Chapter Twenty One

Senar

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.400


Aku berhenti.

Tidak dengan pengumuman. Tidak dengan permintaan maaf. Aku cuma datang malam kelima dan tidak melakukan apa-apa dari empat malam sebelumnya.

Aku duduk di kursiku. Aku melepas sepatu di dekat pintu. Aku menaruh tas di lantai.

Bimo menaruh mangkuk di depanku.

Dan tidak berkata apa-apa tentang empat malam itu.

Tidak sekali pun. Tidak malam itu, tidak minggu itu, tidak pernah.

Itu yang paling sulit kutanggung — bahwa dia bahkan tidak memberiku kepuasan berupa pertengkaran.


Yang berubah adalah hal lain.

Aku baru menyadarinya setelah tiga malam, dan aku menyadarinya karena aku sedang memperhatikan hal yang salah.

Bimo jadi lebih pendiam.

Bukan pendiam yang biasa — dia selalu pendiam. Ini pendiam yang lain. Dia bergerak lebih lambat. Dia menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari biasanya lalu berdiri di balik meja panjang tanpa melakukan apa-apa selama beberapa menit, memandangi tembok kosong itu.

Dan dua kali dalam tiga malam, aku memergokinya sedang melihat ke sudut ruangan.

Ke gitar itu.


Malam itu warung kosong.

Jam empat lewat empat puluh. Mamad tidur. Kucing tanpa nama sudah datang dan pergi. Tidak ada pelanggan.

Aku pura-pura tidur di kursi panjang di pojok.

Aku tidak akan berbohong tentang niatku: aku memang sengaja. Aku sudah tiga malam memperhatikan pola itu dan aku ingin melihat apa yang terjadi kalau dia pikir tidak ada yang melihat.

Jadi aku berbaring, menutup mata, dan mengatur napasku supaya dalam dan teratur.

Dan aku menunggu.

Delapan menit.

Lalu aku mendengar keran dimatikan.

Lalu langkah kaki.

Bukan ke arahku. Ke arah lain.

Aku membuka mataku sedikit.


Bimo berdiri di depan sudut itu.

Dia tidak menyentuh apa pun. Dia cuma berdiri, dengan serbet masih di bahunya, memandangi gitar tua yang bersandar ke dinding dengan debu tipis di bahunya.

Selama, mungkin, satu menit penuh.

Lalu tangannya bergerak.

Aku sudah melihat gerakan ini sekali sebelumnya — di Bab tiga, malam ketiga aku ke warung ini. Setengah gerakan. Jari-jari terangkat, sekitar sepuluh senti dari kayunya.

Tapi kali ini tidak berhenti.

Dia menyentuhnya.

Ujung jarinya, di bagian atas leher gitar, di tempat debunya paling tebal. Menyapunya sekali. Meninggalkan garis bersih di antara debu.

Lalu dia mengangkat gitar itu.


Aku berhenti bernapas.

Dia membawanya ke kursi di dekat meja panjang. Duduk. Meletakkannya di pangkuannya dengan cara yang salah sekali — terlalu tinggi, terlalu jauh — seperti orang yang memegang bayi orang lain.

Lalu dia mengubah posisinya.

Dan aku melihat tangan kirinya naik ke leher gitar itu, dan jari-jarinya jatuh ke senar, dan mereka jatuh di tempat yang benar tanpa dia melihatnya.

Empat jari. Satu bentuk. Langsung.

Tangan yang tidak pernah salah.

Bimo memandangi tangannya sendiri di leher gitar itu, seperti orang yang menemukan sesuatu di sakunya yang dia tidak ingat memasukkannya.

Dan tangan kanannya naik.

Berhenti di atas senar.

Dan tidak turun.


Sepuluh detik.

Dua puluh.

Tiga puluh.

Tangan itu menggantung di udara di atas senar-senar keruh itu, tidak bergerak, seperti sesuatu yang dibekukan di tengah gerakan.

Dan kemudian aku melihat bahunya naik. Sekali. Cepat.

Napas yang ditarik terlalu dalam.

Dia menaruh gitar itu kembali ke lantai, bersandar ke kaki meja, dan menutup wajahnya dengan satu tangan selama mungkin lima detik.

Lalu dia berdiri, mengangkat gitar itu, dan mengembalikannya ke sudut.

Persis di tempatnya. Kemiringan yang sama.

Dan dia kembali ke balik meja panjang dan menyalakan keran dan mencuci sesuatu yang aku yakin sekali tidak kotor.


Aku berbaring di kursi panjang itu selama dua puluh menit lagi sebelum aku berani berpura-pura bangun.

Dan sepanjang dua puluh menit itu, aku memikirkan satu hal, dan hal itu adalah ini:

Aku sudah salah.

Selama sepuluh minggu, aku menyusun sebuah cerita di kepalaku, dan ceritanya begini: ada laki-laki baik yang punya semuanya, dan ada perempuan yang tidak pantas, dan perempuan itu harus melindungi laki-laki itu dari dirinya sendiri.

Cerita itu rapi. Aku suka cerita yang rapi.

Tapi laki-laki yang barusan kulihat bukan laki-laki yang punya semuanya.

Itu laki-laki yang tangannya masih hafal, dan yang tidak mengizinkan dirinya memetik satu senar pun selama empat tahun.


“Mas.”

Aku bangun jam lima. Aku duduk. Aku menggosok mataku, melakukan seluruh pertunjukan.

“Bangun?”

“Iya.”

Aku berjalan ke kursiku. Dia menaruh sesuatu di depanku. Bubur.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu bisa main gitar, ya?”

Gerakan mengelapnya berhenti.

Satu detik.

“Nggak.”

“Bohong.”

“Ran.”

“Bahu kamu naik.”

Bimo tidak menoleh.

Dan aku — yang selama empat malam terakhir sudah menghabiskan seluruh amunisi kekejamanku dan tidak punya sisa apa pun — bertanya dengan cara yang paling pelan yang bisa kulakukan.

“Kenapa nggak boleh disentuh?”

Warung itu sunyi.

Kipas berputar. Kulkas berdengung. Di luar, langit belum berubah warna.

Dan Bimo, dengan punggung menghadapku, dengan serbet di tangan, berkata:

“Karena kalau saya main, saya bakal seneng.”

Aku menaruh sendokku.

“Terus?”

“Terus itu nggak boleh.”

“Kenapa nggak boleh?”

Dan dia berbalik.

Dan menatapku.

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat dalam sepuluh minggu — bukan lelah, bukan sedih, tapi sesuatu yang jauh lebih tua dari keduanya, sesuatu yang sudah lama sekali tinggal di sana dan sudah membayar sewanya di muka.

“Ran,” katanya.

“Iya.”

“Kamu inget waktu kamu bilang kamu nggak pantes?”

Aku membeku.

Aku tidak pernah mengatakan itu.

Tidak sekali pun. Tidak dalam sepuluh minggu. Aku sudah sangat berhati-hati, aku sudah mengecek setiap kalimat sebelum keluar dari mulutku, aku tidak pernah—

“Aku nggak pernah bilang gitu.”

“Iya,” kata Bimo. “Kamu nggak pernah bilang.”

Dia melipat serbetnya.

“Tapi kamu ngomong gitu tiap malam.”


Aku tidak bisa menjawab apa pun.

Dan Bimo tidak menunggu jawaban. Dia berbalik, menyalakan kompor, dan mulai mengerjakan sesuatu.

Dan sekitar dua menit kemudian, tanpa aku bertanya, tanpa aku memancing apa pun, dia berkata — pelan, membelakangiku, dengan suara yang nyaris tenggelam di bawah bunyi minyak panas:

“Saya juga gitu.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Apa?”

“Gitarnya.” Dia membalik sesuatu di wajan. “Sama aja.”

“Sama gimana?”

“Kamu pikir kamu nggak pantes dapet sesuatu yang bagus.” Jeda. “Saya juga.”

Warung itu sunyi.

“Bedanya,” lanjut Bimo, “kamu salah.”

Dan aku duduk di kursiku dengan bubur yang mendingin di depanku dan bertanya, dengan suara yang keluar terlalu kecil:

“Terus kamu?”

Bimo mematikan kompor.

“Saya nggak.”


Aku pulang jam setengah enam.

Bu Yatmi ada di depan seperti biasa, menyusun bungkusan nasi.

“Neng.”

“Pagi, Bu.”

“Sini.”

Aku menghampiri, dan dia menyodorkan bungkusan, dan aku menerimanya tanpa protes seperti biasa.

“Bu.”

“Apa?”

“Boleh nanya sesuatu?”

“Nanya.”

Aku memegang bungkusan hangat itu dengan dua tangan.

“Mas Bimo pernah main gitar nggak?”

Bu Yatmi berhenti mengikat.

Dan menoleh ke arahku dengan cepat sekali, dengan tatapan yang benar-benar kaget, yang belum pernah kulihat dari perempuan yang tidak pernah kaget oleh apa pun.

“Neng liat dia main?”

“Nggak. Cuma... nanya.”

Bu Yatmi menatapku beberapa detik lagi.

Lalu dia melanjutkan mengikat kantong plastiknya, lebih pelan dari biasanya.

“Sekali,” katanya.

“Sekali?”

“Tahun pertama. Malam Lebaran.” Bu Yatmi mengangkat bahunya. “Warung tutup jam dua belas — bukan tutup, sepi. Nggak ada orang. Semua mudik.”

“Terus?”

“Saya lagi beresin dagangan di depan. Terus kedengeran dari dalam.”

Aku memegang bungkusan nasi itu terlalu erat.

“Lagunya apa, Bu?”

“Nggak tau, Neng. Saya nggak ngerti lagu.” Bu Yatmi menggantung kantong plastiknya. “Yang saya inget cuma dia nggak nyanyi. Cuma main.”

“Berapa lama?”

“Nggak lama. Lima menitan.”

“Terus?”

Bu Yatmi mengambil bungkusan berikutnya.

“Terus berhenti,” katanya. “Terus saya denger dia nangis.”


Aku berjalan pulang lima blok pagi itu dan aku tidak menangis, dan itu mengejutkan bahkan bagi diriku sendiri.

Yang kurasakan bukan sedih.

Yang kurasakan adalah sesuatu yang sangat asing dan sangat tidak nyaman, dan aku butuh waktu setengah jalan untuk menemukan namanya.

Marah.

Aku marah.

Bukan pada Bimo. Bukan pada Kirana. Bukan pada Om Hendra atau Aurora atau siapa pun yang biasanya jadi sasaranku.

Aku marah pada sesuatu yang belum kuketahui bentuknya. Sesuatu yang sudah empat tahun duduk di dalam laki-laki itu dan memungut sewa setiap hari, yang membuatnya rugi setiap bulan dan tidak keluar dari gang dan tidak menyentuh gitar dan tidak menerima apa pun dari siapa pun.

Sesuatu yang membuatnya berkata, dengan sangat tenang, seperti menyebutkan fakta tentang cuaca:

Kamu salah. Saya nggak.

Aku sampai di kontrakan. Aku duduk di lantai.

Dan aku berkata, keras-keras, ke ruangan kosong:

“Siapa yang bilang gitu ke kamu?”


Bersambung ke Bab 22 — “Api”