Chapter Seven

Hujan Sampai Subuh

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo Jumlah kata: ±2.500


Hujan mulai jam dua belas malam, dan sampai jam empat pagi belum juga berhenti.

Bukan hujan yang biasa. Ini hujan yang membuat gang berubah jadi sungai kecil, yang membuat listrik di blok sebelah padam, yang membuat semua orang di Aurora pulang lebih awal karena tidak ada pelanggan yang cukup gila untuk keluar.

Aku sampai di depan Warung Sembilan dalam keadaan basah dari ujung rambut sampai lutut, karena payungku patah di tengah jalan dan aku terlalu keras kepala untuk berteduh.

Bimo membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk.

Dia melihatku. Melihat genangan yang langsung terbentuk di bawah kakiku. Melihat rambutku yang menempel di leher.

Dia tidak berkata apa-apa selama satu setengah detik, dan itu jeda yang salah, dan aku terlalu kedinginan untuk menikmatinya.

“Masuk,” katanya.


“Handuk di rak. Baju kering ada di gudang, punya saya, kegedean tapi kering. Air panas lima menit lagi.”

“Mas, aku cuma—“

“Ran.”

“Iya?”

“Bibir kamu biru.”

Aku menutup mulut.

Warung itu gelap. Listrik di gang ini juga ikut mati sekitar sepuluh menit lalu, dan Bimo sudah menyalakan tiga lilin di meja panjang dan satu lampu darurat kecil di sudut. Kipas angin diam. Kulkas diam. Yang terdengar cuma hujan di atap seng, keras dan rata, seperti seseorang menuang beras dari langit tanpa henti.

Aku ganti baju di gudang. Kaus abu-abu yang kebesaran dan celana pendek yang harus kugulung dua kali di pinggang. Baunya sama seperti jaket itu — sabun cuci dan sedikit bawang.

Waktu aku keluar, Bimo sudah menaruh dua gelas di meja panjang, dan sedang menyeduh sesuatu.

Dan dia menoleh.

Dan tangannya, yang sedang menuang air panas, terus menuang.

Melewati bibir gelas.

Ke tatakan.

Ke meja.

“Mas.”

“...Hm.”

“Airnya.”

Bimo menatap genangan itu. Lalu menatap teko di tangannya. Lalu menaruh teko itu dengan hati-hati sekali, seperti orang yang tidak lagi mempercayai tangannya sendiri.

“Iya,” katanya.

Dia mengelapnya. Aku duduk di kursi dan tidak berkomentar apa pun, karena aku sudah memutuskan malam itu untuk tidak menggodanya, dan aku bertahan selama empat menit penuh sebelum akhirnya berkata:

“Kaosnya bagus, ya.”

“Itu kaos saya.”

“Iya. Bagus.”

Bimo mengelap meja yang sudah kering.


Jam satu, hujan makin keras.

Kami duduk berhadapan di meja panjang, dua gelas jahe di antara kami, tiga lilin yang apinya bergoyang setiap kali ada angin masuk dari celah pintu.

Dan karena tidak ada listrik, tidak ada pelanggan, tidak ada Mamad — dia menginap di rumah tantenya malam itu — dan tidak ada apa pun yang bisa dikerjakan, terjadilah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bimo duduk.

Dalam tiga minggu, aku belum pernah sekalipun melihat laki-laki ini duduk.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu duduk.”

“Iya.”

“Aku baru sadar kamu bisa duduk.”

“Bisa.”

“Aneh.”

“Apanya.”

“Kamu keliatan lebih... kecil.”

Bimo memegang gelasnya dengan dua tangan. Uap naik ke wajahnya.

“Iya,” katanya. “Kata orang gitu.”


Kami bicara sampai subuh.

Aku tidak berencana. Tidak ada yang berencana. Cuma hujan yang tidak berhenti dan dua orang yang tidak bisa ke mana-mana, dan entah bagaimana itu cukup untuk membongkar hal-hal yang biasanya terkunci.

Yang kupelajari malam itu, berurutan:

Satu. Dia tidak minum kopi.

“Serius?”

“Serius.”

“Kamu punya warung kopi.”

“Iya.”

“Dan kamu nggak minum kopi.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Nggak suka.”

Aku tertawa sampai jahe di gelasku tumpah sedikit, dan aku tertawa lagi karena sekarang kami berdua sudah menumpahkan sesuatu, dan Bimo mengelapnya sambil bilang “kamu ketawanya kayak Mamad” yang membuatku tertawa lebih keras lagi.

Dua. Dia pernah bekerja di dapur hotel.

Ini keluar tanpa sengaja, saat aku bertanya di mana dia belajar melipat telur dadar serapi itu.

“Hotel.”

“Hotel apa?”

“Di Jakarta. Tiga tahun.”

“Kok berhenti?”

Ada jeda. Kecil. Tapi ada.

“Ibu saya sakit,” katanya. “Saya pulang.”

“Sekarang gimana?”

“Udah nggak sakit.”

“Syukurlah.”

“Udah meninggal.”

Aku menaruh gelasku.

“...Mas.”

“Nggak apa-apa. Udah lama.”

“Aku minta maaf.”

“Nggak usah.” Dia memutar gelasnya di atas meja, setengah putaran, lalu setengah putaran lagi. “Beliau nggak sakit lama. Itu yang penting.”

Aku ingin bertanya lebih. Aku tidak bertanya.

Dan Bimo — aku bersumpah aku melihatnya — mengangkat kepalanya sedikit, seperti orang yang baru saja menyadari bahwa dia tidak diinterogasi.

Tiga. Dia tahu semua nama di gang ini.

“Bu Yatmi. Pak Har yang tukang parkir. Anaknya dua, yang kecil namanya Rian, kelas tiga SD. Rizal ojol, Bagas ojol, Wawan ojol tapi jarang narik. Bapak yang jam tiga itu namanya Pak Sunar, istrinya meninggal tahun lalu, dia nggak bisa tidur di rumah.”

“Kamu hafal semuanya?”

“Iya.”

“Yang di Aurora juga?”

“Sebagian.”

“Aku?”

Bimo mengangkat matanya dari gelasnya.

“Kamu Ranti,” katanya.

Cuma itu. Tapi caranya mengucapkan itu — seolah namaku adalah kategori tersendiri, terpisah dari daftar tadi, tidak perlu dijelaskan lebih lanjut — membuatku harus minum jaheku terlalu cepat sampai lidahku panas.

Empat. Dan ini yang paling penting.

Sekitar jam tiga, hujan mulai mengecil sedikit, dan aku — entah karena lelah, atau karena gelap, atau karena tiga jam bicara membuat pertahananku aus — mengatakan sesuatu yang tidak pernah kukatakan pada siapa pun.

“Aku dulu kuliah.”

Bimo tidak menoleh terlalu cepat. Itu penting. Kalau dia menoleh terlalu cepat aku akan berhenti.

“Akuntansi,” lanjutku. “Semester lima.”

“Kenapa berhenti?”

“Bapak sakit.”

“Sakit apa?”

“Stroke.” Aku memutar gelasku, meniru gerakannya tadi. “Tapi sebelum itu ada... yang lain.”

Aku berhenti.

Dan inilah bagian yang perlu kau mengerti: biasanya, di titik ini, orang akan bertanya. Orang akan bilang “yang lain apa?” atau “cerita aja” atau — yang paling buruk — mereka akan menaruh tangannya di tanganku.

Bimo tidak melakukan satu pun.

Dia mengangkat teko. Menuang jahe ke gelasku yang tinggal setengah. Menaruh tekonya kembali.

Dan menunggu.

Aku menunggu balik. Untuk apa, aku tidak tahu. Mungkin untuk izin yang tidak pernah datang, atau untuk desakan yang tidak pernah datang juga.

“Ada utang,” kataku akhirnya. “Bapak pinjem buat modal. Dari aplikasi.”

Bimo tidak bergerak.

“Bunganya harian. Kita nggak ngerti. Bapak pikir sebulan lunas.” Aku mendengar suaraku sendiri jadi datar, dan itu suara yang kupakai kalau aku sedang mencoba tidak merasakan apa-apa. “Tiga bulan jadi delapan kali lipat.”

Hujan di atas seng. Rata. Terus.

“Terus penagihnya datang ke rumah?” tanya Bimo.

Aku mengangkat kepalaku.

“Kok tahu?”

Jeda.

Bukan setengah detik ini. Ini lebih panjang.

“Sering denger,” katanya.

“Oh.”

“Mereka datang ke rumah?”

“Iya.” Aku menunduk lagi. “Nggak cuma ke rumah. Ke tetangga. Ke sekolah adikku. Ke arisan ibuku.”

“Foto?”

Aku berhenti.

