Chapter Fifty Eight
Extra 6 — Empat Warung
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Sumi, Mamad, Mbak Ayu, Rika, Bu Yatmi, Yuni, Kirana Jumlah kata: ±2.700
Aku punya kartu nama.
Aku ingin memulai dengan itu, karena benda itu ada di dompetku selama dua tahun tanpa pernah kuberikan kepada siapa pun, dan karena aku mengeluarkannya kira-kira sekali sebulan untuk memandanginya.
RANTI WULANSARI Pemilik — Warung Sembilan Group
Bimo yang mencetaknya. Seratus lembar. Tanpa bilang.
Dan aku menemukannya di meja ruang kerjaku suatu pagi, dalam kotak, dengan secarik kertas HVS di atasnya bertuliskan tangan yang jelek sekali:
Kamu selalu nulis nomor di struk. Nggak profesional. B.
Aku menangis di ruang kerjaku sendiri selama enam menit.
Sekarang ada empat.
Sembilan Satu — yang asli, di gang belakang distrik. Buka jam enam pagi sampai jam sebelas malam, kecuali Jumat, yang buka jam empat pagi.
Sembilan Dua — dekat terminal. Manajernya Mamad.
Sembilan Tiga — belakang pasar, buka jam tiga pagi karena pedagang pasar mulai jam tiga. Manajernya Rika.
Sembilan Empat — gang belakang Melati dan Kirana Lounge. Manajernya Mbak Ayu.
Dua puluh tiga orang.
Dan aku tahu nama semuanya, dan nama anak-anak mereka, dan siapa yang tidak bisa makan pedas, dan siapa yang tidak boleh dijadwalkan shift malam karena ada yang menunggu di rumah.
Aku belajar itu dari seseorang.
Empat hal yang kubuat, dan yang tidak akan kuubah:
Satu. Semua orang punya kontrak tertulis. Dua puluh tiga orang. Dengan gaji, jam kerja, hari libur, dan BPJS.
Dua. Formulir lamaran kami punya lima baris: nama, umur, nomor telepon, kontak darurat, alergi makanan.
Tidak ada kolom pengalaman kerja. Tidak ada kolom pendidikan. Tidak ada surat keterangan apa pun.
Seorang konsultan bisnis yang disewa Bimo selama tiga bulan pernah bertanya bagaimana aku menilai kandidat tanpa informasi apa pun.
Dan aku bilang: aku suruh mereka datang jam ramai dan berdiri di dapur dua jam.
“Terus, Bu?”
“Terus saya liat mereka ngapain kalau ada piring jatuh.”
Tiga. Kolom BANTUAN di pembukuan. Plafonnya dua belas juta sebulan, dibagi empat warung, dan empat manajer punya kuncinya masing-masing.
Empat. Setiap warung punya satu jam dalam seminggu di mana harganya nol.
Di Sembilan Satu, jamnya Jumat, jam empat pagi.
Aku buruk jadi bos selama dua tahun pertama.
Aku terlalu keras. Aku memarahi Rika di depan tiga orang karena selisih delapan puluh ribu, dan dia tidak bicara denganku selama empat hari, dan aku pulang malam itu dan menangis di kamar mandi.
Dan Bimo tidak menghiburku.
Dia berdiri di ambang pintu kamar mandi dan berkata:
“Kamu udah minta maaf?”
“Belum.”
“Ya minta maaf.”
“Nanti.”
“Sekarang.”
“Mas, ini jam sebelas malam.”
Dan dia berkata:
“Empat hari, Ran.”
Dan aku meneleponnya jam sebelas malam, dan Rika menangis di telepon, dan besoknya kami baik lagi.
Dan Bimo tidak pernah menyebutkannya lagi.
Sumi berumur lima tahun sekarang.
Dan dia adalah anak yang paling banyak bicara yang pernah kutemui, dan aku sudah bertemu Mamad.
Dia bicara sejak bangun sampai tidur. Dia bicara kepada kucing. Dia bicara kepada kulkas. Dia bicara kepada orang-orang di warung yang sedang makan, dan mereka menjawab, karena mereka semua sudah menyerah.
