Chapter Five

Yuni Datang

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Yuni, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.400


“Gue ikut.”

“Nggak.”

“Gue ikut, Ran.”

“Yun, nggak.”

“Kenapa?” Yuni memakai jaketnya dengan gerakan orang yang sudah memutuskan sesuatu tiga jam yang lalu. “Warung umum, kan? Terbuka buat publik? Gue publik.”

“Lo bukan publik. Lo bencana alam.”

“Gue penasaran.”

“Penasaran apa?”

“Penasaran sama laki-laki yang bikin Ranti Wulansari bawa kotak nasi ke ruang ganti terus mandangin isinya kayak orang liat hasil USG.”

Aku melempar sisir ke arahnya. Meleset lagi. Aku benar-benar harus latihan.


Kesalahan pertamaku adalah membiarkan Yuni jalan di depan.

Kesalahan keduaku adalah lupa bahwa Yuni, dalam hidupnya, tidak pernah sekalipun memasuki sebuah ruangan secara diam-diam.

“PERMISI!”

Warung itu berisi lima orang. Kelimanya menoleh.

“Yun—“

“Ini yang mana?”

“Yun, please—“

“Yang itu?” Yuni menunjuk. Menunjuk. Dengan jari. “Yang lagi masak? Itu?”

Aku ingin mati.

Bimo mengangkat kepalanya dari wajan. Melihat Yuni. Melihatku. Kembali ke wajannya.

“Duduk,” katanya. “Yang deket kipas jangan.”

Yuni berhenti mendadak.

“...Kenapa nggak boleh deket kipas?”

“Angin langsung ke muka. Besok bangun leher kaku.”

Yuni menoleh ke arahku dengan wajah orang yang baru saja diberi tahu bahwa hantu itu nyata.

“Ran.”

“Diem.”

“Ran, dia—“

“Diem, Yun.”


Yang perlu kujelaskan tentang Yuni adalah ini: dia adalah orang paling baik yang kukenal, dan juga alat penghancur massal.

Dia menggoda semua orang. Bukan karena dia genit — meskipun iya — tapi karena itu caranya menguji orang. Yuni percaya bahwa kau bisa mengetahui isi seorang laki-laki dalam lima menit kalau kau menekan tombol yang tepat.

Dan malam itu, dia menekan semuanya sekaligus.

“Mas.”

“Ya.”

“Mas single?”

“Iya.”

“Kok bisa?”

“Bisa aja.”

“Nggak laku, ya?”

“Kayaknya.”

“Mas tinggal di sini?”

“Belakang.”

“Sendirian?”

“Sama Mamad.”

“Mamad tuh yang mana?”

“MBAK SAYA MAMAD!” — dari belakang, dengan antusiasme yang tidak diminta siapa pun.

“Ganteng juga.”

“MAKASIH MBAK!”

“MAD,” kata Bimo.

“KAMAR MANDI, BANG. SIAP.”

Yuni menoleh ke arahku lagi.

“Ran, ini tempat apaan sih sebenernya.”

“Aku juga nggak tahu.”


Dan kemudian mulailah bagian yang tidak kuduga akan menggangguku.

Yuni menggeser kursinya lebih dekat ke meja panjang. Menopang dagu. Dan mulai bekerja dengan serius.

“Mas Bimo.”

“Ya.”

“Aku boleh minta sesuatu?”

“Boleh.”

“Yang manis-manis.”

“Ada kolak.”

“Bukan itu maksudnya.”

“Ada bubur kacang.”

“Mas.”

“Ada pisang goreng, tapi harus digoreng dulu, sepuluh menit.”

Yuni menatapnya. Lalu mulai tertawa — tertawa yang keras, yang khas dia, yang membuat dua pelanggan lain ikut menoleh.

“ANJIR.”

“Yun.”

“Ran, ini beneran. Ini nggak dibuat-buat.”

“Udah kubilang.”

“Gue pikir lo lebay.”

“Aku nggak pernah lebay.”

“Lo selalu lebay.”

Yuni memutar kursinya ke arah Bimo lagi, dan kali ini dia melakukan sesuatu yang membuat perutku mengeras tanpa izinku.

Dia menyentuh lengan Bimo.

Ujung jari. Ringan. Persis seperti yang kulakukan di malam pertama.

“Mas tangannya kuat, ya.”

Dan aku — aku, yang sudah dua minggu memperlakukan warung ini seperti taman bermain pribadiku, yang menggoda laki-laki itu setiap malam tanpa satu pun niat serius — merasakan sesuatu yang panas dan tidak masuk akal naik dari perut ke tenggorokanku.

Aku menaruh gelasku terlalu keras di meja.

Bunyinya lebih nyaring dari yang kuinginkan.

Yuni menoleh.

Aku tersenyum. “Sori. Licin.”

Yuni menatapku selama satu detik penuh.

Lalu, pelan-pelan, senyumnya berubah jadi senyum yang paling menyebalkan yang pernah kulihat di wajah manusia.

“Ohhh,” katanya.

“Diem, Yun.”

“Gue belum ngomong apa-apa.”

“Aku tahu apa yang mau lo omongin.”

“Gue cuma bilang ohhh.”

“Yun.”

“Ohhhhhh.”

Aku menendang kakinya di bawah meja. Dia menendang balik. Kami berdua terlalu tua untuk ini dan kami tidak peduli.

Dan Bimo — yang selama seluruh kejadian ini berdiri di balik meja dengan gayung kuah di tangan, menyaksikan dua perempuan dewasa saling menendang seperti anak SD — berkata:

“Kalian belum makan.”


Yang lucu adalah, setelah itu, Yuni berhenti menggodanya.

Berhenti total. Seperti orang yang menutup buku.

Dia mengobrol dengan Bimo soal hal-hal biasa — harga cabai, kucing yang belum punya nama, anak-anak ojek online yang selalu bon dan tidak pernah bayar. Dia tertawa. Dia bahkan membantu mengangkat piring kotor, yang seumur hidupnya belum pernah dia lakukan sukarela di mana pun.

Dan menjelang subuh, saat kami keluar bersama ke gang yang dingin, Yuni tidak bicara selama satu blok penuh.

Itu tidak wajar. Yuni tidak pernah diam satu blok.

“Kenapa?” tanyaku akhirnya.

“Nggak apa-apa.”

“Yun.”

“Gue lagi mikir.”

“Lo mikir? Itu bahaya.”

Yuni tidak membalas leluconku, dan itu jauh lebih mengkhawatirkan lagi.

Kami jalan setengah blok lagi.

“Ran.”

“Hm.”

“Dia nggak sekali pun ngeliatin gue.”

Aku menoleh. “Maksudnya?”

“Gue duduk di situ tiga jam. Gue pegang tangannya. Gue pakai baju ini.” Yuni menunjuk dirinya sendiri, dari atas ke bawah, dengan gerakan yang tidak sombong sama sekali — cuma menyatakan fakta, dan faktanya memang begitu, karena Yuni adalah perempuan tercantik di Aurora dan semua orang tahu itu, termasuk Yuni. “Dia nggak sekali pun ngeliatin gue lebih dari dua detik.”

“Ya emang dia gitu orangnya. Dia nggak ngeliatin siapa-siapa.”

“Itu dia.”

Yuni berhenti berjalan.

“Ran, dia ngeliatin lo.”

Aku juga berhenti.

“Nggak.”

“Iya.”

“Yun—“

“Waktu lo naruh gelas kekencengan tadi.” Yuni menatapku lurus. “Dia langsung noleh. Setengah detik. Terus balik lagi ke kuahnya kayak nggak terjadi apa-apa.”

“Itu karena bunyinya keras.”

“Gue ketawa lebih keras dari itu tiga kali dan dia nggak noleh sekali pun.”

Aku membuka mulut.

Tidak ada yang keluar.

“Terus,” lanjut Yuni, “waktu lo ke kamar mandi tadi. Lo tahu dia ngapain?”

“Apa.”

“Dia berhenti masak.”

“Yun, jangan lebay.”

“Gue nggak lebay, Ran. Gue duduk depan dia. Kompornya nyala, wajannya di tangan, dan dia berhenti selama mungkin lima detik sampai lo keluar lagi dari kamar mandi.” Yuni memasukkan tangan ke saku jaketnya. “Terus dia lanjut masak kayak nggak ada apa-apa.”

Gang itu sunyi. Cuma ada bunyi air menetes dari talang, dan suara motor jauh, dan detak jantungku sendiri yang tiba-tiba jadi terlalu jelas.

“Yun.”

“Hm.”

“Aku cuma bercanda selama ini.”

“Gue tahu.”

“Beneran. Aku cuma iseng. Aku nggak—“

“Ran.” Yuni menoleh, dan wajahnya adalah wajah yang belum pernah kulihat dari dia sebelumnya. “Gue tahu lo cuma bercanda.”

“Terus?”

“Terus masalahnya, dia nggak.”


Aku pulang. Aku mandi. Aku berbaring.

Dan aku melakukan hal yang selalu kulakukan ketika ada sesuatu yang tidak bisa kuhitung: aku menghitungnya berulang-ulang sampai angkanya berubah jadi angka yang bisa kuterima.

Dia baik ke semua orang.

Itu benar. Aku sudah melihatnya. Bukti empirisnya banyak sekali.

Yuni salah lihat.

Itu mungkin. Warung remang. Yuni juga baru minum dua gelas.

Aku bukan orang yang begituan.

Ini yang paling penting, dan ini yang kuulang paling banyak.

Karena begini: aku tahu bagaimana laki-laki memandangku. Aku sudah tiga tahun dipandang dengan cara-cara tertentu, dan aku sudah punya nama untuk setiap jenisnya. Ada yang lapar. Ada yang penasaran. Ada yang merasa berhak.

Semua jenis itu punya satu kesamaan: aku selalu tahu apa yang mereka inginkan dariku, dan karena aku tahu, aku selalu bisa mengaturnya.

Yang tidak kupunya adalah nama untuk laki-laki yang berhenti masak selama lima detik lalu tidak melakukan apa-apa tentang itu.

Aku tidak punya nama untuk itu, dan aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku, dan itu membuatku takut dengan cara yang tidak masuk akal.

Karena kalau aku tidak tahu harganya, aku tidak tahu apakah aku sanggup membayarnya.


Malam berikutnya aku datang lagi. Tentu saja.

Aku duduk di kursi yang sudah jadi kursiku. Bimo menaruh mangkuk di depanku tanpa aku memesan apa-apa, seperti biasa.

Dan aku, karena aku pengecut yang menyamar jadi orang berani, melakukan satu-satunya hal yang kutahu caranya.

“Mas.”

“Ya.”

“Yuni cantik, ya?”

Bimo tidak berhenti mengiris.

“Iya.”

Sesuatu di perutku turun.

“...Oh.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku mengaduk mangkukku. Terlalu lama. Sampai isinya jadi bubur yang tidak jelas bentuknya.

Lalu Bimo berkata, tanpa menoleh, dengan nada seorang laki-laki yang sedang menyampaikan informasi tentang stok cabai:

“Tapi dia nggak bikin saya numpahin air.”

Pisau itu terus mengiris.

Aku duduk di sana dengan sendok yang berhenti di udara, dan gang di luar mulai terang, dan aku sadar bahwa aku sudah dua menit tidak bernapas dengan benar.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu barusan ngomong apa?”

“Nggak ada.”

“Mas.”

“Kamu belum makan.”


Bersambung ke Bab 6 — “Kalau Merem”