Chapter Forty Five

Empat Tahun Dalam Satu Tas

POV: Bimo Tokoh: Bimo, Ranti, Mamad Jumlah kata: ±2.500


Isinya tiga.

Satu: MacBook Pro 16 inci, tahun 2019, dengan stiker perusahaan di sudut kanan bawah yang sudah setengah terkelupas.

Dua: hard disk eksternal empat terabyte, hitam, dengan label yang kutulis sendiri pakai spidol permanen: BACKUP — PERSONAL.

Tiga: map plastik berisi kertas.

Itu yang membuatnya berat. Kertasnya.

Delapan ratus lembar, kira-kira. Aku tidak pernah menghitungnya persis.


Kami menaruhnya di meja panjang.

Jam tujuh pagi. Warung belum buka. Mamad sudah bangun tapi Ranti menyuruhnya ke pasar dan memberinya daftar belanja sepanjang lengan, dan anak itu mengerti dan pergi tanpa bertanya.

Dan kami berdua berdiri di depan meja panjang dengan tiga benda di atasnya.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu mau aku keluar?”

Aku menoleh.

“Nggak.”

“Beneran?”

Dan aku menarik kursi, dan aku duduk, dan aku berkata:

“Duduk di sebelah saya.”


Laptopnya tidak mau menyala.

Aku hampir tertawa.

Empat tahun. Baterai lithium yang tidak disentuh empat tahun akan mati permanen, dan aku tahu itu, dan aku tetap mencoba menekan tombol power tiga kali seperti orang bodoh.

“Ada charger?”

“Di tas.”

Ranti mengambilnya. Mencolokkannya. Dan kami menunggu.

Dua puluh menit.

Dan selama dua puluh menit itu, tidak ada satu pun dari kami yang bicara.

Aku duduk di kursi dengan tangan di paha, dan Ranti duduk di sebelahku, dan pada satu titik dia menggeser kursinya sekitar lima senti lebih dekat dan menaruh tangannya di lututku.

Dan tidak mengangkatnya lagi selama tiga jam berikutnya.


Layarnya menyala jam setengah delapan.

Wallpaper-nya masih sama.

Foto kantor lama. Dua puluh delapan orang. Ulang tahun perusahaan ketiga.

Aku di baris belakang, sebelah kiri, memakai kaus hitam. Damar di tengah, memakai kemeja, dengan tangan di bahu seseorang.

Dan dua puluh enam orang lain yang namanya semua masih kuingat.

Aku menatap wallpaper itu selama mungkin satu menit.

“Mas.”

“Ya.”

“Yang mana kamu?”

Dan aku menunjuk.

Dan Ranti mencondongkan badan, dan mendekatkan wajahnya ke layar, dan memandangi laki-laki berumur tiga puluh tahun di baris belakang.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu gendut.”

Dan aku tertawa.

Aku benar-benar tertawa — keras, tiba-tiba, dengan cara yang membuat dadaku sakit — dan Ranti menoleh ke arahku dengan wajah yang sangat puas dengan dirinya sendiri.

“Kamu ngeledek saya.”

“Iya.”

“Sekarang?”

“Iya, sekarang.” Dia mengangkat bahu. “Kamu tegang banget dari tadi.”

Dan aku menaruh tanganku di atas tangannya di lututku.

“Makasih,” kataku.


Aku membuka foldernya jam delapan.

Dan aku akan menuliskan apa yang ada di dalamnya, karena aku sudah empat tahun tidak menuliskan apa pun tentang ini kepada siapa pun.

Folder satu: NOTULEN.

Rapat direksi. Semuanya. Dari Seri A sampai dua minggu sebelum aku keluar.

Perusahaan itu punya kebijakan bahwa semua rapat dewan direksi direkam dan ditranskrip, karena aku yang mengusulkannya di tahun pertama, karena aku pikir itu bagus untuk transparansi.

Aku ingat rapat di mana aku mengusulkannya. Aku ingat Damar bilang “bagus, Bim” dan mengangkat kopinya.

Empat ratus dua puluh tiga transkrip.

Termasuk rapat tanggal empat belas bulan Maret, di mana usulan akses kontak dibahas pertama kali.

Termasuk kalimatku sendiri di menit ke-tiga puluh satu:

BP: Kalau kita bisa akses kontak, kita bisa nekan orang lewat orang lain. Itu bukan penagihan. Itu pemerasan.

Dan kalimat Damar dua menit kemudian:

DW: Bim, semua kompetitor udah pakai. Kita ketinggalan.

Dan kalimatku:

BP: Ya bagus. Berarti kita nggak sama kayak mereka.

Aku menutup file itu.