“...Iya. Foto KTP Bapak. Disebar ke semua kontak di HP-nya.”

Dan itu adalah kalimat yang belum pernah kuucapkan keras-keras dalam tiga tahun, bahkan pada Yuni, bahkan pada diriku sendiri saat jam empat pagi.

Aku mengucapkannya di warung yang gelap, ke seorang laki-laki yang tidak kuketahui nama belakangnya.

Aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya.

Bimo sedang menatap gelasnya.

Dan tangannya — tangan yang tidak pernah salah, yang mengangkat panci mendidih tanpa berpikir — mencengkeram gelas itu terlalu erat, sampai buku-buku jarinya pucat.

“Mas?”

Dia melepaskannya. Pelan. Satu jari demi satu jari.

“Iya.”

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Bohong.”

Bimo mengangkat wajahnya, dan di bawah cahaya lilin itu wajahnya terlihat lebih tua dari biasanya, dan ada sesuatu di sana yang tidak bisa kubaca sama sekali meskipun aku ahli membaca wajah laki-laki.

“Ran.”

“Ya.”

“Ibu kamu masih di rumah yang sama?”

“Iya. Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Dia berdiri. Mengambil dua gelas kosong. Membawanya ke bak cuci meski airnya mati dan tidak ada yang bisa dicuci.

Dan berdiri di sana, membelakangiku, selama waktu yang jauh lebih lama daripada yang dibutuhkan seseorang untuk menaruh dua gelas.


Jam empat lewat, hujan berhenti.

Tidak pelan-pelan. Berhenti begitu saja, seperti keran ditutup, dan mendadak seluruh dunia jadi sunyi sampai telingaku berdenging.

Aku masih di kursi. Kakiku sudah kutarik ke atas kursi, dagu di lutut, memakai kaus laki-laki yang kebesaran.

Bimo kembali dan duduk lagi.

“Mas.”

“Ya.”

“Makasih.”

“Buat apa.”

“Buat nggak nanya.”

Bimo memandangi lilin yang tinggal sepertiga.

“Saya nanya, kok,” katanya.

“Iya, tapi beda.”

“Beda gimana.”

Aku memikirkannya. Betul-betul memikirkannya, karena aku ingin mengatakannya dengan benar.

“Orang lain nanya buat tahu,” kataku akhirnya. “Kamu nanya buat dengerin.”

Bimo tidak menjawab.

Api lilin itu bergoyang. Di luar, ada satu motor lewat, membelah genangan, bunyinya seperti kain robek.

“Ran.”

“Hm.”

“Kamu ngantuk.”

“Nggak.”

“Mata kamu udah merem sebelah dari tadi.”

“Itu gaya.”

“Oh.”

“Iya. Gaya.”

“Bagus.”

Aku tertawa, dan tawanya keluar setengah, karena separuhnya sudah berubah jadi kuapan.

“Tidur,” katanya. “Kursi pojok. Bantalnya udah saya taruh.”

Aku menoleh.

Kursi panjang di pojok. Ada bantal. Ada selimut, dilipat rapi.

Sudah ada di sana entah sejak kapan.

“Kamu naruhnya kapan?”

“Jam dua.”

“Aku nggak liat.”

“Iya.”

“Kamu nggak bilang.”

“Nggak perlu.”

Aku berdiri. Kakiku kaku. Aku berjalan ke kursi itu dan berbaring, dan bantalnya keras dan agak apek persis seperti yang dia bilang tiga minggu lalu, dan itu entah kenapa membuatku ingin menangis lagi.

Aku menarik selimut sampai dagu.

“Mas.”

“Ya.”

Warung itu gelap. Lilin tinggal satu. Aku tidak bisa melihat wajahnya dari sini, cuma bentuk punggungnya di balik meja panjang, membelakangiku, mengelap sesuatu yang tidak perlu dielap.

“Kamu nggak tidur?”

“Nanti.”

“Bohong.”

“Iya.”

Aku tersenyum ke bantal.

“Bimo.”

Gerakan mengelap itu berhenti.

“Ya.”

“Aku seneng hujannya lama.”

Lama sekali tidak ada jawaban.

Aku sudah hampir tertidur ketika akhirnya terdengar, pelan sekali, dari balik meja panjang, dengan suara laki-laki yang sedang mengatakan sesuatu yang dia pikir tidak akan terdengar:

“Saya juga.”


Bersambung ke Bab 8 — “Adik”