Chapter Twenty Nine

Tujuh Menit

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Kirana, Mamad, Yuni Jumlah kata: ±2.450


Aku bertahan sepuluh hari, dan yang menghancurkannya bukan rasa penasaran.

Yang menghancurkannya adalah tujuh menit di hari Selasa pagi.


Aku ketiduran lagi.

Ini sudah kelima kalinya dalam tiga bulan, dan sudah tidak ada yang mempermasalahkannya. Aku bangun di kursi panjang di pojok, dengan bantal dan selimut yang sekarang selalu ada di sana, dengan jaket abu-abu yang statusnya sudah lama tidak dipertanyakan siapa pun.

Jam tujuh lewat sepuluh.

Dan aku mendengar suara.

Dua suara. Dari luar.

Aku tidak bergerak.

Aku ingin sangat jelas soal ini: aku tidak berpura-pura tidur untuk menguping. Aku cuma belum sepenuhnya bangun, dan berpindah dari “belum bangun” ke “sengaja diam” terjadi begitu halus sehingga aku tidak bisa menunjuk kapan tepatnya.


Mereka berdiri di depan pintu.

Aku bisa melihatnya lewat celah, dari posisiku, karena kursi panjang itu menghadap ke arah pintu dan aku berbaring miring.

Kirana dan Bimo.

Kirana memakai kemeja biru muda dan rok panjang. Rambutnya diikat rendah dengan pita kain. Dia memegang dua bungkus sarapan.

Dan mereka bicara.

Biasa. Sopan. Tentang bapaknya yang harus cuci darah dua kali seminggu sekarang.

Aku sudah hampir menutup mataku lagi.

Dan kemudian Kirana berkata:

“Mas Bimo.”

“Ya.”

“Saya mau ngomong sesuatu.”


Tujuh menit.

Aku menghitungnya nanti, setelahnya, dengan melihat jam di ponselku. Tujuh menit dari kalimat itu sampai Kirana pergi.

Dan aku akan menuliskannya sepersis yang kuingat, meskipun aku sudah mencoba melupakannya selama berminggu-minggu.

“Ngomong apa?”

“Bapak saya mau pensiun total.”

“Oh. Bagus.”

“Iya.” Kirana menggeser posisi berdirinya. “Terus toko mau saya kembangin.”

“Bagus.”

“Saya mau buka cabang, Mas. Di Jalan Melati.”

“Modalnya cukup?”

“Cukup.” Jeda. “Cuma saya butuh orang.”

Dan aku, di kursi panjang, membuka mataku sepenuhnya.

“Butuh orang gimana?”

“Yang ngurusin operasional.” Kirana bicara lebih cepat sekarang, dengan cara orang yang sudah menghafal kalimatnya. “Yang ngerti hitungan. Yang bisa ngatur orang. Yang ngerti supplier.”

Hening.

“Kirana.”

“Iya, Mas?”

“Kamu nggak lagi ngomongin cabang.”

Dan aku mendengar Kirana menarik napas.

“...Iya.”


Tiga menit berikutnya adalah tiga menit terpanjang dalam hidupku.

“Mas Bimo, saya udah setahun lebih ke sini.”

“Iya.”

“Tiap pagi.”

“Iya.”

“Dan saya tau Mas nggak pernah nanya apa-apa ke saya.” Suaranya bergetar sedikit. “Dan saya pikir itu karena Mas orangnya emang gitu.”

Bimo tidak menjawab.

“Tapi terus saya perhatiin.” Kirana tertawa kecil, dan tawanya menyakitkan. “Mas nanya ke Pak Har soal anaknya. Mas nanya ke Bu Yatmi soal lututnya. Mas nanya ke Mamad tiap hari.”

Hening.

“Dan ke saya nggak pernah.”

Aku menutup mataku.

“Kirana—“

“Nggak apa-apa, Mas. Saya cuma mau tau kenapa.”

Dan Bimo diam untuk waktu yang sangat lama.

“Karena kalau saya nanya,” katanya akhirnya, “nanti kamu jawab.”

“...Terus?”

“Terus kita jadi deket.”

“Ya emang kenapa kalau deket?”

Dan Bimo berkata sesuatu yang membuat seluruh tubuhku dingin.

“Kamu pantes dapet yang lebih bagus dari saya, Kirana.”


Aku ingin bangun.

Aku ingin berdiri dan berjalan keluar dan berteriak sesuatu, aku tidak tahu apa, aku tidak tahu ke siapa.

Aku tidak bergerak.

“Mas, itu jawaban orang yang nolak.”

“Iya.”

“Ya nggak apa-apa kalau nolak.” Suara Kirana pecah. “Tapi jangan pakai alesan yang bikin saya keliatan bodoh.”

“Kirana—“

“Saya dua puluh enam tahun, Mas. Saya bisa mikir sendiri siapa yang pantes buat saya.”

Hening.

Dan kemudian Bimo berkata, dengan suara yang lebih pelan dari yang pernah kudengar:

“Iya. Kamu bener. Maaf.”


Empat puluh detik tanpa suara.

Aku menghitungnya. Aku menghitung karena aku tidak bisa melakukan apa pun yang lain.

“Mas.”

“Ya.”

“Ada orang lain?”

Dan aku berhenti bernapas.

Aku berbaring di kursi panjang di pojok Warung Sembilan, dengan selimut sampai bahu dan jaket abu-abu di badan, dan aku berhenti bernapas.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

“Iya,” kata Bimo.


Aku tidak akan mendeskripsikan apa yang terjadi di dalam dadaku saat itu, karena aku tidak punya kata-katanya.

Yang bisa kukatakan cuma ini: aku sudah tiga bulan membangun sebuah bangunan yang seluruh pondasinya adalah keyakinan bahwa aku salah membaca semuanya.

Bahwa Bimo baik ke semua orang. Bahwa aku bukan pengecualian. Bahwa yang kurasakan adalah salah hitung.

Dan satu kata dari mulut laki-laki itu, diucapkan kepada orang lain, di luar pintu, jam tujuh lewat lima belas pagi, meruntuhkan seluruhnya.


“Siapa?”

“Kirana.”

“Saya kenal?”

“Kirana, jangan.”

“Saya cuma mau tau.”

Hening.

Dan kemudian, sangat pelan:

“...Oh.”

Aku menutup mataku lebih rapat.

“Yang tidur di dalem itu, ya?”

Bimo tidak menjawab.

Dan Kirana tertawa. Tawa yang basah dan pendek dan sama sekali tidak lucu.

“Ya udah,” katanya. “Makasih ya, Mas.”

“Kirana—“

“Nggak apa-apa. Beneran.” Bunyi kantong plastik. “Ini sarapannya.”

“Kamu nggak usah—“

“Saya masih pelanggan, Mas Bimo. Jangan diusir.”

Dan langkah kaki menjauh.


Aku berbaring di kursi panjang itu selama empat puluh menit lagi.

Aku tidak bergerak sama sekali. Aku mengatur napasku supaya terlihat seperti orang tidur. Dan aku mendengarkan Bimo masuk kembali, menaruh sesuatu di meja, menyalakan kompor, mencuci sesuatu.

Dan pada satu titik, langkah kakinya mendekat ke kursi panjang.

Berhenti.

Selama beberapa detik.

Lalu selimutku ditarik naik dua senti, di bagian bahu, tempat selimut itu selalu melorot.

Dan langkah kaki itu menjauh lagi.

Dan aku berbaring di sana dengan mata tertutup dan air yang mengalir ke bantal, tanpa suara, selama sisa pagi itu.


Aku bangun jam delapan dan berpura-pura baru bangun.

“Mas.”

“Bangun?”

“Iya.”

Aku duduk. Aku menggosok mataku — yang bengkak, yang tidak bisa kusembunyikan, tapi aku baru bangun jadi tidak ada yang aneh.

Bimo menaruh piring di meja.

Dan aku duduk di kursiku dan makan dan tidak bisa merasakan apa pun.

“Mas.”

“Ya.”

“Kirana tadi ke sini?”

Tangannya berhenti sepersekian detik.

“Iya.”

“Beliin sarapan?”

“Iya.”

“Oh.”

Dan itu saja.

Aku tidak menanyakan apa pun lagi. Dia tidak menceritakan apa pun.

Dan kami berdua duduk di ruangan itu, dengan rahasia yang sama di antara kami, dan tidak satu pun dari kami cukup berani untuk menyebutkannya.


Yang terjadi pada diriku selama tiga hari berikutnya adalah sesuatu yang tidak kuduga sama sekali.

Aku pikir aku akan bahagia.

Aku sudah menghabiskan tiga bulan yakin bahwa perasaanku sepihak, dan sekarang aku punya bukti — bukti langsung, dari mulutnya sendiri, diucapkan kepada orang lain tanpa ada niat untuk kudengar.

Aku seharusnya melayang.

Yang kurasakan adalah teror.

Teror yang persis sama seperti jam tiga pagi di Bab dua puluh, tapi kali ini sepuluh kali lebih besar, karena kali ini bukan dugaan.

Karena sekarang ini nyata.

Dan nyata berarti ada yang bisa hancur.


“Yun.”

“Hm.”

“Kalau lo tau seseorang suka sama lo, tapi lo yakin lo bakal ngerusak hidup dia, lo ngapain?”

Yuni sedang memakai lipstik.

Dia berhenti.

Dan menaruh lipstiknya, dan memutar kursinya, dan menatapku.

“Ran.”

“Iya.”

“Dia bilang?”

“Nggak ke aku.”

“Ke siapa?”

“Ke orang lain.”

“Lo denger?”

“Iya.”

Yuni menatapku beberapa detik lagi.

Lalu dia berdiri, mengunci pintu ruang ganti dari dalam, dan duduk kembali.

“Oke,” katanya. “Cerita.”


Aku bercerita selama dua puluh menit.

Semuanya. Dari malam pertama. Sepatu di tangan, kaki basah, keset di kiri. Bubur kacang hijau yang tidak ada di menu. Sambal kacang. Minyak angin. Soto tiga kali. Ikan bakar dua jam. Lantai keramik. Jangan bales. Handuk. Gitar yang tidak disentuh empat tahun. Empat setengah juta sebulan. Kantor. Laptop di gudang.

Dan tujuh menit di depan pintu.

Yuni mendengarkan sampai selesai tanpa memotong sekali pun, yang bagi Yuni adalah keajaiban.

Dan waktu aku selesai, dia berkata:

“Ran.”

“Iya.”

“Gue mau nanya satu hal, dan lo harus jawab jujur.”

“Oke.”

Yuni mencondongkan badan.

“Lo bilang lo bakal ngerusak hidup dia.”

“Iya.”

“Gimana caranya?”

Aku membuka mulut.

“Ya... gimana ya.”

“Ran.”

“Ya kan jelas, Yun.”

“Nggak jelas. Jelasin.”

Dan aku mulai menjelaskan, dan aku mendengar suaraku sendiri, dan aku mendengar betapa kosongnya kalimat-kalimat itu.

“Orang-orang bakal ngomongin dia.”

“Terus?”

“Terus dia bakal malu.”

“Dia orangnya gimana? Dia peduli sama omongan orang?”

Aku diam.

“Ran, dia empat tahun jualan rugi empat setengah juta sebulan. Menurut lo dia peduli sama omongan orang?”

“...Enggak.”

“Terus apa lagi?”

“Keluarganya—“

“Ibunya udah meninggal. Lo bilang sendiri.”

“Bapaknya?”

“Lo pernah denger dia nyebut bapaknya?”

Aku berhenti.

Tidak.

Tiga bulan. Tidak sekali pun.

“Terus apa lagi, Ran?”

Dan aku duduk di kursi plastik di ruang ganti Aurora, jam dua pagi, dan aku mencari alasan berikutnya, dan tidak ada.

“Aku nggak tau,” kataku.

“Nah.”

“Yun—“

“Ran, dengerin gue.” Yuni memegang kedua bahuku. “Lo nggak lagi ngelindungin dia.”

“Yun.”

“Lo lagi cari alesan biar nggak usah nyoba.”


Aku pulang jam setengah enam pagi dari warung.

Dan di gang, di depan ruko bahan bangunan, Kirana sedang membuka gembok.

Aku hampir berbalik.

Aku benar-benar hampir berbalik dan mengambil jalan memutar, dan aku sudah setengah melakukannya waktu Kirana menoleh dan melihatku.

Dan tersenyum.

Senyum yang sama seperti biasa. Ramah. Tulus.

Kecuali matanya bengkak.

“Mbak Ranti.”

“...Pagi.”

“Baru pulang?”

“Iya.”

Dia menggantung gemboknya di pagar.

Dan berdiri di sana selama beberapa detik, memandangiku, dengan sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat.

“Mbak Ranti.”

“Iya?”

Dan Kirana berkata, dengan suara yang sangat tenang:

“Jangan disia-siain, ya.”

Dan dia masuk ke rukonya dan menutup pintunya.

Dan aku berdiri di gang itu, jam setengah enam pagi, dengan bungkusan nasi kuning di tangan.

Dan aku menangis untuk kedua kalinya hari itu.


Bersambung ke Bab 30 — “Yang Tidak Dikatakan”