Dan aku duduk di sana dengan tangan di mouse selama sekitar dua menit.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu nggak apa-apa?”

Dan aku berkata:

“Saya lupa saya pernah ngomong gitu.”


Folder dua: RILIS.

Log approval. Setiap versi aplikasi, siapa yang menyetujui, kapan, dengan tanda tangan digital.

Versi 4.2.0 — fitur akses kontak.

Kolom CTO approval: kosong.

Kolom Override: D. Wicaksono, tanggal, jam, dua belas menit setelah rapat.

Aku menatapnya.

Empat tahun aku menyimpan tas ini di rak gudang dan setiap kali aku memikirkannya, aku mengingatnya sebagai bukti kesalahanku.

Aku lupa bahwa isinya adalah ini.


Folder tiga.

Dan folder tiga adalah alasan kenapa aku tidak membuka tas itu selama empat tahun.

Namanya cuma angka. Tanggal.

Isinya screenshot dashboard, diambil jam empat pagi, malam aku membaca berita itu.

Empat puluh satu ribu tiga ratus dua belas akun overdue di atas sembilan puluh hari.

Dan di bawahnya, di file terpisah, ada spreadsheet.

Yang kubuat sendiri, malam itu, jam lima pagi, sebelum aku berjalan keluar dari apartemen dan tidak pernah kembali.

Kolom A: jumlah akun. Kolom B: estimasi rasio penagihan pihak ketiga. Kolom C: —

Kolom C kosong.

Aku ingat berhenti di kolom C.

Aku ingat duduk di depan layar itu jam lima pagi dan mengetik judul kolomnya dan tidak sanggup mengisi satu barisnya pun.

Judul kolom C: estimasi risiko fatal.


Aku menutup laptopnya.

Aku tidak memutuskan untuk menutupnya. Tanganku yang menutupnya.

Dan aku berdiri, dan aku berjalan ke belakang meja panjang, dan aku menyalakan keran dan mencuci sesuatu yang tidak kotor.

Dan Ranti tidak mengikutiku.

Dia tetap duduk di kursinya, di depan laptop yang tertutup, dan dia tidak berkata apa-apa selama mungkin lima menit.

Dan waktu akhirnya dia bicara, yang dia katakan adalah:

“Mas.”

“Ya.”

“Kolom C nggak bisa diisi.”

Aku mematikan keran.

“Nggak ada rumusnya, Mas.”

Aku memegang tepi bak cuci.

“Dan kamu udah empat tahun nyoba ngisinya pakai piring nasi.”


Aku tidak berbalik.

“Ran.”

“Iya.”

“Kamu tau apa yang paling saya takutin?”

“Apa?”

Dan aku berkata:

“Kalau nanti saya kasih ini semua ke pengadilan, terus semuanya kelar, terus saya bangun besoknya.”

Warung itu sunyi.

“Terus apa?” tanyanya.

Dan aku berbalik.

“Terus nggak ada yang harus saya bayar lagi,” kataku.


Ranti berdiri dari kursinya.

Dan dia berjalan ke arahku, dan berdiri di depanku, dan dia tidak menyentuhku.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu takut nggak punya utang?”

Dan aku menutup mataku.

“Iya.”

Dan aku mendengar suaranya, sangat pelan:

“Aku juga.”

Aku membuka mataku.

“Empat belas bulan, Mas.” Dia menatapku. “Aku udah cerita. Aku udah lunas empat belas bulan sebelum aku berhenti, dan aku tetep kerja.”

“Iya.”

“Kamu tau gimana rasanya hari pertama setelah aku berhenti?”

“Gimana?”

Dan Ranti berkata:

“Kayak jatuh.”


“Aku bangun jam dua siang,” katanya. “Dan aku nggak punya satu pun hal yang harus aku lakuin.”

Dia menyandarkan pinggangnya ke meja panjang.

“Dan aku duduk di lantai kontrakan selama empat jam dan aku ngerasa kayak nggak ada.”

“Ran—“

“Butuh dua minggu, Mas.” Dia menoleh. “Dua minggu sampai aku bisa bangun pagi dan nggak nanya ‘terus sekarang aku siapa’.”

Warung itu sunyi.

“Dan kamu tau apa yang bikin aku bisa?”

Dan aku menggeleng.

Dan Ranti mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Kamu,” katanya. “Kamu naruh mangkuk di depan aku tiap malam dan kamu nggak nanya apa-apa.”


Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

“Mas.”

“Ya.”

“Sekarang giliran aku.”

Dan dia berjalan kembali ke meja panjang, dan menarik kursinya, dan duduk di depan laptop yang tertutup.

Dan dia membukanya.

