Chapter Forty Eight
Warung Sembilan
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Bu Yatmi, Mbak Ayu, Yuni, Kirana Jumlah kata: ±2.500
BAGIAN IV — PULANG
Tidak ada yang berubah.
Itu hal pertama yang harus kucatat, karena aku sudah menyiapkan diri untuk sesuatu yang besar dan tidak ada yang besar terjadi.
Berita itu keluar hari Selasa.
Hari Rabu, Pak Har datang jam sepuluh malam dan memesan nasi rames.
Hari Kamis, Pak Sunar datang jam tiga dan minum teh tawarnya dan makan ubi rebusnya dan pulang setelah empat puluh menit tanpa bicara.
Hari Jumat, anak-anak ojol datang dan bon dan tidak membayar.
Tidak ada satu pun orang di gang itu yang menyebutkan apa pun.
Dan aku tahu — aku tahu dengan pasti — bahwa sebagian dari mereka membaca beritanya. Bu Yatmi punya cucu yang mengirimkan segalanya ke grup WhatsApp keluarga. Anak-anak ojol hidup di ponsel mereka.
Mereka tahu.
Dan mereka memilih untuk tidak tahu.
Dan itu, menurutku, adalah bentuk kasih sayang paling murni yang pernah kusaksikan.
Kecuali satu orang.
Bu Yatmi masuk ke warung hari Sabtu, jam enam pagi, sambil membawa panci.
Dia menaruh panci itu di meja panjang.
“Bim.”
“Iya, Bu.”
“Rawon.”
“Bu, saya nggak—“
“Saya nggak nanya kamu mau apa nggak.”
Dan Bimo diam.
Dan Bu Yatmi berdiri di depan meja panjang itu dengan tangan di pinggang, dan dia memandangi laki-laki itu selama beberapa detik.
“Empat tahun kamu nggak mau makan di rumah saya,” katanya.
“Bu—“
“Empat tahun, Bim. Saya udah nawarin berapa kali.”
Warung itu sunyi.
“Sekarang saya nggak nawarin lagi,” katanya. “Sekarang saya taro di sini. Kalau nggak dimakan, ya basi.”
Dan dia berbalik.
Dan berhenti di pintu.
“Bim.”
“Iya, Bu.”
Dan Bu Yatmi berkata, tanpa menoleh:
“Anak saya kalau masih hidup umurnya sekarang tiga puluh empat.”
Dan dia keluar.
Bimo berdiri di sana selama waktu yang sangat lama.
Dan aku tidak mendekatinya.
Dan sekitar sepuluh menit kemudian, dia mengambil mangkuk dari rak.
Dan menuang rawon itu.
Dan duduk.
Dan makan.
Dan aku berdiri di dekat pintu dapur dan menonton laki-laki itu memakan masakan tetangganya untuk pertama kalinya dalam empat tahun tiga bulan.
Yang berubah adalah hal-hal kecil.
Satu. Bimo tidur enam sampai tujuh jam.
Ini butuh waktu. Minggu pertama dia bangun jam empat pagi terus, dan berdiri di dapur, dan tidak tahu harus mengerjakan apa.
Minggu kedua dia bangun jam lima.
Minggu keempat, jam enam.
Dan di minggu keenam, aku bangun jam tujuh pagi dan menemukan dia masih tidur, dan aku duduk di tepi kasur dan memandanginya selama sepuluh menit seperti orang gila.
Dua. Warung buka jam enam pagi sampai jam sebelas malam.
Aku yang memutuskan. Dengan tabel. Dengan tiga bulan data.
Dan Bimo membacanya, dan mengangguk, dan berkata “ya udah” — dan aku menyadari bahwa itu sudah menjadi jawabannya untuk hampir semua hal yang kuputuskan tentang warung ini.
Tiga. Ada empat orang yang bekerja di sana sekarang.
Bimo. Mamad. Mbak Ayu, shift pagi. Dan seorang perempuan bernama Rika, dua puluh dua tahun, yang dulu di Melati dan berhenti bulan lalu, yang datang jam empat pagi minggu keempat dan bertanya apakah masih ada lowongan.
“Ada,” kataku, sebelum aku sempat berkonsultasi dengan siapa pun.
Dan Bimo, dari balik meja panjang, berkata:
“Ada.”
Empat. Dan ini yang paling penting.
Harga kopi naik jadi empat ribu.
