Chapter Four

Udang

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.400


Ada satu hal yang perlu kau tahu tentang aku: aku tidak pernah menceritakan soal udang kepada siapa pun.

Bukan rahasia besar. Bukan trauma. Cuma alergi biasa — bibirku bengkak, gatal di leher, dan kalau kebanyakan, aku sesak. Sudah begitu sejak kecil.

Tapi aku tidak pernah menceritakannya, karena menceritakan alergi berarti memberi orang informasi tentang tubuhmu, dan di pekerjaanku, informasi tentang tubuhmu adalah hal yang paling mahal yang kau punya. Jadi aku menanganinya sendiri. Aku menggeser piring. Aku bilang “lagi nggak pengen”. Aku tersenyum dan mengalihkan.

Tiga tahun. Tidak ada satu orang pun di Aurora yang tahu.

Yuni tahu, karena Yuni pernah melihatku bengkak di tahun pertama dan memaksaku ke klinik sambil memaki-maki sepanjang jalan.

Dan sekarang, ternyata, ada satu orang lagi.


Aku menghabiskan seminggu penuh untuk memutuskan bagaimana cara mengangkat topik ini.

Itu terdengar berlebihan. Memang berlebihan. Tapi aku punya masalah, yaitu bahwa aku tidak tahu harus marah atau tidak.

Sebagian dari diriku merasa dilanggar. Ada orang yang memperhatikanku tanpa izin, mengumpulkan data tentang tubuhku, dan menyimpannya. Di duniaku, itu tanda bahaya. Laki-laki yang memperhatikan detail biasanya sedang menyusun sesuatu.

Sebagian lagi dari diriku — bagian yang jauh lebih kecil dan jauh lebih berisik — tidak berhenti mengulang adegan itu di kepala. Bimo, di dalam warung, di balik meja, melihat aku menggeser piring kerupuk lima meter jauhnya lewat jendela, dan mencatat.

Tanpa memberitahuku. Tanpa pernah menyebutkannya. Tanpa menagih apa pun.

Aku memutuskan aku marah. Itu lebih aman.


Malam itu aku datang dengan rencana.

Rencananya sederhana: aku akan memesan sesuatu yang berudang, dan aku akan melihat apa yang dia lakukan.

Kalau dia memberikannya, berarti Bu Yatmi salah dan aku bisa tidur nyenyak lagi. Kalau dia menolak, aku akan menyerangnya.

“Mas.”

“Ya.”

“Aku pesan nasi goreng seafood.”

Bimo, yang sedang mengaduk sesuatu di wajan, berhenti selama seperempat detik.

Lalu melanjutkan mengaduk.

“Nasi goreng biasa aja, ya.”

Kena.

“Kenapa?”

“Cuminya habis.”

“Ya udah, yang ada aja. Udangnya doang.”

“Udangnya juga habis.”

“Bohong.”

“Nggak bohong.”

“Mas.” Aku menopang dagu, dan aku bisa merasakan sesuatu yang tajam naik ke tenggorokanku. “Aku lihat di kulkas kamu ada satu bungkus.”

Bimo mengangkat wajan dari kompor. Menaruhnya di atas tatakan kayu. Mengelap tangannya di serbet, pelan sekali, seperti orang yang sedang membeli waktu.

Lalu dia berkata, “Ya udah, ketahuan.”

“Ketahuan apa?”

“Saya bohong.”

“Kenapa bohong?”

“Karena kamu alergi udang.”

Dan begitu saja, dia mengakuinya. Tidak berkelit. Tidak minta maaf. Tidak juga membanggakan diri. Cuma menyatakannya seperti orang menyebutkan bahwa hari ini hari Rabu.

Aku sudah menyiapkan sepuluh kalimat untuk melawan penyangkalannya. Tidak satu pun yang berguna sekarang.

“Kamu tahu dari mana?”

“Kamu geser piring kerupuk waktu ditawarin Yuni.”

“Itu di luar.”

“Iya.”

“Kamu di dalam.”

“Iya.”

“Mas ngintip?”

“Nggak. Saya lagi ngelap jendela.”

“Jam empat pagi?”

“Iya.”

“Ngelap jendela jam empat pagi.”

“Iya.”

