Chapter Ten
Perempuan yang Datang Pagi
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Kirana, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.450
Aku bertemu Kirana karena aku ketiduran.
Itu satu-satunya alasannya. Kalau malam itu aku pulang jam lima seperti biasa, seluruh hidupku mungkin akan berjalan sedikit berbeda — atau setidaknya aku akan punya beberapa minggu tambahan sebelum belajar hal-hal yang tidak ingin kuketahui.
Tapi aku ketiduran di kursi pojok, dan aku bangun jam tujuh pagi, dan pintu warung sudah terbuka lebar dengan matahari masuk sampai ke tengah ruangan.
Dan ada perempuan di meja panjang.
Hal pertama yang kulihat adalah rambutnya.
Rambut yang tidak pernah diwarnai. Hitam, lurus, diikat rendah dengan pita kain berwarna cokelat muda. Rambut yang tidak pernah dibiarkan basah oleh hujan jam empat pagi, tidak pernah bau asap rokok, tidak pernah disemprot apa pun supaya bertahan sampai jam tiga.
Hal kedua yang kulihat adalah sepatunya.
Sepatu flat. Cokelat. Bersih.
Hal ketiga yang kulihat adalah bahwa aku sedang memakai kaus laki-laki yang kebesaran, dengan riasan kemarin malam yang belum kuhapus, dan rambut yang bentuknya kira-kira seperti sarang burung yang ditinggalkan penghuninya.
“Oh, halo.”
Perempuan itu tersenyum.
Senyumnya bagus. Tentu saja senyumnya bagus.
“Maaf, saya nggak tahu ada yang tidur.” Dia menutup mulutnya dengan tangan. “Saya ganggu, ya?”
“Nggak. Enggak. Sama sekali.”
“Saya Kirana.”
“Ranti.”
“Mbak Ranti temennya Mas Bimo?”
Dan itu — pertanyaan yang paling biasa, paling sopan, paling tidak berbahaya yang bisa diajukan oleh siapa pun kepada siapa pun — masuk ke perutku seperti sesuatu yang dingin.
Temennya.
Aku bahkan tidak tahu jawabannya.
“Pelanggan,” kataku.
“Oh! Sama, dong.” Kirana tertawa. “Saya tiap pagi ke sini. Sebelum buka toko.”
“Toko?”
“Ruko sebelah. Yang jual bahan bangunan.” Dia menunjuk ke arah pintu. “Punya bapak saya, tapi sekarang saya yang urus.”
“Oh.”
“Iya.”
Dan kemudian Bimo keluar dari dapur membawa dua piring.
Dua piring.
Aku menghitungnya.
Satu untuk Kirana. Satu untuk—
“Duduk,” katanya padaku. “Yang deket kipas jangan.”
Dia menaruh piring kedua di meja tempat aku biasa duduk.
Dan bukan di meja panjang, di sebelah Kirana.
Sesuatu di dadaku turun beberapa senti dan kembali ke tempatnya, dan aku memutuskan untuk tidak menganalisis apa itu.
“Mas Bimo tahu aja,” kata Kirana. “Saya belum bilang apa-apa.”
“Bapak kamu masih pantang garam?”
“Masih.”
“Itu nggak pakai garam.”
“Makasih, Mas.”
Aku duduk di kursiku dan makan nasi gorengku dan mendengarkan mereka berdua bicara, dan sepanjang lima belas menit berikutnya aku belajar hal-hal berikut:
Kirana datang tiap pagi jam tujuh. Sudah setahun lebih. Dia membeli sarapan untuk dirinya dan untuk bapaknya yang sakit ginjal. Bimo hafal seluruh pantangan bapaknya. Kirana kuliah di kota, lulus dua tahun lalu, pulang untuk mengurus toko keluarga. Bapaknya dulu yang membantu Bimo mengurus izin warung. Kirana memanggilnya Mas Bimo dengan cara yang sopan sekali dan tidak sekalipun menggoda dan tidak sekalipun bercanda vulgar dan tidak sekalipun bersandar terlalu dekat.
Dan Bimo menjawab semua pertanyaannya dengan kalimat-kalimat pendek yang persis sama seperti yang dia berikan padaku.
Persis sama.
Itu yang paling membuatku tidak nyaman.
Kirana pulang jam setengah delapan, membawa dua bungkus, mengucapkan terima kasih dua kali, dan tersenyum padaku di pintu.
“Mbak Ranti, seneng ketemu.”
“Iya. Sama-sama.”
“Besok pagi ke sini lagi?”
“...Mungkin.”
“Semoga ketemu lagi, ya.”
Dan dia benar-benar bermaksud begitu. Itu yang menyebalkan. Tidak ada satu pun bagian dari kalimat itu yang palsu.
Pintu tertutup.
Aku duduk di kursiku, memandangi nasi goreng yang tinggal setengah, dan mendengar suaraku sendiri berkata:
“Cantik, ya.”
Bimo mengumpulkan piring kotor.
“Hm.”
“Aku bilang dia cantik, Mas.”
“Iya, denger.”
“Terus?”
“Terus apa?”
Aku memutar sendokku di piring.
“Nggak ada.”
Dan aku sadar, dengan rasa malu yang datang beberapa detik terlambat, bahwa aku baru saja melakukan hal yang sama persis seperti yang kulakukan waktu Yuni datang.
Aku mengecek.
Aku pulang jam delapan pagi dan tidak bisa tidur sampai jam dua siang.
Dan yang kulakukan selama enam jam itu adalah sesuatu yang sangat, sangat bodoh, yang tidak akan pernah kuceritakan kepada Yuni karena Yuni akan menertawakanku sampai mati.
Aku membuat daftar.
Bukan di kertas. Aku belum segila itu. Tapi di kepalaku, berbaring menatap langit-langit, aku menyusun dua kolom.
Kolom kiri: Kirana.
Umur dua puluh enam. Sarjana. Punya toko. Bangun pagi. Tidur malam. Rambutnya hitam. Sepatunya flat. Merawat bapaknya yang sakit. Tinggal di rumah orang tuanya, di rumah yang normal, di jalan yang ada nomornya. Datang ke warung jam tujuh pagi seperti manusia. Membeli sarapan seperti manusia. Bisa dibawa ke mana pun. Bisa diperkenalkan ke siapa pun. Bisa dijadikan jawaban ketika seseorang bertanya, ”Itu siapa?”
Kolom kanan: aku.
Aku berhenti sebelum menulis apa pun di kolom kanan.
Karena aku tidak perlu menulisnya. Aku sudah hafal isinya. Aku sudah tiga tahun menghafalnya, setiap hari, setiap kali seseorang bertanya kerja di mana dan aku harus memutuskan versi mana yang akan kuberikan.
Aku berbaring di sana sampai jam dua siang.
Dan ketika akhirnya aku tertidur, hal terakhir yang kupikirkan adalah bahwa selama tiga minggu terakhir, aku sudah lupa untuk menghitung.
Itu bahaya. Itu selalu bahaya. Karena begitu kau berhenti menghitung, kau mulai berharap, dan berharap adalah satu-satunya barang di dunia ini yang harganya selalu lebih mahal dari yang tertulis.
Malam itu aku datang jam empat pagi seperti biasa.
Dan aku menggoda lebih banyak dari biasanya.
Aku menyadarinya saat sedang melakukannya, dan aku tetap melakukannya, karena itulah satu-satunya bahasa yang benar-benar kukuasai.
“Mas.”
“Ya.”
“Aku capek banget.”
“Duduk.”
“Udah duduk.”
“Ya udah.”
“Punggungku pegel.”
“Bantal ada di—“
“Bukan bantal yang aku mau.”
Bimo mengangkat kepalanya dari talenan.
“Terus apa.”
Dan aku, karena aku sedang tidak waras malam itu, meletakkan daguku di atas meja panjang, menatapnya dari bawah, dan berkata:
“Tebak.”
Warung itu sepi. Cuma ada kami. Mamad tidur di belakang. Kipas berputar.
Pisau itu tidak bergerak selama, mungkin, tiga detik.
Lalu Bimo menaruhnya.
Dan berjalan ke belakang.
Dan kembali beberapa detik kemudian dengan sesuatu yang dia taruh di meja di depanku.
Botol minyak angin.
“Punggung kiri atau kanan?”
“...Mas.”
“Ran, kamu bawa tas berat sebelah kanan tiap malam. Bahu kanan kamu lebih tinggi dua senti dari yang kiri.”
“Kamu ngukur bahuku?”
“Nggak.”
“Terus tahu dari mana dua senti?”
“Ya keliatan.”
Aku menatap botol minyak angin itu.
Dan tiba-tiba, tanpa peringatan apa pun, mataku panas.
Ini konyol. Ini benar-benar konyol. Aku sudah tiga tahun tidak menangis karena laki-laki, dan sekarang aku hampir menangis karena minyak angin.
Aku menunduk cepat-cepat, pura-pura mengambil sesuatu dari tasku.
“Ran.”
“Iya?”
“Kamu kenapa.”
“Nggak apa-apa.”
“Ran.”
“Beneran nggak apa-apa, Mas.”
Ada jeda panjang.
Lalu:
“Kirana temen saya.”
Aku mengangkat kepalaku terlalu cepat.
“Apa?”
“Kirana.” Bimo tidak menatapku. Dia mengelap meja yang bersih, seperti biasa, seperti pengecut. “Bapaknya yang bantu saya ngurus izin warung dulu. Waktu saya baru datang, nggak punya siapa-siapa.”
“Aku nggak nanya, Mas.”
“Iya. Kamu nggak nanya.”
Dia melipat serbetnya.
“Tapi kamu mikir.”
Aku duduk di sana dengan mulut setengah terbuka.
“Kamu nggak tahu aku mikir apa.”
“Nggak tahu.” Bimo mengangkat bahu. “Tapi kamu ngaduk kopi tujuh belas kali dari tadi. Kopinya nggak pakai gula.”
Aku menunduk ke gelasku.
Sendok itu masih di tanganku.
Aku menaruhnya dengan sangat, sangat pelan.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu tuh nyebelin banget, tau nggak.”
“Iya.”
“Kamu tuh perhatian ke semua orang.”
“Iya.”
“Jadi aku nggak spesial.”
Bimo berhenti melipat serbet.
Dan kemudian dia melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, dan yang tidak akan dia lakukan lagi untuk waktu yang sangat lama.
Dia berjalan mengelilingi meja panjang.
Berdiri di sisiku.
Dan menaruh botol minyak angin itu di tanganku — bukan di meja, di tanganku — sambil menutup jari-jariku di sekelilingnya dengan tangannya sendiri.
Tangannya hangat. Kasar di bagian telapak. Ada bekas luka kecil di pangkal ibu jari.
“Ran,” katanya.
Wajahnya sangat dekat. Lebih dekat dari yang pernah terjadi dalam tiga minggu ini.
“Ya,” kataku, dan suaraku keluar sebagai bisikan yang memalukan.
“Kamu nggak pernah ngitung dengan bener.”
“...Hah?”
Dia melepaskan tanganku. Mundur. Kembali ke balik meja panjang seolah tidak terjadi apa-apa.
“Mas.”
“Hm.”
“Apa maksudnya?”
“Nggak ada.”
“MAS.”
“Minyak anginnya dipakai. Punggung kanan.”
“BIMO PRAYOGA.”
“Kamu belum makan.”
Dan dia masuk ke dapur, dan aku tinggal sendirian di warung itu dengan botol minyak angin di tanganku dan telinga yang panas dan seluruh sistem pertahanan yang sudah kubangun selama tiga tahun runtuh secara perlahan, satu bata setiap malam, oleh laki-laki yang bahkan tidak menyadari bahwa dia sedang membongkarnya.
Di luar, Bu Yatmi sedang menyusun bungkusan nasi.
“Neng.”
“Iya, Bu.”
“Kirana tadi pagi ke sini, ya?”
“Iya.”
Bu Yatmi mengikat kantong plastiknya.
“Anaknya baik,” katanya.
“Iya, Bu. Baik banget.”
“Setahun lebih dia ke sini tiap pagi.”
“Iya.”
“Bimo nggak pernah sekali pun nganterin dia sampai depan.”
Aku berhenti berjalan.
Bu Yatmi tidak mengangkat kepalanya dari bungkusan nasinya.
“Neng tiap subuh dianterin sampai pintu, kan?”
Aku tidak menjawab.
“Ya udah,” kata Bu Yatmi. “Hati-hati di jalan.”
Bersambung ke Bab 11 — “Tali Sandal”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi reading
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi