Chapter Fifty Three
Extra 1 — Dua Hari
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Sumi, Bu Sri, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.450
“Ran, kakinya.”
“Nggak mau.”
“Ran.”
“Nggak mau, Mas.”
Aku sudah melipat kaki ke atas jok sejak kilometer kelima dan aku tidak berniat menurunkannya sampai kilometer terakhir.
Bimo menyalakan sein, menyalip sebuah truk, dan tidak berkata apa-apa selama sepuluh detik.
Lalu tangan kirinya lepas dari setir, dan telapaknya mendarat di lututku, dan mendorongnya turun pelan-pelan.
“Aduh.”
“Bahaya.”
“Kamu nyentuh kaki istri kamu.”
“Iya.”
“Di depan umum.”
“Ran, ini di dalem mobil.”
Dan aku mengambil tangannya yang masih di lututku dan memeluknya dengan dua tangan dan tidak melepaskannya.
“Ran.”
“Apa.”
“Saya butuh tangan itu.”
“Nggak.”
“Buat nyetir.”
“Kamu punya dua.”
Dua hari.
Aku masih tidak percaya bahwa aku bisa mengucapkan kalimat itu. Dua hari, tanpa warung, tanpa laci, tanpa buku tulis bersampul biru, dan — ini bagian yang membuat perutku aneh sejak kemarin — tanpa Sumi.
Ibuku yang memaksa.
“Ibu ambil Sumi Jumat.”
“Bu, tunggu—“
“Dua hari.”
“Bu—“
“Ranti.”
Dan aku menutup mulutku, karena perempuan itu sudah lima puluh tujuh tahun dan sudah lama memutuskan bahwa aku tidak punya hak suara di rumahnya sendiri.
Dan yang membuatku lebih kaget lagi: Bimo sudah tahu.
Dua bulan.
Dia memesan hotelnya dua bulan lalu, dan dia menanyakannya ke ibuku dulu sebelum ke aku, dan waktu aku protes soal urutannya dia cuma mengangkat bahu dan bilang:
“Kalau saya bilang ke kamu duluan, kamu bakal bilang nggak usah.”
Yang benar. Yang sangat menyebalkan karena benar.
Sumi berangkat jam enam pagi.
Dan Bimo menggendongnya ke mobil ibuku dan berdiri di sana terlalu lama sampai Sumi menepuk pipinya dua kali dan berkata “Bapak” dengan nada tidak sabar.
Dan waktu mobil itu belok di ujung gang, laki-laki itu berdiri diam di tengah gang selama lima menit.
Aku menghampirinya dari belakang dan memeluk pinggangnya dan menempelkan pipiku ke punggungnya.
“Mas.”
“Hm.”
“Dua hari doang.”
“Iya.”
“Kamu mau nangis?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Dan dia melepaskan tanganku dari pinggangnya, berbalik, dan memelukku balik — dagunya di atas kepalaku, satu tangan di belakang leherku.
“Dikit,” katanya.
Aku ketiduran di jam pertama.
Aku bangun di jam kedua karena mobilnya berhenti di rest area, dan karena ada jaket di badanku yang tidak ada di sana waktu aku tidur.
“Mas.”
“Turun.”
“Kenapa?”
“Kamu belum makan.”
“Aku sarapan jam enam.”
“Tiga suap.”
“MAS.”
“Sumi nangis di tengah. Kamu berhenti.”
Dan aku menutup wajahku dengan kedua tangan, dan Bimo turun dan memutari mobil dan membuka pintuku dan berdiri di situ dengan tangan terulur.
Dan aku memandangi tangan itu.
“Mas.”
“Apa.”
“Kamu buka pintu buat aku.”
“Iya.”
“Kamu nggak pernah buka pintu buat aku.”
Dan dia menggerakkan jarinya, dua kali, ke arah dirinya.
“Ayo, Ran.”
Dan aku turun dan langsung menggandeng lengannya dengan dua tangan dan menempel di sisinya sepanjang jalan ke warung rest area, dan aku tidak melepaskannya bahkan waktu dia harus memilih menu.
“Ran.”
“Hm.”
“Saya nggak bisa gerak.”
“Iya.”
“Ran.”
“Bilang aja mau apa, nanti aku ambilin.”
Dan laki-laki itu menghela napas dan memesan dua nasi rames dan membiarkan istrinya menggantung di lengan kanannya seperti tas.
Di jam ketiga aku bosan.
Dan aku ingin mencatat bahwa Bimo Prayoga yang bosan dan Ranti Wulansari yang bosan adalah dua fenomena yang sangat berbeda.
“Mas.”
“Ya.”
“Nyanyi.”
“Nggak.”
“Nyanyi dong.”
“Nggak, Ran.”
“Kamu bisa main gitar tapi nggak pernah nyanyi. Itu aneh.”
“Iya.”
“Sekali aja.”
“Nggak.”
Dan aku mengeluarkan ponselku dan menyalakan lagu, dan aku menyanyikannya sendiri, dengan suara yang menurut Yuni “kayak kucing kejepit pintu”, selama empat lagu penuh.
Dan di lagu kelima, di bagian reff, aku mendengar sesuatu.
Sangat pelan. Hampir tidak ada.
Dua kata.
Aku mematikan lagunya.
“MAS.”
“Nggak ada.”
“KAMU NYANYI.”
“Nggak.”
“AKU DENGER.”
“Ran, jalanan sepi, kamu halusinasi.”
Dan aku memukul lengannya dengan botol air mineral selama sisa perjalanan.
Aku melihat lautnya di antara dua bukit sekitar jam sepuluh.
Dan aku berteriak.
Aku benar-benar berteriak, di dalam mobil, dan Bimo hampir menabrak pembatas jalan.
“RAN.”
“MAS ITU LAUT.”
“IYA. SAYA TAU.”
“MAS ITU LAUT BANGET.”
“Ran, saya lagi nyetir—“
Dan aku menarik lengan kanannya dan mengguncangnya sampai mobilnya bergoyang, dan Bimo menepi dan mematikan mesin dan menutup matanya selama tiga detik.
“Ran.”
“Iya?”
Dan dia membuka matanya, dan menoleh, dan wajahnya adalah wajah orang yang baru saja hampir mati.
“Kamu belum pernah liat laut?”
“Pernah. Kelas enam SD.”
“Terus?”
“Terus nggak pernah lagi.”
Dan sesuatu di wajahnya berubah.
Dan dia menyalakan mesinnya lagi, dan tidak berbelok ke arah hotel.
Kami sampai di pantai sebelum sampai di hotel.
Jam setengah sebelas pagi, matahari sedang paling jahat, pasirnya panas sampai aku harus meloncat-loncat.
Dan aku tidak peduli.
Aku melepas sandalku dan berlari ke air dan berhenti tepat di garisnya, dan ombak pertama yang mengenai kakiku membuatku memekik seperti anak kecil.
Dan aku berbalik.
Bimo berdiri di pasir kering, sepuluh langkah di belakang, dengan tangan di saku dan kacamata hitam murah yang dia beli di rest area.
“MAS. SINI.”
“Nggak.”
“SINI.”
“Nanti celananya basah.”
“MAS BIMO PRAYOGA.”
Dan aku berlari ke pasir kering dan memegang pergelangan tangannya dengan dua tangan dan menariknya, dan dia tidak melawan sungguh-sungguh, yang membuat semuanya lebih menyebalkan lagi.
Dan air pertama yang mengenai kakinya membuatnya berhenti.
“Dingin.”
“Iya.”
“Saya kira anget.”
“MAS, INI LAUT, BUKAN AIR GALON.”
Aku menyiramnya sepuluh menit kemudian.
Dua tangan, penuh, tepat ke dada.
Dan aku langsung lari.
Aku ingin mencatat bahwa aku lari duluan, karena itu keputusan yang tepat, karena laki-laki berumur empat puluh dua tahun itu ternyata masih bisa berlari jauh lebih cepat dari yang kubayangkan.
“MAS JANGAN—“
“Sini.”
“MAS.”
“Ran.”
“AMPUN—“
Dan dia menangkapku di air setinggi lutut dengan satu lengan di pinggangku dan mengangkatku dari belakang seperti orang mengangkat karung beras.
Dan aku menendang udara sambil berteriak dan dia berjalan tiga langkah lebih dalam dan berhenti.
“Mas.”
“Iya.”
“Mas, jangan.”
“Kenapa.”
“MAS BIMO AKU CINTA KAMU.”
Dan dia menurunkanku.
Pelan. Sampai kakiku menyentuh pasir.
Dan tidak melepaskan lengannya dari pinggangku.
Aku berbalik di dalam pelukannya.
Basah sampai pinggang, rambut menempel di leher, dan matahari jam sebelas siang yang membuat mataku sipit.
Dan Bimo memandangiku dari jarak dua puluh senti dengan kacamata hitam murah yang sudah miring karena aku menariknya tadi.
“Curang,” katanya.
“Apanya?”
“Kamu bilang gitu cuma biar nggak dilempar.”
“Iya.”
“Ran.”
“Tapi bener juga, sih.”
Dan dia melepas kacamatanya, dan menyelipkannya ke kerah kausnya, dan menaruh tangannya di rahangku.
Dan menciumku di tengah laut jam sebelas siang di depan tiga orang pemancing dan satu ekor anjing.
“MAS.”
“Hm.”
“ADA ORANG.”
“Iya.”
“Kamu nggak malu?”
Dan dia berkata:
“Nggak.”
Dan menciumku lagi.
Kami sampai di hotel jam dua belas siang, basah, berpasir, dan dengan wajah dua orang yang jelas-jelas baru saja melakukan sesuatu yang memalukan di depan umum.
Resepsionisnya anak muda berumur dua puluhan yang sedang main ponsel.
Dia mengangkat kepalanya, melihat kami, dan menaruh ponselnya.
“Selamat siang. Ada reservasi?”
“Prayoga,” kata Bimo. “Dua malam.”
Dan anak itu mengetik sesuatu.
“Atas nama Bapak Bimo Prayoga, dua malam, kamar 214, permintaan khusus menghadap laut.”
Aku menoleh.
“Permintaan khusus?”
Dan resepsionis itu, yang jelas tidak menyadari bahwa dia sedang membocorkan rahasia negara, membaca dari layarnya:
“Iya, Bu. Ada catatan: ‘Tolong yang menghadap laut kalau ada. Terima kasih.’”
Aku menoleh ke arah suamiku.
Dan Bimo Prayoga sedang menatap tembok.
Tembok itu kosong. Tembok lobi hotel yang benar-benar kosong.
“Mas.”
“Hm.”
“Temboknya bagus, ya?”
“Iya.”
“Mas.”
“Kuncinya, Mas,” kata resepsionis itu, menyerahkan kunci logam dengan gantungan kayu.
Dan Bimo mengambilnya dan berjalan ke lift dengan kecepatan yang tidak wajar, dan aku mengejarnya sambil tertawa, dan telinganya merah sampai ke leher.
Di dalam lift, aku menempel di lengannya.
“Mas.”
“Ran, jangan.”
“Dua bulan lalu.”
“Ran.”
“Kamu pesen kamar menghadap laut buat aku dua bulan lalu.”
“Itu default hotelnya—“
“BOHONG.”
“Ran—“
“Bahu kamu naik.”
Dan pintu lift terbuka di lantai dua.
Dan Bimo keluar terlalu cepat, dan aku mengejar, dan aku menggandeng lengannya dengan dua tangan sepanjang lorong sampai kamar 214, dan aku tidak berhenti tersenyum sekali pun.
Kamarnya kecil.
Satu kasur, satu meja, satu lemari, satu kamar mandi, dan satu pintu kaca yang mengarah ke balkon selebar satu setengah meter.
Dan dari balkon itu kau bisa melihat laut.
Aku membuka pintunya dan berdiri di sana dan tidak bergerak selama mungkin dua menit.
Dan kemudian aku merasakan tangan di pinggangku, dan dagu di bahuku.
“Ran.”
“Hm.”
“Kamu suka?”
Dan aku memutar badan di dalam pelukannya dan menempelkan wajahku ke dadanya dan tidak menjawab selama sekitar sepuluh detik.
“Ran?”
“Sebentar.”
“Kamu nangis?”
“NGGAK.”
“Ran.”
“Sebentar, Mas.”
Dan dia diam, dan tangannya naik ke belakang kepalaku, dan kami berdiri di balkon selebar satu setengah meter itu untuk waktu yang lama.
“Mas.”
“Hm.”
“Kita ngapain dua hari?”
Dan Bimo berkata:
“Nggak ngapa-ngapain.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Serius?”
“Iya.”
“Nggak ada jadwal?”
“Nggak.”
“Nggak ada yang harus dikerjain?”
“Nggak.”
Dan aku menatap laki-laki itu — yang selama sembilan tahun bangun jam lima pagi setiap hari tanpa satu pun libur yang direncanakan.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu tau nggak itu kedengerannya kayak apa?”
“Apa?”
Dan aku berkata:
“Kayak mewah banget.”
Dia tidur siang jam satu.
Dan aku tidak.
Aku duduk bersila di kasur di sebelahnya dan aku memandanginya selama empat puluh menit seperti orang gila.
Dan di menit keempat puluh satu, tanpa membuka matanya, dia berkata:
“Ran.”
“Hm.”
“Kamu ngeliatin.”
“Iya.”
“Dari tadi.”
“Iya.”
“Kenapa.”
Dan aku berkata:
“Kan boleh. Kata kamu boleh.”
Dan Bimo membuka satu matanya.
Dan mengangkat lengannya.
Dan aku merangkak masuk ke bawah lengan itu dan menempelkan telingaku ke dadanya, dan dia menurunkan lengannya menutupi punggungku, dan aku tidur siang untuk pertama kalinya dalam dua tahun tiga bulan.
Bersambung ke Extra 2 — “Kamar 214”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi
- 53 Extra 1 — Dua Hari reading
- 54 Extra 2 — Kamar 214
- 55 Extra 3 — Pulang
- 56 Extra 4 — Rumah
- 57 Extra 5 — Konsultan
- 58 Extra 6 — Empat Warung