Chapter Twenty Three
Yuni Marah
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Yuni, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.400
Yuni marah padaku selama sembilan hari.
Aku tahu persis sembilan hari karena Yuni punya sistem. Kalau dia marah, dia tidak berhenti bicara — dia berhenti bertanya. Dia akan tetap mengobrol, tetap bercanda, tetap meminjam pensil alisku. Tapi dia tidak akan menanyakan satu hal pun tentang hidupku.
Hari kesembilan, di ruang ganti jam dua pagi, dia meledak.
“Lo tau nggak apa yang paling nyebelin dari lo?”
Aku mengangkat kepalaku dari cermin.
“Yun—“
“Bukan karena lo takut.” Yuni menutup kotak riasannya terlalu keras. “Takut mah wajar. Semua orang takut.”
“Yun.”
“Yang nyebelin itu lo mikir lo lagi baik hati.”
Aku berhenti.
“Apa?”
Yuni memutar kursinya menghadapku.
Dan wajahnya bukan wajah marah. Itu jauh lebih buruk. Itu wajah orang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan akhirnya kehabisan tempat.
“Ran, lo pikir lo lagi ngelindungin dia.”
“Aku nggak—“
“Lo mikir lo lagi berkorban. Lo mikir lo lagi jadi orang baik yang mundur demi kebaikan orang lain.” Yuni mencondongkan badan. “Padahal lo lagi ngelindungin diri lo sendiri, dan lo pakai muka dia buat alesan.”
Ruang ganti itu sempit dan panas dan bau hairspray.
“Yun, lo nggak ngerti.”
“Gue ngerti banget.”
“Enggak.”
“Ran, gue kerja di tempat yang sama kayak lo.”
Dan itu menutup mulutku.
Yuni mengambil botol air, minum, dan meletakkannya kembali dengan tenang.
“Gue mau cerita sesuatu,” katanya. “Dan gue cuma mau cerita sekali, jadi lo dengerin.”
Aku diam.
“Tahun pertama gue di sini, gue punya pacar. Namanya Rendi.”
“Yun, aku nggak pernah—“
“Iya, lo nggak pernah denger. Karena gue nggak pernah cerita ke siapa-siapa.” Yuni menatap cermin, bukan aku. “Anak kuliahan. Umurnya dua puluh satu. Kerja part-time di kedai kopi.”
Aku menutup mulutku.
“Dia tau gue kerja apa. Dari awal. Gue yang bilang, minggu kedua.” Yuni mengangkat bahu. “Dia nggak masalah. Beneran nggak masalah. Gue udah tes dia berkali-kali, Ran. Gue kasar ke dia, gue ceritain hal-hal yang paling jelek, gue bikin dia ketemu temen-temen gue yang paling berisik. Dia nggak pergi.”
“Terus?”
“Terus gue yang pergi.”
Ruang ganti itu sunyi.
“Delapan bulan,” lanjut Yuni. “Terus gue putusin lewat chat. Gue bilang gue nggak cinta lagi.”
“Bohong?”
“Bohong.”
Yuni akhirnya menoleh ke arahku.
“Dan gue bangga banget waktu itu, Ran. Gue beneran mikir gue lagi ngelakuin hal yang bener.” Suaranya berubah. “Gue mikir: dia masih muda, dia bakal nyesel, gue nyelametin dia dari masa depan yang bakal dia benci.”
“...Terus?”
“Terus dia nikah tahun lalu.” Yuni tertawa, dan tawanya jelek. “Sama anak kuliahan juga. Anaknya udah satu.”
“Ya berarti bener, dong.”
“Ran.”
“Berarti keputusan lo bener—“
“RAN.”
Dan Yuni menggebrak meja rias, satu kali, dan botol-botol di atasnya melompat.
“Yang salah bukan hasilnya,” katanya. “Yang salah adalah gue yang mutusin. Sendirian.”
Aku diam.
“Gue nggak pernah nanya dia mau apa. Gue nggak pernah kasih dia kesempatan buat milih.” Yuni menunjuk dadanya sendiri. “Gue yang mutusin dia bakal nyesel. Gue yang mutusin dia nggak cukup dewasa buat tau apa yang dia mau. Gue yang mutusin gue nggak cukup berharga buat dia.”
“Yun—“
“Dan itu bukan pengorbanan, Ran.” Suara Yuni pecah, dan aku belum pernah dalam tiga tahun mendengar suara Yuni pecah. “Itu penghinaan. Gue ngehina dia. Gue anggap dia terlalu bodoh buat ngitung sendiri.”
Aku tidak bisa bicara selama mungkin satu menit penuh.
Yuni mengambil tisu, menekannya ke bawah mata, dan mengumpat karena maskaranya luntur.
“Sialan. Gue harus dandan ulang.”
“Yun.”
“Apa.”
“Lo pernah nyesel?”
Yuni memandangi cermin.
“Tiap hari,” katanya.
Aku ke warung malam itu dalam keadaan yang tidak jelas.
Dan Bimo — yang selalu tahu, yang selalu membaca, yang tidak pernah salah — menaruh mangkuk di depanku dan berkata:
“Kamu abis nangis.”
“Nggak.”
“Iya.”
“Nggak, Mas.”
“Ya udah.”
Dan dia kembali ke kompor.
Dan aku duduk di sana dan menyadari, dengan rasa malu yang panas, bahwa aku baru saja berbohong kepada satu-satunya orang di dunia yang tidak pernah sekali pun berbohong kepadaku.
“Mas.”
“Ya.”
“Aku bohong.”
Bimo tidak menoleh.
“Iya.”
“Aku abis nangis.”
“Iya.”
“Yuni marah sama aku.”
“Kenapa?”
Dan aku membuka mulutku untuk menjelaskan, dan aku menyadari bahwa aku tidak bisa menjelaskannya tanpa menjelaskan semuanya.
Jadi aku berkata:
“Karena aku bodoh.”
Bimo membalik sesuatu di wajan.
“Kamu nggak bodoh.”
“Kamu belum denger alesannya.”
“Nggak perlu.”
“Mas—“
“Ran.” Dia menaruh spatulanya. “Kamu inget bunga majemuk dua belas iterasi tanpa kalkulator. Kamu nggak bodoh.”
Aku tertawa. Yang jelek. Yang benar.
“Itu beda, Mas.”
“Beda gimana.”
“Pinter ngitung angka nggak sama sama pinter ngitung orang.”
Dan Bimo, dengan punggung menghadapku, berkata:
“Iya. Itu bener.”
Warung sepi malam itu.
Sisa kebakaran masih ada di mana-mana — bau hangus yang tidak hilang dari gang, papan triplek yang menutup jendela rumah nomor lima, orang-orang yang masih membicarakannya.
Dan Bimo menerima ucapan terima kasih sepanjang malam dengan cara yang membuatku ingin melempar sesuatu.
“Bim, makasih ya semalem.”
“Iya.”
“Serius, Bim. Kalau nggak ada kamu—“
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Kamu harus mampir ke rumah, dimasakin—“
“Nggak usah, Pak. Beneran.”
Delapan kali. Aku menghitung. Delapan orang, delapan ucapan terima kasih, delapan tawaran, delapan penolakan.
Dan setiap kali, laki-laki itu jadi sedikit lebih tidak nyaman.
Setelah orang kedelapan pergi, aku bertanya.
“Mas.”
“Ya.”
“Kenapa kamu nggak bisa bilang ‘sama-sama’?”
Bimo mengelap meja.
“Bisa.”
“Nggak. Kamu bilang ‘nggak apa-apa’. Delapan kali.”
“Kamu ngitung?”
“Iya.”
Dia berhenti mengelap.
“Ran.”
“Iya?”
“Kenapa kamu ngitung terus?”
Dan aku hampir menjawab dengan bercanda.
Aku sudah menyiapkannya. Aku sudah membuka mulut dengan sesuatu yang ringan dan lucu dan aman.
Lalu aku ingat wajah Yuni.
Itu bukan pengorbanan, Ran. Itu penghinaan.
Jadi aku menjawab yang sebenarnya.
“Karena kalau aku tau harganya, aku tau aku sanggup bayar apa nggak,” kataku.
Bimo menaruh serbetnya.
“Terus kalau nggak sanggup?”
“Ya aku nggak ambil.”
“Terus kalau nggak ada harganya?”
Aku memandangi mangkukku.
“Nggak mungkin nggak ada harganya, Mas.”
“Ada.”
“Nggak ada.”
“Ran.”
“Nggak ada, Mas!” Dan suaraku keluar terlalu keras, dan Mamad menyembulkan kepalanya dari belakang lalu menariknya kembali. “Semua ada harganya. Semuanya. Tiap hal yang pernah aku terima seumur hidupku ada harganya, dan aku selalu bayar, dan aku nggak pernah telat sekali pun—“
Aku berhenti.
Karena suaraku bergetar.
Dan karena Bimo sudah berjalan mengelilingi meja panjang, dan sekarang berdiri di sebelah kursiku.
Dia tidak menyentuhku.
Dia menarik kursi. Duduk. Menghadapku, dari jarak setengah meter, di warung yang kosong jam empat lewat empat puluh.
“Ran.”
“Iya.”
“Semalem,” katanya. “Waktu kebakaran.”
“Iya?”
“Kamu ikut saya keluar.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Semua orang lari ke arah sebaliknya.” Bimo memandangi tangannya sendiri, yang masih ada tiga plester di punggungnya. “Kamu satu-satunya yang ikut.”
“Aku nggak ngapa-ngapain, Mas.”
“Iya.”
“Aku cuma berdiri.”
“Iya.”
“Terus kamu nyuruh aku mundur.”
“Iya.” Bimo mengangkat kepalanya. “Dan kamu tetep di situ.”
Warung itu sunyi.
“Ran.”
“Iya.”
“Berapa harganya?”
Aku membuka mulut.
Dan tidak ada yang keluar.
“Itu,” kata Bimo. “Itu maksud saya.”
Aku pulang jam setengah enam dan aku tidak bisa tidur.
Aku berbaring di kasur menatap langit-langit, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh minggu, aku mencoba menghitung sesuatu yang berbeda.
Bukan berapa yang harus kubayar.
Yang kucoba hitung adalah: apa yang sudah kuberikan.
Dan aku mulai mendaftarnya, satu per satu, dengan sangat hati-hati, karena aku takut daftarnya kosong.
Aku memaksanya memakai krim mata. Aku membuatnya tertawa — tiga kali, aku menghitung, dalam sepuluh minggu. Aku membuatnya duduk. Dia sekarang duduk kalau warung sepi. Dulu tidak pernah. Aku membuatnya menutup warung, dan dunia tidak runtuh. Aku menyentuh gitar itu dan dia tidak marah. Aku ada di gang itu waktu kebakaran, dan aku tidak lari. Dan tiga malam lalu, aku bilang dia orang paling keren yang pernah kutemui, dan suaranya pecah.
Aku berbaring di sana sampai jam dua siang.
Dan yang kupikirkan adalah ini:
Selama sepuluh minggu, aku menghitung dengan rumus yang salah.
Aku terus menghitung apakah aku pantas untuknya.
Aku tidak pernah sekali pun menghitung apakah aku baik untuknya.
Itu dua soal yang berbeda.
Dan jawabannya juga berbeda.
Malam itu aku datang jam empat pagi.
“Mas.”
“Ya.”
“Aku boleh nanya sesuatu?”
Bimo mengangkat kepalanya dari talenan.
Dan sesuatu di wajahnya berubah — cara yang sama seperti Bab lima belas, seperti orang yang sudah lama menunggu ketukan.
“Boleh,” katanya.
Aku menarik napas.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya sepanjang perjalanan. Aku sudah mengulangnya lima belas kali di kepalaku. Aku sudah tahu persis kata mana yang akan kupakai.
Dan yang keluar dari mulutku adalah:
“Kamu udah makan belum?”
Bimo menatapku.
Selama, mungkin, empat detik.
Lalu dia meletakkan pisaunya.
“Belum,” katanya.
“Ya udah.” Aku berdiri. Aku berjalan ke belakang meja panjang, ke wilayah yang belum pernah kumasuki dalam sepuluh minggu. “Duduk.”
“Ran—“
“Duduk, Mas.”
Dan dia duduk.
Bersambung ke Bab 24 — “Kalau Kamu Berhenti”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah reading
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi