Chapter Thirty Five

Dimas

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Dimas, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.550


Dimas datang hari Sabtu, dan itu bukan rencanaku.

Dia menelepon hari Rabu dan berkata: “Mbak, aku ke sana Sabtu.”

“Ke mana?”

“Ke kota.”

“Ngapain?”

“Ada olimpiade fisika tingkat provinsi.” Jeda. “Aku lolos.”

Dan aku berteriak di telepon sampai tetanggaku menggedok tembok.


Yang tidak kupikirkan sampai hari Kamis adalah bahwa adikku akan berada di kota yang sama denganku selama dua hari, dan bahwa dia harus menginap di suatu tempat, dan bahwa tempat itu akan menjadi kontrakanku.

Dan bahwa kontrakanku adalah kamar sempit di gang lima blok dari distrik hiburan.

Aku duduk di lantai kamarku hari Kamis malam dan aku menghitung skenarionya.

Dimas datang Sabtu pagi. Olimpiadenya Sabtu siang sampai sore. Dia menginap Sabtu malam. Pulang Minggu siang.

Berarti Sabtu malam dan Minggu pagi.

Dan aku tidak punya rencana untuk keduanya.


“Bawa aja ke sini.”

Aku menoleh.

“...Apa?”

Bimo sedang mengiris bawang, jam empat pagi hari Jumat, seperti selalu.

“Adik kamu. Bawa aja ke sini.”

“Mas, kamu nggak—“

“Warung buka. Ada makanan. Ada tempat duduk.” Dia mengangkat bahu. “Daripada kamu bingung mau ngasih makan apa di kontrakan.”

Aku berdiri di sana dengan buku tulis bersampul biru di tangan.

“Mas.”

“Ya.”

“Kalau dia nanya kamu siapa?”

Pisau itu tidak berhenti.

“Ya jawab.”

“Jawab apa?”

Dan Bimo mengangkat kepalanya.

“Ran, itu terserah kamu.”


Aku tidak tidur hari Jumat.

Aku berbaring di kasur dan aku menyusun skenario percakapan seperti orang gila.

Skenario satu. Aku bilang Bimo temanku. Aman. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Dimas makan, kami pulang, selesai.

Masalahnya: aku sudah tiga tahun berbohong kepada adikku, dan aku baru saja berhenti dari pekerjaan yang menjadi alasan aku berbohong, dan kalau aku memulai kebohongan baru di hari pertama kehidupan baruku, aku tidak akan pernah berhenti.

Skenario dua. Aku bilang yang sebenarnya.

Dan begitu aku sampai di skenario dua, aku sadar bahwa “yang sebenarnya” punya dua lapisan, dan lapisan pertama tidak bisa berdiri tanpa lapisan kedua.

Karena kalau Dimas bertanya bagaimana aku bertemu Bimo, jawabannya adalah: aku mampir ke warungnya jam empat pagi setelah pulang kerja.

Dan pertanyaan berikutnya menulis dirinya sendiri.

Aku berbaring di kasur sampai jam sembilan pagi.

Dan aku memutuskan.


Dimas sampai hari Sabtu jam sembilan pagi, dengan tas ransel dan kaus polo dan rambut yang jelas disisir dengan sangat serius.

Dia lebih tinggi dari terakhir kali aku melihatnya. Enam bulan lalu.

“Mbak!”

Dan dia memelukku di depan terminal, di depan orang banyak, seperti anak kecil, dan aku hampir menangis di sana.

“Kamu tinggi banget.”

“Iya.”

“Kamu makan apa?”

“Ya makan aja.”

Dan aku menggenggam tangannya sepanjang jalan ke angkot seperti dia masih berumur enam tahun, dan dia membiarkannya, dan itu memberitahuku sesuatu tentang adikku yang tidak dia katakan.


Olimpiadenya selesai jam empat sore.

Dia keluar dari gedung itu dengan wajah yang tidak bisa kubaca, dan aku sudah menyiapkan seluruh pidato tentang bagaimana hasilnya tidak penting.

“Gimana?”

“Nggak tau, Mbak.”

“Susah?”

“Nomor lima susah banget.”

“Ya udah, nggak apa-apa—“

“Tapi aku bisa.”

Dan dia tersenyum, dan aku memukul bahunya, dan kami tertawa di trotoar depan gedung sekolah sampai orang-orang menoleh.


Aku membawanya ke Warung Sembilan jam tujuh malam.

Dan aku berhenti di ujung gang selama sekitar sepuluh detik.

“Mbak?”

“Bentar.”

“Kenapa?”

Aku memandangi angka sembilan yang miring ke kanan di atas pintu.

“Dim.”

“Iya?”

“Mbak mau ngomong sesuatu.”

Dan adikku menatapku, di gang yang bau got dan hujan, dengan tas ranselnya di satu bahu.

“Mbak punya pacar,” kataku.

Dimas berkedip.

“...Oh.”

“Iya.”

“Ya terus?”

“Ya itu.”

“Mbak, aku pikir Mbak mau ngomong apa.” Dia menghela napas dengan cara yang sangat khas anak tujuh belas tahun. “Aku kira ada yang sakit.”

“DIM.”

“Ya kan Mbak mukanya kayak mau ngasih kabar duka.”

Dan aku memukul lengannya, dan dia tertawa, dan kami masuk ke warung.


Yang terjadi berikutnya adalah salah satu hal paling menghibur yang pernah kusaksikan seumur hidupku.

Bimo gugup.

Aku ingin sangat jelas tentang ini karena aku telah menunggu empat bulan untuk melihatnya.

Kami masuk. Bimo sedang di balik meja panjang, dan dia mengangkat kepalanya, dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya yang belum pernah kulihat dalam empat bulan.

Dia berdiri lebih tegak.

Dan dia mengelap tangannya di serbet.

Dua kali.

“Mas, ini Dimas.”

“Oh.” Dia berjalan keluar dari balik meja. “Halo.”

“Halo, Mas.”

Dan mereka bersalaman.

Dan Bimo — laki-laki yang menghitung bunga majemuk di kepalanya, yang memerintah empat puluh orang saat kebakaran tanpa mengangkat suara — berkata:

“Duduk. Yang deket kipas jangan.”

“Kenapa, Mas?”

“...Anginnya.”

“Oh.”

Dan Bimo berbalik ke dapur dengan kecepatan yang tidak wajar, dan aku harus menutup mulutku dengan tangan.


“Mbak.”

“Hm.”

“Mas Bimo kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Dia kayak takut.”

“Iya.”

“Takut sama aku?”

Dan aku mengangguk sambil menahan tawa.

“Kok bisa?”

“Karena kamu adiknya, Dim.”

Dimas memandangi punggung Bimo di balik meja panjang.

Lalu dia menegakkan badannya, dan aku bersumpah demi apa pun bahwa anak itu tersenyum.

“Oh,” katanya. “Oke.”


Yang terjadi selama tiga jam berikutnya adalah adikku yang berumur tujuh belas tahun menikmati kekuasaan untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

“Mas Bimo.”

“Ya.”

“Mas kerja apa?”

“Ini.” Bimo menunjuk warung dengan dagunya. “Warung.”

“Punya sendiri?”

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Empat tahun.”

“Untungnya berapa?”

“DIM.”

“Aku nanya doang, Mbak.”

Dan Bimo — yang tidak pernah menjawab pertanyaan siapa pun tentang uang — berkata:

“Nggak untung.”

Dimas berhenti mengunyah.

“Nggak untung?”

“Nggak.”

“Terus kenapa dilanjutin?”

Dan aku melihat sesuatu bergerak di rahang Bimo.

“Ada alesannya,” katanya.

“Alesan apa?”

“Dimas.”

“Iya, Mbak.”

“Makan.”


Anak itu bertanya selama tiga jam.

Tentang bahan baku. Tentang supplier. Tentang berapa gelas kopi yang terjual sehari. Tentang kenapa buka dua puluh empat jam. Tentang bagaimana cara mengatur stok supaya tidak busuk.

Dan aku menyadari, sekitar jam sembilan, bahwa adikku tidak sedang menginterogasi.

Dia sedang tertarik.

Sungguhan tertarik.

“Mas.”

“Ya.”

“Kalau bahan bakunya dua ribu delapan ratus terus dijual tiga ribu, itu marginnya berapa persen?”

“Enam koma tujuh.”

“Itu kecil banget, Mas.”

“Iya.”

“Berarti Mas harus jual banyak banget.”

“Iya.”

“Berapa gelas sehari?”

“Sekitar seratus lima puluh.”

Dimas mengambil ponselnya, menghitung, dan mengangkat kepalanya.

“Mas, itu sepuluh ribu sehari.”

“Iya.”

“Sepuluh ribu, Mas. Sehari.”

“Iya.”

Dan adikku menaruh ponselnya dan menatap laki-laki itu dengan wajah yang benar-benar bingung.

“Kenapa Mas ngelakuin itu?”

Dan Bimo, yang berdiri di balik meja panjang dengan serbet di bahunya, berkata:

“Karena kopi tiga ribu artinya semua orang di gang ini bisa beli.”

Dimas diam.

“Kalau saya jual lima ribu, untungnya naik dua ratus persen,” lanjut Bimo. “Dan ada dua belas orang yang nggak beli lagi.”

“Mas kenal semuanya?”

“Iya.”

“Semuanya?”

“Iya.”

Dan adikku menoleh ke arahku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, lalu kembali ke Bimo, dan berkata:

“Mas ini kayak orang di buku.”


Jam sepuluh, warung mulai ramai.

Dan aku, yang seharusnya sudah tahu bahwa aku tidak bisa mengontrol semuanya, terlambat menyadari bahwa jam sepuluh malam adalah jam ketika tukang parkir Aurora datang makan.

Pak Har masuk.

“Ranti!”

“Eh, Pak Har.”

“Kok udah nggak keliatan di sana?” Dia menarik kursi. “Semalem Mami Lin nanyain—“

Dan berhenti.

Karena dia melihat Dimas.

Dan karena Pak Har, meskipun sudah enam puluh dua tahun dan meskipun kadang lambat, bukan orang bodoh.

Ruangan itu jadi sunyi selama sekitar dua detik.

Dan dua detik itu cukup.


Dimas menoleh ke arahku.

“Mbak.”

“Iya?”

“Bapak itu manggil Mbak.”

“Iya.”

“Dari mana?”

Dan aku duduk di kursi kayu Warung Sembilan, di sebelah adikku yang berumur tujuh belas tahun, jam sepuluh malam.

Dan aku melihat Bimo di balik meja panjang.

Dia tidak memberi isyarat apa pun. Tidak mengangguk, tidak menggeleng, tidak menatapku.

Dia mengambil gelas dan mulai mengelapnya, dan itu adalah caranya berkata ini bukan keputusan saya.

Aku menarik napas.

“Dim.”

“Iya?”

“Mbak mau ngomong sesuatu.”


Aku menceritakannya di luar.

Di gang, di kursi plastik depan warung Bu Yatmi yang sudah tutup, jam setengah sebelas malam, dengan adikku duduk di sebelahku.

Aku menceritakan semuanya.

Aurora. Tiga tahun sepuluh bulan. Pemandu karaoke. Apa artinya. Apa yang kulakukan dan apa yang tidak kulakukan.

Utang bapak. Bunganya. Penagihnya. Foto KTP yang disebar.

Kuliahku yang berhenti di semester lima.

Kenapa aku memilih Aurora dan bukan yang lain.

Dan bahwa aku sudah berhenti tiga minggu lalu, dan bahwa aku sudah mendaftar kuliah lagi, dan bahwa uangnya dari seseorang yang tidak akan pernah kuceritakan siapa.

Aku bicara selama dua puluh menit.

Dan Dimas tidak memotong sekali pun.


Waktu aku selesai, dia diam.

Lama.

Cukup lama sampai aku mulai merasakan sesuatu yang dingin di perutku.

“Dim.”

Tidak menjawab.

“Dim, Mbak—“

“Mbak.”

“Iya?”

Dan adikku menoleh, dan wajahnya basah, dan aku menyadari bahwa dia sudah menangis entah sejak kapan tanpa mengeluarkan satu bunyi pun.

“Aku udah tau,” katanya.

Dunia berhenti.

“...Apa?”

“Dari dua tahun lalu.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Dim.”

“Aku nggak sengaja, Mbak.” Dia menghapus wajahnya dengan lengan. “Aku buka laptop Bapak buat ngerjain tugas. Ada foto-foto lama. Terus ada folder yang isinya—“

Dia berhenti.

“Isinya screenshot penagih itu,” katanya. “Yang disebar ke semua kontak.”

Aku menutup mulutku.

“Dan di situ ada nomor kontak Bapak semua, Mbak. Termasuk nomor Mbak.” Suaranya pecah. “Terus aku cari nomor Mbak di internet. Terus ketemu nomor yang sama di iklan.”

“Dim—“

“Aku nggak buka iklannya.” Dia menoleh cepat. “Sumpah, Mbak. Aku nggak buka. Aku cuma liat namanya.”

Dan aku menarik adikku ke dadaku dan aku menangis dengan cara yang paling jelek yang pernah kulakukan seumur hidupku, di kursi plastik depan warung nasi bungkus yang tutup, jam sebelas malam.


“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Karena Mbak pasti berhenti.”

“Ya emang harusnya—“

“Terus aku nggak sekolah.”

Dan adikku menjauh, dan menatapku, dan wajahnya adalah wajah anak tujuh belas tahun yang sudah dua tahun menyimpan sesuatu yang terlalu berat untuk umurnya.

“Mbak, aku ngitung juga,” katanya.

“...Apa?”

“Aku ngitung. Berapa biaya sekolah aku setahun. Berapa obat Bapak sebulan.” Dia menghapus matanya. “Terus aku ngitung kalau Mbak berhenti, kita bisa bertahan berapa lama.”

“Dim.”

“Empat bulan, Mbak.”

Aku menutup mataku.

“Jadi aku diem.” Suaranya bergetar. “Dua tahun aku diem. Dan tiap Mbak telepon aku pura-pura nggak tau, dan tiap kali aku pura-pura, aku ngerasa jadi orang paling brengsek di dunia.”

“Dimas—“

“Aku bukan ngerasa malu sama Mbak.”

Dan dia menatapku.

“Aku malu sama aku sendiri.”


Kami masuk ke warung jam dua belas malam.

Mataku bengkak. Mata Dimas bengkak. Dan Bimo mengangkat kepalanya dari balik meja panjang, melihat kami berdua, dan tidak berkata apa-apa sama sekali.

Dia cuma menaruh dua mangkuk di meja.

Bubur kacang hijau.

Yang tidak ada di menu.

Dan Dimas — yang sudah tiga jam menginterogasi laki-laki itu tentang margin dan supplier dan stok — memandangi mangkuknya, lalu memandangi Bimo, dan berkata:

“Mas.”

“Ya.”

“Makasih.”

Dan Bimo, dengan serbet di bahunya, berkata:

“Makan dulu.”


Dimas pulang Minggu siang.

Dan di terminal, sebelum naik bus, dia memelukku lagi.

“Mbak.”

“Hm.”

“Mas Bimo baik.”

“Iya.”

“Tapi dia nyembunyiin sesuatu.”

Aku menjauh.

“...Apa?”

Dan adikku, yang ranking satu terus sejak kelas satu SMP, mengangkat bahunya.

“Nggak tau, Mbak. Cuma perasaan.” Dia menaikkan tasnya ke bahu. “Orang yang ngerti margin sampai koma sekian itu bukan orang yang belajar dari jualan kopi.”


Bersambung ke Bab 36 — “Hari-hari Biasa”