Chapter Nineteen

Jam Tiga Pagi

POV: Bimo Tokoh: Bimo, Ranti, Mamad (via telepon) Jumlah kata: ±2.500


Empat tahun, tiga bulan, dan sembilan belas hari.

Itu berapa lama warung itu buka tanpa berhenti sekali pun. Aku tidak menghitungnya dengan sengaja. Angka itu ada begitu saja di kepalaku, seperti semua angka lain, seperti sisa stok beras dan tanggal servis kompor dan berapa hari lagi Pak Har harus menyerahkan surat keterangan tidak mampunya.

Aku menutupnya jam tujuh malam.

Mamad memandangiku seperti orang yang melihat gerhana.

“Bang.”

“Kunci depan sama belakang.”

“Bang, ini nggak pernah—“

“Kunci, Mad.”

“Iya tapi—“

“Kalau ada yang nanya, bilang saya ada urusan.”

“Urusan apa?”

Aku memasukkan termos ke tas plastik.

“Ada urusan,” kataku.

Mamad diam sebentar. Lalu, dengan nada yang tiba-tiba jauh lebih tua dari umurnya:

“Mbak Ranti sakit, ya, Bang?”

Aku tidak menjawab.

Aku menyalakan motor dan pergi, dan di kaca spion aku melihat anak itu berdiri di depan warung yang gelap, memegang gembok, memandangi punggungku.


Aku perlu menjelaskan sesuatu, meskipun tidak ada yang bertanya.

Selama empat tahun aku menghitung.

Bukan menghitung uang — uang bukan masalah, itu sudah lama bukan masalah, dan justru itu masalahnya. Yang kuhitung adalah hal lain.

Berapa orang yang makan malam ini. Berapa yang belum bayar dan tidak akan pernah kutagih. Berapa anak yang sekolahnya selamat karena bapaknya tidak jadi meminjam ke tempat yang salah. Berapa surat perjanjian yang kubaca dan kutunjukkan pasal jebakannya sebelum orangnya menandatangani.

Aku menghitung semuanya. Setiap malam. Sebelum tidur, di kursi belakang, empat jam.

Dan setiap malam angkanya tidak pernah cukup.

Itu bukan keluhan. Itu memang tidak akan pernah cukup, dan aku sudah lama berhenti berharap akan cukup. Yang kulakukan bukan usaha untuk mencapai nol. Yang kulakukan cuma memastikan bahwa angkanya bergerak ke arah yang benar, setiap hari, tanpa berhenti.

Warung yang tutup satu malam berarti angkanya berhenti bergerak satu malam.

Aku tetap menutupnya.

Dan sepanjang perjalanan ke kontrakan Ranti, aku mencoba menghitung berapa besar kesalahan yang sedang kubuat, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku tidak bisa mendapatkan angkanya.


Kamarnya lebih kecil dari yang kubayangkan.

Aku tidak pernah membayangkannya, sebenarnya. Itu bohong. Aku membayangkannya beberapa kali dan aku tidak akan mengakuinya kepada siapa pun.

Tapi lebih kecil dari itu.

Satu kasur di lantai. Satu lemari plastik. Satu meja kecil dengan cermin dan botol-botol yang berbaris rapi seperti prajurit. Satu jendela yang menghadap tembok bangunan sebelah.

Dan semuanya rapi.

Itu yang membuatku berdiri diam selama tiga detik lebih lama dari yang seharusnya. Perempuan ini sakit dua hari, tidak bisa berdiri, muntah, tapi botol-botol di mejanya masih berbaris dari yang tertinggi ke yang terpendek.

Orang yang hidupnya tidak bisa dikendalikan akan mengendalikan apa pun yang bisa dia jangkau.

Aku tahu itu karena aku juga begitu.

“Kamu belum ganti sprei,” kataku.

“...Mas.”

“Basah dari kemarin, kan.”

Dia berdiri di sana dengan kaus tidur yang kebesaran dan rambut yang tidak disisir dan mata yang bengkak, dan hal pertama yang kupikirkan bukan sesuatu yang bisa kuucapkan keras-keras.

Jadi aku mengucapkan yang lain.

“Tidur. Sana.”


Aku mengganti spreinya sementara dia duduk di kursi meja rias, dibungkus selimut, memandangiku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu tau cara ganti sprei?”

“Iya.”

“Kok bisa?”

“Bisa aja.”

“Cowok biasanya nggak bisa.”

Aku menarik sudut sprei ke bawah kasur.

“Ibu saya sakit tiga bulan,” kataku. “Di rumah. Saya yang ngurus.”

Dia diam.

“Tiga bulan?”

“Iya.”

“Sendirian?”

“Iya.”

Dan aku sadar, terlambat, bahwa aku baru saja memberikan lebih banyak tentang diriku dalam sepuluh detik daripada dalam delapan minggu.

Aku merapikan sudut terakhir dan berdiri.

“Tidur.”


Dia tidur jam sembilan.

Aku duduk di lantai, bersandar ke dinding, di sisi kasur yang berlawanan dengan kepalanya, karena itu jarak paling jauh yang tersedia di kamar sekecil itu.

Dan aku tidak melakukan apa-apa selama enam jam.

Itu tidak benar. Aku melakukan beberapa hal.

Jam sepuluh, dia menggigil lagi, dan aku menarik selimutnya naik.

Jam sebelas, panasnya naik lagi, dan aku membangunkannya untuk minum obat, dan dia minum sambil setengah tidur dan berkata “makasih, Yun” dan tidur lagi, dan aku duduk di sana dengan gelas di tangan selama mungkin dua menit.

Jam dua belas, aku mengganti kompres.

Jam satu, dia bicara dalam tidurnya. Tidak jelas. Ada kata “Dimas”. Ada kata “besok”. Ada yang lain yang tidak bisa kutangkap.

Jam dua, panasnya turun.

Dan sepanjang enam jam itu, aku duduk di lantai kamar seorang perempuan yang kukenal delapan minggu, dan aku memikirkan sesuatu yang sudah kuhindari selama delapan minggu.


Malam pertama dia masuk ke warung, aku sedang mengiris bawang.

Aku ingat itu karena aku mengiris bawang setiap malam jam empat, dan karena malam itu aku berhenti mengiris di tengah dan harus memulai ulang hitungannya.

Dia masuk dengan sepatu di tangan dan kaki basah dan wajah yang sudah dipasang.

Aku tahu wajah itu. Aku sudah melihatnya ratusan kali dalam empat tahun. Itu wajah yang dipakai orang ketika mereka masuk ke ruangan dan menunggu untuk dinilai.

Yang belum pernah kulihat adalah apa yang terjadi di wajah itu ketika penilaiannya tidak datang.

Dia berdiri di situ selama tiga detik, memegang sepatunya, dan seluruh wajah yang sudah dipasang itu retak sedikit di bagian yang tidak dia sadari.

Dan aku, yang sedang memegang pisau, lupa apa yang sedang kukerjakan.

Aku tidak akan mengatakan itu kepadanya. Tidak sekarang. Mungkin tidak pernah.

Tapi malam itu, waktu dia bertanya siapa namaku dan aku menjawab dan dia menyebut namanya sendiri, aku sudah tahu namanya.

Aku sudah mendengarnya di gang, dari perempuan-perempuan lain, berbulan-bulan sebelumnya.

Aku cuma tidak pernah tahu bahwa nama itu punya wajah yang begitu.


Jam tiga kurang lima belas, aku melakukan kesalahan.

Aku tertidur.

Bukan tidur yang benar. Cuma kepalaku jatuh ke belakang menyentuh dinding, dan mataku menutup, dan selama entah berapa menit aku tidak ada di mana-mana.

Yang membangunkanku adalah bunyi selimut.

Aku membuka mata setengah.

Dan Ranti sudah duduk.


Aku tidak bergerak.

Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena refleks. Mungkin karena aku sudah empat tahun terbiasa tidak bergerak ketika ada sesuatu yang sedang terjadi dan aku tidak tahu apa.

Dia duduk di kasur, dengan selimut jatuh ke pinggangnya, dan menoleh ke bawah.

Ke arahku.

Kamarnya gelap. Cuma ada cahaya dari jendela — lampu jalan, atau lampu bangunan sebelah, warnanya oranye kotor.

Dan dia memandangiku.

Aku menghitung. Sepuluh detik. Lima belas. Dua puluh.

Dia tidak bergerak sama sekali.

Dan kemudian aku mendengar napasnya berubah.

Bukan bunyi orang menangis. Lebih pendek dari itu. Lebih cepat. Seperti orang yang naik tangga terlalu banyak.

Aku hampir membuka mata sepenuhnya.

Aku hampir berkata sesuatu.

Dan aku tidak melakukan keduanya, karena ada bagian dari diriku — bagian yang sudah empat tahun jadi bagian terbesar — yang tahu dengan pasti bahwa apa pun yang sedang terjadi di kasur itu bukan sesuatu yang boleh disaksikan.

Jadi aku tetap diam.

Dan aku mendengarkan perempuan itu bernapas dengan cara yang salah selama kira-kira dua menit di dalam gelap.


Lalu dia berbaring lagi.

Membelakangiku.

Dan tidak bergerak sampai pagi.


Aku pergi jam setengah enam.

Aku meninggalkan bubur di termos, obat di meja, dan air kelapa di lantai dekat kasur.

Aku tidak meninggalkan catatan kali ini, karena aku tidak tahu harus menulis apa.

Di pintu, aku berhenti.

Dan aku berbalik dan melihatnya sekali lagi — punggungnya, rambutnya yang berantakan di bantal, selimut yang naik turun pelan-pelan.

Empat tahun aku tidak keluar dari gang itu.

Aku ingin sangat jelas tentang alasannya, meskipun tidak ada yang bertanya dan mungkin tidak akan pernah ada yang bertanya.

Bukan karena aku bersembunyi dari orang.

Tidak ada yang mencariku. Tidak ada yang peduli ke mana perginya seseorang yang sudah dihapus dari struktur organisasi lewat restrukturisasi yang legal dan rapi. Aku bisa berjalan di mal mana pun di kota ini dan tidak ada satu pun yang akan mengenaliku.

Aku tidak keluar karena keluar berarti hidup.

Dan aku sudah memutuskan, empat tahun lalu, jam empat pagi, sambil memegang ponsel di apartemen yang kosong, bahwa hidup adalah sesuatu yang tidak lagi tersedia untukku.

Aku membuka pintu.

Dan aku berdiri di ambangnya selama beberapa detik, memikirkan bahwa aku baru saja menutup warung selama dua belas jam untuk seorang perempuan yang membuatku menumpahkan air ke meja, dan bahwa keputusan itu bukan keputusan sama sekali, karena tidak ada satu detik pun aku mempertimbangkan alternatifnya.

Itu yang membuatku takut.

Bukan bahwa aku melakukannya.

Bahwa aku tidak sempat berpikir.


Aku membuka warung jam tujuh pagi.

Mamad sudah menunggu di depan, duduk di kursi plastik, dengan wajah orang yang tidak tidur.

“Bang.”

“Buka pintunya.”

“Bang, Mbak Ranti gimana?”

“Udah turun panasnya.”

“Syukur.” Anak itu berdiri, membuka gembok. “Bang.”

“Hm.”

“Semalem ada yang nyariin.”

Aku berhenti.

“Siapa.”

“Nggak tau. Mobilnya bagus banget.” Mamad mendorong pintu terbuka. “Item. Yang gede.”

Sesuatu di belakang tengkukku jadi dingin.

“Dia bilang apa?”

“Nggak bilang apa-apa. Dia cuma turun, liatin warung sebentar, terus naik lagi.”

“Berapa lama?”

“Nggak lama, Bang. Dua menitan.”

“Jam berapa?”

“Sekitar jam sepuluh.”

Aku berdiri di depan pintu warungku sendiri, memegang kunci, dan tidak bergerak.

“Bang?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memasukkan kunci ke saku.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Nyalain kompor.”


Malam itu aku mengiris bawang seperti biasa.

Jam empat lewat sepuluh, pintu terbuka.

Ranti masuk.

Dia masih pucat. Rambutnya diikat asal. Dia jalan pelan.

Dan aku mengangkat kepalaku dan hendak berkata duduk, seperti biasa, seperti delapan minggu terakhir.

Lalu dia tersenyum.

Dan senyum itu adalah senyum yang salah.

Bukan senyum yang jelek dan benar. Bukan senyum yang keluar setengah dari hidung waktu dia menertawakan sesuatu yang tidak lucu.

Senyum yang lain. Yang sudut kirinya lebih tinggi. Yang matanya menyipit sedikit.

Senyum yang kulihat malam pertama, waktu dia masuk memegang sepatu.

“Mas,” katanya. “Kangen, nggak?”

Dan aku berdiri di balik meja panjang dengan pisau di tangan, dan aku mengerti — dengan cara yang tidak menyenangkan sama sekali — bahwa sesuatu terjadi di kamar itu jam tiga pagi, dan bahwa apa pun itu, aku sudah kalah sebelum aku sempat tahu namanya.

“Duduk,” kataku.

“Aku nanya, loh.”

“Duduk, Ran.”


Bersambung ke Bab 20 — “Zirah”