Chapter Thirty Seven

Mobil Hitam

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Damar, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.600


Aku melihat mobil itu sebelum aku melihat orangnya.

Jam sebelas pagi hari Kamis. Aku sedang di kontrakan, mengerjakan tugas akuntansi biaya, dan aku baru mau berangkat ke warung.

Dan waktu aku masuk ke gang, mobil itu sudah ada di sana.

Hitam. Besar. Dengan pelat yang bersih dan kaca yang gelap dan bodi yang tidak punya satu pun goresan.

Berhenti tepat di depan Warung Sembilan, di gang yang lebarnya cuma cukup untuk satu mobil, memaksa dua motor harus naik ke trotoar untuk lewat.

Dan aku berhenti berjalan.

Karena aku ingat.

Mobilnya bagus banget, Bang. Item. Yang gede.

Mamad. Empat bulan lalu. Malam waktu aku sakit.


Aku masuk ke warung.

Dan aku tahu, dalam waktu kurang dari dua detik, bahwa ada yang salah.

Bukan karena ada orang asing di dalamnya. Karena Mamad berdiri di sudut, memegang sapu, tidak menyapu.

Dan karena Bimo berdiri di balik meja panjang dan tidak melakukan apa-apa.

Bukan mengiris. Bukan mengelap. Bukan memasak.

Berdiri.

Dengan kedua tangan di kayu, dan bahu yang tidak bergerak, seperti sesuatu yang dipaku ke lantai.

Dan di kursi di depannya, ada laki-laki.


Umurnya sekitar tiga puluhan akhir. Kemeja putih tanpa dasi, lengan digulung dua kali dengan sangat rapi. Jam tangan yang kuputuskan untuk tidak memikirkan harganya.

Dia duduk dengan santai, dengan satu kaki disilangkan, dengan dua tangan di pangkuan.

Dan dia sedang tersenyum.

“—jadi saya bilang ke mereka, dia nggak bakal jawab telepon. Dia nggak bakal buka email. Kalau mau ketemu, ya datang.”

Bimo tidak menjawab.

“Dan mereka bilang: ‘Emang dia di mana?’” Laki-laki itu tertawa kecil. “Dan saya bilang: ‘Nggak tau. Dua tahun saya nggak tau.’”

Hening.

“Sampai tiga bulan lalu.”


Pintu berbunyi di belakangku.

Dan semua orang menoleh.

Bimo melihatku, dan sesuatu terjadi di wajahnya — sesuatu yang sangat cepat, yang kalau aku tidak sudah empat bulan belajar membaca laki-laki ini, aku pasti melewatkannya.

Panik.

Bukan panik yang biasa. Panik yang jauh lebih dalam, yang lewat dalam seperempat detik, dan kemudian hilang di bawah wajah datar yang sudah kukenal.

“Ran.”

“...Mas.”

“Kamu balik dulu.”

Dan laki-laki di kursi itu berbalik.

Dan menatapku.

Dan aku melihat matanya bergerak — ke wajahku, lalu ke bawah, lalu kembali ke atas — dengan cara yang sudah tiga tahun kukenali dan sudah empat bulan tidak kualami.

Menilai.

Dan kemudian dia tersenyum lagi, dan senyumnya bagus, dan itu jauh lebih buruk.

“Oh,” katanya. “Halo.”


“Ran, balik dulu.”

“Mas—“

“Ran.”

Dan aku berdiri di ambang pintu dengan tas kuliahku di bahu, dan aku menoleh ke arah laki-laki di kursi itu, dan aku melihat sesuatu yang membuatku memutuskan untuk tidak pergi.

Dia menikmatinya.

Bukan dengan cara yang jahat. Bukan dengan seringai. Tapi dia duduk di kursi itu dengan santai dan menyaksikan Bimo mencoba mengeluarkanku dari ruangan, dan ada sesuatu di wajahnya yang mengatakan bahwa dia sudah tahu ini akan terjadi.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Saya udah mau pulang, kok.”

“Damar.”

Satu kata.

Dan aku hampir kehilangan keseimbangan.

Karena aku belum pernah — dalam empat bulan, dalam ratusan jam, dalam entah berapa ratus percakapan — belum pernah sekali pun mendengar Bimo mengucapkan sesuatu dengan nada seperti itu.

Bukan marah.

Peringatan.

Damar mengangkat kedua tangannya, dengan gerakan orang yang menyerah dalam permainan yang dia menangkan.

“Iya, iya.” Dia berdiri. Merapikan celananya. “Saya cuma nyapa.”


Dia berjalan ke arahku.

Dan aku tidak mundur, karena aku sudah tiga tahun berlatih tidak mundur.

“Damar,” katanya, dan mengulurkan tangan.

Aku menyalaminya.

“Ranti.”

“Ranti.” Dia mengangguk, seperti sedang mencatat sesuatu. “Kenal Bimo dari mana?”

“Dari warung.”

“Pelanggan?”

“Iya.”

“Oh, bagus.” Dia tersenyum. “Warungnya rame, ya?”

“Lumayan.”

“Bagus. Bagus.” Dia melirik ke sekeliling ruangan — meja, kursi, kipas, kompor. “Dia emang gitu. Apa pun yang dia pegang jadi jalan.”

Dan kemudian dia berkata, dengan nada yang benar-benar ringan:

“Dulu juga gitu.”


Warung itu jadi sangat sunyi.

“Damar.”

“Iya, Bim?”

“Pulang.”

Dan Damar menoleh ke belakang, ke arah laki-laki yang masih berdiri di balik meja panjang dengan kedua tangan di kayu.

Dan dia memandanginya beberapa detik.

Dan sesuatu di wajahnya berubah — untuk pertama kalinya, senyum itu turun.

“Bim.”

“Pulang, Damar.”

“Empat bulan lagi.”

Bimo tidak menjawab.

“Empat bulan, terus semuanya kelar. Statute of limitations buat gugatan perdatanya lewat.” Damar bicara pelan sekarang, tanpa senyum. “Dan setelah itu nggak ada yang bisa dilakuin siapa-siapa. Termasuk kamu.”

Aku memegang tali tasku terlalu erat.

“Saya bilang pulang.”

“Bim, dengerin—“

PULANG.

Dan bunyi itu memenuhi seluruh ruangan.

Mamad menjatuhkan sapunya.

Dan aku berdiri di ambang pintu dan menyaksikan seorang laki-laki yang selama empat bulan tidak pernah mengangkat suaranya kecuali dua kali, dan dua-duanya kepadaku, berteriak kepada orang asing di warungnya sendiri.


Damar mengangguk pelan.

Dia mengambil tasnya dari kursi.

Dan berjalan ke pintu, dan berhenti tepat di sebelahku.

“Mbak Ranti.”

“Iya?”

Dan dia berkata, dengan suara yang sangat pelan, dengan nada yang sopan sekali:

“Tolong bujuk dia.”

“Bujuk apa?”

Damar tersenyum.

“Dia bakal cerita sendiri,” katanya. “Atau nggak.”

Dan dia keluar.


Mobil itu pergi jam satu siang.

Warung tetap tutup.

Bimo tidak membuka pintu depan. Dia mengunci gembok dari dalam dan duduk di kursi belakang, dan Mamad — yang biasanya bicara terus — mengambil ember dan pergi ke belakang tanpa disuruh.

Dan aku duduk di meja panjang.

Dan aku menunggu.

Satu jam.

Dua jam.

Jam tiga sore, aku berdiri, membuat teh, dan menaruhnya di depannya.

Dia tidak menyentuhnya.

Jam empat, aku duduk di kursi di sebelahnya.

Tidak berkata apa-apa.

Jam lima, aku menaruh tanganku di atas tangannya.

Dan dia menggenggamnya, sangat erat, sampai sakit.

Dan tidak berkata apa-apa.


Jam enam sore, aku bertanya.

“Mas.”

“Ya.”

“Aku nggak nanya siapa dia.”

Bimo tidak bergerak.

“Aku nggak nanya kalian kenapa.” Aku memandangi tangan kami. “Aku nggak nanya apa-apa tentang empat bulan lagi.”

Hening.

“Aku cuma mau nanya satu hal.”

“Nanya.”

Dan aku mengangkat kepalaku.

“Kamu aman, nggak?”

Bimo menoleh.

Dan wajahnya — untuk pertama kalinya dalam empat bulan — benar-benar terlihat seperti wajah laki-laki berumur tiga puluh empat tahun yang sangat, sangat lelah.

“Iya,” katanya.

“Beneran?”

“Iya, Ran.”

“Kamu nggak lagi dikejar orang?”

“Nggak.”

“Nggak ada yang mau nyakitin kamu?”

Dan dia berkata, dengan nada yang membuatku ingin memeluknya sampai tulangnya berbunyi:

“Nggak ada, Ran. Nggak ada yang mau nyakitin saya.”

Dan kemudian, sangat pelan:

“Mereka cuma mau saya balik.”


Aku tidak bertanya balik ke mana.

Aku ingin itu tercatat, karena aku menghabiskan berminggu-minggu setelahnya bertanya-tanya apakah semuanya akan berbeda kalau aku bertanya malam itu.

Aku tidak bertanya.

Aku menariknya ke bahuku dan menaruh tanganku di rambutnya dan kami duduk di dua kursi di warung yang tutup sampai jam delapan malam.

Dan sekitar jam tujuh, dia berkata:

“Ran.”

“Ya.”

“Kamu inget saya pernah bilang ada hal-hal yang saya belum ceritain?”

Sesuatu di perutku dingin.

“Iya.”

“Dan saya bilang suatu hari nanti saya harus ceritain.”

“Iya.”

Dan dia berkata:

“Saya masih belum siap.”

Aku menutup mataku.

“Ya udah.”

“Ran—“

“Ya udah, Mas.”

“Kamu marah?”

Dan aku berpikir sebelum menjawab, karena aku sudah cukup lama bersama laki-laki ini untuk tahu bahwa jawaban asal-asalan akan dia baca dalam dua detik.

“Enggak,” kataku.

“Bohong.”

“Nggak bohong.” Aku menegakkan badan dan menatapnya. “Aku takut. Itu beda.”


Aku pulang jam sembilan malam.

Dan aku tidak tidur.

Aku duduk di lantai kontrakanku dengan ponsel di tangan, dan aku membuka aplikasi catatan, dan aku menulis satu baris:

Damar.

Dan aku menatapnya.

Nama depan. Tanpa nama belakang. Tanpa perusahaan. Tanpa apa pun.

Aku mengetik “Damar” di mesin pencari dan mendapat empat juta hasil.

Aku menutup ponselku.

Dan aku berbaring, dan aku memikirkan tiga hal yang kudengar hari itu, dan aku memutarnya berulang-ulang sampai jam tiga pagi.

Satu. ”Dua tahun saya nggak tau. Sampai tiga bulan lalu.”

Berarti Damar menemukan Bimo tiga bulan lalu. Dan mobil itu datang empat bulan lalu, malam waktu aku sakit.

Berarti Mamad melihat mobilnya sebelum Damar menemukan Bimo.

Berarti Damar mencari selama beberapa waktu sebelum yakin.

Dua. ”Apa pun yang dia pegang jadi jalan. Dulu juga gitu.”

Dulu.

Tiga. Dan ini yang membuatku duduk kembali di kasur jam tiga pagi.

”Empat bulan lagi, terus semuanya kelar. Statute of limitations buat gugatan perdatanya lewat.”

Aku mengambil ponselku.

Dan aku mengetik: statute of limitations gugatan perdata Indonesia.

Dan aku membaca selama empat puluh menit.

Dan aku menemukan sesuatu yang membuat tanganku dingin.

Karena batas kedaluwarsa gugatan perdata bukan angka yang sama untuk semua hal. Tergantung jenis perkaranya. Tergantung kapan dihitungnya.

Dan yang paling umum disebut orang ketika bicara “statute of limitations empat bulan lagi” bukan perkara biasa.

Itu perkara yang punya jadwal.

Yang berarti ada proses yang sedang berjalan.

Yang berarti ada orang yang sedang menuntut sesuatu, kepada seseorang, tentang sesuatu yang terjadi beberapa tahun lalu.

Dan yang berarti bahwa laki-laki yang selama empat bulan memasakkan aku makanan jam empat pagi bukan sedang bersembunyi dari masa lalunya.

Dia sedang menunggu.

Menunggu sesuatu lewat.


Aku datang ke warung jam tujuh pagi.

Bimo sedang membuka pintu depan, menurunkan gembok, dengan gerakan yang sama seperti empat tahun terakhir.

Dan dia menoleh dan melihatku.

Dan dia tahu.

Aku tidak tahu bagaimana. Aku belum berkata apa-apa. Aku baru berdiri di ujung gang.

Tapi laki-laki itu melihat wajahku dan dia tahu.

“Ran.”

“Mas.”

Dan dia berdiri di depan pintu warungnya dengan gembok di tangan.

“Kamu nyari?”

Dan aku menjawab jujur, karena aku sudah tidak bisa berbohong pada laki-laki ini tentang apa pun.

“Iya,” kataku.

“Ketemu?”

“Enggak.”

Dan Bimo menutup matanya, dan menghela napas, dan aku tidak bisa membedakan apakah itu lega atau sesuatu yang lain.

“Mas.”

“Ya.”

“Aku nggak bakal nyari lagi.”

Dia membuka matanya.

“Kenapa?”

Dan aku berjalan mendekat, dan berdiri di depannya, dan berkata:

“Karena Bu Yatmi bilang ada dua cara buat tau sesuatu tentang orang. Dikasih tau, atau dicari sendiri.”

Bimo tidak bergerak.

“Yang pertama bikin deket,” kataku. “Yang kedua bikin jauh.”

Dan laki-laki itu berdiri di depan pintu warungnya, jam tujuh pagi, dengan gembok di tangan.

Dan dia berkata:

“Kasih saya waktu.”

“Berapa lama?”

Dan dia menjawab:

“Sampai saya bisa ngomong tanpa kamu jadi benci saya.”


Bersambung ke Bab 38 — “Ringan”