“Ayo,” katanya. “Kita mulai dari folder satu.”


Kami bekerja sepuluh jam hari itu.

Dan aku ingin mencatat bagaimana rasanya, karena aku tidak pernah membayangkan bahwa hari itu akan terasa seperti itu.

Aku pikir akan terasa seperti mati.

Yang terjadi adalah: Ranti mengambil buku tulis baru — bukan yang bersampul biru, itu buku warung, yang ini baru, bersampul hijau — dan membuat tabel.

Kolom satu: nama file. Kolom dua: tanggal. Kolom tiga: isi singkat. Kolom empat: relevansi.

Dan dia mengerjakannya seperti orang yang mengerjakan pembukuan.

“Ini tanggal berapa?”

“Empat belas Maret.”

“Isinya?”

“Rapat pertama soal akses kontak.”

“Kamu ada di dalamnya?”

“Iya.”

“Kamu ngomong apa?”

Dan aku membacanya keras-keras, dan dia menulisnya, dan kami lanjut ke file berikutnya.

Dan sekitar file keempat puluh, aku menyadari sesuatu.

Dia tidak bertanya bagaimana perasaanku.

Sepuluh jam. Empat ratus dua puluh tiga transkrip. Dan tidak sekali pun perempuan itu bertanya bagaimana perasaanku.

Dia bertanya tanggal. Dia bertanya isi. Dia bertanya siapa yang hadir.

Dia memperlakukan empat tahun hidupku sebagai pekerjaan yang harus diselesaikan.

Dan itu — bukan pelukan, bukan kata-kata manis, bukan apa pun yang biasa dilakukan orang — itu yang membuatku sanggup membaca sampai selesai.


Jam empat sore, dia berdiri.

“Istirahat.”

“Ran, tanggung—“

“Istirahat, Mas.”

Dan dia berjalan ke dapur, dan menyalakan kompor, dan aku duduk di kursi itu dan menonton dia memasak nasi goreng yang jelek.

Kecapnya kebanyakan, seperti biasa.

Aku memakannya sampai habis.


Dan jam sebelas malam, waktu kami sudah sampai file ke-tiga ratus, dia bertanya sesuatu.

“Mas.”

“Ya.”

“Kalau kamu maju,” katanya, “kamu masuk penjara?”

Aku berhenti mengetik.

“Kemungkinan.”

“Berapa lama?”

“Nggak tau.” Aku menyandarkan punggungku. “Tergantung pasalnya. Kalau perdata, nggak. Kalau pidana, tergantung.”

“Perkiraan?”

Dan aku menoleh ke arahnya.

“Ran.”

“Aku nanya, Mas.”

Dan aku berkata:

“Dua sampai empat tahun.”


Ranti menaruh pulpennya.

Dan dia memandangi buku tulis bersampul hijau itu selama mungkin sepuluh detik.

Lalu dia mengambil pulpennya lagi.

“Ya udah,” katanya.

“...Ran.”

“File berikutnya apa?”

“Ran.”

“Mas, file berikutnya apa.”

Dan aku menoleh ke arahnya, dan dia tidak menoleh ke arahku, dan aku bisa melihat bahwa dia menulis dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.

“Ran, kamu denger nggak yang saya bilang?”

Dan dia menaruh pulpennya lagi.

Dan menoleh.

Dan matanya merah.

“Aku denger,” katanya. “Dua sampai empat tahun.”

“Ran—“

“Aku kuliah tiga tahun lagi, Mas.”

Aku berhenti.

“Kelas karyawan. Semester enam. Enam semester lagi.” Dia menghapus matanya dengan lengan. “Jadi aku sibuk.”

Dan aku menatapnya.

“Dan Mamad bisa jalanin warung. Dia udah buktiin kemarin.” Dia mengambil pulpennya. “Dan aku bisa bantuin pembukuan sambil kuliah.”

“Ran.”

“Dan hari besuk itu biasanya Sabtu, dan Sabtu aku kuliah sore, jadi pagi bisa.”

Ran.

Dan dia berhenti.

Dan menoleh.

Dan aku menatap perempuan itu — yang sudah sepuluh jam duduk di kursi kayu membaca empat tahun hidupku dan mencatatnya dalam tabel — dan aku tidak punya satu pun kata yang cukup.

“Apa,” katanya.

Dan aku berkata:

“Kamu udah ngitung.”

Dan Ranti mengangkat bahu, dan menghapus matanya sekali lagi, dan berkata:

“Iya, Mas. Aku udah ngitung.”

Dan kemudian:

“Dan kali ini angkanya masuk.”


Bersambung ke Bab 46 — “Setelan”