Chapter Fifty One
Yang Ditinggalkan
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Kirana, Mamad, Bu Yatmi, Mbak Ayu, Rika, Yuni, Dimas Jumlah kata: ±2.600
Aku lulus di bulan Maret.
Dua tahun tiga bulan setelah aku mendaftar. Cum laude, dengan IPK tiga koma tujuh delapan, yang membuatku menangis di kamar mandi kampus selama enam menit setelah melihat pengumumannya.
Dan aku tidak memberi tahu siapa-siapa selama tiga hari.
Bukan karena apa-apa. Aku cuma ingin memegangnya sendiri dulu.
Wisudanya bulan Mei.
Dan yang datang: ibuku, bapakku dengan kursi rodanya, Dimas yang sudah semester dua di teknik, Yuni yang memakai gaun yang jauh terlalu bagus untuk acara wisuda dan tidak peduli sama sekali, Mamad yang memakai kemeja untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan terlihat seperti sedang disiksa, dan Bu Yatmi yang membawa nasi kuning untuk tiga puluh orang meskipun tidak ada yang memintanya.
Dan Bimo.
Yang berdiri di belakang, di dekat pintu aula, dan tidak masuk sampai acaranya hampir selesai.
Aku menemukannya di sana setelah semuanya bubar.
“Mas.”
“Ran.”
“Kamu di sini dari tadi?”
“Iya.”
“Kenapa nggak duduk?”
Dan dia mengangkat bahu.
“Kursinya buat keluarga.”
Dan aku memukul lengannya dengan gulungan ijazahku sampai dia mengaduh.
Warung Sembilan resmi jadi milikku bulan Juli.
Bukan hadiah. Aku ingin itu tercatat dengan sangat jelas, dengan tanggal, dengan nomor akta.
Aku membelinya.
Dengan uang tabunganku sendiri — sisa dari tiga tahun sepuluh bulan, yang tidak habis, yang sudah kuhitung dan kuhitung ulang sampai aku yakin.
Empat puluh delapan juta untuk lima puluh satu persen kepemilikan.
Bimo menolak selama tiga minggu.
“Ran, ini nggak masuk akal.”
“Masuk akal banget.”
“Warungnya nggak seharga itu.”
“Iya. Makanya aku bayar lebih.”
“Ran—“
“Mas.”
Dan aku menaruh buku tulis bersampul hijau — bukan yang biru, yang biru sudah penuh, ini yang ketiga — di meja panjang.
“Aku udah itung,” kataku. “Valuasi berdasarkan pendapatan tiga tahun terakhir, dikurangi depresiasi peralatan, ditambah goodwill.”
Bimo memandangi tabel itu.
“Goodwill?”
“Iya. Nilai nama warungnya.”
“Ran, ini warung kopi di gang.”
“Yang punya tiga ratus pelanggan tetap dan nol keluhan dalam empat tahun.” Aku menunjuk baris terakhir. “Itu goodwill, Mas. Itu ada rumusnya.”
Dan Bimo memandangi tabel itu untuk waktu yang lama.
Dan kemudian dia berkata:
“Kamu bikin ini berapa lama?”
Dan aku berkata:
“Enam bulan.”
Dia menandatanganinya hari Rabu.
Dan malam itu, setelah warung tutup, dia duduk di kursi dan tidak bicara selama sekitar sepuluh menit.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu nyesel?”
Dan dia menggeleng.
“Terus kenapa?”
Dan Bimo memandangi meja panjang itu — kayu yang sudah aus di tengahnya, yang sekarang setengahnya milikku secara hukum.
“Empat tahun ini punya saya doang,” katanya.
“Iya.”
“Dan saya nggak pernah mikir itu masalah.”
Dia menoleh.
“Sekarang saya baru sadar itu masalah.”
Yang kulakukan dengan lima puluh satu persen kepemilikanku, secara berurutan:
Satu. Aku membuat kontrak kerja.
Tertulis. Dengan gaji, dengan jam kerja, dengan hari libur. Untuk Mamad, Mbak Ayu, dan Rika.
Mamad menangis waktu membaca miliknya.
“Mbak, ini beneran?”
“Iya.”
“Ada gaji?”
“Mad, kamu udah digaji dari dulu.”
“Iya, tapi ini ada kertasnya.”
Dan anak itu — dua puluh dua tahun sekarang, yang sudah empat setengah tahun tidur di kamar belakang — memegang selembar kertas HVS dengan dua tangan seperti orang memegang ijazah.
Dua. Aku membuka pembukuan yang benar.
Dengan laporan bulanan. Dengan pemisahan antara operasional dan pribadi. Dengan kolom khusus yang kuberi nama BANTUAN, untuk semua bon yang tidak ditagih dan makanan yang digratiskan dan uang yang dipinjamkan.
Aku menganggarkannya.
Tiga juta sebulan.
“Mas.”
“Ya.”
“Ini plafonnya.”
“Plafon?”
“Iya. Tiga juta. Kalau lebih, kamu tanya aku dulu.”
Dan Bimo memandangi angka itu.
“Kalau ada yang butuh lebih?”
“Ya kamu tanya aku.”
“Terus kalau kamu bilang nggak?”
Dan aku menatapnya.
“Aku nggak pernah bilang nggak, Mas.”
Aku menutup buku itu.
“Aku cuma mau kamu nanya.”
Tiga. Dan ini yang paling penting.
Aku membuka lantai dua.
Ruko itu punya lantai dua yang tidak pernah dipakai selama empat tahun.
Gudang. Berdebu. Penuh barang yang tidak berguna.
Aku membersihkannya selama tiga minggu bersama Mamad dan Rika, dan aku mengecatnya, dan aku memasang enam meja panjang dan dua puluh kursi.
Dan aku memasang papan di tangga.
RUANG BELAJAR — GRATIS Buka jam 9 pagi – 3 sore Untuk siapa saja
Dan di bawahnya, lebih kecil:
Ada yang bisa bantu ngitung, baca kontrak, ngurus surat. Tanya aja.
Bimo berdiri di depan papan itu selama waktu yang sangat lama.
“Ran.”
“Ya.”
“Ini apa?”
Dan aku berkata:
“Ini yang harusnya kamu bikin empat tahun lalu.”
Dan dia menoleh.
“Bukan warung, Mas.” Aku menunjuk tangga. “Yang bikin bapakku hancur bukan karena dia lapar.”
Bimo tidak bergerak.
“Yang bikin bapakku hancur karena nggak ada yang bisa dia tanya sebelum dia tanda tangan.”
Lantai dua itu dipakai empat orang di minggu pertama.
Dua puluh tiga di bulan pertama.
Dan sekitar bulan keempat, aku naik ke atas jam sebelas siang dan menemukan Bimo duduk di salah satu meja panjang dengan seorang bapak-bapak berumur lima puluhan dan setumpuk kertas.
Dia sedang membaca kontrak.
Dan menunjuk sesuatu di halaman kedua dengan ujung pulpen.
Dan berkata sesuatu yang tidak bisa kudengar dari tangga.
Dan bapak-bapak itu mengangguk, dan mencatat, dan bertanya sesuatu, dan Bimo menjelaskannya lagi dari awal dengan sabar.
Aku berdiri di tangga selama sepuluh menit.
Dan aku tidak naik.
Kirana datang di bulan kesepuluh.
Bukan pagi. Sore, jam empat, dengan pakaian yang bukan pakaian kerja.
Dan dia tidak memesan apa pun.
“Mbak Ranti.”
“Eh, Kirana.”
Dan aku melihat wajahnya, dan aku tahu ada sesuatu.
“Mbak, boleh ngobrol sebentar?”
Kami duduk di lantai dua.
Ruang belajar kosong sore itu. Cuma ada kami dan dua puluh kursi.
“Mbak.”
“Iya?”
Dan Kirana meletakkan tasnya di meja.
“Saya mau pamit.”
Aku menegakkan badan.
“Pamit ke mana?”
“Surabaya.” Dia tersenyum. “Toko cabangnya jadi. Yang saya bilang dulu.”
“Wah! Selamat—“
“Dan saya yang pegang.”
Dan aku berhenti.
Karena aku ingat.
Aku ingat percakapan di depan pintu warung, hampir dua tahun lalu, jam tujuh lewat lima belas pagi, waktu aku berbaring di kursi panjang berpura-pura tidur.
Saya mau buka cabang, Mas. Di Jalan Melati.
Cuma saya butuh orang.
“Kirana.”
“Iya, Mbak?”
Dan aku tidak tahu bagaimana mengucapkannya.
“Kamu... jadi buka cabang.”
“Iya.”
“Sendiri?”
Dan Kirana menoleh ke arahku.
Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuatku sadar bahwa perempuan ini tahu persis apa yang sedang kutanyakan.
“Iya, Mbak,” katanya. “Sendiri.”
Kami diam beberapa detik.
“Mbak Ranti.”
“Iya?”
“Boleh saya jujur?”
Aku mengangguk.
Dan Kirana melipat tangannya di meja.
“Dua tahun lalu saya nyatain perasaan saya ke Mas Bimo,” katanya.
Dan aku menutup mataku.
“Kirana, aku—“
“Mbak denger. Saya tau.”
Aku membuka mataku.
“...Kamu tau?”
“Saya liat Mbak di kursi panjang waktu saya masuk.” Dia mengangkat bahu. “Saya pikir Mbak tidur. Terus waktu saya keluar, posisi selimutnya beda.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Ya ampun.”
“Nggak apa-apa, Mbak.”
“Kirana, aku beneran nggak—“
“Mbak.” Dan dia tertawa. “Saya nggak marah. Saya udah dua tahun nggak marah.”
“Mbak mau tau yang paling aneh?”
“Apa?”
Dan Kirana memandangi ruang belajar yang kosong itu — dua puluh kursi, enam meja, papan tulis kecil di depan.
“Saya sempet mikir bahwa yang saya mau itu Mas Bimo,” katanya.
Aku diam.
“Setahun lebih saya datang tiap pagi. Dan tiap pagi saya mikir: kok enak ya jadi orang yang dia perhatiin.”
Dia menoleh.
“Terus dua tahun kemudian saya sadar bahwa yang saya iri bukan Mbak.”
“Terus apa?”
Dan Kirana berkata:
“Saya iri sama orang yang berani mutusin sesuatu buat dirinya sendiri.”
Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.
“Mbak berhenti dari kerjaan Mbak,” katanya. “Terus Mbak kuliah lagi. Terus Mbak beli setengah warung ini.”
Dia menunjuk sekeliling.
“Terus Mbak bikin ini.”
Dan dia menatapku.
“Dan saya, dua tahun lalu, cuma bisa nanya ke satu orang laki-laki apakah dia mau bantuin saya jalanin toko bapak saya.”
Aku menutup mulutku.
“Kirana—“
“Nggak, Mbak. Saya bukan lagi nyalahin diri sendiri.” Dia tersenyum. “Saya lagi bilang makasih.”
Kami duduk di sana untuk waktu yang lama.
Dan sebelum dia pulang, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Amplop kecil.
“Ini apa?”
“Buat ruang belajarnya.”
“Kirana, kami nggak—“
“Mbak.” Dan dia menaruhnya di meja. “Bapak saya pernah pinjem di aplikasi itu.”
Aku berhenti.
“Kami lunas. Tapi kami hampir nggak.”
Dia mengangkat tasnya.
“Dan kalau waktu itu ada tempat kayak gini,” katanya, “Ibu saya nggak bakal nangis tiga hari.”
Dia berhenti di tangga.
“Mbak.”
“Iya?”
Dan Kirana berbalik.
“Dulu saya bilang jangan disia-siain,” katanya.
Aku mengangguk.
“Saya salah,” katanya.
Dan aku mengerutkan kening.
“Salah gimana?”
Dan Kirana berkata:
“Waktu itu saya pikir Mbak yang beruntung.”
Dia menaikkan tasnya ke bahu.
“Dua tahun saya perhatiin, dan sekarang saya tau bahwa itu kebalik.”
Dan dia turun.
Aku duduk di ruang belajar itu sampai jam enam sore.
Dan aku memegang amplop itu tanpa membukanya.
Dan aku memikirkan sesuatu yang belum pernah kupikirkan sebelumnya.
Bahwa selama dua tahun, aku memperlakukan Kirana sebagai ukuran.
Aku menyusun dua kolom di kepalaku di Bab sepuluh dan aku tidak pernah benar-benar menghapusnya. Rambut hitam, sepatu flat, S1, toko keluarga, bisa dibawa ke rumah ibu siapa pun.
Dan aku tidak pernah sekali pun — dalam dua tahun — bertanya apakah perempuan itu bahagia.
Aku menceritakannya ke Bimo malam itu.
Semuanya. Termasuk bagian tentang kursi panjang dan selimut.
Dan laki-laki itu mendengarkan sampai selesai, dan kemudian dia berkata:
“Ran.”
“Ya.”
“Kamu tau kenapa saya nolak dia?”
“Karena kamu suka aku.”
“Bukan cuma itu.”
Aku menoleh.
“Terus?”
Dan Bimo berkata:
“Karena dia nanya saya mau bantuin nggak.”
Aku mengerutkan kening.
“Terus?”
Dan dia mengangkat kepalanya.
“Dan kamu nggak pernah sekali pun minta saya bantuin apa-apa,” katanya.
Warung itu sunyi.
“Sepuluh bulan pertama kamu duduk di kursi itu tiap malam, Ran. Dan kamu nggak pernah minta apa-apa.”
Dia menaruh serbetnya.
“Kamu malah marah tiap kali saya ngasih.”
Aku tertawa. Yang jelek. Yang benar.
“Mas, itu karena aku bego.”
“Iya.”
“MAS.”
“Iya, kamu bego.” Dan dia mengangkat bahu. “Tapi itu yang bikin saya tau.”
“Tau apa?”
Dan Bimo berkata:
“Bahwa kamu nggak butuh saya.”
Dia menoleh ke arahku.
“Kamu cuma mau saya.”
Kirana pindah ke Surabaya bulan berikutnya.
Dan di pagi terakhirnya, dia datang ke warung jam tujuh, seperti biasa, dan memesan dua bungkus.
Tanpa garam. Untuk bapaknya.
Dan Bimo menyiapkannya, seperti biasa, dan menyerahkannya, dan berkata:
“Hati-hati di sana.”
Dan Kirana berkata:
“Iya, Mas.”
Dan itu saja.
Setahun lebih datang setiap pagi, dan itu saja.
Dan aku berdiri di kasir dan aku menyadari bahwa itulah bentuk kasih sayang yang paling sering terjadi di dunia — bukan yang besar, bukan yang diucapkan, tapi dua orang yang saling menjaga selama bertahun-tahun tanpa satu pun dari mereka menyebutkannya.
Malam itu, jam sebelas, setelah warung tutup, aku menemukannya di sudut.
Bimo.
Berdiri di depan gitar itu.
Dan aku berhenti di ambang pintu dapur, seperti yang sudah kulakukan berkali-kali dalam dua tahun.
Dan aku bersiap untuk mendengar kata yang sama.
Belum.
Dan Bimo mengangkat tangannya.
Dan menyentuh debu di bahu gitar itu.
Dan kemudian dia berkata:
“Ran.”
“Ya?”
Dan dia berbalik.
Dan berkata:
“Kamu punya lap?”
Bersambung ke Bab 52 — “Jam Empat Pagi”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan reading
- 52 Jam Empat Pagi