Chapter Forty Nine
Kampung
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Bu Sri, Pak Warsito, Dimas, tetangga Jumlah kata: ±2.600
Suratnya sampai di kampung empat bulan kemudian.
Bukan surat yang sama. Ini surat lain — dari lembaga penyelesaian, dengan daftar nomor perkara, dengan tabel, dengan lampiran empat lembar.
Ibuku menelepon jam sembilan pagi.
“RANTI.”
“Bu? Kenapa?”
“Ada surat.”
“Surat apa?”
Dan aku mendengar suara kertas, dan aku mendengar ibuku bernapas dengan cara yang tidak teratur.
“Ibu nggak ngerti, Ran.”
“Bu, tenang dulu—“
“Ada tulisan ‘dinyatakan batal demi hukum’.”
Dan aku duduk di lantai kontrakanku.
Aku menjelaskannya selama empat puluh menit di telepon.
Bahwa gugatan class action-nya dikabulkan.
Bahwa seluruh perjanjian pinjaman yang mengandung klausul denda harian tanpa batas dinyatakan batal.
Bahwa penagihan dengan penyebaran data pribadi dinyatakan melawan hukum.
Bahwa untuk perkara-perkara yang sudah lunas dibayar dengan denda melebihi batas wajar, ada mekanisme restitusi.
Dan bahwa untuk perkara bapakku — yang tidak pernah lunas, yang menggantung selama tiga tahun sepuluh bulan, yang jumlahnya sudah menggelembung jadi angka yang tidak masuk akal —
utangnya dinyatakan batal.
Bukan diputihkan. Bukan diampuni.
Batal.
Yang artinya secara hukum, tidak pernah ada.
“Ran.”
“Iya, Bu.”
“Jadi Bapak kamu...”
“Nggak punya utang, Bu.”
Hening.
“Dari kapan?”
Dan aku menutup mataku.
“Dari awal, Bu.”
Ibuku menangis di telepon selama lima menit.
Dan aku duduk di lantai kontrakanku dan mendengarkan, dan aku tidak berkata apa-apa, karena tidak ada yang bisa dikatakan.
Dan waktu dia selesai, dia bertanya:
“Ran.”
“Iya, Bu.”
“Ini kenapa bisa?”
Dan aku memegang ponselku lebih erat.
“Ada gugatan, Bu.”
“Iya, Ibu ngerti. Tapi kenapa bisa menang?”
Dan aku duduk di lantai itu, dan aku memikirkan seorang laki-laki yang menyimpan tas ransel di rak gudang selama empat tahun.
“Ada yang kasih dokumennya, Bu,” kataku.
“Siapa?”
Dan aku berkata:
“Nggak disebut namanya.”
Kami pulang kampung hari Sabtu.
Aku, Bimo, dan Dimas — yang sudah kelas tiga sekarang, yang sudah lebih tinggi dariku sepuluh senti, yang naik bus dari kotanya dan bertemu kami di terminal.
Dan aku ingin mencatat perjalanan itu karena ada satu hal yang terjadi di bus yang tidak akan pernah kulupakan.
Bimo tidak tidur selama empat jam.
Dia duduk di kursi dekat jendela dan memandangi jalan, dan tidak bicara, dan setiap kali aku menoleh dia sedang menatap sesuatu di luar.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu kenapa?”
Dan dia tidak menoleh.
“Empat tahun saya nggak keluar dari gang itu,” katanya.
Aku menggenggam tangannya.
“Terus?”
Dan Bimo berkata:
“Terus ternyata di luar masih ada.”
Rumah kami di jalan yang ada nomornya.
Nomor tujuh belas. Cat hijau yang sudah pudar. Pagar besi yang sudah karatan di bagian bawah.
Dan ibuku sudah menunggu di depan pintu sejak entah kapan.
“RANTI!”
Dan dia memelukku, dan memeluk Dimas, dan kemudian dia berhenti.
Dan menatap laki-laki di belakang kami.
Yang berdiri dengan tas di tangan dan wajah orang yang ingin sekali ada di tempat lain.
“Bu,” kataku. “Ini Bimo.”
Ibuku memandanginya.
Dan aku berdiri di sana dengan seluruh tubuhku menegang, karena aku tidak pernah — tidak sekali pun, dalam sepuluh bulan — menceritakan kepada ibuku apa hubungan laki-laki ini dengan Ringan.
Aku sudah menyiapkan lima versi penjelasan.
Aku tidak memakai satu pun.
Karena ibuku berjalan ke arahnya, dan memegang kedua tangannya, dan berkata:
“Mas, sudah makan belum?”
Bimo membuka mulutnya.
Dan menutupnya.
Dan membukanya lagi.
“Sudah, Bu.”
“Bohong.”
“...Bu.”
“Kamu naik bus empat jam.” Ibuku menariknya masuk. “Masuk. Duduk.”
Dan aku berdiri di halaman rumahku sendiri dan menyaksikan laki-laki yang selama empat tahun memberi makan seluruh gang, yang tidak pernah bisa menerima apa pun dari siapa pun, diseret masuk ke rumah orang tuaku oleh perempuan berumur lima puluh empat tahun yang tidak menerima penolakan dari siapa pun.
Dan Dimas berdiri di sebelahku.
“Mbak.”
“Hm.”
“Mas Bimo panik.”
“Iya.”
“Dia keringetan.”
“IYA, DIM.”
Bapakku ada di kursi rotan di ruang tengah.
Dan aku melihat Bimo melihatnya.
Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajah laki-laki itu — sesuatu yang cepat, sesuatu yang dia sembunyikan dalam waktu kurang dari sepersekian detik, dan yang aku lihat karena aku sudah sepuluh bulan belajar membaca wajah itu.
Dia melihat tangan kanan bapakku.
Yang tidak bergerak.
Dan aku melihat laki-laki itu berhenti bernapas selama satu detik penuh.
“Pak,” kataku. “Ini Bimo.”
Bapakku mengangkat tangan kirinya.
Dan Bimo berjalan ke sana — tiga langkah, terlalu cepat, seperti orang yang takut kehilangan nyali kalau lambat — dan jongkok di depan kursi rotan itu.
Jongkok.
Supaya bapakku tidak perlu mendongak.
Dan dia menyalami tangan kiri bapakku dengan dua tangan.
“Pak.”
Dan bapakku memandanginya.
Bapakku butuh waktu untuk membentuk kalimat. Empat detik. Kadang enam. Dan selama empat detik itu, laki-laki yang jongkok di depannya tidak bergerak dan tidak melepaskan tangannya dan tidak mengalihkan pandangannya.
Dan bapakku berkata:
“Kamu... yang...”
Dan berhenti.
Aku menahan napas.
“Yang jaga... Ranti?”
Bimo tidak menjawab selama beberapa detik.
Dan aku berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan tangan menutup mulut.
“Enggak, Pak,” katanya.
Bapakku mengerutkan kening.
Dan Bimo berkata:
“Ranti yang jaga saya.”
Ibuku memasak seharian.
Dan aku ingin mencatat menunya, karena itu penting.
Ayam kecap. Sayur asem. Tempe goreng. Sambal terasi. Perkedel. Dan ikan asin yang digoreng kering.
Tidak ada udang.
Dan aku memperhatikannya sekitar jam tiga sore, waktu aku masuk ke dapur untuk membantu, dan aku berhenti di ambang pintu.
“Bu.”
“Hm.”
“Ibu nggak masak udang.”
Dan ibuku, yang sedang mengiris cabai, tidak menoleh.
“Ya nggak lah,” katanya. “Kamu alergi.”
Dan aku berdiri di dapur rumah orang tuaku, berumur dua puluh delapan tahun, dan aku menangis di sebelah tumpukan cabai merah.
Karena selama sepuluh bulan aku pikir Bimo adalah orang pertama yang mengingatnya.
Dan aku baru sadar bahwa ada satu orang lagi yang sudah mengingatnya sejak aku berumur empat tahun.
Yang terjadi malam itu tidak kurencanakan.
Kami makan jam tujuh. Enam orang di meja — aku, Bimo, Dimas, ibuku, bapakku, dan bulikku dari sebelah yang datang karena mendengar ada tamu.
Dan sekitar jam delapan, ada yang mengetuk pintu.
Ibuku membuka.
Dan aku mendengar suara dari ruang tamu.
“Bu Sri, permisi.”
“Eh, Pak RT.”
“Ini... anu.”
Dan aku berdiri.
Pak RT berumur enam puluhan, kumis putih, dan aku mengenalnya sejak aku berumur lima tahun.
Dan aku juga mengenalnya sebagai salah satu dari sekitar dua ratus nomor kontak di ponsel bapakku yang menerima foto KTP itu.
Dia berdiri di ruang tamu dengan kopiah di tangan.
“Pak, silakan duduk—“
“Nggak usah, Bu. Sebentar aja.”
Dan dia mengeluarkan sesuatu dari saku.
Kertas. Dilipat.
“Ini, anu.” Dia menyerahkannya ke ibuku. “Anak saya yang ngeprint.”
Ibuku membukanya.
Dan aku melihat wajahnya.
Dan aku berjalan mendekat dan melihat kertas itu.
Berita. Diprint dari internet. Dengan judul tentang Ringan dan gugatan class action dan putusan pengadilan.
“Bu Sri.”
“Iya, Pak.”
Dan Pak RT memegang kopiahnya dengan dua tangan.
“Saya mau minta maaf.”
Ruang tamu itu sunyi.
“Pak—“
“Waktu itu saya yang bilang ke orang-orang.” Suaranya bergetar. “Waktu foto Pak Warsito nyampe ke HP saya, saya yang bilang ke arisan. Saya bilang ‘hati-hati, Pak Warsito ada masalah’.”
Ibuku tidak bergerak.
“Saya nggak ngerti waktu itu, Bu.” Dia menunduk. “Saya pikir bener.”
Dan aku berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan tangan mengepal di sisi tubuhku.
Dan aku merasakan sesuatu yang panas dan tua dan sangat, sangat marah naik dari perutku.
Dan aku membuka mulutku.
Dan seseorang memegang tanganku.
Bimo.
Dia berdiri di sebelahku. Aku tidak mendengarnya datang.
Dan dia tidak menatapku. Dia menatap ke ruang tamu.
Dan dia menggenggam tanganku, satu kali, erat.
Dan aku menutup mulutku.
Ibuku memandangi Pak RT selama beberapa detik.
Dan kemudian dia melipat kertas itu, dan menaruhnya di meja, dan berkata:
“Pak.”
“Iya, Bu.”
“Bapak udah makan?”
Pak RT makan malam di rumah kami malam itu.
Dan setelah dia, datang Bu Har dari nomor sembilan belas.
Dan setelah dia, Pak Slamet.
Dan sekitar jam sepuluh malam ada tujuh orang di ruang tamu rumah orang tuaku, semuanya membawa sesuatu — kue, buah, satu orang membawa termos berisi wedang jahe — dan tidak satu pun dari mereka menyebutkan kata “maaf” lagi setelah Pak RT.
Mereka cuma datang.
Dan duduk.
Dan bertanya tentang kuliahku, dan tentang Dimas yang mau masuk teknik, dan tentang tetangga yang anaknya menikah bulan lalu.
Dan bapakku duduk di kursi rotannya di tengah semua itu.
Dan dia tidak banyak bicara — dia tidak bisa banyak bicara — tapi aku memperhatikannya sepanjang malam.
Dan tiga tahun sepuluh bulan ini adalah pertama kalinya aku melihat rumah kami penuh orang.
Aku menemukan Bimo di halaman belakang jam sebelas malam.
Duduk di kursi plastik, sendirian, memandangi kebun kecil ibuku.
Aku duduk di kursi di sebelahnya.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu ngapain di sini?”
Dan dia tidak menjawab selama beberapa detik.
“Ran.”
“Iya?”
“Boleh saya cerita sesuatu?”
Aku mengangguk.
Dan Bimo memandangi kebun itu — tiga pot cabai, satu pohon jambu, dan jemuran yang masih ada satu baju di atasnya.
“Waktu di ruang tamu tadi,” katanya. “Waktu bapak RT itu minta maaf.”
“Iya.”
“Saya mau berdiri.”
Aku menoleh.
“Saya mau berdiri dan bilang bahwa yang harusnya minta maaf itu saya.”
Dan aku memegang tangannya.
“Terus kenapa nggak?”
Dan Bimo berkata:
“Karena kalau saya berdiri, malam itu jadi tentang saya.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Dan malam itu bukan tentang saya, Ran.” Suaranya sangat pelan. “Malam itu tentang bapak kamu yang akhirnya bisa duduk di kursinya sendiri dan ada tujuh orang di rumahnya.”
Aku menutup mataku.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu tau nggak apa yang kamu lakuin barusan?”
“Apa?”
Dan aku menoleh ke arahnya.
“Kamu milih nggak ngaku,” kataku. “Bukan buat ngelindungin kamu.”
Dan Bimo tidak menjawab.
“Empat tahun kamu ngasih makan orang biar kamu ngerasa lebih enak,” kataku. “Dan malam ini kamu diem biar orang lain yang ngerasa lebih enak.”
Aku menggenggam tangannya.
“Itu beda, Mas.”
Dan aku melihat laki-laki itu menoleh ke arahku dalam gelap.
“Beda gimana?”
Dan aku berkata:
“Yang pertama itu utang.”
Aku menaruh kepalaku di bahunya.
“Yang kedua itu sayang.”
Kami pulang hari Minggu sore.
Dan di depan pintu, ibuku memeluk Bimo — memeluk, sungguhan, dengan dua tangan — dan laki-laki itu berdiri di sana seperti orang yang tidak tahu di mana harus meletakkan lengannya.
“Mas.”
“Iya, Bu.”
Dan ibuku menjauh, dan memegang kedua bahunya.
“Kapan-kapan ke sini lagi.”
“Iya, Bu.”
“Bawa baju ganti. Nggak usah balik hari.”
“Iya, Bu.”
Dan kemudian ibuku berkata sesuatu yang membuatku harus menoleh ke arah lain.
“Dan kamu makan yang bener,” katanya. “Kamu kurus banget.”
Di dalam bus, empat jam perjalanan pulang, Bimo tidak bicara selama sekitar satu jam.
Dan kemudian dia berkata:
“Ran.”
“Ya.”
“Ibu kamu tau, ya?”
Aku menoleh.
“Tau apa?”
Dan Bimo memandangi jalan di luar jendela.
“Tentang saya,” katanya. “Tentang Ringan.”
Dan aku memikirkannya.
Aku memikirkan percakapan di dapur, empat bulan lalu, tentang bawang dan penagih dan anak muda yang berkata ”Pak, maaf.”
Kamu kenal orangnya?
Iya.
Dia baik sama kamu?
Aku menggenggam tangannya.
“Iya, Mas,” kataku. “Dia tau.”
Dan Bimo menutup matanya.
Dan tidak berkata apa-apa lagi selama sisa perjalanan.
Tapi dia tidak melepaskan tanganku.
Bersambung ke Bab 50 — “Pasar”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung reading
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi