tidak ada yang menariknya.
“Ran.”
“Iya.”
“Udah selesai.”
“Iya.”
“...Ran.”
“Sebentar.”
Dan Bimo tidak menariknya.
Kami duduk seperti itu, jam lima lewat sepuluh pagi, di warung yang kosong, dengan langit di luar mulai berubah warna.
Dan aku menatap tangan itu — tangan yang tadi mengangkat anak berumur empat tahun keluar dari jendela, yang tadi memerintah empat puluh orang tanpa mengangkat suara, yang tangannya masih hafal cara memegang leher gitar —
Dan aku berkata, sangat pelan, tanpa mengangkat kepalaku:
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu tau nggak sih kamu tuh gimana?”
Hening.
“Gimana.”
Aku mengangkat kepalaku.
Dan wajahnya ada di sana, di seberang meja kecil itu, dengan jelaga di pelipisnya dan mata yang kurang tidur dua puluh empat jam.
“Kamu tuh,” kataku, “orang paling keren yang pernah aku ketemu.”
Bimo membuka mulutnya.
Tidak ada yang keluar.
Dia menutupnya lagi.
Dan tangannya — yang masih di tanganku — bergerak sedikit. Bukan menarik. Jari-jarinya menutup, sekali, sangat cepat, seperti refleks.
Lalu terbuka lagi.
“...Kamu belum makan,” katanya.
Dan suaranya, untuk pertama kalinya dalam sepuluh minggu, pecah di suku kata terakhir.
Aku pulang jam enam pagi.
Di depan pintu, Bu Yatmi sedang duduk di kursi plastik, kelelahan, dengan wajan kosong di sebelahnya.
“Neng.”
“Bu.”
“Duduk dulu.”
Aku duduk.
Kami berdua diam beberapa saat, memandangi gang yang penuh genangan air dan bau hangus dan orang-orang yang mulai pulang.
“Neng.”
“Iya, Bu?”
Bu Yatmi memandangi warung sebelah. Ke pintu yang masih terbuka. Ke laki-laki di dalamnya yang sedang menyusun kursi.
“Empat tahun saya tinggal sebelah dia,” katanya. “Baru malam ini saya liat dia kayak gitu.”
“Kayak gimana, Bu?”
Dan Bu Yatmi menoleh ke arahku.
“Kayak orang yang biasa nyuruh orang,” katanya.
Bersambung ke Bab 23 — “Yuni Marah”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api reading
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi