Chapter Forty Four

Sikat Gigi

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.500


Kami tidur sampai jam dua siang.

Bukan tidur yang direncanakan. Bimo tertidur di lantai keramik sekitar jam setengah tujuh pagi, dengan kepala masih di dadaku dan punggung ke kaki meja panjang, dan aku tidak berani bergerak selama empat puluh menit.

Lalu aku menggeser tubuhnya pelan-pelan, dan dia setengah bangun, dan aku bilang “kamar,” dan dia menurut seperti anak kecil.

Dan kami tidur di kasur yang jarang dipakai itu sampai jam dua siang.

Dan Mamad menjalankan warung sendirian selama sembilan jam.


Aku bangun duluan.

Dan aku berbaring di sana selama beberapa menit, memandangi langit-langit kamar sempit itu, dan aku mendengarkan.

Bunyi warung dari balik pintu. Piring. Kompor. Suara Mamad yang berteriak menanyakan sesuatu kepada seseorang.

Dan napas di sebelahku.

Dalam. Lambat. Dengan jeda kecil sebelum tarikan berikutnya.

Aku menoleh.

Dan aku melihat wajah laki-laki itu untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua hari dari jarak dua puluh senti.

Bengkak. Rambut berantakan. Bekas garis bantal di pipi.

Dan tidak ada apa-apa di wajahnya.

Aku ingin sangat jelas tentang apa yang kumaksud: selama lima bulan, laki-laki ini selalu punya sesuatu di wajahnya. Bahkan waktu tidur. Ada sesuatu yang ditahan, ada rahang yang tidak sepenuhnya kendur, ada dahi yang tidak sepenuhnya rata.

Hari itu tidak ada.

Dia terlihat berumur dua puluh delapan tahun.

Dan aku berbaring di sana dan memandanginya sampai jam dua siang.


Dia bangun dan langsung duduk.

Refleks. Cepat. Seperti orang yang terlambat.

“Jam berapa—“

“Dua.”

“Dua?”

“Siang.”

Dan aku melihat seluruh sistem di kepalanya menyala sekaligus: warung, kompor, stok, Mamad, pelanggan, semuanya.

“Ran, warung—“

“Buka.”

“Siapa yang—“

“Mamad.”

Dan Bimo berhenti.

“Mamad sendirian?”

“Dari jam lima pagi.”

Dan dia menatap pintu kamar, lalu menatapku, dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat dalam lima bulan.

Dia bingung.

“Sembilan jam?”

“Iya.”

“Sendirian?”

“Iya, Mas.”

Dan aku duduk, dan aku memegang tangannya.

“Dan warungnya masih berdiri,” kataku.


Aku perlu mencatat apa yang terjadi selanjutnya karena ini adalah salah satu momen terpenting di seluruh cerita ini, dan hampir tidak ada yang terjadi di dalamnya.

Bimo duduk di tepi kasur selama sekitar dua menit.

Dan dia tidak berdiri.

Dia tidak berlari ke warung. Dia tidak memeriksa stok. Dia tidak menghitung berapa yang hilang dari sembilan jam yang tidak dia awasi.

Dia duduk di tepi kasur, dengan tanganku di tangannya, dan memandangi lantai.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu lagi ngapain?”

Dan dia berkata:

“Lagi ngerasa aneh.”

“Aneh gimana?”

Dan Bimo menoleh.

“Ada yang jalan tanpa saya,” katanya.


Kami keluar jam tiga.

Dan Mamad — yang sedang mengangkat panci dengan wajah orang yang sudah sembilan jam tidak duduk — melihat kami dan langsung menaruh pancinya.

“BANG.”

“Mad.”

“Bang, saya nggak ngerti resep sotonya jadi saya bilang habis—“

“Nggak apa-apa.”

“Terus tadi ada yang minta nasi goreng pedes, terus saya bikin, terus dia bilang kurang pedes, terus saya tambahin, terus dia bilang kepedesan—“

“Mad.”

“—terus saya kasih teh manis gratis, Bang, maaf, saya nggak tau harus gimana—“

Mad.

Dan Mamad berhenti.

Dan Bimo berjalan ke arahnya.

Dan menaruh tangannya di bahu anak itu.

“Bagus,” katanya.

Dan Mamad — sembilan belas tahun, yang sudah sembilan jam berdiri, yang sudah dua puluh dua hari menonton bosnya membuang piring kedua setiap malam —

menangis.

Di tengah warung, jam tiga sore, di depan empat pelanggan.

“Bang, saya kira Abang—“

“Iya.”

“Saya kira Abang nggak balik lagi.”

Dan Bimo memeluk anak itu, satu tangan, canggung sekali, dengan cara laki-laki yang tidak pernah memeluk siapa pun.

“Saya di sini,” katanya.


Yang terjadi malam itu adalah sesuatu yang tidak kami rencanakan.

Warung ramai. Malam Rabu, seharusnya sepi, tapi ramai.

Dan aku menyadari kenapa sekitar jam sembilan.

Kabar sudah menyebar.

Bukan kabar tentang Ringan — tidak ada satu pun orang di gang itu yang tahu apa pun tentang itu, dan tidak akan tahu selama berbulan-bulan.

Kabar bahwa aku kembali.

Dan orang-orang di gang itu — Pak Har, Pak Sunar, Bu Yatmi, anak-anak ojol, Mbak Ayu dan perempuan-perempuan Aurora yang datang jam empat pagi — mereka datang malam itu tanpa berjanji satu sama lain, dan mereka duduk di warung itu lebih lama dari biasanya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyebutkan apa pun.

Pak Har memesan nasi rames dan bertanya bagaimana kuliahku.

Mbak Ayu memesan bubur dan bilang aku kelihatan kurus.

Pak Sunar minum teh tawarnya dan makan ubi rebusnya dan pulang setelah empat puluh menit, seperti biasa, tanpa bicara.

Dan Bu Yatmi masuk jam sebelas malam, menaruh sepiring tempe mendoan di meja panjang, dan berkata:

“Buat dua-duanya.”

Dan pergi.


Kami menutup warung jam dua belas.

Dan waktu kursi terakhir sudah di atas meja dan lampu dapur sudah mati, Bimo berkata:

“Ran.”

“Ya?”

“Sebentar.”

Dan dia masuk ke belakang.

Dan keluar tiga menit kemudian dengan kantong plastik minimarket.


“Apa itu?”

“Buka.”

Aku membukanya.

Sikat gigi.

Merah muda.

Baru — masih dalam kemasan, dengan segel plastik yang belum dibuka.

Dan aku memegangnya dan aku menoleh ke meja panjang, ke tempat aku menaruh yang lama dua puluh dua hari lalu, dan tempat itu kosong.

“Yang lama mana?”

“Di kamar mandi.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Kamu nggak buang?”

“Nggak.”

“Mas, aku bilang—“

“Kamu bilang jangan dibuang.”

Dan aku berdiri di tengah warung yang gelap dengan sikat gigi baru di tangan.

“Terus kenapa kamu beli lagi?”

Dan Bimo berkata:

“Karena yang lama bulunya udah mekar.”


Aku menangis, tentu saja.

Dan Bimo tidak panik lagi seperti dulu. Dia sudah belajar. Dia menarikku dan menaruh tanganku di dadanya dan berdiri di situ sampai selesai.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu ganti sikat gigi orang.”

“Iya.”

“Kamu inget kapan bulunya mekar.”

“Iya.”

“Kamu tuh nyebelin banget.”

“Iya.”

Dan aku memukul dadanya dengan telapak tangan, tanpa tenaga, dan dia menangkap tanganku dan menahannya di sana.

Dan kemudian dia berkata sesuatu yang membuatku berhenti bernapas.

“Ran.”

“Ya.”

“Jaketnya.”

“Kenapa?”

Dan dia berkata:

“Ambil lagi.”


Aku memakainya malam itu.

Dan aku memakainya setiap malam setelah itu, dan tidak ada satu pun dari kami yang pernah membicarakannya lagi.


Yang terjadi berikutnya terjadi jam satu pagi, di kamar belakang, dalam gelap.

“Ran.”

“Hm.”

“Besok saya buka tasnya.”

Aku membuka mataku.

Kamar itu gelap. Cuma ada cahaya oranye kotor dari jendela kecil yang menghadap tembok.

“Tas yang di gudang?”

“Iya.”

Aku tidak bergerak.

“Kamu yakin?”

“Nggak.”

Dan aku berbalik menghadapnya, meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya.

“Terus kenapa kamu mau buka?”

Dan Bimo diam beberapa detik.

“Karena kalau saya nunggu sampai yakin,” katanya, “saya nggak bakal buka seumur hidup.”


“Mas.”

“Ya.”

“Aku ada di sana?”

“Kalau kamu mau.”

“Aku mau.”

Dan aku merasakan tangannya mencari tanganku di bawah selimut, dan menemukannya, dan menggenggamnya.

“Ran.”

“Hm.”

“Kalau isinya bikin kamu benci saya—“

“Mas.”

“Saya serius. Ada hal-hal di dalam sana yang saya sendiri belum pernah baca lagi.”

Dan aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Aku udah dua puluh dua hari nyoba benci kamu,” kataku. “Aku gagal total.”

Hening.

“Dan aku udah dengar bagian yang paling buruk, Mas.”

“Belum.”

“Aku udah denger kamu ngitung empat puluh satu ribu orang jam empat pagi.” Aku mendekat. “Kalau itu nggak bikin aku pergi, nggak ada yang bisa.”


Dan kemudian dia mengucapkannya.

Aku tidak menyiapkan diri. Tidak ada yang menyiapkan diri untuk hal-hal seperti itu.

“Sayang.”

Aku berhenti bergerak.

Kamar itu gelap. Aku tidak bisa melihat wajahnya.

“...Mas.”

“Hm.”

“Kamu bilang apa?”

Dan tidak ada jawaban.

“Mas.”

“Nggak ada.”

“MAS.”

“Tidur, Ran.”

Dan aku duduk di kasur dan menyalakan lampu ponselku dan menyorotkannya ke wajahnya, dan Bimo Prayoga menutup wajahnya dengan kedua tangan seperti orang yang tertangkap.

“KAMU BILANG SAYANG.”

“Nggak.”

“AKU DENGER.”

“Matiin lampunya.”

“ULANG.”

“Nggak.”

“Mas Bimo Prayoga, ULANG.”

Dan dia menarik selimut sampai ke atas kepalanya, dan aku menariknya kembali, dan kami bertengkar tentang selimut selama sekitar dua menit seperti dua orang berumur dua belas tahun.

Dan akhirnya dia berkata, dari balik selimut, dengan suara teredam:

“Lima bulan saya nahan itu.”

Aku berhenti menarik.

“...Apa?”

“Lima bulan.” Dia menurunkan selimutnya sedikit. “Dari bulan kedua.”

“Bulan kedua?”

“Iya.”

“Kenapa nggak dibilang?”

Dan Bimo berkata:

“Karena kalau saya bilang, kamu bakal tau.”


Aku mematikan lampu ponselku.

Dan aku berbaring lagi, dan aku menaruh dahiku di bahunya, dan aku berkata:

“Mas.”

“Ya.”

“Sekali lagi.”

“Ran—“

“Sekali lagi aja.”

Dan warung itu sunyi, dan gang itu sunyi, dan kamar sempit itu sunyi.

Dan kemudian, sangat pelan, ke rambutku:

“Sayang.”

Dan aku menangis lagi.

Untuk kelima kalinya hari itu.

Dan Bimo tertawa — pelan, di dalam gelap, dengan dada yang bergerak di bawah dahiku — dan berkata:

“Kamu ini nangis terus.”

“Kamu yang bikin.”

“Iya.”

“Kamu jahat.”

“Iya.”

“Aku sayang kamu.”

Dan dia berhenti tertawa.

Dan tangannya naik ke belakang kepalaku dan menahannya di sana, dan dia tidak berkata apa-apa selama waktu yang lama.

Dan waktu akhirnya dia bicara, suaranya serak.

“Saya juga,” katanya.

Dan kemudian:

“Dari kamu masuk bawa sepatu di tangan.”


Aku bangun jam enam pagi.

Bimo sudah tidak ada di kasur.

Aku keluar ke warung dan dia tidak ada di sana juga. Kompor mati. Kursi masih di atas meja.

Aku ke gudang.

Dan aku menemukannya berdiri di depan rak paling atas.

Tidak mengambil apa pun. Cuma berdiri, dengan kepala mendongak, memandangi tas ransel hitam yang berdebu tebal.

Aku berdiri di ambang pintu.

“Mas.”

Dia tidak menoleh.

“Ran.”

“Iya?”

Dan dia berkata:

“Saya nggak bisa raih.”

Aku mengerutkan kening.

“Kamu lebih tinggi dari aku, Mas.”

“Bukan itu maksudnya.”

Dan aku mengerti.

Dan aku berjalan masuk ke gudang, dan aku berdiri di sebelahnya, dan aku mengambil kursi plastik dari sudut dan menaruhnya di bawah rak.

“Ya udah,” kataku. “Aku yang ambil.”

Dan aku naik ke kursi itu, dan aku menarik tas itu keluar, dan debunya jatuh ke rambutku dan ke bahuku.

Dan tas itu berat.

Jauh lebih berat dari dua kilo.

Aku turun.

Dan aku menyerahkannya kepada laki-laki itu dengan dua tangan.

Dan Bimo menerimanya.


Bersambung ke Bab 45 — “Empat Tahun Dalam Satu Tas”