Chapter Twenty Five

Handuk

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.400


Hujan turun jam tiga pagi, dan aku tidak membawa payung, dan aku memutuskan untuk berlari.

Itu keputusan yang buruk. Jaraknya lima blok. Aku memakai sepatu hak sembilan senti. Dan hujannya bukan gerimis — ini hujan yang turun seperti seseorang membalik ember.

Aku sampai di depan Warung Sembilan dalam keadaan yang lebih basah daripada kalau aku berjalan santai, karena berlari di hujan deras adalah salah satu bentuk kebodohan manusia yang paling konsisten.

Pintunya terbuka sebelum aku mengetuk.

Bimo memandangiku.

Air menetes dari ujung rambutku ke lantai. Sepatuku di tangan. Bajuku menempel di badan. Riasanku, kupastikan, sudah berpindah ke seluruh wajahku dalam formasi yang tidak direncanakan siapa pun.

“Masuk.”

“Aku basah, Mas.”

“Iya. Masuk.”


Yang terjadi berikutnya adalah rutinitas yang sudah kami lakukan sekali sebelumnya, di Bab tujuh, waktu hujan sampai subuh.

Baju kering di gudang. Kaus abu-abu yang kebesaran. Celana pendek yang harus digulung dua kali.

Air panas.

Kecuali kali ini ada yang berbeda.

Kali ini, waktu aku keluar dari gudang dengan rambut yang masih meneteskan air ke leherku, Bimo sedang berdiri di dekat kursi dengan handuk di tangannya.

“Duduk.”

“Aku bisa sendiri.”

“Duduk, Ran.”

Aku duduk.

Dan dia berdiri di belakangku.


Aku perlu menjelaskan sesuatu, karena kalau tidak, bagian ini tidak akan masuk akal.

Selama tiga tahun, aku sudah disentuh oleh entah berapa banyak laki-laki. Aku sudah menulis soal ini. Aku punya sistem untuk itu.

Tapi ada satu hal yang tidak pernah terjadi.

Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah menyentuh rambutku dari belakang.

Itu bukan zona yang biasa. Laki-laki menyentuh tangan, pinggang, bahu, lutut — tempat-tempat yang bisa mereka lihat, yang bisa mereka pastikan reaksinya, yang bisa mereka tarik kembali kalau ditolak.

Belakang kepala adalah tempat kau tidak bisa melihat.

Kau harus percaya.

Dan handuk itu turun ke rambutku, dan tangannya mulai bergerak, dan aku menutup mataku sebelum aku sempat memutuskan untuk menutupnya.


Dia tidak menggosok kasar.

Itu yang pertama kali kusadari. Aku sudah menyiapkan diri untuk digosok seperti orang mengeringkan kaca mobil, tapi tangannya bergerak dengan cara lain — menekan handuknya ke rambut, menahannya beberapa detik, lalu memindahkannya ke bagian lain.

Menyerap. Bukan menggosok.

Dan dia mulai dari ujung, bukan dari kepala.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu tau caranya.”

“Iya.”

“Kok tau?”

Tangannya berhenti sebentar.

“Rambut ibu saya panjang,” katanya. “Waktu beliau sakit, saya yang keramasin.”

Dan dia melanjutkan.

Dan aku duduk di kursi itu dengan mata tertutup dan tenggorokan yang terasa aneh, dan aku tidak bisa berkata apa-apa selama mungkin satu menit penuh.


Yang dia lakukan berikutnya adalah hal yang membuat seluruh bab ini penting.

Dia mulai bicara.

Tentang hal lain.

“Kompor kanan rusak lagi.”

“...Hah?”

“Yang seret itu. Sekarang nggak nyala sama sekali.”

“Terus?”

“Ya saya benerin besok. Cuma perlu ganti selang sama regulatornya. Tapi yang di pasar mahal, jadi saya cari di toko Kirana dulu.”

Handuk itu berpindah ke sisi kiri.

“Terus Mamad kemarin beli beras salah merek.”

“Yang mana?”

“Yang murah. Saya udah bilang jangan yang itu, nanti pulennya beda, pelanggan komplain.” Jeda. “Dia bilang lupa. Tapi selisihnya dua puluh ribu, dan dia beliin ibunya obat.”

“Terus kamu marah?”

“Nggak.”

“Kamu bilang apa?”

“Saya bilang lain kali beli yang bener, terus saya kasih dia lima puluh ribu.”

Aku tertawa. Mataku masih tertutup.

“Kamu nggak pinter marah, Mas.”

“Iya.”

“Kamu tuh gimana kalau marah?”

Tangan itu berhenti sebentar.

“Diem,” katanya.

“Selama berapa lama?”

“Tergantung.”

Handuk itu berpindah ke belakang leherku, dan aku merasakan buku jarinya menyentuh kulit di sana selama seperempat detik, dan seluruh tubuhku memutuskan untuk berhenti berfungsi.

“Ran.”

“...Hm.”

“Kamu ngantuk?”

“Nggak.”

“Kamu nggak jawab dari tadi.”

“Aku dengerin.”

“Oh.”

Dan dia melanjutkan bicara tentang kompor dan beras dan harga cabai yang naik, sementara aku duduk di sana dengan mata tertutup dan tangan menggenggam tepi kursi, dan aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku sesak:

Dia bicara supaya aku tidak canggung.

Laki-laki ini sedang mengeringkan rambutku dengan cara yang butuh waktu lima menit, dan dia tahu — dia pasti tahu, karena dia selalu tahu — bahwa lima menit dalam keheningan akan membuat salah satu dari kami harus mengakui sesuatu.

Jadi dia bicara tentang regulator kompor.

Supaya aku bisa tetap di sini.


Handuk itu berhenti.

“Udah.”

Aku membuka mataku.

“...Udah?”

“Udah kering. Nggak sampai kering banget, tapi nggak netes lagi.”

Dia melipat handuk itu dan menaruhnya di sandaran kursi sebelah.

Dan aku duduk di sana, memunggunginya, dan aku tidak berbalik.

“Mas.”

“Ya.”

“Lima menit lagi.”

Warung itu sunyi.

Aku bisa mendengar hujan di atap seng. Aku bisa mendengar kipas. Aku bisa mendengar seseorang di belakangku yang tidak bergerak sama sekali.

“Ran.”

“Aku serius.”

“Rambut kamu udah kering.”

“Aku tau.”

Dan aku tetap tidak berbalik, karena aku tidak cukup berani untuk melihat wajahnya, dan karena kalau aku berbalik aku harus mengucapkan sesuatu yang tidak siap kuucapkan.

Sepuluh detik.

Dan kemudian handuk itu turun lagi ke kepalaku.

Dan tangannya kembali bergerak, dengan sangat pelan, ke rambut yang sudah tidak basah lagi.


Aku tidak akan mengatakan berapa lama.

Aku tidak tahu berapa lama. Aku berhenti menghitung, dan itu — bagi orang sepertiku — adalah satu-satunya hal yang layak dicatat dari seluruh malam itu.

Yang kutahu cuma bahwa pada suatu titik, tangannya berhenti bergerak.

Dan handuk itu tidak diangkat.

Dan aku merasakan berat telapak tangannya di atas kepalaku, lewat handuk, tidak menekan, cuma ada di sana.

Selama, mungkin, empat detik.

Lalu diangkat.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu barusan ngapain?”

Jeda.

“Nggak ada.”

Dan aku berbalik.

Dan Bimo sudah setengah jalan ke belakang meja panjang, membelakangiku, dan telinganya merah sampai ke leher.


Aku minum jahe malam itu dan tidak menggoda sekali pun.

Itu perkembangan yang aneh. Selama sebelas minggu, godaan adalah bahasa pertamaku di ruangan itu — refleks, perisai, alat ukur. Dan malam itu aku duduk di kursiku selama dua jam dan tidak melempar satu pun.

Bukan karena aku takut.

Karena aku tidak butuh.

“Mas.”

“Hm.”

“Aku nggak bercanda apa-apa dari tadi.”

Bimo menoleh sedikit.

“Iya. Saya sadar.”

“Kamu nggak nanya kenapa?”

“Nggak.”

“Kok nggak?”

Dan dia mengangkat bahu, dan berkata:

“Kalau saya nanya, nanti kamu mulai lagi.”

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan dan mengeluarkan bunyi yang tidak bisa kupertanggungjawabkan.


Menjelang subuh, saat hujan sudah tinggal gerimis, aku bertanya sesuatu yang sudah kusimpan sejak Bab dua puluh satu.

“Mas.”

“Ya.”

“Boleh nanya tentang ibu kamu?”

Bimo berhenti mengelap gelas.

Dan aku sudah siap untuk ditolak. Aku sudah menyiapkan kalimat “nggak apa-apa, lupain aja” di ujung lidahku.

“Boleh,” katanya.

“...Serius?”

“Iya.”

Aku menegakkan badan.

“Namanya siapa?”

“Sumiyati.”

“Beliau gimana orangnya?”

Bimo menaruh gelasnya.

Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya yang belum pernah kulihat — sudut mulutnya naik, dan kali ini tidak dihapus.

“Cerewet,” katanya.

“Serius?”

“Iya. Cerewet banget.” Dia mengambil gelas lain. “Nggak bisa diem. Kalau lagi masak, ngomong. Kalau lagi nonton TV, ngomong. Kalau lagi tidur juga kayaknya ngomong.”

Aku tertawa.

“Kamu kebalikannya.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena nggak ada tempat.” Bimo mengangkat bahu. “Kalau di rumah ada satu orang yang ngomong terus, yang satu lagi jadi yang dengerin.”

Dan sesuatu di dalam kepalaku bergeser dan mengunci di tempatnya.

Oh.

Oh, jadi itu.

Sebelas minggu aku memperlakukan diamnya sebagai misteri. Sebagai pintu terkunci. Sebagai sesuatu yang harus kubongkar.

Dan ternyata itu cuma kebiasaan seorang anak laki-laki yang tumbuh di rumah dengan satu ibu yang cerewet.

“Mas.”

“Hm.”

“Beliau tau nggak kamu bisa main gitar?”

Gelas itu berhenti.

Dan senyum yang tadi ada di sudut mulutnya, hilang.

“Beliau yang beliin,” katanya.


Aku pulang jam setengah enam pagi dengan kaus abu-abu yang bukan milikku dan rambut yang wangi sabun cuci.

Dan sepanjang lima blok, aku memikirkan satu hal.

Gitar itu dibelikan ibunya.

Ibunya meninggal.

Dan Bimo tidak menyentuh gitar itu selama empat tahun.

Empat tahun.

Ibunya meninggal — kapan? Dia bilang dia pulang dari hotel karena ibunya sakit, dan sakitnya tiga bulan, dan dia yang mengurus.

Tapi itu terjadi sebelum dia datang ke gang ini. Bu Yatmi bilang dia datang empat tahun lalu, dengan satu tas kecil, dan tiga hari tidak keluar kamar.

Jadi ada jarak.

Ada rentang waktu antara ibunya meninggal dan dia datang ke gang ini.

Dan di dalam rentang waktu itu, sesuatu terjadi.

Sesuatu yang membuat seorang laki-laki berhenti memainkan gitar pemberian ibunya — bukan karena ibunya meninggal, tapi karena sesuatu yang lain.

Aku sampai di kontrakan.

Aku duduk di lantai.

Dan aku mengambil ponselku, membuka aplikasi catatan, dan untuk pertama kalinya sejak sebelas minggu, aku mulai menulis daftar.

Bukan daftar utang.

Daftar pertanyaan.

1. Dia kerja di hotel 3 tahun. Berhenti karena ibunya sakit. 2. Ibunya sakit 3 bulan. Meninggal. 3. Dia datang ke gang ini 4 tahun lalu. Bawa 1 tas. 4. Bayar sewa ruko setahun di depan. TUNAI. 5. Nombok 4,5 jt/bulan selama 4 tahun. Dari “tabungan”. 6. Bisa itung bunga majemuk 12 iterasi di kepala. 7. Baca surat perjanjian 4 lembar dalam 100 detik, langsung nemu pasal jebakan. 8. Pernah ikut pelatihan tanggap darurat. Di “KANTOR”. 9. Nggak pernah keluar dari gang ini. 4 tahun. 10. Gitar dari ibunya. Nggak disentuh 4 tahun. 11. Ada mobil item nyariin dia. (Kata Mamad.)

Aku memandangi daftar itu.

Poin nomor sebelas kutambahkan terakhir, dan aku bahkan tidak yakin kenapa aku mengingatnya — Mamad menyebutkannya sekali, sambil lalu, waktu aku sedang sakit dan tidak fokus.

Aku menutup ponselku.

Aku berbaring.

Dan aku berkata, keras-keras, ke langit-langit:

“Kamu ini siapa, sih.”


Bersambung ke Bab 26 — “Om Hendra”