Chapter Twenty Seven
Pertengkaran
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.500
Bimo tidak marah selama sembilan hari.
Aku menghitungnya, tentu saja. Sembilan hari di mana laki-laki itu tetap menaruh makanan di depanku, tetap mengisi ulang jaheku, tetap mengantarku sampai pintu jam setengah enam.
Dan tidak sekali pun menyinggung kata “pindah”.
Yang berubah cuma satu hal.
Dia berhenti duduk.
Selama dua minggu terakhir sebelum malam itu, Bimo mulai duduk kalau warung sepi. Dia akan menarik kursi, duduk di seberangku, dan kami akan bicara tentang harga cabai atau kompor rusak atau apa pun.
Sembilan hari itu, dia berdiri terus.
Dan aku, yang sudah tiga bulan belajar membaca laki-laki ini seperti membaca laporan keuangan, tahu persis apa artinya.
Yang meledakkannya adalah hal yang sangat kecil.
Malam kesepuluh. Jam empat lewat dua puluh. Warung kosong.
Aku sedang menghitung laci, dan aku menemukan selisih.
“Mas.”
“Ya.”
“Kurang delapan ratus ribu.”
Bimo tidak berhenti mengiris.
“Iya.”
“Delapan ratus, Mas. Bukan enam puluh.”
“Iya.”
“Ke mana?”
“Ada keperluan.”
Aku menaruh pulpenku.
“Keperluan apa?”
“Ran, nanti aja.”
“Mas, aku yang megang buku ini.”
“Iya.”
“Kalau nggak dicatat, aku nggak bisa itung.”
“Ya udah, nggak usah dicatat.”
Dan itu — kalimat yang sangat biasa, diucapkan dengan nada yang sangat biasa — adalah pemantik yang cukup.
Aku menutup buku tulis bersampul biru itu.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu nggak percaya sama aku?”
Bimo meletakkan pisaunya.
“Bukan gitu.”
“Terus gimana?”
“Ran—“
“Aku udah tiga minggu megang buku ini.” Suaraku naik, dan aku membiarkannya naik. “Kamu yang nyuruh. Kamu yang bilang aku lebih jago. Sekarang kamu nggak mau kasih tau delapan ratus ribu ke mana?”
“Itu urusan saya.”
“BUKUNYA URUSAN AKU.”
Dan bunyi itu menggema di warung kosong, dan Mamad menyembulkan kepalanya dari belakang, dan langsung menariknya kembali.
Bimo berdiri di balik meja panjang.
Dan dia tidak menjawab selama mungkin sepuluh detik.
“Buat Bu Rahma,” katanya akhirnya. “Yang rumahnya kebakaran.”
Aku diam.
“Suaminya belum kerja lagi. Anaknya harus daftar ulang minggu depan.”
Dan aku merasakan sesuatu yang panas dan memalukan naik ke wajahku.
“...Oh.”
“Iya.”
“Mas, aku—“
“Nggak apa-apa.”
“Aku nggak tau.”
“Iya. Saya nggak bilang.”
Dan dia mengambil pisaunya lagi, dan mulai mengiris, dan seharusnya di situ selesai.
Seharusnya.
Tapi aku sudah tiga bulan menyimpan sesuatu, dan sembilan hari terakhir menaruh terlalu banyak tekanan di atasnya, dan aku sudah kehabisan tempat.
“Mas.”
“Ya.”
“Kenapa kamu nggak pernah bilang apa-apa?”
Pisau itu terus mengiris.
“Bilang apa.”
“Semuanya.” Aku berdiri. “Kamu nggak pernah bilang apa-apa. Tentang uang. Tentang gitar. Tentang ‘kantor’. Tentang kenapa kamu di sini.”
“Ran.”
“Aku udah cerita semuanya ke kamu.”
“Iya.”
“Semuanya, Mas. Bapakku. Utangnya. Penagihnya. Kuliahku yang berhenti. Adikku yang nggak tau aku kerja apa.” Suaraku bergetar dan aku tidak peduli. “Aku cerita hal-hal yang nggak pernah aku ceritain ke siapa-siapa. Ke Yuni aja nggak.”
Bimo meletakkan pisaunya.
“Dan kamu,” lanjutku, “aku nggak tau nama ibu kamu sampai minggu lalu.”
Warung itu sunyi.
Kipas berputar. Kulkas berdengung. Di luar, ada anjing menggonggong sekali dan berhenti.
“Ran.”
“Jangan bilang ‘kamu belum makan’.”
Bimo menutup mulutnya.
“Aku serius, Mas. Sekali ini aja.” Aku berjalan ke ujung meja panjang, ke tempat aku bisa melihat wajahnya. “Sekali ini aja, jangan alihin.”
Dan dia berdiri di sana, dengan serbet di bahunya, dan wajahnya adalah wajah orang yang sedang berdiri di depan pintu yang sudah lama dia kunci dan lupa di mana kuncinya.
“Kamu mau tau apa,” katanya.
“Semuanya.”
“Ran—“
“Nggak semuanya.” Aku menarik napas. “Satu. Satu aja. Kamu pilih.”
“Kenapa satu?”
“Karena aku mau tau kamu bisa.”
Bimo memandangi meja panjang di depannya.
Selama waktu yang sangat lama.
Dan kemudian dia berkata:
“Saya pernah punya kerjaan.”
“Kerjaan apa?”
“Yang bagus.”
“Bagus gimana?”
“Bagus.” Dia mengangkat kepalanya. “Yang orang mimpiin.”
Aku tidak bergerak.
“Terus?”
“Terus saya keluar.”
“Kenapa?”
Dan Bimo berkata: “Nggak.”
“Mas—“
“Kamu bilang satu, Ran. Itu satu.”
Dan dia benar. Sialan, dia benar.
Aku berdiri di sana dengan tangan mengepal di sisi tubuhku, dan aku bisa merasakan seluruh tiga bulan itu naik ke tenggorokanku sekaligus.
“Kenapa kamu nggak percaya sama aku?”
“Saya percaya.”
“BOHONG.”
“Ran.”
“Kalau kamu percaya, kamu cerita!”
Dan Bimo — untuk ketiga kalinya sejak aku mengenalnya, dan ini yang paling keras — meninggikan suaranya.
“SAYA NGGAK CERITA KARENA SAYA NGGAK MAU KAMU LIAT.”
Warung itu jadi sangat sunyi.
Bimo berdiri di balik meja panjang dengan dada yang naik turun, dan aku berdiri di ujungnya, dan tidak ada satu pun dari kami yang bergerak.
“...Liat apa?”
“Nggak ada.”
“Mas.”
“Nggak ada, Ran.”
“LIAT APA?”
Dan dia menutup matanya.
Dan waktu dia membukanya lagi, ada sesuatu di sana yang membuatku ingin mundur satu langkah.
“Kamu ngeliat saya kayak orang baik,” katanya.
Suaranya sudah turun lagi. Pelan. Datar.
“Iya, karena kamu—“
“Saya bukan.”
“Mas.”
“Ran, dengerin.” Dia menaruh kedua tangannya di meja panjang, dan aku bisa melihat buku-buku jarinya memutih. “Tiga bulan kamu duduk di kursi itu dan tiap hari kamu ngomong tentang gimana kamu nggak pantes.”
Aku membeku.
“Dan tiap hari saya duduk di sini dan denger, dan saya nggak bisa ngomong apa-apa.”
“Kenapa?”
“Karena kalau saya bilang kamu pantes—“ Suaranya berhenti sebentar. “Kamu bakal nanya kenapa saya yakin.”
“Terus?”
“Terus saya harus jelasin kenapa.”
Dan aku berdiri di sana dan aku mengerti, dengan cara yang membuat perutku dingin, bahwa laki-laki ini sudah tiga bulan menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kubayangkan.
“Mas.”
“Ran.”
“Aku nggak butuh kamu jadi orang baik.”
Bimo mengangkat kepalanya.
“Aku nggak pernah minta itu.” Suaraku pecah di tengah dan aku membiarkannya. “Aku nggak butuh kamu sempurna. Aku nggak butuh kamu nyelametin aku. Aku nggak butuh kamu jadi orang yang lebih bagus dari aku.”
“Terus kamu butuh apa?”
Dan aku berteriak.
Aku benar-benar berteriak, di warung kosong jam empat lewat empat puluh, dengan suara yang mungkin terdengar sampai ke ujung gang:
“AKU BUTUH KAMU BERHENTI BIKIN AKU PENGIN JADI ORANG LAIN.”
Aku menangis setelah itu.
Bukan menangis yang elegan. Menangis yang jelek, dengan hidung yang berair dan bahu yang berguncang dan bunyi yang memalukan.
Aku berdiri di ujung meja panjang dan menangis, dan aku tidak bisa berhenti selama mungkin dua menit.
Dan Bimo tidak bergerak dari tempatnya.
Dia berdiri di balik meja itu, tangannya masih di kayu, dan dia tidak datang mendekat, dan dia tidak mengatakan apa-apa.
Dan aku bersyukur.
Karena kalau dia menyentuhku saat itu, aku akan hancur total.
Waktu aku selesai, aku mengambil tisu dari meja dan menghapus wajahku dengan gerakan yang kasar.
“Sori.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku teriak.”
“Iya.”
“Sori.”
“Ran.”
“Iya?”
Dan Bimo, dari balik meja panjang, berkata:
“Apa maksudnya.”
Aku menoleh.
“Apanya?”
“Yang barusan.” Dia menatapku. “‘Berhenti bikin kamu pengin jadi orang lain.’ Apa maksudnya.”
Dan aku berdiri di sana dengan tisu basah di tangan, dan aku menyerah.
Aku benar-benar menyerah, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
“Aku dulu nggak apa-apa,” kataku.
“Nggak apa-apa gimana?”
“Sebelum aku ketemu kamu.” Aku menarik napas dan bunyinya bergetar. “Aku nggak apa-apa, Mas. Aku kerja, aku dapet uang, adikku sekolah, bapakku dapet obat. Angkanya masuk. Aku nggak pernah nanya apa-apa lagi.”
Bimo diam.
“Terus kamu dateng.” Aku menghapus mataku lagi. “Dan kamu bikinin aku bubur kacang ijo. Dan kamu inget aku nggak bisa makan udang. Dan kamu benerin sandalku sambil jongkok.”
Suaraku pecah lagi.
“Dan sekarang aku duduk di sini tiap malam, dan aku mulai mikir ‘gimana kalau’.”
“Gimana kalau apa?”
“GIMANA KALAU AKU BISA PUNYA INI.”
Dan aku menunjuk seluruh ruangan — meja, kursi, kompor, kipas yang berputar, gitar di sudut yang berdebu.
“Gimana kalau aku bisa punya hidup yang kayak gini. Yang normal. Yang jam empat pagi ada orang yang nyiapin makanan buat aku.” Aku menatapnya. “Aku nggak pernah mikir gitu, Mas. Tiga tahun. Nggak sekali pun.”
Warung itu sunyi.
“Dan sekarang aku mikir gitu tiap hari,” kataku. “Dan itu sakit banget.”
Bimo berjalan mengelilingi meja panjang.
Aku mundur setengah langkah, refleks.
Dia berhenti.
Dan berdiri di situ, satu meter dariku, dengan tangan di sisi tubuhnya.
“Ran.”
“Iya.”
“Boleh saya ngomong sesuatu?”
Aku mengangguk.
“Saya udah empat tahun di sini,” katanya. “Empat tahun saya bangun tiap pagi jam enam dan ke pasar dan buka warung dan ngasih makan orang. Dan tiap malam saya duduk di kursi belakang sampai jam sepuluh, terus tidur empat jam.”
Aku diam.
“Dan selama empat tahun itu, saya nggak pernah sekali pun mikir ‘gimana kalau’.”
Aku mengangkat kepalaku.
Dan Bimo menatapku, dan wajahnya adalah wajah orang yang sedang meletakkan sesuatu yang berat di atas meja.
“Sampai kamu masuk ke sini bawa sepatu di tangan,” katanya.
Aku tidak bisa bicara.
Aku benar-benar tidak bisa. Aku berdiri di sana dan aku membuka mulutku dua kali dan tidak ada apa pun yang keluar.
Bimo melihatnya.
Dan dia melakukan sesuatu yang sangat khas dia, yang membuatku ingin memukulnya dan memeluknya sekaligus.
Dia mundur.
Kembali ke balik meja panjang.
Menyalakan kompor.
“Kamu belum makan,” katanya.
Dan suaranya bergetar sedikit di suku kata terakhir, dan dia pura-pura tidak menyadarinya, dan aku pura-pura tidak mendengarnya.
Aku pulang jam enam pagi.
Dan di ambang pintu, aku berbalik.
“Mas.”
“Ya.”
“Yang tadi kamu bilang.”
“Yang mana.”
“Yang ‘sampai kamu masuk ke sini bawa sepatu di tangan’.”
Bimo tidak menoleh.
“Hm.”
“Itu artinya apa?”
Dan Bimo, yang berdiri di balik meja panjang dengan serbet di bahunya, berkata:
“Itu artinya kamu udah tau.”
Bersambung ke Bab 28 — “Laptop”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran reading
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi