Chapter Forty Six
Setelan
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.500
Setelannya tidak muat.
Itu hal pertama yang lucu di antara semua hal yang tidak lucu selama enam minggu itu.
Bimo mengeluarkannya dari tas plastik di gudang — bukan tas hitam, tas plastik lain, yang bahkan aku tidak tahu ada — dan memakainya di kamar belakang, dan keluar, dan berdiri di tengah warung.
Dan celananya kebesaran empat senti di pinggang.
“Mas.”
“Iya.”
“Kamu kurus banget.”
“Iya.”
“Mas, itu kayak baju bapak-bapak yang dipinjemin.”
Dan Mamad, dari balik meja panjang, berkata:
“Bang, kayak abis sakit.”
“Mad.”
“Saya jujur, Bang.”
Aku membawanya ke tukang jahit di ujung gang hari Senin.
Bu Ratna, yang sudah dua puluh tahun di sana, yang menerima jasa permak dan menerima cerita orang sekaligus tanpa tarif tambahan.
“Mau dipermak, Bu.”
“Berapa senti?”
“Empat di pinggang. Terus lengannya.”
Dan Bu Ratna mengukur, dan mencatat, dan bertanya dengan nada paling biasa di dunia:
“Buat apa, Mas?”
Dan aku melihat Bimo berdiri di depan cermin dengan meteran kain di pinggangnya.
Dan aku melihat dia membuka mulutnya, dan menutupnya.
“Ada urusan,” katanya.
Urusan itu berlangsung enam minggu.
Dan aku ingin menulis bab ini dengan cara tertentu, karena ini adalah bagian yang paling banyak terjadi apa-apa dan paling sedikit bisa kuceritakan.
Aku tidak ikut.
Itu keputusan yang kami ambil bersama, di kamar belakang, malam sebelum hari pertama.
“Aku mau ikut.”
“Nggak.”
“Mas—“
“Ran, dengerin.” Dan dia duduk di tepi kasur. “Kalau kamu ikut, nama kamu masuk.”
“Aku nggak peduli.”
“Saya peduli.”
Dan aku membuka mulutku untuk melawan, dan dia mengangkat tangannya.
“Bukan karena malu,” katanya. “Karena kalau nama kamu masuk, tim hukum mereka bakal cari tau siapa kamu.”
Aku berhenti.
“Dan mereka bakal nemu Aurora.”
Kamar itu sunyi.
“Dan mereka bakal pakai itu buat bilang bahwa saya maju karena dendam pribadi.” Suaranya pelan. “Dan begitu itu masuk berita, yang orang inget bukan dua belas ribu penggugat.”
Aku menutup mataku.
“Yang orang inget cuma kamu,” katanya.
Jadi aku tidak ikut.
Dan selama enam minggu, ini yang terjadi:
Bimo pergi jam tujuh pagi.
Dan aku tidak tahu ke mana. Aku tahu kota mana. Aku tahu bahwa ada kantor pengacara, dan bahwa ada ruangan, dan bahwa ada orang-orang yang bertanya kepadanya selama berjam-jam.
Aku tidak tahu apa yang mereka tanyakan.
Dan Bimo tidak pernah menceritakannya.
Sekali pun. Enam minggu.
Ini yang kulakukan selama enam minggu itu:
Aku membuka warung jam lima pagi.
Aku dan Mamad. Berdua.
Dan itu jauh lebih sulit dari yang kubayangkan, dan aku menghancurkan tiga panci di minggu pertama, dan aku membuat nasi goreng yang membuat seorang tukang bangunan bertanya dengan sangat sopan apakah Bang Bimo sedang sakit.
Minggu kedua lebih baik.
Minggu ketiga, Bu Yatmi datang jam enam pagi tanpa diminta dan berdiri di sebelahku di depan kompor selama tiga jam dan mengajariku cara membuat kuah soto yang benar.
“Bu, Ibu punya warung sendiri.”
“Warung saya nasi bungkus, Neng. Udah jadi dari jam empat.”
“Tapi—“
“Diem. Tumis bumbunya sampai keluar minyaknya. Jangan buru-buru.”
Minggu keempat, ada tiga perempuan Aurora yang datang jam empat pagi dan menemukan warung sudah tutup — karena aku tidak bisa buka dua puluh empat jam, karena aku manusia — dan besoknya mereka datang jam lima dan salah satunya, Mbak Ayu, berkata:
“Mbak, kalau butuh orang, saya bisa shift pagi.”
