Chapter Twenty Six

Om Hendra

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Om Hendra, Yuni, Bimo Jumlah kata: ±2.450


Om Hendra memesan ruangan besar malam itu, dan dia memesan untuk dirinya sendiri.

Itu hal pertama yang mengganggu.

Ruangan besar di Aurora untuk delapan sampai dua belas orang. Harganya empat kali lipat ruangan kecil. Dan malam itu, di ruangan yang muat dua belas orang, ada satu laki-laki berumur empat puluh lima tahun dan aku.

“Om nggak bawa temen?”

“Nggak.”

“Kok gitu?”

Om Hendra menuang air ke gelasnya sendiri — dia selalu menuang sendiri, tidak pernah menunggu dituangkan, dan itu salah satu dari sekian banyak hal kecil yang membuatnya sulit dibenci.

“Om mau ngomong.”

Dan aku tahu, dari cara dia mengucapkan tiga kata itu, bahwa ini bukan versi biasa.


“Ranti.”

“Iya, Om?”

“Om nggak bakal muter-muter.”

Dia mengeluarkan amplop dari tas kerjanya. Cokelat, tebal, dengan logo bank di sudutnya.

Menaruhnya di meja.

Tidak mendorongnya ke arahku. Cuma menaruhnya di tengah, di antara kami.

“Ini apa, Om?”

“Buka aja.”

“Om—“

“Buka, Ranti. Nggak ada uang di dalamnya.”

Aku membukanya.

Isinya kertas. Beberapa lembar.

Yang pertama: brosur program S1 Ekstensi Akuntansi, kelas karyawan, salah satu kampus swasta yang bagus di kota ini.

Yang kedua: formulir pendaftaran. Sudah diisi sebagian. Namaku. Tanggal lahirku. Riwayat pendidikan — D3, semester lima, tidak selesai.

Yang ketiga: surat keterangan dari kampus lamaku bahwa transkrip nilaiku bisa dikonversi. Lima semester diakui. Aku bisa masuk di semester enam.

Yang keempat: rincian biaya. Tiga tahun. Total angka yang membuatku harus membacanya dua kali.

Dan yang kelima: bukti transfer.

Sudah dibayar. Satu tahun pertama.

Bukan ke rekeningku. Langsung ke kampus.


Aku menaruh kertas-kertas itu di meja dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.

“Om.”

“Iya.”

“Ini apa maksudnya.”

“Ya itu maksudnya.”

“Om.”

Om Hendra meletakkan gelasnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia menatapku dengan cara yang tidak berhati-hati.

“Ranti, Om udah dua tahun ke sini.”

“Iya.”

“Dua tahun Om nanya kamu mau berhenti apa nggak. Kamu selalu ngalihin.”

“Om—“

“Nggak apa-apa. Om ngerti kenapa.” Dia mengangkat tangannya sedikit. “Karena tiap kali orang nawarin sesuatu ke kamu, kamu langsung mikir harganya. Iya, kan?”

Aku diam.

“Om tau. Om udah lama liat orang.”

Dan dia menunjuk amplop itu dengan dagunya.

“Makanya Om bayar duluan.”

“...Apa?”

“Uangnya udah masuk. Ke kampus. Atas nama kamu.” Om Hendra menyandarkan punggungnya. “Kamu nggak bisa balikin. Kalau kamu nggak daftar, uangnya hangus. Bukan balik ke Om — hangus.”

Aku menatapnya.

“Om, itu nggak—“

“Itu artinya kamu nggak punya utang, Ranti.”

Dan ruangan itu — ruangan karaoke dengan lampu ungu dan sofa kulit sintetis dan layar yang masih memutar video pemandangan — tiba-tiba terasa sangat kecil.


Aku perlu menjelaskan kenapa ini jauh lebih berbahaya daripada kalau dia menawarkan uang.

Kalau dia menawarkan uang, aku tinggal menolak. Aku sudah ahli menolak uang. Aku sudah tiga tahun menolak uang dari laki-laki dan aku bisa melakukannya sambil tersenyum, dalam tiga kalimat, tanpa membuat siapa pun tersinggung.

Kalau dia menawarkan apartemen, sama saja.

Kalau dia menawarkan pernikahan, itu bahkan lebih mudah — aku bisa tertawa dan mengubahnya jadi lelucon dan dia akan ikut tertawa.

Tapi dia tidak menawarkan apa pun.

Dia membayar kuliahku dan menutup jalan pulangnya, sehingga aku tidak punya siapa pun untuk berterima kasih dan tidak punya apa pun untuk dikembalikan.

Dia memakai senjataku sendiri.

Persis seperti yang dilakukan Bimo di Bab delapan belas dengan dua kata di secarik kertas.

Jangan bales.


“Om.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Kenapa Om ngelakuin ini.”

Om Hendra memutar gelasnya.

Dan dia diam beberapa detik, dan aku bisa melihat dia memilih dari beberapa jawaban di kepalanya, persis seperti Bimo.

“Om punya anak perempuan,” katanya. “Umurnya dua puluh empat. Kuliah di Melbourne.”

Aku tidak bergerak.

“Sekarang Om mau kamu dengerin baik-baik, karena Om cuma mau ngomong sekali.” Dia menatapku. “Om nggak lagi mikirin kamu kayak anak Om. Itu bohong, dan Om nggak mau bohong ke kamu.”

“...Om.”

“Om suka sama kamu. Dari dua tahun lalu.” Dia mengangkat tangannya lagi. “Dan Om tau kamu nggak. Om nggak bodoh.”

Aku menelan sesuatu.

“Terus kenapa Om—“

“Karena Om udah empat puluh lima tahun, Ranti.” Dia tertawa kecil, dan tawanya lelah. “Dan Om udah cukup lama hidup buat tau bahwa yang bikin Om nggak bisa tidur bukan karena Om nggak dapet kamu.”

“Terus apa?”

Om Hendra menaruh gelasnya.

“Karena tiap Om ke sini, Om liat orang pinter nuangin minum buat orang-orang bodoh.”


Aku menangis di ruangan itu.

Aku ingin sangat jelas bahwa itu memalukan sekali, dan bahwa itu melanggar setiap aturan yang kupunya, dan bahwa dalam tiga tahun aku tidak pernah sekali pun menangis di depan pelanggan.

Om Hendra tidak bergerak dari tempat duduknya.

Dia tidak mendekat. Dia tidak menyentuh. Dia tidak menawarkan tisu.

Dia menunggu sampai aku selesai, sambil memandangi layar yang memutar video pemandangan.

Dan waktu aku selesai, dia berkata:

“Kamu boleh nggak daftar.”

“Om—“

“Om serius. Uangnya hangus, ya udah. Duit segitu Om nggak berasa.” Dia berdiri, merapikan jasnya. “Tapi Om mau kamu tau bahwa dari malam ini, alesan kamu buat tetep di sini bukan lagi uang.”

Dia mengambil tasnya.

“Kalau kamu tetep di sini, itu karena kamu milih.”

Dan dia keluar, dan membayar di depan seperti biasa, dan tidak menoleh sekali pun.


Yuni menemukanku di ruang ganti dua puluh menit kemudian, duduk di lantai dengan amplop cokelat di pangkuan.

“Ran.”

“Hm.”

“Anjir, mata lo.”

“Iya.”

Dia jongkok. Melihat amplop itu. Melihatku.

“Itu apa?”

Aku menyerahkannya.

Yuni membacanya. Lembar pertama. Kedua. Ketiga.

Sampai lembar kelima.

Dan dia mengangkat kepalanya dengan wajah yang belum pernah kulihat.

“Ran.”

“Iya.”

“Ini—“

“Iya.”

“Om Hendra?”

“Iya.”

Yuni memandangi bukti transfer itu selama waktu yang lama.

“Lo mau ambil?”

Dan aku menyandarkan kepalaku ke loker di belakangku dan berkata:

“Aku nggak tau, Yun.”


Aku ke warung malam itu.

Dan aku tidak menceritakannya.

Aku duduk di kursiku. Aku makan apa pun yang ditaruh di depanku. Aku menghitung laci seperti biasa, dengan buku tulis bersampul biru, dengan kalkulator ponsel.

Dan amplop cokelat itu ada di dalam tasku, di lantai, setengah meter dari kakiku.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu percaya nggak, ada orang yang ngasih sesuatu tanpa minta apa-apa?”

Bimo, yang sedang mengiris, tidak berhenti.

“Percaya.”

“Kenapa?”

“Karena saya juga gitu.”

Aku menaruh pulpenku.

“Terus kalau ada orang lain yang gitu ke aku?”

Pisau itu berhenti.

Satu detik.

Lalu melanjutkan.

“Ya bagus,” katanya.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu nggak nanya siapa?”

“Nggak.”

“Kenapa nggak?”

Dan Bimo memindahkan irisannya ke mangkuk kecil, dan mengelap pisaunya, dan berkata:

“Karena kalau kamu mau cerita, kamu cerita.”


Aku hampir bercerita.

Aku ingin itu tercatat. Aku benar-benar hampir bercerita.

Kalimatnya sudah tersusun di kepalaku: Mas, ada orang yang bayarin kuliah aku.

Dan aku tahu persis apa yang akan terjadi kalau aku mengucapkannya.

Bimo akan diam. Lalu dia akan bertanya berapa lama programnya. Lalu dia akan bertanya jadwalnya bagaimana, apakah bentrok dengan pekerjaanku. Lalu dia akan berkata sesuatu seperti “ya udah, ambil.”

Dan dia akan mengucapkannya dengan tulus, karena dia memang begitu, karena laki-laki itu tidak punya satu pun sel di tubuhnya yang bisa merasa terancam oleh sesuatu yang baik untuk orang lain.

Dan itulah kenapa aku tidak bercerita.

Karena aku ingin dia terancam.

Sekali saja. Aku ingin melihat laki-laki itu terganggu oleh sesuatu. Aku ingin tahu bahwa ada batas di suatu tempat, bahwa ada titik di mana kesabarannya berhenti dan sesuatu yang lain muncul.

Aku ingin tahu bahwa aku cukup penting untuk membuatnya takut kehilangan.

Dan aku menyadari, sambil menutup buku tulis bersampul biru itu jam lima pagi, bahwa keinginan itu adalah hal paling egois yang pernah kumiliki.


“Mas.”

“Ya.”

“Aku nanya hipotesis.”

“Hipotesis apa.”

Aku menutup pulpenku.

“Kalau misalnya aku pindah kota.”

Bimo tidak berhenti mengelap.

“Pindah ke mana?”

“Nggak tau. Ke mana aja. Jauh.”

“Kenapa?”

“Ya... hipotesis, Mas.”

Dan dia berhenti mengelap.

Dia berdiri di balik meja panjang dengan serbet di tangan, dan dia tidak menatapku, dan warung itu sunyi selama mungkin lima detik.

“Kapan,” katanya.

Aku mengangkat kepalaku.

“Hah?”

“Kapan kamu pindah.”

“Mas, aku bilang hipotesis—“

“Ran.”

Dan dia menoleh.

Dan menatapku.

Dan wajahnya bukan wajah yang datar.

“Kamu nggak pernah nanya hipotesis,” katanya.

Aku menelan sesuatu.

“Mas, beneran nggak ada apa-apa—“

“Ran.”

“Nggak ada, Mas. Sumpah.”

Bimo memandangiku selama waktu yang lama.

Lalu dia mengangguk sekali. Menaruh serbetnya.

Dan berkata:

“Ya udah.”

Dan berjalan ke dapur.

Dan tidak keluar lagi selama dua puluh menit.


Aku pulang jam setengah enam.

Dan sepanjang lima blok, aku memikirkan satu hal, dan aku merasa sangat buruk tentang hal itu.

Aku mendapatkan yang kuinginkan.

Aku membuatnya takut.

Dan rasanya jauh lebih buruk daripada yang kubayangkan.


Di kontrakan, aku mengeluarkan amplop cokelat itu.

Aku membaca semuanya lagi. Dari lembar pertama sampai kelima.

Dan aku menemukan sesuatu yang tidak kulihat sebelumnya, di lembar terakhir, di bagian bawah bukti transfer, ditulis tangan dengan pulpen:

Pendaftaran ditutup 30 hari lagi. Kalau kamu daftar, jangan kabarin Om. Om cuma mau tau dari kampus. — H.

Aku menaruh kertas itu.

Dan aku duduk di lantai kontrakanku selama entah berapa lama, memikirkan dua laki-laki yang sama-sama tahu cara memberi tanpa menagih.

Satu yang kucintai.

Satu yang membeli masa depanku.

Dan tidak satu pun dari mereka meminta apa pun.


Bersambung ke Bab 27 — “Pertengkaran”