Dan Bu Yatmi menggendongnya suatu sore dan berkata, untuk kesekian ratus kalinya:
“Ya Allah, Bim. Ini ibu kamu.”
Dan Bimo masuk ke dapur seperti biasa.
Yuni menikah tahun lalu.
Dengan seorang laki-laki bernama Anton yang punya bengkel motor dan yang, menurut Yuni, “bego banget tapi baik banget, Ran, gue nggak bisa jelasin.”
Dan aku jadi saksinya.
Dan di pelaminan, sambil memegang tanganku, dia berkata:
“Ran.”
“Hm.”
“Lo inget nggak lo bilang apa ke gue sepuluh tahun lalu?”
“Enggak.”
“Lo bilang lo takut nggak ditolak.”
Dan aku menoleh.
“Yun—“
“Gue mau bilang bahwa itu pemikiran paling goblok yang pernah gue denger dari mulut manusia,” katanya, sambil menangis, sambil merusak seluruh riasannya, di depan tiga ratus orang.
Dan aku memeluknya sampai penata riasnya harus turun tangan.
Kirana masih di Surabaya.
Kami bicara mungkin empat kali setahun, lewat pesan, tentang hal-hal biasa.
Tapi dia mengirim sesuatu setiap Desember. Amplop, ke alamat Warung Sembilan Satu, untuk ruang belajar di lantai dua.
Ruang belajar itu sekarang dipakai empat puluh orang setiap minggu. Ada dua relawan pengacara yang datang bergantian setiap Sabtu. Tahun lalu mereka membantu dua puluh enam orang membatalkan perjanjian yang ditandatangani tanpa membaca halaman kedua.
Dan setiap Desember aku mengirim pesan yang sama.
Makasih, Kirana.
Dan dia membalas yang sama.
Sama-sama, Mbak.
Sepuluh tahun, dan itu saja, dan itu cukup.
Sekarang bagian yang ingin kutulis dengan benar.
Hari Jumat, bulan lalu. Jam empat pagi.
Aku membuka Warung Sembilan Satu seperti biasa, bersama Mbak Ayu, yang sekarang manajer Sembilan Empat tapi tetap datang setiap Jumat karena dia bilang “saya kan tau rasanya, Mbak,” dan sudah sembilan tahun mengatakan kalimat yang sama.
Dan pintu terbuka jam empat lewat sepuluh.
Dan seorang perempuan masuk.
Umurnya mungkin dua puluh empat. Riasannya sudah menyerah. Dan dia memegang sepatunya dengan satu tangan karena gang di luar becek setelah hujan sore tadi.
Dan dia berhenti di ambang pintu.
Dan aku melihat wajahnya.
Wajah yang sudah dipasang. Yang menunggu untuk dinilai.
Dan aku berkata:
“Masuk. Kakinya basah, ada keset di kiri.”
Dia duduk di kursi paling dekat pintu.
Kursi itu.
Dan aku menaruh mangkuk di depannya tanpa dia memesan.
“Mbak, saya belum—“
“Nggak apa-apa.”
“Saya bawa uang, kok.”
“Iya,” kataku. “Tapi hari Jumat jam empat sampai jam enam nggak ada yang bayar di sini.”
Dan dia mengangkat kepalanya.
“Kenapa?”
Dan aku berdiri di balik meja panjang dengan serbet di bahuku.
“Aturan warung,” kataku.
Dia makan setengah mangkuk.
Dan kemudian dia berhenti.
Dan kemudian dia mulai menangis, dengan tangan menutup mulut, dengan bahu yang berguncang.
Dan aku tidak mendekat.
Aku berdiri di balik meja panjang dan melanjutkan mengiris bawang, dan aku membiarkan perempuan itu menangis di kursi kayu selama empat menit tanpa satu orang pun di ruangan itu menoleh.
Dan waktu dia selesai, aku menaruh gelas jahe di mejanya.
Dan berkata:
“Habisin buburnya. Keburu dingin.”
Dia datang lagi Jumat berikutnya. Dan berikutnya.
Dan di Jumat keempat, dia bertanya apakah ada lowongan.
Namanya Nur. Dia bekerja di Sembilan Tiga sekarang, shift pagi.
Dan dia belum berhenti dari pekerjaannya yang satu lagi, dan aku tidak bertanya kapan.
Karena itu bukan urusanku.
Dan karena ada seseorang yang mengajariku, sepuluh tahun lalu, bahwa cara terbaik menunggu seseorang adalah dengan tidak memberitahunya bahwa kau sedang menunggu.
Aku menceritakannya ke Bimo malam itu di halaman belakang.
Dan waktu aku selesai, dia tidak berkata apa-apa selama satu menit.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu kenapa?”
“Kamu bilang apa ke dia?”
“Aku bilang kakinya basah, ada keset di kiri.”
Dan Bimo menutup matanya.
“Aku nggak sengaja, Mas.”
“Saya tau.”
“Itu keluar aja.”
Dan dia membuka matanya, dan menoleh ke arahku di bawah pohon jambu yang buahnya masih asam.
“Ran.”
“Ya.”
Dan dia berkata:
“Sepuluh tahun lalu saya bilang itu ke kamu karena saya nggak tau harus ngomong apa.”
Aku menoleh.
“...Apa?”
“Saya panik,” katanya.
Aku duduk tegak di kursi plastik itu.
“MAS.”
“Iya.”
“Kamu panik?”
“Iya.”
“Kamu bilang ‘kakinya basah, ada keset di kiri’ dengan muka paling datar di dunia.”
“Iya.”
“AKU KIRA KAMU—“
“Ran, saya lupa nama saya sendiri malam itu.” Dan dia mengangkat bahu. “Menurut kamu saya lagi nyusun kalimat?”
Aku tertawa sampai harus memegang meja.
Dan sampai lampu kamar Sumi menyala dan kami harus diam dua menit sampai mati lagi.
“Mas.”
“Ya.”
“Sepuluh tahun aku mikir itu kalimat paling keren yang pernah aku denger.”
Dan Bimo berkata:
“Ya udah, biarin aja.”
“NGGAK BISA GITU.”
“Bisa.”
“Mas—“
“Ran.” Dan dia menoleh. “Kalimatnya nggak penting.”
“Terus apa yang penting?”
Dan dia berkata:
“Yang penting saya nggak nanya kamu dari mana.”
Dan aku ingin menutup di sini.
Hari Minggu. Warung tutup.
Kami di ruang tengah rumah kami sendiri, jam delapan malam, dengan seluruh lampu menyala dan AC yang masih membuatku bahagia setelah dua tahun.
Sumi tengkurap di karpet dengan buku gambar dan kotak krayon, menggambar sesuatu yang menurut dia kucing dan yang menurut siapa pun yang lain adalah kecelakaan.
Bimo duduk di sofa dengan gitar di pangkuannya, memetik pelan, tidak ada lagunya, cuma bunyi.
Dan aku di island dapur dengan tiga laporan bulanan, kalkulator, dan buku tulis bersampul hijau yang sekarang sudah yang kedua belas.
Dan aku menghitung.
Aku masih menghitung. Aku tidak akan pernah berhenti dan aku sudah berhenti minta maaf soal itu.
Tapi yang kuhitung sekarang berbeda.
Dua puluh tiga gaji. Empat sewa tempat. Dua belas juta di kolom BANTUAN. Empat puluh orang di ruang belajar minggu lalu.
Dan angkanya masuk.
Setiap bulan, angkanya masuk.
“Ibuk.”
“Hm.”
“Liat.”
Dan Sumi mengangkat buku gambarnya.
Ada kotak besar dengan pintu. Ada angka di atasnya — angka sembilan, ditulis terbalik, karena dia berumur lima tahun.
Dan di dalam kotak itu ada empat orang.
“Ini siapa aja?”
“Ini Sumi. Ini Bapak. Ini Ibuk. Ini Mamad.”
“Bu Yatmi mana?”
Dan Sumi memandangi gambarnya sendiri selama tiga detik dengan wajah orang yang menyadari kesalahan administratif yang serius.
“Belom,” katanya.
Dan mengambil krayon lagi.
Bimo berhenti memetik.
Dan aku menoleh.
Dan dia sedang memandangi anak itu, yang tengkurap di karpet, menambahkan orang kelima ke dalam gambar sebuah warung.
Dan aku menutup buku tulisku.
Dan berjalan ke sofa.
Dan duduk di sebelahnya, dan mengambil gitar itu dari pangkuannya dan menaruhnya di lantai, dan mengambil tempatnya.
“Ran—“
“Diem.”
Dan aku duduk di pangkuannya, menyamping, dengan kepala di bahunya dan kaki dilipat di sofa.
Dan Bimo melingkarkan lengannya dan tidak berkata apa-apa.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu inget nggak malam pertama aku ke warung?”
“Iya.”
“Aku bawa sepatu.”
“Iya. Kaki kamu basah.”
“Dan kamu nyuruh aku pakai keset.”
“Iya.”
Dan aku mengangkat kepalaku.
“Mas.”
“Ya.”
Dan aku berkata:
“Kalau waktu itu kamu nanya aku dari mana, aku nggak bakal balik lagi.”
Dan Bimo tidak menjawab.
Dia cuma mengeratkan lengannya, satu kali.
Dan sekitar dua menit kemudian, dia berkata:
“Ran.”
“Hm.”
“Kamu belum makan.”
Dan aku mengangkat kepalaku dan menatapnya.
“Mas, kita makan malem jam tujuh.”
“Kamu makan setengah.”
“AKU KENYANG.”
“Kamu ngobrol sama Sumi terus, piring kamu dingin, kamu berhenti.”
Dan aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Sepuluh tahun.”
“Iya.”
“Sepuluh tahun kamu ngitungin suapan aku.”
“Iya.”
Dan aku menurunkan tanganku dan memegang wajahnya dengan dua tangan.
“Mas.”
“Ya.”
“Aku sayang kamu.”
Dan Bimo memandangiku dari jarak dua puluh senti, di sofa ruang tengah rumah kami sendiri, dengan anak kami menggambar di karpet dua meter dari situ.
Dan dia berkata:
“Kamu cantik.”
Aku menunggu.
Satu detik.
Dua.
Tiga.
Empat.
“...Mas.”
“Ya.”
“Nggak ada lanjutannya?”
Dan Bimo menggeleng.
“Nggak,” katanya.
Dan menciumku.
Dan dari karpet, dua meter dari situ, terdengar suara anak berumur lima tahun yang tidak pernah bisa diam:
“IIIH.”
Dan Bimo tidak berhenti.
Dan aku tertawa di tengah ciuman itu, dan hampir jatuh dari sofa, dan dia menangkapku dengan satu lengan seperti biasa.
Dan Sumi berdiri dan berjalan ke sofa dan memanjat naik ke pangkuan kami berdua, di antara kami, dengan buku gambarnya.
“Bu Yatmi udah,” katanya.
Dan dia mengangkat gambarnya.
Lima orang, di dalam sebuah kotak dengan pintu, di bawah angka sembilan yang ditulis terbalik.
TAMAT
Catatan penulis:
Enam bab ini bukan bagian dari cerita utama. Cerita utama selesai di Bab 52, di warung yang setengah gelap, dengan gitar yang akhirnya dimainkan.
Extra ini ada karena ada yang bertanya: terus mereka gimana?
Ya begitu. Mereka bahagia.
Dan mereka pantas.
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi
- 53 Extra 1 — Dua Hari
- 54 Extra 2 — Kamar 214
- 55 Extra 3 — Pulang
- 56 Extra 4 — Rumah
- 57 Extra 5 — Konsultan
- 58 Extra 6 — Empat Warung reading