Chapter Fifteen
Jam Empat Pagi
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Yuni, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.450
Ada satu percakapan yang harus kuceritakan, dan aku menundanya selama tiga bab karena aku tidak suka mengingatnya.
Percakapan itu terjadi di ruang ganti Aurora, jam dua pagi, di sela-sela shift.
“Ran.”
“Hm.”
“Lo tau nggak lo ngapain?”
Yuni sedang memperbaiki riasannya di cermin. Aku sedang duduk di kursi plastik dengan sepatu dilepas, memijat telapak kakiku sendiri.
“Ngapain apanya?”
“Sebulan lebih.”
“Yun—“
“Gue itung, Ran. Gue itung beneran.” Yuni menutup pensil alisnya. “Lo ke sana lima puluh dua kali dalam delapan minggu.”
“Lo ngitungin?”
“Gue nggak sengaja ngitungin. Lo yang tiap hari cerita.”
Aku berhenti memijat kakiku.
“Aku nggak tiap hari cerita.”
“Ran.”
“Nggak.”
“Kemarin lo cerita soal minyak angin selama dua puluh menit.”
“Itu—“
“Dua puluh menit, Ran. Soal minyak angin.”
Aku memakai sepatuku kembali dengan gerakan yang tidak perlu sekasar itu.
“Yun, aku cuma seneng ada tempat yang enak buat nongkrong.”
Yuni memutar kursinya menghadapku.
Dan wajahnya bukan wajah yang mengejek. Itu yang membuatnya jauh lebih buruk.
“Ran, gue tanya serius.”
“Apa.”
“Kalau dia bilang suka sama lo, lo bakal gimana?”
Dan aku — yang selama satu jam terakhir sudah melayani empat laki-laki dengan senyum yang tidak pernah goyah — tidak bisa menjawab selama sepuluh detik penuh.
“Dia nggak bakal bilang,” kataku akhirnya.
“Bukan itu yang gue tanya.”
“Yun.”
“Ran.”
“Dia nggak bakal bilang,” ulangku, dan suaraku keluar terlalu keras di ruangan sempit itu. “Karena dia nggak bodoh.”
Yuni menatapku lama sekali.
Lalu dia berbalik ke cermin dan melanjutkan riasannya, dan berkata, pelan, dengan nada yang tidak biasa dia pakai:
“Itu jawaban paling nyebelin yang pernah gue denger dari lo.”
Delapan minggu.
Aku baru menghitungnya setelah Yuni menyebut angkanya, dan setelah itu aku tidak bisa berhenti menghitung.
Lima puluh dua kali.
Dan dalam lima puluh dua kali itu, ini yang sudah terjadi:
Aku sudah tidur di warung itu tiga kali. Aku sudah punya kursi sendiri, meskipun tidak ada yang pernah menyatakannya. Aku sudah punya jaket yang secara hukum bukan milikku. Aku sudah menceritakan tentang bapakku, tentang utang itu, tentang Dimas, tentang kuliah yang berhenti di semester lima. Aku sudah menangis dua kali di jalan pulang. Aku sudah berhenti memesan apa pun, karena tidak perlu. Aku sudah menaruh sandal jepit di rak seperti orang gila.
Dan yang paling penting, yang baru kusadari malam itu di ruang ganti:
Aku sudah berhenti menghitung jam.
Dulu, setiap malam di Aurora, aku menghitung. Berapa jam lagi. Berapa lagu lagi. Berapa lama sampai aku bisa pulang.
Sekarang aku masih menghitung.
Tapi yang kuhitung bukan berapa lama sampai selesai.
Yang kuhitung adalah berapa lama sampai jam empat.
Malam itu aku datang jam empat lewat lima.
Warung sepi. Cuma Pak Sunar di kursinya, dengan teh tawar dan ubi rebus, memandangi meja.
Bimo mengangkat kepalanya waktu aku masuk.
Dan aku berhenti di ambang pintu.
Karena dia tersenyum.
Bukan senyum dua milimeter selama satu detik seperti di Bab delapan. Senyum yang sungguhan. Yang sampai ke matanya. Yang berlangsung mungkin dua detik penuh sebelum dia menyadarinya sendiri dan menghapusnya seperti orang yang ketahuan.
“Duduk,” katanya, dengan suara yang normal, seolah wajahnya tidak baru saja mengkhianatinya di depan umum.
Aku duduk.
Dan aku tidak bicara selama lima menit, karena aku sedang sibuk memasang kembali seluruh bagian dalam dadaku yang baru saja lepas.
“Mas.”
“Ya.”
“Kenapa senyum?”
“Nggak senyum.”
“Tadi senyum.”
“Nggak.”
“Mas.”
“Ran.”
“Aku liat.”
Bimo memindahkan sesuatu dari wajan ke piring.
“Kaki kamu sakit?” tanyanya.
“Hah?”
“Kamu jalan miring dikit tadi.”
“Nggak—“ Aku berhenti. “Iya. Dikit.”
“Kanan?”
“Iya.”
Dan piring itu diletakkan di depanku, dan di sebelah piring itu ada botol minyak angin, dan aku menyerah untuk hari itu.
Yang terjadi berikutnya adalah salah satu percakapan terpenting dalam hidupku, dan aku bahkan tidak menyadarinya saat sedang terjadi.
Sekitar jam lima, waktu Pak Sunar sudah pulang dan warung benar-benar kosong, aku bertanya.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu nggak bosen?”
“Bosen apa.”
“Ini.” Aku melambaikan tangan ke seluruh ruangan. “Tiap hari. Sama aja. Buka terus, nggak pernah tutup.”
Bimo bersandar ke meja panjang.
“Nggak.”
“Kenapa nggak?”
“Nggak sama.”
“Sama, Mas. Aku udah delapan minggu di sini.”
“Nggak sama.”
“Coba jelasin.”
Dan Bimo — yang biasanya menjawab dengan satu kata, yang biasanya melempar bantal atau makanan atau kucing — melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan.
Dia menjelaskan.
“Minggu pertama kamu datang, kamu duduk di kursi yang paling deket pintu,” katanya.
Aku mengerutkan kening. “Terus?”
“Sekarang kamu duduk di kursi yang paling deket meja.”
“...Oh.”
“Minggu pertama kamu selalu megang tas kamu. Pangku terus. Nggak pernah ditaruh.”
Aku menoleh ke bawah.
Tasku ada di lantai. Sejak entah kapan.
“Minggu pertama kamu makan cepet banget. Lima menit habis.” Bimo melipat serbetnya. “Sekarang empat puluh menit.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Minggu pertama kamu nggak pernah lepas sepatu.”
Kakiku telanjang di lantai keramik. Sepatuku ada di dekat pintu, di tempat aku menaruhnya sejak minggu ketiga tanpa pernah memikirkannya.
“Jadi nggak sama,” kata Bimo. “Tiap minggu beda.”
Warung itu sunyi.
Kipas berputar. Kulkas berdengung. Di luar, langit belum berubah warna.
Dan aku duduk di kursi yang bukan kursiku, tanpa sepatu, dengan tas di lantai, di depan piring yang tidak kupesan, dan aku menyadari bahwa selama delapan minggu ini ada seseorang yang mencatat setiap milimeter perpindahanku.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu ngitungin aku?”
“Nggak.”
“Terus?”
Bimo mengangkat bahu.
“Cuma inget.”
Aku pulang jam setengah enam.
Dan di gang, di depan warung nasi bungkus, Bu Yatmi sedang menyusun dagangannya seperti biasa.
“Neng.”
“Pagi, Bu.”
“Sini.”
Aku menghampiri. Bu Yatmi menyodorkan bungkusan nasi kuning, dan aku sudah belajar untuk menerimanya tanpa protes.
“Bu.”
“Apa?”
“Boleh nanya sesuatu?”
Bu Yatmi mengikat kantong plastiknya. “Nanya.”
“Ibu bilang Mas Bimo lagi sembunyi.”
“Iya.”
“Sembunyi dari apa?”
Bu Yatmi berhenti mengikat.
Dia menoleh ke arah warung sebelah. Ke pintu yang tertutup. Ke angka sembilan yang miring ke kanan di atasnya.
“Saya nggak tau, Neng,” katanya. “Empat tahun saya nggak tau.”
“Ibu nggak pernah nanya?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Bu Yatmi menyandarkan pinggangnya ke meja lipat, dan menghela napas panjang seperti orang yang akan mengatakan sesuatu yang sudah lama disimpannya.
“Hari pertama dia datang ke gang ini,” katanya, “dia bawa satu tas. Satu, Neng. Kecil.”
“Terus?”
“Dia nyewa ruko ini. Bayar setahun di depan, tunai.” Bu Yatmi menatapku. “Terus tiga hari dia nggak keluar kamar.”
Aku diam.
“Hari keempat dia buka warung. Sendirian. Nggak ngerti apa-apa soal warung — beras aja dia beli kebanyakan, sampai basi.” Bu Yatmi tertawa kecil, tapi tawanya tidak lucu. “Terus dia jualan. Murah banget. Saya sampai marahin dia, saya bilang kamu bakal rugi.”
“Terus dia bilang apa?”
Bu Yatmi memandangi bungkusan nasinya.
“Dia bilang, ‘nggak apa-apa, Bu.’”
“Cuma itu?”
“Cuma itu.” Bu Yatmi mengangkat bahunya. “Empat tahun, Neng. Dia rugi terus. Tiap bulan. Saya tau karena saya yang bantu itung stok.”
Gang itu sunyi. Ada suara sapu dari kejauhan. Ada motor. Ada ayam.
“Bu.”
“Hm.”
“Terus kenapa dia terusin?”
Dan Bu Yatmi, perempuan lima puluh delapan tahun yang tahu segalanya tentang semua orang di gang ini, menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin duduk.
“Neng,” katanya. “Orang yang rugi tiap bulan selama empat tahun dan nggak berhenti itu bukan lagi dagang.”
“Terus apa?”
“Lagi nebus.”
Aku berjalan pulang lima blok pagi itu, dan aku tidak berhenti di bawah tiang listrik seperti biasa.
Aku terus berjalan.
Dan di kepalaku, dua kata itu berputar terus, bertemu dengan satu kata yang sudah kusimpan sejak Bab dua belas.
Bayar.
Nebus.
Aku sampai di kontrakan. Aku mandi. Aku berbaring.
Dan untuk pertama kalinya dalam delapan minggu, aku tidak memikirkan apakah Bimo menyukaiku.
Aku memikirkan apa yang dia lakukan sebelum dia datang ke gang ini.
Aku memikirkan tangannya yang bergetar waktu aku memegang gitar. Aku memikirkan empat detik bunga majemuk. Aku memikirkan gelas yang dicengkeram sampai buku jarinya pucat, waktu aku bercerita tentang penagih yang datang ke rumah ibuku. Aku memikirkan pertanyaan yang tidak pernah dia jelaskan: Ibu kamu masih di rumah yang sama? Aku memikirkan laki-laki yang rugi setiap bulan selama empat tahun dan tidak pernah keluar dari gang tempat dia rugi.
Dan aku berbaring di sana sampai jam dua siang dengan sebuah perasaan yang tidak enak sama sekali.
Bukan curiga.
Lebih buruk dari curiga.
Perasaan bahwa aku sedang berdiri di depan pintu yang terkunci, dan bahwa aku sudah punya kuncinya di tangan sejak lama, dan bahwa aku terus memilih untuk tidak membukanya karena aku takut ruangan di baliknya akan menjelaskan semuanya.
Malam itu aku datang jam empat pagi.
Seperti biasa.
Bimo menaruh mangkuk di depanku tanpa aku memesan apa-apa.
“Mas.”
“Ya.”
“Aku boleh nanya sesuatu?”
Dan Bimo — yang sedang mengiris bawang, yang tangannya tidak pernah salah — mengangkat kepalanya.
Dan menatapku.
Dan sesuatu di wajahnya berubah, sangat halus, seperti orang yang sudah lama menunggu ketukan di pintu dan akhirnya mendengarnya.
“Boleh,” katanya.
Aku membuka mulutku.
Dan yang keluar adalah:
“Kucingnya udah dikasih nama belum?”
Bimo menatapku selama dua detik penuh.
Lalu dia kembali ke bawangnya.
“Belum,” katanya.
“Kasih nama, dong.”
“Nggak.”
“Kenapa nggak?”
“Kalau dikasih nama, nanti nggak bisa pergi.”
Dan pisau itu terus mengiris, dan kipas terus berputar, dan aku duduk di kursiku yang bukan kursiku dengan mangkuk yang tidak kupesan.
Dan aku tidak menanyakan apa-apa lagi malam itu.
AKHIR BAGIAN I
Bersambung ke Bagian II — Bab 16: “Lima Puluh Dua”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi reading
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi