Chapter Thirty

Yang Tidak Dikatakan

POV: Bimo Tokoh: Bimo, Ranti, Kirana, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.500


Dia mendengar.

Aku tahu itu sekitar dua menit setelah Kirana pergi.

Bukan karena aku melihatnya bergerak. Dia tidak bergerak sama sekali — dia berbaring miring di kursi panjang itu dengan selimut sampai bahu, persis seperti waktu aku masuk.

Yang berubah adalah napasnya.

Aku sudah tiga bulan mendengar perempuan itu tidur di kursi panjang di pojok warungku. Lima kali. Dan setiap kali, napasnya punya ritme yang sama — lambat, dalam, dengan jeda kecil sebelum tarikan berikutnya.

Pagi itu ritmenya salah.

Terlalu teratur. Terlalu dijaga.

Orang yang tidur tidak menjaga napasnya.


Aku berdiri di balik meja panjang dengan gelas di tangan dan aku menghitung pilihanku.

Satu: membangunkannya dan menjelaskan.

Dua: membangunkannya dan tidak menjelaskan.

Tiga: diam.

Aku memilih yang ketiga, dan aku tahu bahkan saat memilihnya bahwa itu pilihan pengecut.

Tapi begini: kalau aku membangunkannya, dia harus memutuskan apakah akan mengaku mendengar atau tidak. Dan apa pun yang dia pilih, dia akan menghabiskan sisa hari itu memikirkan pilihannya.

Aku sudah tiga bulan melihat perempuan itu memikirkan hal-hal sampai dia tidak bisa tidur.

Jadi aku menaruh gelasku dan menyalakan kompor dan membiarkannya berpura-pura tidur selama empat puluh menit.

Dan pada satu titik aku berjalan ke sana dan menarik selimutnya naik dua senti karena selimut itu selalu melorot di bahunya.

Dan tanganku berhenti di udara selama satu detik lebih lama dari yang seharusnya.


Aku perlu menuliskan sesuatu tentang Kirana, karena kalau tidak, aku akan terlihat lebih baik dari yang sebenarnya.

Aku tahu sejak delapan bulan lalu.

Bukan karena dia mengatakannya. Karena dia datang setiap pagi jam tujuh selama setahun lebih, dan karena ruko bahan bangunan buka jam delapan, dan karena warung nasi Bu Yatmi lebih dekat ke rukonya daripada warungku.

Aku tahu, dan aku tidak melakukan apa-apa.

Aku terus melayaninya. Aku terus menyiapkan sarapan tanpa garam untuk bapaknya. Aku terus menjawab pertanyaannya dengan kalimat pendek yang sama seperti yang kuberikan kepada semua orang.

Dan aku terus tidak bertanya apa pun tentang dirinya, karena aku tahu bahwa bertanya adalah pintu, dan aku tidak berniat membuka pintu itu.

Itu bukan kebaikan.

Itu cara paling malas untuk menolak seseorang: tidak melakukan apa-apa dan berharap mereka mengerti sendiri.

Delapan bulan.

Dan yang akhirnya membuatnya bicara pagi itu bukan keberanian.

Yang membuatnya bicara adalah karena dia melihat aku bertanya kepada Ranti.


“Kamu pantes dapet yang lebih bagus dari saya, Kirana.”

Aku mengucapkan itu dan langsung tahu itu kalimat yang buruk.

Bukan karena tidak jujur. Karena terlalu jujur, dengan cara yang salah.

Dan Kirana — yang selama setahun lebih aku perlakukan seperti orang yang tidak perlu ditanya apa pun — memotongku dengan kalimat yang membuatku ingin berdiri lebih tegak.

“Jangan pakai alesan yang bikin saya keliatan bodoh. Saya dua puluh enam tahun, Mas. Saya bisa mikir sendiri siapa yang pantes buat saya.”

Dia benar.

Dan aku minta maaf, dan aku sungguh-sungguh, dan itu tidak memperbaiki apa pun.

Lalu dia bertanya apakah ada orang lain.

Dan aku menjawab tanpa berpikir, yang tidak pernah kulakukan tentang apa pun sejak empat tahun lalu.

“Iya.”

Satu kata.

Dan begitu kata itu keluar, aku tahu bahwa aku baru saja mengucapkannya keras-keras untuk pertama kalinya, dan bahwa aku mengucapkannya kepada orang yang salah, di tempat yang salah, dengan perempuan yang benar berbaring empat meter di belakangku pura-pura tidur.


Tiga hari berikutnya, dia tidak bicara banyak.

Itu tidak biasa.

Ranti berisik. Bukan berisik yang mengganggu — berisik yang mengisi. Dia mengomentari semuanya. Harga cabai, bunyi kulkas, cara Mamad menyapu, kucing yang belum punya nama.

Tiga hari itu dia duduk di kursinya, membuka buku tulis bersampul biru, menghitung laci, dan pulang.

Dan setiap malam, sebelum pulang, dia berhenti di ambang pintu.

Berbalik.

Membuka mulut.

Dan menutupnya lagi.

Dan berkata, “Sampai besok, Mas.”

Tiga malam berturut-turut.


Malam ketiga, setelah dia pulang, aku duduk di kursi belakang seperti biasa.

Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku tidak menghitung.

Biasanya aku menghitung. Berapa orang makan. Berapa yang belum bayar. Berapa yang selamat dari sesuatu karena aku ada di sini.

Malam itu aku duduk di kursi belakang jam enam pagi dan yang kupikirkan adalah bahwa dia berhenti di ambang pintu tiga malam berturut-turut.

Dan bahwa aku tahu apa yang mau dia tanyakan.

Dan bahwa aku tahu jawabannya.

Dan bahwa jawabannya akan menghancurkan sesuatu.


Aku perlu menjelaskan ini dengan benar, karena ini adalah satu-satunya bagian dari diriku yang belum kuceritakan kepada siapa pun.

Aku tidak takut Ranti tahu bahwa aku menyukainya.

Aku takut apa yang terjadi setelahnya.

Karena begini urutannya, dan aku sudah memutar urutan ini di kepalaku setiap malam selama tiga bulan:

Kalau aku mengatakannya, dia akan bertanya kenapa. Kalau dia bertanya kenapa, aku harus menjawab. Kalau aku menjawab dengan benar, aku harus menjelaskan siapa aku. Kalau aku menjelaskan siapa aku, dia akan mengerti kenapa aku di gang ini.

Dan pada hari itu — pada detik itu — dia akan menghitung.

Dia selalu menghitung. Itu hal pertama yang kupelajari tentangnya, di malam kedua, waktu dia bertanya berapa harga makanannya dengan nada yang membuatku sadar bahwa perempuan ini tidak bisa menerima apa pun tanpa mencari tagihannya.

Dan kalau dia menghitung siapa aku dengan benar — kalau dia tahu apa yang kubangun dan apa yang terjadi karena aku membangunnya —

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.

Aku cuma tahu bahwa dia tidak akan lagi duduk di kursi kayu itu jam empat pagi tanpa sepatu.


Malam keempat, dia datang jam dua.

Lebih awal dari biasanya. Jauh lebih awal.

Dan dia tidak membuka buku tulisnya.

“Mas.”

“Ya.”

“Aku mau ngomong.”

Aku menaruh pisauku.

Dan aku ingat berpikir, dengan sangat jelas: ini dia.

“Ngomong.”

Ranti berdiri di seberang meja panjang. Dia tidak duduk. Tangannya di sisi tubuhnya, dan aku bisa melihat dia mengepalkannya lalu membukanya lagi, dua kali.

“Aku denger.”

Warung itu sunyi.

“Pagi itu,” lanjutnya. “Waktu Kirana ke sini.”

“Iya.”

“Aku nggak sengaja.”

“Iya.”

Dan dia mengangkat kepalanya.

“Kok ‘iya’?”

“Saya tau kamu denger.”

“...Dari kapan?”

“Dari waktu itu juga.”

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya runtuh dan tersusun ulang dalam waktu kurang dari satu detik.

“Kamu tau aku denger.”

“Iya.”

“Terus kamu diem aja tiga hari?”

“Iya.”

“KENAPA?”

Dan aku berkata yang sebenarnya, karena aku sudah kehabisan tempat untuk menyimpan hal-hal yang bukan sebenarnya.

“Karena kalau saya yang mulai, kamu bakal lari.”


Dia berdiri di sana selama waktu yang lama.

Dan aku menunggu.

Aku sudah menyiapkan diri untuk marah. Aku sudah menyiapkan diri untuk dia berteriak, seperti di Bab dua puluh tujuh, dan aku sudah memutuskan bahwa aku akan menerimanya tanpa membalas.

Yang tidak kusiapkan adalah ini:

“Mas.”

“Ya.”

“Aku emang bakal lari.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Aku udah nyoba tiga kali.” Suaranya sangat tenang, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia berteriak. “Bulan pertama aku nggak dateng tiga hari. Bulan kedua empat hari. Dan minggu lalu aku hampir daftar sesuatu yang bikin aku pergi dari kota ini.”