Aku menatapnya. Dia menatap balik. Wajahnya benar-benar tidak menunjukkan bahwa dia sadar betapa gilanya kalimat yang barusan dia ucapkan.

“Kamu tuh,” kataku pelan, “sebenernya orangnya kenapa, sih.”

“Kamu udah nanya itu dua minggu lalu.”

“Dan sampai sekarang belum dijawab.”

Bimo mengambil piring. Menyendok nasi goreng ke atasnya. Tanpa udang. Tentu saja tanpa udang.

“Nggak ada jawabannya,” katanya.


Aku memakannya dalam diam, dan ini bukan diam yang nyaman.

Ada sesuatu yang mengganjal di dadaku dan aku tidak suka rasanya, karena aku tidak punya nama untuknya, dan segala hal yang tidak punya nama adalah hal yang tidak bisa kuhitung.

“Mas.”

“Hm.”

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Bilang apa?”

“Ya bilang. Bahwa kamu tahu.” Aku menaruh sendok. “Kalau orang tahu sesuatu tentang orang lain, biasanya dikasih tahu. Biar keliatan. Biar dihargain.”

Bimo bersandar ke meja panjang, melipat tangan, dan menatapku dengan cara yang membuatku ingin menunduk.

“Terus kalau saya bilang, kamu gimana?”

Aku membuka mulut.

Lalu aku benar-benar memikirkannya, dan aku menutup mulutku lagi.

Kalau dia bilang, aku akan berterima kasih. Aku akan tersenyum. Dan aku akan mencatat, di kolom yang sudah kusiapkan di kepalaku sejak umur dua puluh empat, bahwa laki-laki ini telah memberiku sesuatu, dan bahwa suatu saat nanti dia akan datang menagih.

Aku akan menghabiskan berminggu-minggu menunggu tagihan itu.

“...Aku bakal ngerasa punya utang,” kataku.

“Iya.”

Cuma itu. Iya. Seolah itu bukan sesuatu yang baru saja dia hitung dua minggu lebih awal daripada aku.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu tuh psikolog, ya?”

“Bukan.”

“Terus kenapa kamu ngerti banget?”

Bimo mengambil piring kosong dari meja sebelah. Membawanya ke bak cuci.

“Karena saya juga gitu,” katanya, membelakangiku.

Aku menunggu lanjutannya.

Tidak ada lanjutannya.

Dia mencuci piring itu, dan bunyi airnya mengisi seluruh warung, dan aku duduk di kursiku dengan perasaan bahwa aku baru saja diberi satu kalimat yang jauh lebih besar dari kelihatannya, dan bahwa laki-laki itu tahu persis apa yang dia lakukan ketika dia menaruhnya di sana lalu berbalik.


Malam itu ada tiga hal yang terjadi berturut-turut, dan ketiganya membuatku ingin melempar sesuatu.

Satu.

Mamad datang membawa kantong plastik dari luar. Isinya kerupuk.

“Mad, itu apa?”

“Kerupuk, Mbak.”

“Kerupuk apa?”

“Kerupuk udang.”

“MAD—“

“Bukan buat Mbak!” Mamad mengangkat kantong itu tinggi-tinggi seperti orang menyelamatkan bayi dari banjir. “Ini buat pelanggan yang laen! Bang Bimo bilang taro di lemari atas, jangan di meja, jangan deket Mbak Ranti!”

Warung itu hening.

“...Bang Bimo bilang gitu?”

Mamad, yang otaknya bekerja kira-kira setengah detik lebih lambat dari mulutnya, membeku.

“Eh.”

“Mad.”

“Nggak, Mbak. Saya nggak bilang apa-apa.”

“MAD.”

“KAMAR MANDI!” teriak Mamad, dan lari ke belakang tanpa disuruh siapa pun.

Aku memutar badan ke arah Bimo dengan senyum yang sangat lebar.

Bimo sedang menatap tembok.

Tembok itu kosong. Sudah kosong selama, aku menduga, empat tahun.

“Mas.”

“Hm.”

“Temboknya bagus, ya?”

“Iya.”

“Ada apa di situ?”

“Nggak ada.”

“Terus kenapa diliatin?”

Dan Bimo, tanpa mengalihkan pandangannya dari tembok yang benar-benar kosong itu, berkata:

“Kamu belum makan.”

“AKU BARU AJA MAKAN.”

“Belum yang manis.”

Dua.

Dia benar-benar membuatkanku sesuatu yang manis. Kolak pisang, dengan santan yang lagi-lagi dituang belakangan.

Aku memakannya sambil menatapnya dengan tatapan yang paling menuduh yang bisa kubuat, dan dia bertahan selama sekitar empat menit sebelum akhirnya berkata:

“Kenapa.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu ngeliatin.”

“Kan boleh. Kata kamu boleh.”

“Iya. Boleh.”

“Ya udah.”

Aku terus menatapnya. Dia terus tidak menatapku. Ini berlangsung selama, mungkin, dua menit penuh, sampai akhirnya dia mengambil serbet dan mulai mengelap meja yang tidak kotor.

“Mas.”

“Ya.”

“Mejanya bersih.”

“Iya.”

“Dari tadi kamu udah lap tiga kali.”

“Iya.”

“Kamu gugup, ya?”

“Nggak.”

“Kok bohong.”

“Bahu saya nggak naik.”

“Tapi kamu ngelap meja tiga kali.”

Bimo berhenti mengelap.

Menaruh serbetnya.

Dan berkata, dengan nada seorang laki-laki yang baru saja menyerah pada sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya:

“Iya.”

Satu kata. Iya.

Aku hampir menjatuhkan kolakku.

Tiga.

Ini yang terakhir, dan ini yang membuatku tidak bisa tidur lagi malam itu.

Menjelang subuh, aku pamit. Aku sudah memakai jaketku — jaketnya, jaketku, sudah tidak jelas lagi statusnya — dan aku sudah setengah jalan ke pintu ketika Bimo memanggil.

“Ran.”

“Ya?”

Dia menyodorkan sesuatu. Bungkusan kecil, dibungkus kertas cokelat, diikat karet gelang.

“Apa ini?”

“Buat besok pagi.”

“Aku nggak—“

“Kamu bangun jam sembilan, terus nggak makan sampai sore, terus jam lima kamu minum kopi buat modal kerja.” Dia mengangkat bahu. “Ini buat jam sembilan.”

Aku memegang bungkusan itu.

Masih hangat.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu tuh ngapain aja, sih, selama ini? Ngitungin jam makan aku?”

“Nggak.”

“Terus?”

Bimo membuka pintu untukku. Udara subuh masuk, dingin dan basah.

“Cuma inget,” katanya.


Aku berjalan pulang lima blok dengan bungkusan hangat itu di tangan.

Dan sepanjang jalan, aku berdebat dengan diriku sendiri seperti orang gila.

Dia cuma baik.

Dia baik ke semua orang. Aku sudah melihatnya. Dia baik ke Mamad, ke tukang parkir, ke bapak-bapak diam yang datang jam tiga, ke perempuan-perempuan Aurora yang datang jam empat, ke kucing yang belum punya nama. Dia memberi makan seluruh gang ini seperti orang yang sedang membayar sesuatu.

Jadi jangan kepedean, Ran.

Aku mengulangi kalimat itu di dalam kepalaku sepanjang tiga blok.

Lalu, di blok keempat, aku membuka bungkusan itu, karena aku memang tidak sabaran.

Isinya nasi kuning. Dengan telur balado, tempe orek, dan sepotong ayam yang disuwir rapi.

Dan di samping ayam, dipisahkan dengan daun pisang kecil supaya tidak bercampur, ada sesuatu yang membuatku berhenti berjalan di tengah trotoar jam lima pagi seperti orang tolol.

Sambal kacang.

Aku pernah menyebutkan itu satu kali. Satu kali, sepuluh hari yang lalu, tengah malam, sambil setengah mengantuk, saat aku bercerita tentang warung nasi kuning di dekat rumah orang tuaku yang sudah tutup sejak aku SMA. Aku bahkan tidak yakin aku menyelesaikan kalimatnya. Aku ingat aku menguap di tengah-tengah dan Bimo tidak berkomentar apa-apa.

Aku berdiri di trotoar itu, memegang kotak nasi hangat, di bawah langit yang warnanya biru-tapi-bukan-biru.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku menangis bukan karena capek.


Bersambung ke Bab 5 — “Yuni Datang”