“Mbak Ayu kerja malem.”
“Iya. Jadi pagi saya nganggur.”
Dan begitulah Warung Sembilan mendapat karyawan ketiganya.
Dan setiap malam, jam sepuluh atau sebelas atau dua belas, aku menunggu.
Aku duduk di kursi kayu di dekat pintu — kursiku, yang lima bulan lalu adalah kursi tempat aku duduk sebagai pelanggan — dan aku menunggu bunyi motor di gang.
Dan setiap malam, Bimo pulang.
Dan setiap malam, dia terlihat sedikit lebih hancur dari malam sebelumnya.
Ini yang terjadi setiap kali dia pulang.
Minggu pertama: Dia masuk, melepas jasnya, menggantungnya di kursi. Dan berkata “belum makan?” dan aku bilang “udah” dan dia bilang “bohong” dan dia memasak.
Dia masih bisa memasak minggu pertama.
Minggu kedua: Dia masuk dan duduk di kursi dan tidak melepas jasnya selama sepuluh menit.
Minggu ketiga: Dia masuk jam satu pagi dan aku sudah tertidur di kursi, dan aku bangun karena ada yang menyampirkan sesuatu ke bahuku.
Jaket abu-abu.
Yang berarti dia menyimpannya di motor.
Minggu keempat: Dia tidak bicara sama sekali.
Masuk. Duduk di kursi. Dan diam.
Dan aku belajar, di minggu keempat, bahwa yang harus kulakukan bukan bertanya.
Aku duduk di kursi di sebelahnya dan aku tidak bicara juga, dan setelah sekitar sepuluh menit dia menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Dan begitulah caranya selama tiga minggu berikutnya.
Minggu kelima, sesuatu berubah.
Dia pulang jam dua pagi.
Dan waktu dia masuk, aku langsung tahu ada yang salah — bukan lelah, sesuatu yang lain.
“Mas.”
Dia tidak menjawab.
Dia berjalan ke kursi, dan duduk, dan menaruh kedua sikunya di lututnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dan dia tidak bergerak selama mungkin lima menit.
“Mas.”
“...Ya.”
“Kenapa?”
Dan dia berkata, dari balik telapak tangannya:
“Ada penggugat yang datang hari ini.”
Aku duduk di kursi di sebelahnya.
“Dua orang.” Suaranya teredam. “Mereka dipanggil buat identifikasi dokumen.”
“Terus?”
“Terus salah satunya liat saya.”
Warung itu sunyi.
“Dan dia nanya ke pengacaranya: ‘Itu siapa?’”
Aku memegang lengannya.
“Dan pengacaranya bilang: ‘Itu yang ngasih dokumennya.’”
Dan Bimo menurunkan tangannya dari wajahnya.
“Terus ibu itu jalan ke arah saya, Ran.”
Aku tidak bergerak.
“Umurnya sekitar enam puluh. Pakai kerudung cokelat.” Suaranya bergetar. “Dan dia berdiri di depan saya, dan saya berdiri, dan saya siap.”
“Siap apa?”
“Siap dimaki.”
Dan Bimo menoleh ke arahku.
“Saya udah nyiapin diri buat itu selama empat tahun, Ran,” katanya. “Saya udah bayangin ratusan kali. Saya tau persis apa yang mau saya bilang.”
“Terus?”
“Terus dia pegang tangan saya.”
Aku menutup mulutku.
“Dan dia bilang: ‘Makasih, Nak.’”
Bimo menutup matanya.
“Dan saya nggak bisa ngomong apa-apa,” katanya. “Saya berdiri di situ kayak orang bego.”
“Mas—“
“Ran, dia nggak tau.”
Dan dia menoleh, dan wajahnya adalah wajah orang yang sedang tenggelam.
“Dia nggak tau saya yang bikin barangnya,” katanya. “Dia nggak tau. Dan saya nggak bilang.”
“Mas.”
“Saya berdiri di situ dan saya biarin ibu itu bilang makasih ke saya.”
Aku memegang wajahnya dengan kedua tangan.
“Mas, dengerin aku.”
“Ran—“
“Dengerin.”
Dan dia berhenti.
“Kamu kasih dokumennya,” kataku.
“Iya, tapi—“
“Kamu kasih dokumennya, Mas. Itu fakta.” Aku menatapnya. “Dan karena kamu kasih, ibu itu punya kesempatan.”
“Saya juga yang—“
“Iya. Kamu juga yang bikin barangnya.” Dan aku tidak melepaskan wajahnya. “Dua-duanya bener. Dua-duanya kejadian.”
Bimo menutup matanya.
“Kamu boleh nyimpen yang pertama,” kataku. “Tapi kamu nggak boleh nolak yang kedua.”
“Ran—“
“Kamu nggak berhak nolak makasih dari orang itu, Mas.”
Dan dia membuka matanya.
“Karena itu bukan punya kamu,” kataku. “Itu punya dia.”
Kami duduk di dua kursi itu sampai jam empat pagi.
Dan sekitar jam tiga, dia menaruh kepalanya di pangkuanku.
Bukan di bahuku. Di pangkuanku, berbaring di kursi panjang yang kami geser bersama, dengan wajah menghadap ke atas dan mata tertutup.
Dan aku memainkan rambutnya, yang sudah terlalu panjang, yang perlu dipotong tiga minggu lalu.
“Ran.”
“Hm.”
“Boleh saya cerita sesuatu?”
“Boleh.”
Dan matanya tetap tertutup.
Dan dia berkata:
“Hari pertama kamu masuk warung, saya lupa nama sendiri pas kamu tanya.”
Aku berhenti memainkan rambutnya.
“...Mas.”
“Iya.”
“Kamu udah pernah bilang.”
“Belum.”
“Udah. Waktu kita jadian.”
“Beda.”
Aku menunduk.
“Beda gimana?”
Dan Bimo membuka matanya.
Dan menatapku dari pangkuanku, jam tiga pagi, di warung yang sudah tutup.
“Waktu itu saya cerita,” katanya. “Sekarang saya ngaku.”
“Bedanya apa?”
Dan dia berkata:
“Waktu itu saya bilang saya lupa nama saya.”
Dia mengangkat tangannya, dan menyentuh pipiku dengan punggung jarinya.
“Sekarang saya bilang kenapa.”
Aku menahan napas.
“Karena waktu kamu berdiri di pintu itu bawa sepatu, saya mikir satu hal, Ran. Satu kalimat. Dan kalimat itu bikin semua yang lain hilang dari kepala saya.”
“...Kalimat apa?”
Dan Bimo Prayoga, yang selama lima bulan tidak pernah sekali pun memuji perempuan mana pun secara langsung, yang selalu mengalihkan ke bantal atau makanan atau kucing atau tembok kosong, berkata:
“‘Cantik banget.’”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“MAS.”
“Iya.”
“KAMU—“
“Iya.”
“LIMA BULAN?”
“Lima bulan.”
Dan aku menunduk dan menekan dahiku ke dahinya dan aku menangis dan tertawa sekaligus, dengan cara yang paling jelek yang pernah kulakukan, dan Bimo tertawa di bawahku dengan dada yang bergerak.
“Kamu tuh,” kataku, “orang paling nyebelin di seluruh dunia.”
“Iya.”
“Lima bulan kamu bilang ‘kamu belum makan’.”
“Iya.”
“Tiap kali.”
“Iya.”
“MAS.”
Dan dia mengangkat tangannya ke belakang leherku dan menarikku turun.
“Ran.”
“Apa.”
Dan dia berkata, pelan sekali:
“Kamu belum makan.”
Dan aku memukul dadanya sampai dia batuk.
Dia pergi lagi jam tujuh pagi.
Dan aku berdiri di ambang pintu warung dengan jaket abu-abu di badanku, dan aku melihat motornya keluar dari gang.
Dan Bu Yatmi menoleh dari warungnya.
“Neng.”
“Iya, Bu.”
Dan perempuan itu memandangiku beberapa detik.
“Kamu nunggu dia tiap malam?”
“Iya, Bu.”
“Sampai jam berapa?”
“Sampai dia pulang.”
Dan Bu Yatmi kembali menyusun bungkusan nasinya, dan berkata, tanpa menoleh:
“Empat tahun saya liat anak itu nggak nunggu siapa-siapa dan nggak ada yang nungguin dia.”
Dan dia menggantung kantong plastiknya.
“Sekarang ada.”
Bersambung ke Bab 47 — “Selesai”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan reading
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi