Chapter Thirty Two
Lima Menit
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.500
BAGIAN III — DUA ORANG DI SATU KURSI
Yang tidak ada yang memberitahuku tentang jadian adalah bahwa hari-hari pertamanya terasa seperti belajar bahasa asing.
Aku sudah tiga tahun ahli dalam satu bahasa: bahasa yang isinya menggoda, mengalihkan, mengukur, dan mundur di detik yang tepat. Aku fasih. Aku bisa melakukannya sambil setengah tidur.
Dan sekarang bahasa itu tidak berguna sama sekali, dan aku tidak punya bahasa cadangan.
Hari pertama, aku datang jam empat pagi dan berdiri di ambang pintu selama tiga detik seperti orang tolol.
“Duduk,” kata Bimo.
“Iya.”
“Yang deket kipas jangan.”
“Iya.”
Dan aku duduk di kursiku dan dia menaruh mangkuk di depanku, dan semuanya persis sama seperti empat bulan terakhir, dan aku duduk di sana dengan pertanyaan yang berputar di kepalaku:
Terus sekarang gimana?
Yang memecahkannya adalah Bimo, dan caranya sangat khas dia.
Sekitar dua puluh menit, saat aku masih sibuk tidak tahu harus bagaimana, dia lewat di belakang kursiku sambil membawa piring kotor.
Dan tangannya menyentuh kepalaku.
Cuma sebentar. Telapak tangan di belakang kepala, sekali, seperti orang menepuk anak kecil.
Dan dia terus berjalan ke bak cuci seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku berbalik di kursiku.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu barusan ngapain?”
“Nyuci piring.”
“Bukan itu.”
“Oh.” Dia menyalakan keran. “Nggak apa-apa.”
“Mas.”
“Hm.”
“Ulang.”
Dan dia mematikan keran, berjalan kembali, dan menaruh telapak tangannya di kepalaku lagi — kali ini lebih lama, sekitar tiga detik — dan berkata:
“Kamu belum makan.”
Dan aku menyadari, dengan rasa hangat yang memenuhi seluruh dadaku, bahwa laki-laki ini sudah menemukan cara untuk memakai kalimat pelariannya sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda.
Yang berubah dalam dua minggu pertama, secara berurutan:
Hari kedua. Dia berhenti memanggilku “Ran” di depan Mamad dan mulai memanggilku “Ran” di depan semua orang, yang terdengar sama tapi tidak sama.
Hari ketiga. Aku menemukan bahwa dia menciumku di dahi kalau lewat di belakang kursiku dan warung sedang kosong. Tidak setiap kali. Sekitar satu dari tiga. Dan aku tidak pernah bisa memprediksi yang mana, yang membuatku menghabiskan seluruh malam dalam keadaan siaga.
Hari kelima. Bu Yatmi tahu. Aku tidak tahu bagaimana. Dia menyodorkan bungkusan nasi kuning jam setengah enam pagi dan berkata, “Dua ya sekarang, Neng,” dan berjalan pergi sebelum aku sempat bertanya apa pun.
Hari keenam. Aku mencium lehernya dari belakang saat dia sedang memasak, dan dia menjatuhkan spatula, dan Mamad berteriak dari belakang bahwa dia tidak mau melihat apa pun, dan Bimo menyuruhnya cuci piring.
Hari kedelapan. Kami bertengkar tentang harga kopi. Aku bilang tiga ribu terlalu murah. Dia bilang tidak. Aku bilang biaya bahan bakunya dua ribu delapan ratus. Dia bilang iya. Aku bilang berarti untungnya dua ratus rupiah per gelas. Dia bilang iya. Aku bertanya apakah dia sadar itu artinya dia harus menjual seratus gelas untuk mendapat dua puluh ribu. Dia bilang iya.
Aku menaruh buku tulis bersampul biru dan berkata “Mas, kamu ini gila.”
Dan dia bilang, “Iya,” dan menciumku, dan aku lupa apa yang sedang kupermasalahkan.
Kopi tetap tiga ribu sampai hari ini.
Hari kesepuluh. Sikat gigi.
Sikat gigi itu masuk ke kamar mandi warung tanpa upacara apa pun.
Aku ketiduran lagi. Aku bangun jam delapan pagi, dan mulutku terasa seperti sesuatu yang mati, dan aku berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka.
Dan di gelas plastik di sebelah wastafel, ada dua sikat gigi.
Satu yang biru, yang sudah ada di sana selama empat bulan, yang bulunya sudah mekar ke samping karena orang itu tidak pernah menggantinya.
Dan satu yang merah muda. Baru. Masih ada garis-garis rapi di bulunya.
Aku berdiri di depan wastafel itu selama mungkin dua menit.
Lalu aku keluar.
“Mas.”
“Ya.”
“Ada sikat gigi di kamar mandi.”
“Iya.”
“Warna pink.”
“Iya.”
“Punya siapa?”
Dan Bimo, yang sedang mengangkat panci, berkata:
“Ya punya kamu.”
“Kapan kamu beli?”
“Kemarin.”
“Kenapa?”
Dan dia menoleh ke arahku dengan wajah orang yang tidak mengerti kenapa pertanyaan ini ada.
“Karena kamu tidur di sini,” katanya.
Aku menangis di kamar mandi selama empat menit.
Aku ingin sangat jelas bahwa ini menggelikan. Aku menangis karena sikat gigi. Aku, perempuan berumur dua puluh tujuh tahun yang selama tiga tahun tidak menangis untuk apa pun, berdiri di kamar mandi warung kopi memegang sikat gigi merah muda dan menangis.
Karena begini.
Selama tiga tahun, aku tidak pernah meninggalkan apa pun di mana pun.
Itu aturan. Bukan aturan yang kutulis — aturan yang tumbuh sendiri, dari dalam, dari tempat yang sama dengan tempat semua aturan lainnya tumbuh. Kau tidak meninggalkan barang di tempat yang bukan milikmu. Kau tidak menaruh benda di ruangan yang bisa diambil kembali dari kau. Kau bawa semuanya, setiap kali, setiap malam, dalam satu tas.
Karena kalau semua barangmu ada di satu tas, kau bisa pergi dalam waktu empat menit dari mana pun.
Dan sikat gigi merah muda di gelas plastik di kamar mandi warung kopi berarti bahwa aku sekarang butuh lebih dari empat menit.
“Mas.”
“Ya.”
Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah kucuci dan mata yang jelas sekali habis menangis dan tidak berusaha menyembunyikannya.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Ran.”
“Beneran nggak apa-apa.”
Dan Bimo menaruh sendoknya, dan berjalan ke arahku, dan berhenti setengah meter.
“Sikat giginya?”
“Iya.”
“Kamu nggak suka warnanya?”
“MAS.”
“Ya kan saya nggak tau.”
Dan aku memukul dadanya dengan telapak tangan — pelan, tanpa tenaga sama sekali — dan dia menangkap tanganku dan menahannya di sana.
Dan kami berdiri di situ, di depan pintu kamar mandi warung kopi, jam delapan pagi.
“Ran.”
“Hm.”
“Kalau kamu mau, saya beli yang lain.”
“Nggak usah.”
“Yang warnanya beda—“
“Nggak usah, Mas.”
Dan aku menyandarkan dahiku ke dadanya, dan dia diam, dan tangannya naik ke belakang kepalaku.
Yang paling penting dari dua minggu pertama itu terjadi di hari kedua belas.
Warung ramai malam itu. Malam Sabtu. Anak-anak ojol, tukang parkir, rombongan dari luar gang.
Bimo bekerja tanpa berhenti selama empat jam. Dua kompor menyala terus. Mamad kewalahan. Aku ikut membantu — mengantar piring, mencuci gelas, menghitung uang di laci.
Dan sekitar jam tiga pagi, warung mulai kosong.
Aku sedang mencuci gelas terakhir di bak.
Dan aku mendengar suara di belakangku:
“Ran.”
“Ya?”
“Sini dulu.”
Aku menoleh.
Bimo duduk di kursi di dekat meja panjang. Bukan berdiri. Duduk, dengan punggung bersandar, dengan kedua tangan di paha.
Dan wajahnya lelah dengan cara yang belum pernah kulihat.
“Kenapa?”
“Sini.”
Aku mengelap tanganku dan berjalan ke sana.
“Ada apa?”
Dan Bimo berkata, dengan suara yang sangat pelan, sambil menatap lantai:
“Lima menit.”
Aku berhenti.
“...Apa?”
“Lima menit aja.” Dia mengangkat kepalanya. “Habis itu saya lanjut.”
Dan aku berdiri di sana, di tengah Warung Sembilan jam tiga pagi, dan aku mengerti apa yang barusan terjadi.
Laki-laki ini meminta sesuatu.
Untuk pertama kalinya.
Aku perlu menjelaskan kenapa ini menghancurkanku, dan aku akan mencoba melakukannya tanpa terdengar berlebihan.
Empat bulan.
Empat bulan aku duduk di warung ini dan menerima. Makanan, jaket, sandal yang dibetulkan, minyak angin, bubur, sprei yang diganti, lantai keramik, handuk, sikat gigi merah muda.
Dan dalam empat bulan itu, laki-laki ini tidak pernah sekali pun meminta apa pun dariku.
Tidak sekali pun.
Aku menawarkan uang: ditolak. Aku menawarkan bantuan: dialihkan. Aku memaksanya memakai krim mata: dia menerima dengan cara mengambilnya diam-diam dari meja dan tidak pernah menyebutkannya.
Dan sekarang dia duduk di kursi dengan bahu yang turun dan berkata lima menit aja.
Aku duduk di lengan kursinya.
Dan aku menarik kepalanya ke bahuku.
Dan dia membiarkannya.
Kami tidak bicara selama lima menit.
Aku menghitung. Tentu saja aku menghitung — itu satu-satunya hal yang tidak bisa kuhentikan tentang diriku.
Lima menit dua belas detik.
Dan sepanjang lima menit dua belas detik itu, aku duduk di lengan kursi dengan kepala laki-laki itu di bahuku dan tanganku di rambutnya, dan aku merasakan berat kepalanya bertambah sedikit demi sedikit.
Dia tidak tidur. Aku tahu dari napasnya.
Dia cuma berhenti.
Dan aku menyadari, dengan sesuatu yang menekan di belakang mataku, bahwa mungkin ini pertama kalinya dalam empat tahun laki-laki itu berhenti.
“Mas.”
“Hm.”
“Udah lima menit.”
“Iya.”
“Kamu mau lanjut?”
Jeda.
“Bentar lagi.”
Dan aku tersenyum ke rambutnya.
“Iya,” kataku. “Bentar lagi.”
Kami duduk seperti itu selama dua puluh menit.
Dan waktu akhirnya dia berdiri, dia tidak berterima kasih dan tidak menjelaskan apa-apa, dia cuma berjalan ke bak cuci dan melanjutkan mencuci gelas yang sudah kucuci.
Tapi telinganya merah.
Dan waktu dia lewat di belakang kursiku sepuluh menit kemudian, dia berhenti, dan tangannya di kepalaku selama lima detik penuh.
Aku pulang jam enam pagi.
Dan di gang, Bu Yatmi sedang menyusun bungkusan nasi seperti biasa, dan menyodorkan dua bungkus tanpa berkata apa-apa.
“Bu.”
“Apa, Neng.”
“Boleh nanya sesuatu?”
“Nanya.”
Aku memegang dua bungkusan hangat itu.
“Mas Bimo pernah minta tolong ke Ibu? Selama empat tahun?”
Bu Yatmi berhenti mengikat kantongnya.
Dan dia berpikir. Lama. Lebih lama dari yang kubayangkan untuk pertanyaan sesederhana itu.
“Sekali,” katanya akhirnya.
“Sekali?”
“Iya.”
“Kapan?”
Bu Yatmi menggantung kantong plastiknya.
“Hari pertama dia datang.”
Aku menunggu.
“Dia ketuk pintu saya jam sebelas malam. Bawa satu tas.” Bu Yatmi mengangkat bahunya. “Terus dia bilang: ‘Bu, saya boleh numpang tidur? Kunci ruko baru bisa diambil besok.’”
“Terus?”
“Ya saya kasih. Ada kamar kosong.”
“Terus?”
Dan Bu Yatmi menoleh ke arahku, dan wajahnya adalah wajah perempuan lima puluh delapan tahun yang sudah melihat semua jenis kesedihan manusia.
“Terus besoknya dia nggak mau makan di rumah saya,” katanya. “Sampai sekarang.”
Bersambung ke Bab 33 — “Surat Pengunduran Diri”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit reading
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi