Chapter Eleven

Tali Sandal

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.300


Sandalku putus di depan warung, jam empat lewat sepuluh, di hari Selasa yang tidak istimewa sama sekali.

Sandal jepit biru. Sudah setahun. Talinya lepas dari lubang depan dengan bunyi plok yang sangat kecil dan sangat tidak dramatis, dan aku berdiri di tengah gang dengan satu kaki telanjang menyentuh aspal yang masih basah dari hujan sore.

“Ya ampun.”

Aku memungutnya. Mencoba memasukkan talinya kembali. Gagal. Mencoba lagi dengan cara yang berbeda. Gagal lagi.

Dan begitulah aku masuk ke Warung Sembilan: pincang, memegang sandal di tangan kanan, dengan wajah orang yang sedang bertengkar dengan alam semesta.

Bimo mengangkat kepalanya.

Melihat sandal di tanganku.

Melihat kakiku.

“Duduk,” katanya.

“Mas, aku—“

“Duduk, Ran.”

Aku duduk.


Yang terjadi berikutnya berlangsung kira-kira empat menit, dan aku sudah memutar ulang empat menit itu di kepalaku lebih sering daripada yang mau kuakui kepada siapa pun.

Bimo keluar dari balik meja panjang.

Dia membawa sesuatu di tangannya — aku tidak melihat apa, karena aku sedang sibuk merasa malu karena kakiku kotor.

Dan kemudian dia jongkok.

Di depan kursiku.

Di lantai warungnya sendiri, jam empat pagi, di depan seorang perempuan yang baru dia kenal tiga minggu.

“Mas—“

“Sandalnya.”

“Aku bisa sendiri.”

“Sandalnya, Ran.”

Aku menyerahkannya.

Dan aku duduk di kursi itu, di atas laki-laki yang jongkok, dan aku tidak tahu harus meletakkan tanganku di mana, dan aku tidak tahu harus melihat ke mana, jadi aku melihat ke bawah, yang ternyata adalah keputusan paling buruk yang bisa kuambil.


Karena dari atas, kau bisa melihat semuanya.

Kau bisa melihat bahwa rambutnya perlu dipotong. Ada beberapa helai putih di dekat pelipis, yang tidak pernah kusadari sebelumnya karena aku belum pernah melihatnya dari sudut ini.

Kau bisa melihat bahwa lehernya terbakar matahari, batas antara kulit yang tertutup kaus dan yang tidak.

Kau bisa melihat tangannya bekerja.

Dia tidak memaksa tali itu masuk. Dia tidak menariknya. Dia mengambil sesuatu dari sakunya — obeng kecil, yang entah kenapa ada di saku seorang penjual kopi jam empat pagi — dan menggunakannya untuk melebarkan lubang di sandal itu sedikit saja, cukup untuk tali masuk, tidak lebih.

Lalu dia mendorong talinya. Memutarnya seperempat putaran. Menariknya dari bawah.

Lalu — dan ini bagian yang membuatku menahan napas tanpa sadar — dia menekan simpulnya dengan ibu jari, mengetesnya dengan tarikan pelan, tidak puas, membukanya lagi, dan mengulangnya dari awal.

“Mas, itu udah cukup.”

“Belum.”

“Udah cukup, kok. Nanti juga—“

“Nanti lepas lagi di jalan.”

Dia mengulangnya. Kali ini dengan simpul yang berbeda.

Aku menonton tangan itu bekerja dari jarak setengah meter dan aku benar-benar lupa untuk berkedip.


Ada satu hal yang perlu kau mengerti tentang aku, dan tentang tiga tahun terakhir hidupku.

Aku sudah disentuh.

Banyak. Lebih banyak dari yang ingin kuhitung. Tangan di pinggang, tangan di bahu, tangan di lutut, tangan yang dibayar untuk boleh ada di sana dan tangan yang tidak dibayar tapi tetap ada di sana karena laki-laki tertentu percaya bahwa perempuan tertentu adalah properti publik.

Aku punya seluruh sistem untuk itu. Aku tahu cara memindahkan tangan tanpa membuat orang tersinggung. Aku tahu cara tertawa sambil mundur. Aku tahu berapa detik yang wajar dan kapan harus berdiri.

Sistem itu bekerja karena satu asumsi: bahwa setiap sentuhan adalah permintaan.

Dan malam itu, di kursi kayu warung kopi jam empat pagi, seorang laki-laki memegang kakiku — memegang, bukan menyentuh, dengan satu tangan menahan tumitku supaya sandalnya bisa dipasang dengan benar — dan tidak meminta apa pun.

Sama sekali.

Tangannya hangat.

Dan aku, yang selama tiga tahun bisa menghitung nilai setiap sentuhan dalam hitungan detik, duduk di sana dengan seluruh sistemku mati total, dan yang tersisa cuma perempuan berumur dua puluh tujuh tahun dengan jantung yang berdebar karena tumitnya dipegang.


“Coba.”

“Hah?”

“Dipakai. Coba jalan.”

Aku memakainya. Berdiri. Berjalan tiga langkah ke pintu dan tiga langkah kembali.

Kencang. Nyaman. Lebih baik dari waktu masih baru.

“Gimana?”

“...Enak.”

“Ya udah.”

Dan dia berdiri, memasukkan obengnya kembali ke saku, dan berjalan ke balik meja panjang seolah dia baru saja memindahkan kursi.

Aku berdiri di tengah warung.

“Mas.”

“Ya.”

“Kenapa kamu jongkok?”

Bimo berhenti.

“Maksudnya?”

“Kamu bisa suruh aku lepas sandalnya. Kasih ke kamu. Kamu benerin di meja.” Suaraku keluar aneh. Terlalu tinggi. “Kamu nggak perlu jongkok.”

Bimo memandangi meja panjang di depannya.

“Nggak kepikiran,” katanya.

“Bohong.”

“Nggak bohong.”

“Mas.”

“Ran.”

“Kenapa kamu jongkok?”

Dan Bimo, yang selama tiga minggu selalu punya bantal atau makanan atau kucing untuk dilempar sebagai perisai, berdiri di sana dengan serbet di tangan dan tidak melempar apa pun.

“Karena kaki kamu kotor,” katanya akhirnya. “Kalau kamu lepas sandalnya di kursi, kamu bakal malu.”

Aku membuka mulut.

Tidak ada yang keluar.

“Duduk,” kata Bimo, dan suaranya kembali normal. “Kamu belum makan.”


Aku makan malam itu dalam keadaan yang bisa kudeskripsikan sebagai tidak berfungsi dengan baik.

Aku menjatuhkan sendok dua kali.

Aku menjawab “iya” ketika Mamad bertanya apakah aku mau tambah nasi, padahal aku tidak mendengar pertanyaannya sama sekali, dan aku baru sadar sepuluh menit kemudian ketika ada gunung nasi di piringku.

Aku tertawa terlalu keras ketika Bimo bilang kucing itu tidak datang hari ini.

Dan sekitar jam lima, ketika langit sudah mulai berubah warna, aku melakukan hal yang paling bodoh yang bisa dilakukan oleh perempuan yang seluruh sistem pertahanannya baru saja mati.

Aku bertanya.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu suka aku, nggak?”

Warung itu sunyi.

Kipas berputar. Kulkas berdengung. Di luar, ada motor lewat.

Bimo, yang sedang mencuci gelas, berhenti.

Dan tidak berbalik.

Punggungnya di sana, di balik meja panjang, dengan air yang masih mengalir dari keran, dan aku duduk di kursiku dengan jantung yang berdetak di tenggorokan dan penyesalan yang datang kira-kira setengah detik setelah kalimat itu keluar dari mulutku.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

“Ran.”

“Iya.”

“Kamu nanya serius?”

Dan aku — Tuhan, ampuni aku — aku kehilangan nyali.

“Enggak,” kataku cepat-cepat. Terlalu cepat. “Bercanda. Iseng. Kayak biasa.”

Bahuku naik. Aku merasakannya naik. Aku tidak bisa menghentikannya.

Bimo mematikan keran.

“Oh,” katanya.

“Iya.”

“Ya udah.”

“Iya. Ya udah.”

Dia menyusun gelas ke rak. Satu per satu. Sangat rapi.

Dan aku duduk di sana dan merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada ditolak, yaitu perasaan bahwa aku baru saja menutup pintu yang untuk sepersekian detik sempat terbuka, dan bahwa aku sendiri yang menutupnya, dan bahwa aku melakukannya karena takut.


Aku pamit jam setengah enam.

Bimo mengantarku sampai pintu, seperti biasa, seperti yang ternyata cuma dia lakukan untukku.

“Mas.”

“Ya.”

“Makasih sandalnya.”

“Iya.”

“Berapa?”

“Nggak usah.”

“Mas—“

“Ran.”

Aku berhenti.

Bimo berdiri di ambang pintu, satu tangan di gagang, dan langit di belakangnya sudah biru-tapi-bukan-biru.

“Tadi,” katanya.

Jantungku berhenti.

“...Iya?”

“Kalau kamu nanya lagi.” Dia menatap gang, bukan aku. “Nanya yang serius.”

Aku menunggu.

Aku menunggu dengan seluruh tubuhku.

“Saya bakal jawab,” katanya.

Dan dia menutup pintu.


Aku berjalan pulang lima blok dengan sandal jepit biru yang talinya terpasang lebih kencang daripada waktu masih baru, dan aku tidak ingat satu pun dari lima blok itu.

Yang kuingat cuma ini: bahwa jam setengah enam pagi, di gang yang basah, aku berhenti di bawah tiang listrik dan menutup wajahku dengan kedua tangan dan mengeluarkan bunyi yang sangat, sangat memalukan.

Bunyi yang tidak pernah kukeluarkan sejak umur tujuh belas tahun.

Dan ketika aku sampai di kontrakan, aku duduk di lantai, melepas sandal itu, dan memandanginya selama kira-kira sepuluh menit seperti orang gila.

Lalu aku menaruhnya di rak.

Bukan di lantai depan pintu, bersama sandal-sandal lain.

Di rak.


Bersambung ke Bab 12 — “Menu yang Tidak Ada”