Chapter Forty Two
Yang Aku Tahu
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Damar, Yuni, Dimas, Bu Sri (ibu) Jumlah kata: ±2.500
Aku pulang kampung hari Jumat.
Aku tidak memberi tahu siapa pun kecuali Yuni, dan aku tidak memberi tahu Yuni kenapa.
Empat jam bus. Satu jam angkot. Dan aku sampai di rumah yang sudah delapan bulan tidak kudatangi, di jalan yang ada nomornya, di kampung yang menyaksikan penagih datang tiga kali.
Ibuku membuka pintu dan langsung menangis.
“RANTI.”
“Bu—“
“Kamu kurus banget.”
“Bu, aku baru turun bus—“
“Kamu makan apa di sana?”
Dan aku dipeluk di depan pintu selama sekitar dua menit, seperti anak kecil, seperti sesuatu yang hilang lalu kembali.
Bapakku duduk di kursi rotan di ruang tengah.
Stroke tiga tahun lalu. Sisi kanan tidak berfungsi. Bicaranya kembali sekitar enam puluh persen — dia bisa mengucapkan kalimat pendek, dengan jeda, dengan usaha.
“Ran.”
“Iya, Pak.”
Dan dia mengangkat tangan kirinya, dan aku menggenggamnya.
“Kamu... sehat?”
“Sehat, Pak.”
“Kerja... gimana?”
Dan aku duduk di lantai di sebelah kursinya.
Dan aku berkata:
“Aku udah berhenti, Pak.”
Aku menceritakan semuanya malam itu.
Bukan semuanya-semuanya. Bukan Aurora — itu percakapan lain, untuk hari lain, mungkin untuk tahun lain.
Tapi kuliahku. Bahwa aku sudah kembali. Semester enam. Kelas karyawan, Selasa Kamis Sabtu.
Ibuku menangis lagi.
Bapakku tidak menangis. Dia menggenggam tanganku lebih erat dengan tangan kirinya, dan berkata:
“Bagus.”
Satu kata, dengan jeda dua detik sebelumnya.
Dan itu cukup.
Aku bertanya hari Sabtu pagi.
Kami sedang di dapur. Ibuku mengupas bawang. Aku duduk di kursi plastik.
“Bu.”
“Hm.”
“Aku mau nanya soal utang Bapak.”
Pisau itu berhenti.
“Ran—“
“Aku nggak mau ngungkit, Bu. Aku cuma mau tau satu hal.”
Ibuku menaruh pisaunya.
Dan duduk di kursi di seberangku, dan melipat tangannya di pangkuan, dan aku melihat perempuan berumur lima puluh empat tahun itu bersiap seperti orang yang akan masuk ke air dingin.
“Nanya.”
“Kalau seandainya,” kataku, “ada orang yang bikin aplikasi itu.”
Ibuku tidak bergerak.
“Terus orang itu nggak setuju sama cara nagihnya. Terus dia dipecat karena nggak setuju.” Aku memandangi tanganku. “Terus setelah dia keluar, cara nagihnya jadi kayak yang kita alamin.”
Dapur itu sunyi.
“Menurut Ibu, orang itu salah nggak?”
Ibuku diam untuk waktu yang sangat lama.
Cukup lama sampai aku menyesal bertanya.
“Ran.”
“Iya, Bu?”
“Kamu kenal orangnya?”
Dan aku mengangkat kepalaku.
Dan aku menyadari bahwa aku tidak bisa berbohong kepada perempuan ini, karena aku tidak pernah bisa, karena aku sudah tiga puluh tahun mencoba dan tidak pernah sekali pun berhasil.
“Iya,” kataku.
Dan ibuku mengangguk pelan.
“Dia baik sama kamu?”
“...Bu.”
“Ranti, Ibu nanya.”
Dan aku berkata:
“Iya, Bu. Baik banget.”
Ibuku berdiri.
Dia mengambil pisaunya lagi, dan melanjutkan mengupas bawang, dan aku duduk di kursi plastik itu dan menunggu dengan seluruh tubuhku.
“Ran.”
“Iya.”
“Ibu mau cerita satu hal, dan Ibu nggak pernah cerita ini ke siapa-siapa. Termasuk Bapak kamu.”
Aku menegakkan badan.
“Waktu penagih itu datang ketiga kalinya,” katanya, “ada empat orang.”
Aku tidak bergerak.
“Tiga masuk. Satu nunggu di motor.” Ibuku terus mengupas. “Yang tiga itu teriak-teriak di ruang tamu. Bapak kamu duduk di kursi itu, yang sekarang dia duduk sekarang.”
Aku memegang tepi meja.
“Terus yang di motor itu masuk.”
“Terus?”
“Terus dia bilang ke temen-temennya: ‘Udah, cukup.’”
Aku mengangkat kepalaku.
“Umurnya masih muda, Ran. Dua puluhan.” Ibuku menaruh bawangnya. “Terus dia jongkok di depan Bapak kamu, dan dia bilang: ‘Pak, maaf.’”
Dapur itu sunyi.
“Terus mereka pergi.”
“Bu.”
“Hm.”
“Terus?”
Dan ibuku menoleh ke arahku.
“Terus dua hari kemudian foto Bapak kamu disebar.”
Aku menutup mataku.
“Jadi anak itu nggak ngapa-ngapain, Ran.” Suaranya sangat tenang. “Dia bilang ‘cukup’. Dia bilang ‘maaf’. Terus dia balik ke kantornya dan besoknya dia disuruh nyebar foto orang lain.”
Ibuku mengambil pisaunya lagi.
“Ibu marah sama anak itu?” katanya. “Nggak.”
“Kenapa nggak?”
“Karena Ibu udah lima puluh empat tahun, Ran.” Dia mengupas bawang berikutnya. “Dan Ibu udah cukup lama hidup buat tau bahwa yang jahat itu jarang orangnya.”
“Terus siapa yang jahat, Bu?”
Dan ibuku berkata:
“Yang bikin sistemnya.”
Aku merasakan seluruh tubuhku dingin.
“Bu—“
“Tapi Ran.”
Aku berhenti.
Dan ibuku menaruh pisaunya, dan menoleh, dan menatapku dengan tatapan yang membuatku sadar bahwa perempuan ini sudah tahu jauh lebih banyak daripada yang dia katakan.
“Ibu nggak bilang orang yang kamu kenal itu yang bikin sistemnya,” katanya.
“Bu, dia—“
“Kamu bilang dia nggak setuju sama cara nagihnya.”
“Iya.”
“Kamu bilang dia dipecat karena nggak setuju.”
“Iya.”
Dan ibuku berkata:
“Berarti dia bukan yang bikin sistemnya, Ran.”
Aku menatapnya.
“Dia yang bikin barangnya,” kata ibuku. “Terus orang lain yang bikin sistemnya.”
Aku duduk di kursi plastik itu untuk waktu yang lama.
“Bu.”
“Hm.”
“Dia mikir dia yang bikin.”
“Iya, Ibu tau.”
“Kok Ibu tau?”
Dan ibuku melanjutkan mengupas bawangnya.
“Karena orang yang nggak mikir gitu nggak bakal baik sama kamu,” katanya.
Aku pulang hari Minggu.
Dan sepanjang empat jam di bus, aku memutar tiga hal.
Satu. Bahwa laki-laki di gang itu sudah empat tahun menghukum dirinya sebagai orang yang membuat sistemnya.
Dua. Bahwa ibuku, yang dipermalukan di depan tetangganya, yang suaminya stroke enam bulan kemudian, tidak menganggapnya begitu.
Tiga. Dan ini yang membuatku tidak bisa tidur di bus.
Bahwa ada perbedaan besar antara bersalah dan bertanggung jawab.
Dan bahwa Bimo sudah empat tahun memakai kata yang salah untuk dirinya sendiri.
Dan bahwa selama dia memakai kata yang salah, dia akan terus melakukan hal yang salah — yaitu membayar, terus-menerus, dengan cara yang tidak menolong siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Damar menelepon hari Senin.
Aku tidak tahu bagaimana dia mendapat nomorku, dan aku memutuskan untuk tidak menanyakannya.
“Mbak Ranti.”
“Iya.”
“Boleh ngobrol?”
“Nggak.”
“Mbak—“
“Aku mau nanya satu hal,” kataku. “Terus aku tutup.”
Ada jeda.
“Silakan.”
Dan aku berdiri di lorong kampus, di antara dua kelas, dengan ponsel di telinga.
“Kalau Bimo kasih dokumennya ke pengadilan,” kataku, “apa yang kejadian sama kamu?”
Dan Damar tidak menjawab selama sekitar lima detik.
“Saya kena,” katanya.
“Kena gimana?”
“Perdata pasti. Pidana kemungkinan.” Suaranya benar-benar tenang. “Ada notulen rapat di mana saya yang usulin akses kontak. Dan ada log di mana saya yang approve rilisnya setelah dia nolak.”
Aku memegang ponselku lebih erat.
“Kamu ngaku?”
“Mbak,” katanya, “saya nggak pernah bohong ke Mbak sekali pun.”
Dan itu benar.
Dan itu yang paling menakutkan darinya.
“Terus kenapa kamu masih nyari dia?”
“Karena empat bulan lagi kedaluwarsa.”
“Terus?”
“Terus setelah itu saya aman.” Dia mengucapkannya tanpa nada apa pun. “Dan dia juga aman.”
Aku berhenti.
“...Apa?”
“Mbak Ranti.” Dan suaranya berubah sedikit. “Dia CTO. Dia tanda tangan di dua puluh tiga dokumen sebelum dia nolak yang terakhir.”
Lorong kampus itu ramai. Ada mahasiswa lewat. Ada suara.
“Kalau dia maju,” kata Damar, “dia bukan cuma jatuhin saya.”
“Dia jatuhin dirinya sendiri.”
“Iya.”
Aku menutup telepon tanpa berpamitan.
Dan aku berjalan keluar dari gedung kampus dan duduk di tangga depan selama satu jam, melewatkan kelas kedua, dengan ponsel di tangan.
Dan aku menyusun semuanya.
Selama empat bulan aku pikir Bimo sedang bersembunyi.
Lalu aku pikir dia sedang menunggu.
Dan sekarang aku tahu apa yang sebenarnya dia tunggu.
Dia menunggu batas waktunya lewat.
Bukan untuk menyelamatkan dirinya.
Karena kalau dia hanya ingin menyelamatkan dirinya, dia tidak perlu menunggu — dia tinggal diam saja, seperti yang sudah dia lakukan selama empat tahun, dan tidak ada satu pun yang akan menemukannya.
Dia menunggu karena dia sedang memutuskan sesuatu.
Dan dia sudah empat tahun memutuskannya, setiap hari, di kursi belakang warung jam enam pagi.
Dan setiap hari dia memilih diam.
Aku pergi ke gang hari Selasa jam sembilan malam.
Aku tidak masuk.
Aku berdiri di seberang jalan, di bawah tiang listrik, dan aku melihat warung itu.
Ada delapan orang di dalamnya. Pak Har di kursi biasanya. Pak Sunar dengan teh tawarnya. Anak-anak ojol. Mamad mengantar piring.
Dan Bimo di balik meja panjang, memasak, dengan serbet di bahu.
Dan aku berdiri di sana selama satu jam.
Dan aku menghitung.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua hari, aku menghitung.
Berapa orang yang makan di warung itu setiap hari: sekitar tujuh puluh. Berapa hari dalam empat tahun: seribu empat ratus enam puluh. Berapa piring: sekitar seratus dua ribu.
Berapa akun yang overdue waktu dia berhenti: empat puluh satu ribu.
Dan aku berdiri di bawah tiang listrik jam sepuluh malam dengan angka-angka itu di kepalaku.
Dan aku menyadari sesuatu.
Dia sudah lewat.
Seratus dua ribu piring. Empat puluh satu ribu akun.
Dua setengah kali lipat.
Laki-laki itu sudah lewat targetnya dua tahun yang lalu, dan dia tidak pernah menghitungnya, karena dia tidak pernah bermaksud untuk selesai.
Aku pulang malam itu dan aku duduk di lantai kontrakanku dan aku mengambil kertas dan pensil.
Dan aku menulis semuanya. Angkanya. Perhitungannya. Sumbernya.
Dan di bawahnya, aku menulis satu kalimat.
Dan aku menatap kalimat itu selama mungkin dua puluh menit.
Lalu aku melipat kertasnya, memasukkannya ke saku, dan tidur.
Dan aku bangun jam empat pagi hari Rabu — tepat jam empat, tanpa alarm, karena tubuhku tidak pernah benar-benar lupa.
Dan aku mandi.
Dan aku memakai baju.
Dan aku berjalan lima blok.
Bersambung ke Bab 43 — “Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu reading
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi