Chapter Two

Bayar Besok

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Bu Yatmi, Yuni Jumlah kata: ±2.350


Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku ke sana cuma untuk mengembalikan jaketnya.

Itu bohong, dan aku tahu itu bohong bahkan saat aku sedang memikirkannya, tapi aku sudah tiga tahun ahli membohongi diri sendiri dengan cara yang sopan. Aku bahkan mencucinya dulu. Kusetrika. Kulipat rapi seperti orang yang benar-benar berniat mengembalikan barang.

Lalu aku memakainya lagi ke sana.

Jam empat pagi. Genangan yang sama. Angka sembilan yang sama, masih miring ke kanan.

Bimo sedang menuang minyak ke wajan saat aku masuk. Dia menoleh sedikit, melihat jaket itu di badanku, dan kembali ke wajannya tanpa berkomentar apa-apa.

“Aku mau ngembaliin ini,” kataku.

“Oke.”

“Tapi aku lagi pakai.”

“Iya.”

“Jadi nanti aja.”

“Iya.”

Aku duduk. Menunggu. Tidak ada apa-apa lagi.

“Kamu nggak mau nanya kenapa aku pakai lagi?”

“Nggak.”

“Kenapa nggak?”

Dia meletakkan telur ke wajan. Bunyinya menyenangkan.

“Karena dingin,” katanya. “Subuh emang dingin.”

Dan begitu saja pertanyaan itu selesai. Padahal aku sudah menyiapkan tiga jawaban yang berbeda, semuanya lucu, dua di antaranya nakal.

Aku menyimpannya untuk lain kali.


Yang aneh dari Warung Sembilan bukan warungnya. Yang aneh adalah bagaimana orang-orang memperlakukannya.

Malam kedua, aku belajar bahwa tempat itu punya jadwal sendiri yang tidak tertulis di mana pun. Jam sepuluh malam, tukang parkir Aurora datang untuk makan. Jam dua belas, anak-anak ojek online. Jam dua, kucing tanpa nama itu. Jam tiga, seorang bapak-bapak yang tidak bicara sama sekali, cuma minum teh, duduk empat puluh menit, lalu pergi meninggalkan uang pas di bawah gelas.

Dan jam empat pagi, ternyata, giliran kami.

Kami — maksudku perempuan-perempuan dari blok sebelah. Aku tidak tahu sebelumnya. Malam itu ada tiga orang yang masuk sebelum aku, dengan riasan yang sudah runtuh dan sepatu yang sudah dijinjing, dan mereka duduk seperti orang yang sudah punya kursi masing-masing.

Tidak ada yang menatap mereka.

Itu poinnya, kurasa. Di seluruh distrik ini, tidak ada tempat lain di mana kami bisa duduk jam empat pagi tanpa ada yang menatap.

“Mbak baru, ya?”

Yang bertanya perempuan berambut pendek, mungkin tiga puluhan, wajahnya lelah dengan cara yang ramah.

“Baru dua hari.”

“Hati-hati.” Dia menyeruput tehnya. “Nanti nggak bisa berhenti.”

“Warungnya seenak itu?”

Perempuan itu tertawa. “Bukan warungnya, Mbak.”

Dia tidak menjelaskan lebih lanjut. Tapi dia melirik ke arah meja panjang, di mana Bimo sedang mengangkat panci dengan satu tangan sambil menyalakan kompor kedua dengan tangan yang lain, dan aku mengerti maksudnya sepenuhnya.


Aku menghabiskan tiga malam berikutnya menguji sesuatu.

Ini bukan hal yang kubanggakan. Tapi aku punya kebiasaan: kalau ada sesuatu yang tidak masuk akal, aku akan terus menekannya sampai retak. Semua orang punya titik. Semua orang punya batas di mana kesabarannya habis, atau topengnya jatuh, atau ada sesuatu yang menyembul dari balik kesopanan mereka.

Aku belum menemukan titik Bimo.

Jadi aku mencari.

Malam ketiga.

“Mas, punggungku pegel banget.”

“Kursinya kekerasan. Ambil bantal di gudang.”

“Bukan gitu maksudnya.”

“Terus?”

Aku memutar badan, menunjukkan punggungku, dan menyingkirkan rambutku ke depan bahu.

“Pijitin, dong.”

Bimo memandangi punggungku selama dua detik.

Lalu dia berjalan ke belakang, kembali dengan bantal kursi, dan menyelipkannya di antara punggungku dan sandaran.

“Coba sekarang.”

“...Mas.”

“Enak, nggak?”

Enak. Sialan. Enak sekali.

“Nggak,” bohongku.

“Bohong.”

“Kok tahu?”

“Bahu kamu turun.” Dia kembali ke dapur. “Kalau orang bohong, bahunya naik.”

Malam keempat.

“Mas pernah pacaran?”

“Pernah.”

“Berapa lama?”

“Lama.”

“Terus kenapa putus?”

“Nggak cocok.”

“Bohong.”

Bimo mengangkat kepalanya. Ada sesuatu yang berkedip di sana, cepat sekali, lalu hilang.

“Bahu saya naik?”

“Nggak. Kamu jawabnya kecepetan.”

Dia diam. Lalu, tanpa satu kata pun, dia menaruh sepiring pisang goreng di depanku — yang jelas-jelas belum kupesan dan jelas-jelas baru digoreng — dan itu adalah cara paling licik untuk mengakhiri percakapan yang pernah kutemui seumur hidupku.

Aku memakannya. Aku kalah, dan aku memakannya.

Malam kelima.

Ini yang paling parah.

Aku datang lebih awal dari biasanya, jam tiga, karena malam itu sepi dan aku dipulangkan duluan. Warung kosong. Cuma ada Bimo, sedang membetulkan engsel pintu kamar mandi dengan obeng.

Dan aku, karena aku memang begini orangnya, memutuskan untuk duduk di meja tepat di belakangnya dan memperhatikan.

Bukan menggodanya. Cuma memperhatikan.

Ada yang berbeda dari cara orang bekerja saat dia pikir tidak ada yang melihat. Bahunya. Cara napasnya jadi lebih pelan. Cara tangannya bergerak — tidak terburu-buru, tidak juga lambat, cuma tahu persis apa yang harus dilakukan berikutnya.

Lengan bajunya digulung sampai siku.

Aku menonton selama mungkin sepuluh menit tanpa bicara sepatah kata pun.

Lalu Bimo berkata, tanpa menoleh: “Kamu ngeliatin dari tadi.”

“Iya.”

“Kenapa.”

“Bagus aja.”

Obeng itu berhenti.

“Bagus apanya.”

“Tangan kamu.”

Hening.

Aku menunggu dia membalas. Menunggu dia mengalihkan pembicaraan, seperti biasa, ke bantal atau makanan atau kucing.

Dia tidak melakukannya.

Dia cuma berdiri di situ, memegang obeng, menghadap pintu kamar mandi, dan tidak bergerak.

“Mas?”

“Ya.”

“Kamu nggak lanjut?”

“Sebentar.”

“Sebentar apa?”

“...Sebentar.”

Dan aku, di kursi itu, dengan pisang goreng di tangan yang sudah dingin, mengerti untuk pertama kalinya bahwa aku sedang bermain-main dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kukendalikan.

Aku hampir merasa bersalah.

Hampir.


“Mbak, sampeyan tuh niatnya apa, sih?”

Mamad menyapu lantai di sebelah mejaku, keesokan malamnya, dengan wajah orang yang sudah menahan pertanyaan itu selama tiga hari.

“Niat apa?”

“Ya itu. Sama Bang Bimo.”

“Emangnya kenapa?”

“Ya nggak apa-apa.” Mamad menyapu terlalu keras di satu titik. “Cuma ya... kasihan aja.”

“Kasihan?”

“Bang Bimo tuh nggak ngerti gituan, Mbak.”

Aku menaruh sendokku. “Gituan apa?”

“Ya gituan.” Mamad melambaikan tangannya ke udara, ke arahku secara umum, dengan gerakan yang kira-kira berarti seluruh eksistensimu. “Yang gitu-gitu.”

“Mad.”

“Iya, Mbak.”

“Bilang aja aku cantik, nggak usah muter-muter.”

Sapu itu berhenti. Telinga Mamad memerah dalam waktu kurang dari satu detik, dan aku mendapat konfirmasi ilmiah bahwa memerahnya telinga adalah semacam penyakit menular di warung ini.

“Y-ya kan emang—“

“Mad.”

Suara Bimo, dari balik meja. Tidak keras. Tidak marah. Cuma satu suku kata dan sebuah nama.

“Iya, Bang!”

“Kamar mandi.”

“Baru aja tadi siang, Bang.”

“Lagi.”

Mamad pergi sambil menggerutu. Aku memutar badan ke arah Bimo dengan senyum yang paling lebar yang bisa kubuat.

“Cemburu?”

“Nggak.”

“Kok mukanya gitu.”

“Muka saya emang gini.”

“Iya sih.” Aku menopang dagu. “Sayangnya bagus.”

Bimo menuang air ke gelas.

Airnya melewati bibir gelas, ke tatakan, ke meja.

Kami berdua menatap genangan kecil itu bersama-sama dalam keheningan yang sangat, sangat panjang.

“Mas.”

“Hm.”

“Airnya.”

“...Iya.”

Dia mengelapnya tanpa bicara. Aku tidak berkomentar apa-apa lagi.

Tapi aku tidak berhenti tersenyum sampai matahari naik.


Bu Yatmi punya warung nasi bungkus tepat di sebelah, dan menurut pengamatanku, punya sistem intelijen yang lebih baik daripada negara mana pun di dunia.

Aku baru mengenalnya di malam keenam, dan dalam waktu empat menit dia sudah tahu namaku, umurku, tempat kerjaku, jumlah saudaraku, dan fakta bahwa aku tidak bisa makan udang.

“Kok tahu udang?”

“Lah, kemarin Bimo nyuruh saya nggak masukin udang di nasi goreng yang buat sini.” Bu Yatmi mengibaskan tangannya. “Katanya buat kamu.”

Aku diam.

“Kemarin?”

“Iya, kemarin. Sebelum kamu datang.”

“Bu.”

“Apa?”

“Aku nggak pernah bilang apa-apa soal udang ke dia.”

Bu Yatmi menatapku. Lalu tertawa — tawa perempuan lima puluhan yang sudah melihat semua jenis kebodohan manusia dan tidak lagi terkejut oleh satu pun.

“Ya emang nggak pernah, Neng.”

“Terus dia tahu dari mana?”

“Ya dari kamu.”

“Aku nggak—“

“Malam pertama kamu ke sini.” Bu Yatmi menyandarkan sikunya ke meja. “Ada anak Aurora namanya siapa itu, yang rambutnya dicat merah—“

“Yuni.”

“Nah. Yuni nawarin kamu kerupuk udang di depan warung. Kamu bilang ‘nggak, makasih’ sambil geser piringnya dikit.”

Aku menatapnya.

“Bu, itu di luar. Di depan. Dia di dalam.”

Bu Yatmi mengangkat bahu, dan senyumnya adalah senyum orang yang sedang menikmati hidup.

“Ya gitu deh, Neng. Anaknya emang gitu.”


Malam itu aku pulang dan tidak bisa tidur.

Aku berbaring di kasurku, di kontrakan yang kubayar sendiri dengan uang yang kucari sendiri, dan aku menatap langit-langit, dan aku menghitung.

Aku selalu menghitung. Itu sisa-sisa dari lima semester Akuntansi yang tidak sempat kuselesaikan, dan juga sisa-sisa dari tiga tahun terakhir, di mana segala sesuatu punya harga dan aku belajar mengetahui harganya sebelum orang lain sempat menyebutkannya.

Jadi aku menghitung.

Seorang laki-laki mengingat bahwa aku tidak makan udang, berdasarkan satu gerakan tanganku, dari dalam ruangan, lewat jendela, tanpa aku menyadarinya. Lalu dia menyampaikannya ke tetangganya. Lalu dia tidak pernah menyebutkannya padaku.

Berapa harganya?

Berapa yang harus kubayar untuk itu?

Aku berbaring di sana sampai jam sembilan pagi, memutar pertanyaan itu, mencari-cari tagihannya, mencari-cari kalimat “nanti kamu harus” yang pasti akan datang.

Dan yang menakutkan adalah ini: aku tidak menemukannya.

Aku tidak menemukannya sama sekali.


Malam ketujuh, aku datang jam empat pagi seperti biasa, dan langsung duduk di kursi yang sekarang sudah jadi kursiku.

“Mas.”

“Ya.”

“Aku bawa uang.”

“Buat apa?”

“Buat bayar. Yang malam pertama itu. Katanya bayar besok.”

Bimo mengelap tangannya di serbet.

“Udah lewat besoknya,” katanya. “Udah tujuh besok.”

“Jadi berapa?”

“Nggak usah.”

“Mas—“

“Nggak usah, Ran.”

Dan itu pertama kalinya dia memanggilku Ran.

Bukan Ranti. Bukan Mbak. Bukan Neng.

Ran.

Aku menunduk ke mangkukku, dan aku sangat berharap tidak ada yang memperhatikan bahwa aku butuh waktu agak lama untuk mengangkat kepala lagi.

Ketika akhirnya aku mengangkatnya, Bimo sudah membelakangiku, sedang menyalakan kompor.

Telinganya merah.


Bersambung ke Bab 3 — “Gitar yang Tidak Ditanya”