Sesuatu di dadaku turun.

“Apa?”

“Nggak penting.”

“Ran—“

“Nggak penting, Mas.” Dia mengangkat tangannya. “Yang penting adalah kamu bener. Aku emang bakal lari.”

Aku memegang tepi meja panjang.

“Terus?”

Dan Ranti menarik napas.

“Terus aku mau kamu tau kenapa,” katanya.


“Aku bukan takut kamu nyakitin aku.”

Dia bicara dengan cara yang aneh — cepat, tanpa jeda, seperti orang yang sudah menghafal ini dan takut lupa kalau berhenti di tengah.

“Aku udah disakitin. Berkali-kali. Itu gampang, Mas. Sakit itu gampang. Aku ahli banget sama sakit.”

“Ran—“

“Yang aku nggak bisa,” katanya, “adalah dapet sesuatu terus kehilangan.”

Warung itu sunyi.

“Aku nggak pernah punya apa-apa yang bagus, Mas. Nggak pernah.” Dia menatap meja panjang, bukan aku. “Bapakku punya toko. Hilang. Aku punya kuliah. Hilang. Ibuku punya nama baik di kampung. Hilang.”

Aku tidak bergerak.

“Jadi aku belajar satu hal, dan aku belajarnya bener-bener.” Dia mengangkat kepalanya. “Jangan punya apa-apa yang kalau hilang bikin kamu nggak bisa berdiri.”

Dan kemudian dia berkata:

“Dan sekarang aku punya kursi di warung kamu.”


Aku ingin sangat jelas tentang apa yang kurasakan pada saat itu, karena aku tidak akan pernah mengatakannya keras-keras.

Aku ingin mengelilingi meja panjang itu.

Aku ingin berdiri di depannya dan mengatakan bahwa dia tidak akan kehilangan apa pun, bahwa warung ini akan ada di sini, bahwa aku akan ada di sini, bahwa jam empat pagi akan selalu ada makanan di kursi itu.

Dan aku tidak bisa mengatakan satu pun dari itu.

Karena aku tidak tahu apakah itu benar.

Karena ada tas ransel hitam di rak paling atas gudang, dan ada mobil hitam yang berhenti di depan gang dua minggu lalu selama dua menit, dan ada sesuatu yang sudah empat tahun kutunggu dan mulai terasa semakin dekat.

Dan seorang laki-laki yang tidak bisa menjanjikan besok tidak berhak meminta hari ini.

Jadi aku berkata:

“Ran.”

“Iya.”

“Kursinya nggak bakal ke mana-mana.”

Dan itu bohong yang paling dekat dengan kebenaran yang bisa kuucapkan.


Dia pulang jam lima pagi.

Dan di ambang pintu, dia berbalik, seperti tiga malam sebelumnya.

Tapi kali ini dia tidak menutup mulutnya lagi.

“Mas.”

“Ya.”

“Aku mau nanya sesuatu.”

Dan aku berdiri di balik meja panjang dengan serbet di tangan, dan aku tahu — dengan kepastian yang tidak menyenangkan sama sekali — persis apa yang akan dia tanyakan.

Aku sudah menjanjikannya di Bab sebelas, di ambang pintu yang sama, jam yang sama.

Kalau kamu nanya lagi. Nanya yang serius. Saya bakal jawab.

Empat bulan.

“Boleh,” kataku.

Ranti berdiri di sana, dengan tangan di gagang pintu, dan langit di belakangnya sudah biru-tapi-bukan-biru.

Dan dia membuka mulutnya.

“Besok,” katanya.

Aku berkedip.

“Apa?”

“Besok aku tanya.” Dia tersenyum, dan senyumnya yang jelek dan yang benar. “Malam ini aku capek banget, Mas. Nggak kuat.”

Dan dia keluar.

Dan aku berdiri di warung yang kosong dengan serbet di tangan, jam lima pagi, dan aku tertawa.

Keras.

Sendirian.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun.


Bu Yatmi menoleh dari warungnya waktu aku keluar mengambil air.

“Bim.”

“Iya, Bu.”

Dan perempuan itu memandangiku selama beberapa detik dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Kamu barusan ketawa?”

Aku memegang ember.

“Nggak, Bu.”

“Saya denger.”

“Nggak, Bu.”

Dan Bu Yatmi kembali menyusun bungkusan nasinya, dan berkata, pelan sekali, seperti orang yang tidak sedang bicara kepada siapa-siapa:

“Alhamdulillah.”


Bersambung ke Bab 31 — “Nanti Kamu Nyesel”