Aku ingin sangat jelas bahwa ini bukan keputusanku.
Aku sudah lima bulan berdebat tentang harga kopi dan aku sudah kalah lima kali, dan aku sudah menyerah, dan aku sudah memutuskan bahwa kopi tiga ribu adalah salah satu hal yang akan kubawa sampai mati.
Dan suatu pagi di minggu kelima, aku bangun dan menemukan angka di papan menu sudah dicoret dan diganti.
Dengan spidol. Tulisan tangan yang jelek.
Rp 4.000
Aku berdiri di depan papan itu selama beberapa detik.
“Mas.”
“Ya.”
“Kopinya naik.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan Bimo, yang sedang mengiris bawang, berkata:
“Karena Rika perlu digaji.”
Aku menangis di kamar mandi selama empat menit.
Aku ingin mencatat itu, karena itu adalah kali kesekian aku menangis karena hal yang menggelikan, dan karena aku sudah berhenti berpura-pura bahwa aku orang yang tidak menangis.
Karena begini.
Selama empat tahun, laki-laki itu menjual kopi tiga ribu dengan untung dua ratus rupiah per gelas, dan setiap kali aku menantangnya, dia punya jawaban yang sama: supaya semua orang bisa beli.
Dan itu benar. Dan itu baik.
Tapi itu juga cara untuk memastikan bahwa warung itu tidak akan pernah tumbuh, dan bahwa dia tidak akan pernah punya karyawan, dan bahwa dia akan berdiri di balik meja panjang itu sendirian sampai tubuhnya menyerah.
Empat ribu berarti Rika bisa digaji.
Empat ribu berarti warung ini akan ada setelah dia.
Dan itu — bukan sidang, bukan berita, bukan dokumen yang diserahkan — itu adalah hari pertama laki-laki itu berhenti menghukum dirinya sendiri.
Yang tidak berubah:
Kucing tanpa nama masih datang jam dua.
Gitar masih di sudut.
Debunya masih lebih tipis daripada bulan-bulan pertama, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebutkannya.
Yuni datang hari Minggu.
Dia sudah tiga bulan tidak datang — sibuk, katanya, meskipun aku tahu bahwa dia sengaja memberi kami ruang selama enam minggu itu.
Dia masuk jam delapan malam, dan berteriak “PERMISI” seperti biasa, dan seluruh warung menoleh seperti biasa.
Dan dia berhenti mendadak.
“Ran.”
“Kenapa?”
Dan Yuni memandangi ruangan itu.
Empat orang bekerja. Mbak Ayu di kasir. Rika mengantar piring. Mamad di dapur.
Dan Bimo di balik meja panjang, memasak, dengan serbet di bahu.
“Ini rame banget.”
“Iya.”
“Ran, ini beda banget sama tiga bulan lalu.”
Dan aku menoleh ke ruangan itu — ke enam meja yang penuh, ke Pak Har yang tertawa, ke anak-anak ojol yang berdebat tentang sesuatu di ponsel.
“Iya,” kataku.
Dan Yuni menoleh ke arahku.
“Lo gimana?”
“Aku?”
“Iya, lo.”
Dan aku duduk di kursiku — kursiku, yang masih kursiku, meskipun sekarang aku hampir tidak pernah duduk di sana.
“Aku semester tujuh,” kataku.
“Ran.”
“IP-ku tiga koma enam.”
“RAN.”
“Aku serius, Yun.”
Dan Yuni menatapku selama beberapa detik.
Lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berteriak — benar-benar berteriak, di warung yang penuh, sampai semua orang menoleh — dan berkata:
“SIALAN, GUE BANGGA BANGET.”
Kirana datang hari Selasa pagi.
Seperti biasa. Jam tujuh. Dua bungkus.
Dan aku sedang di kasir, dan dia menghampiri untuk membayar, dan kami saling menatap selama sekitar dua detik.
“Pagi, Mbak Ranti.”
“Pagi.”
Dan dia menyerahkan uangnya, dan aku memberikan kembaliannya, dan itu seharusnya selesai.
“Mbak.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Iya?”
Dan Kirana berdiri di sana dengan dua bungkus sarapan di tangan.
“Saya baca beritanya,” katanya.
Aku membeku.
“Yang soal aplikasi itu.” Suaranya sangat pelan. “Bapak saya juga pernah pinjem di situ. Dua tahun lalu. Buat toko.”
Aku memegang tepi meja kasir.
“Kami lunas, sih.” Dia mengangkat bahu. “Bapak saya orangnya ngitung banget. Tapi saya inget waktu itu Ibu saya nangis tiga hari.”
“Kirana—“
“Mbak.”
Dan dia menatapku.
“Saya nggak tau apa hubungannya sama Mas Bimo,” katanya. “Dan saya nggak nanya.”
Dia mengangkat bungkusannya.
“Tapi kalau ada hubungannya,” katanya, “bilangin makasih.”
Dan dia keluar.
Aku memberi tahu Bimo malam itu.
Dan laki-laki itu berdiri di balik meja panjang dengan pisau di tangan, dan tidak berkata apa-apa selama sekitar sepuluh detik.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu nggak apa-apa?”
Dan dia berkata:
“Bapaknya pinjem berapa?”
“Mas—“
“Ran, saya nanya.”
Dan aku berjalan ke belakang meja panjang, dan berdiri di sebelahnya, dan mengambil pisau dari tangannya.
“Mas.”
“Ran—“
“Kamu nggak boleh gitu lagi.”
Dan dia menoleh.
“Kamu boleh sedih,” kataku. “Kamu boleh nggak enak. Kamu boleh mikirin ibunya Kirana yang nangis tiga hari.”
Aku menaruh pisau itu di talenan.
“Tapi kamu nggak boleh ngitung lagi.”
Dan Bimo berdiri di sana dengan tangan kosong.
Dan menutup matanya.
“Iya,” katanya.
Aku mendapat surat itu hari Jumat.
Bukan aku — kami. Alamatnya Warung Sembilan.
Amplop cokelat, resmi, dengan kop pengadilan.
Dan aku berdiri di depan pintu warung jam delapan pagi memegang amplop itu selama mungkin dua menit sebelum aku berani masuk.
“Mas.”
Dan dia melihat wajahku, lalu melihat amplop itu, dan menaruh spatulanya.
“Buka.”
“Mas, ini—“
“Buka, Ran.”
Dan aku membukanya.
Aku membacanya tiga kali.
Dan sepanjang tiga kali itu, tidak ada satu pun dari kami yang bicara.
Dan waktu aku selesai, aku menaruh kertas itu di meja panjang.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu nggak dituntut.”
Bimo tidak bergerak.
“Kamu jadi saksi.” Aku menunjuk paragraf ketiga. “Bukan tergugat. Saksi pelapor.”
Dan aku menoleh ke arahnya.
“Kamu nggak masuk penjara, Mas.”
Dia tidak menjawab.
Dia berdiri di balik meja panjang dan memandangi kertas itu, dan aku bisa melihat matanya bergerak — cara yang sama, turun ke tengah, ke sudut kanan, kembali ke atas.
Seratus detik.
Dan kemudian dia berkata:
“Ini sementara.”
“Mas—“
“Ini keterangan tahap awal. Nanti ada—“
“Mas.”
Dan aku memegang kedua lengannya.
“Nanti ada apa pun yang bakal ada,” kataku. “Dan kita urus nanti.”
“Ran—“
“Hari ini kamu nggak masuk penjara.”
Dan aku menatapnya.
“Boleh nggak, satu hari aja, kamu seneng dulu?”
Bimo memandangiku.
Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang tidak bisa kubaca — sesuatu yang bergerak, sesuatu yang mencoba.
“Ran.”
“Iya.”
Dan dia berkata:
“Saya nggak inget caranya.”
Dan aku merasakan seluruh dadaku pecah.
“Ya udah,” kataku.
Dan aku memeluknya, di balik meja panjang, jam delapan pagi, di warung yang penuh dengan enam orang yang semuanya pura-pura tidak melihat.
“Aku ajarin,” kataku.
Malam itu, jam sebelas, setelah warung tutup, aku menemukannya di sudut ruangan.
Berdiri di depan gitar itu.
Aku berhenti di ambang pintu dapur.
Dan aku tidak berkata apa-apa.
Dan Bimo mengangkat tangannya.
Dan menyentuh debu di bahu gitar itu dengan ujung jari.
Dan menurunkan tangannya lagi.
Dan berbalik.
“Ran.”
“Ya?”
“Belum,” katanya.
Dan aku mengangguk.
“Iya,” kataku. “Belum.”
Bersambung ke Bab 49 — “Kampung”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan reading
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi