Chapter Fifty Five
Extra 3 — Pulang
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Sumi, Bu Sri, Pak Warsito, Mamad, Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.500
Hari kedua kami habiskan dengan tidak melakukan apa pun, dan itu adalah pencapaian terbesar dalam sejarah pernikahan kami.
Jam tujuh: sarapan di kamar.
Jam delapan: aku memaksa Bimo berfoto.
Jam delapan lewat lima: Bimo menolak berfoto.
Jam delapan lewat sepuluh: Bimo berfoto.
“Mas, senyum.”
“Ini udah senyum.”
“MAS, ITU BUKAN SENYUM.”
“Ran, muka saya emang gini.”
“Kamu kayak lagi difoto buat SIM.”
Dan aku memutar badan, menempelkan punggungku ke dadanya, mengangkat ponsel, dan menarik lengannya melingkari bahuku.
“Nih. Gini.”
“Ran—“
“Diem.”
Dan aku mengambil dua puluh tiga foto.
Dan dari dua puluh tiga foto itu, ada tiga yang bisa dipakai, dan ada satu di mana Bimo sedang menoleh ke arahku alih-alih ke kamera dengan ekspresi yang membuatku harus menaruh ponselku dan diam selama dua menit.
Aku memakainya sebagai foto profil selama tiga tahun berikutnya.
Jam sepuluh kami ke pantai lagi.
Dan Bimo membeli dua kelapa muda dari seorang bapak-bapak dan menawar sampai turun dua ribu rupiah.
“Mas.”
“Apa.”
“Dua ribu.”
“Iya.”
“Kamu nawar dua ribu.”
“Harganya emang segitu di pasar, Ran.”
“INI BUKAN PASAR.”
Dan bapak penjual kelapa itu tertawa selama satu menit penuh dan memberi kami satu kelapa gratis, yang menurut Bimo membuktikan bahwa dia benar, dan yang menurutku membuktikan bahwa orang Indonesia terlalu baik.
Jam sebelas, aku ketiduran di pasir.
Aku serius. Aku berbaring di atas handuk pantai sambil bicara dan tertidur di tengah kalimat.
Dan aku bangun empat puluh menit kemudian dengan sesuatu yang menutupi wajahku dari matahari.
Kaus Bimo.
Dan Bimo duduk di sebelahku, tanpa kaus, dengan bahu yang sudah mulai memerah karena empat puluh menit di bawah matahari jam sebelas.
“MAS.”
“Bangun?”
“KENAPA KAMU LEPAS KAOS?”
“Muka kamu kena matahari.”
“MAS, PUNGGUNG KAMU MERAH.”
“Nggak apa-apa.”
“NGGAK APA-APA GIMANA.”
Dan aku memakai kausnya — yang kebesaran, yang bau laut dan keringat dan sedikit bawang, karena laki-laki itu selalu bau sedikit bawang di mana pun dia berada — dan aku menyeretnya kembali ke hotel dan mengoleskan lidah buaya ke punggungnya selama dua puluh menit sambil memarahinya tanpa henti.
Dan dia duduk di tepi kasur dan menerimanya semua tanpa membantah.
Dan di menit kesembilan belas, dia berkata:
“Ran.”
“Apa.”
“Enak.”
“APANYA YANG ENAK, KAMU KEBAKAR.”
“Tangannya.”
Dan aku berhenti.
Dan aku menaruh keningku ke punggungnya yang merah dan berkata:
“Kamu tuh nyebelin banget.”
Kami bertahan sampai jam dua belas siang.
Dan aku ingin sangat jelas bahwa yang menyerah duluan bukan aku.
Aku keluar dari kamar mandi jam setengah dua belas dan menemukan Bimo duduk di tepi kasur dengan ponsel di tangan dan layar yang menyala.
“Mas.”
Dia menaruh ponselnya terlalu cepat.
“Mas Bimo.”
“Nggak ngapa-ngapain.”
“Kamu liat foto Sumi.”
“Nggak. Saya liat cuaca.”
Dan aku merebut ponselnya, dan di layarnya ada foto anak berumur dua tahun tiga bulan yang sedang memegang sendok terbalik.
“MAS.”
“...Iya.”
“Berapa kali?”
Dan dia memandangi lantai.
“Sembilan.”
Dan aku duduk di sebelahnya dan menyerahkan ponselnya kembali.
“Dua belas,” kataku.
Dan kami berdua duduk di tepi kasur kamar 214 dan mulai tertawa dan tidak bisa berhenti selama dua menit.
“Mas.”
“Ya.”
“Pulang sekarang?”
Dan laki-laki itu sudah berdiri dan mengambil tas sebelum aku selesai bertanya.
Aku menelepon ibuku dari mobil.
“Bu, kami pulang sekarang.”
“Lah, kan besok siang?”
“Kangen, Bu.”
Dan ibuku menghela napas dengan cara yang sudah tiga puluh empat tahun kukenal.
“Ya udah,” katanya. “Tapi kalian tahun depan liburan lagi.”
“Bu—“
“Ibu udah bilang ke Bimo.”
Aku menoleh ke arah suamiku.
“Mas.”
“Fokus nyetir.”
“MAS, IBU BILANG APA KE KAMU?”
Dan Bimo menyalakan sein dan menyalip sebuah truk dan berkata:
“Beliau bilang kalau saya nggak bawa kamu liburan tiap tahun, beliau nggak mau ngasih resep rawon.”
Perjalanan pulang tiga jam.
Dan aku menghabiskan dua setengah jam pertama dengan tangan kiriku di lengan kanannya dan kepalaku di bahunya setiap kali dia berhenti di lampu merah.
“Ran.”
“Hm.”
“Kamu nggak tidur?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Dan aku berkata:
“Nanti abis.”
Dia menoleh.
“Apanya?”
“Dua harinya.”
Dan Bimo tidak menjawab.
Tapi dia memindahkan tangan kirinya dari setir dan meraih tanganku dan menaruhnya di atas persneling, dan dia menyetir dengan satu tangan selama sisa perjalanan meskipun aku tahu dia membenci itu.
Kami sampai di rumah ibuku jam tiga sore.
Dan Sumi sedang duduk di teras dengan bapakku, memegang gelas plastik dengan dua tangan.
Dan dia melihat mobilnya.
Dan berdiri.
Dan berlari — tiga langkah, jatuh, berdiri, berlari lagi — dengan kecepatan anak berumur dua tahun tiga bulan yang belum sepenuhnya menguasai kakinya sendiri.
Dan Bimo sudah jongkok sebelum dia sampai.
Dan Sumi melewatinya.
Aku ingin mencatat ini dengan sangat teliti, karena aku akan mengingatkan laki-laki itu tentang hal ini selama sisa hidup kami.
Anak itu melewati bapaknya yang sudah jongkok dengan kedua tangan terbuka.
Dan berlari ke arahku.
Dan memegang celanaku dengan dua tangan.
Dan berkata:
“Ibuk.”
Aku jatuh berlutut di halaman rumah orang tuaku.
Dan aku memeluk anak itu terlalu erat sampai dia protes.
“Bu—“
“Iya, Ran.”
“Dia bilang—“
“Iya. Kemarin sore.”
Dan ibuku berdiri di teras dengan tangan di pinggang dan wajah orang yang sudah menunggu dua hari untuk momen ini.
“Ibu ajarin,” katanya. “Dua hari. Terus-terusan.”
Bimo masih jongkok di tempat yang sama.
Dengan kedua tangan yang masih setengah terbuka.
Dan wajah orang yang baru saja menonton seluruh dunianya lewat begitu saja di depan matanya.
“Mas.”
“...Iya.”
“Kamu nggak apa-apa?”
Dan dia berdiri dan mengelap tangannya di celana meskipun tangannya tidak kotor.
“Nggak apa-apa.”
“Mas.”
“Nggak apa-apa, Ran.”
Dan aku menggendong Sumi dan berjalan ke arahnya dan menaruh anak itu di lengannya tanpa bertanya.
Dan Sumi menepuk pipinya dengan telapak tangan.
Dua kali. Keras.
“Bapak.”
Dan Bimo menutup matanya dan menekan wajahnya ke rambut anaknya sendiri dan tidak bergerak selama sepuluh detik.
Kami menginap semalam.
Dan malam itu, setelah Sumi tidur, aku menemukan Bimo di halaman belakang, duduk di kursi plastik.
Aku duduk di pangkuannya.
Bukan di kursi sebelah. Di pangkuannya, menyamping, dengan kepala di bahunya.
“Mas.”
“Ran, kursinya patah nanti.”
“Nggak.”
“Ran.”
“Kamu ngeluh?”
Dan dia diam sebentar.
“Nggak,” katanya.
Dan melingkarkan lengannya.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu kepikiran ‘Ibuk’?”
Dan dia tertawa — pendek, satu bunyi.
“Dikit.”
“MAS.”
“Ran, dua tahun tiga bulan dia manggil saya ‘Bapak’,” katanya. “Terus dia manggil kamu pertama kali pas kita lagi nggak ada.”
Dan aku mengangkat kepalaku dan memegang wajahnya dengan dua tangan.
“Mas.”
“Ya.”
“Dia bisa karena kita pergi.”
Dia mengerutkan kening.
“Kalau aku di sana, aku bakal gendong dia tiap kali dia nangis,” kataku. “Dia nggak perlu manggil siapa-siapa.”
Dan Bimo memandangi kebun kecil ibuku — tiga pot cabai, satu pohon jambu, jemuran yang masih ada satu baju di atasnya.
“Ibu kamu tau itu,” katanya.
“Iya, Mas.”
“Makanya beliau ngambil dia dua hari.”
Kami pulang hari Senin siang.
Dan waktu mobil masuk ke gang, ada tiga orang berdiri di depan Warung Sembilan.
Mamad. Mbak Ayu. Dan Bu Yatmi, yang memegang panci.
“Mad, kalian ngapain di depan?”
“Nungguin, Mbak.”
Dan Mamad membuka pintu belakang dan mengeluarkan Sumi dari kursinya dengan gerakan orang yang sudah melakukannya lima ratus kali.
“SUMI.”
“Mamad!”
“Sini sama Om.”
Dan Bu Yatmi menaruh pancinya di meja panjang tanpa diminta siapa pun.
“Bu, itu apa?”
“Rawon.”
“Bu, kami baru—“
“Kalian tiga jam di mobil. Duduk.”
Warungnya bersih.
Bukan bersih biasa. Bersih yang butuh sikat dan waktu.
Lantainya dipel. Kompornya mengkilat. Dan kaca jendelanya, yang sudah delapan bulan buram, bening.
“Mad.”
“Iya, Mbak?”
“Kalian ngapain dua hari ini?”
“Ya jualan.”
“Mad.”
“Terus bersih-bersih dikit.”
Dan Mbak Ayu, dari balik meja panjang, berkata dengan nada paling datar di dunia:
“Dia ngepel dua kali sehari, Mbak. Dua hari. Sampai saya suruh berhenti.”
Dan aku memeluk anak itu di tengah warung, dan dia berkata “Mbak, apaan sih” dengan suara yang sangat tinggi dan sangat tidak meyakinkan.
Malamnya, jam sebelas, setelah warung tutup dan Sumi tidur di kamar belakang, aku duduk di meja panjang dan membuka buku tulis bersampul biru.
Dan aku tidak menulis apa-apa.
Aku duduk di sana selama sepuluh menit sambil memandangi halaman kosong.
“Ran.”
“Hm.”
“Kamu belum nulis apa-apa.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku menutup buku itu.
“Aku belum mau balik ke sini,” kataku.
Bimo tidak menjawab.
Dan aku menoleh, dan dia sedang berdiri di balik meja panjang dengan serbet di bahunya, dan dia memandangiku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Mas—“
“Ran.”
“Aku nggak lagi ngeluh.”
“Saya tau.”
“Aku sayang tempat ini.”
“Saya tau, Ran.”
Dan dia berjalan mengelilingi meja panjang, dan berdiri di sebelah kursiku, dan menarik kepalaku ke perutnya.
Dan menaruh tangannya di rambutku.
“Dua bulan lagi,” katanya.
Aku mengangkat kepalaku.
“Apa?”
Dan Bimo berkata:
“Ada yang nawarin rumah di gang sebelah.”
Aku berdiri terlalu cepat sampai kursiku mundur berbunyi.
“MAS.”
“Ran—“
“KAMU NGOMONG APA?”
“Belum apa-apa. Baru liat.”
“KAMU LIAT RUMAH?”
Dan Bimo mengambil sesuatu dari laci bawah meja panjang.
Kertas HVS. Dilipat dua. Sudah lecek di lipatannya karena jelas sudah dibuka dan dilipat lagi berkali-kali.
Dan aku membukanya.
Enam rumah. Dengan harga, luas, alamat, dan catatan tulisan tangan di margin.
Dan di bawah setiap alamat, ada satu angka yang tidak ada di iklan mana pun.
Jarak ke Warung Sembilan.
“Mas.”
“Hm.”
“Ini kamu cari kapan?”
“Sebulan.”
“SEBULAN?”
“Iya.”
“Kamu ngukur jaraknya?”
Dan Bimo mengangkat bahu.
“Saya jalan kaki.”
Dan aku menaruh kertas itu di meja panjang dan menggantung di lehernya dan tidak melepaskannya selama lima menit.
Bersambung ke Extra 4 — “Rumah”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi
- 53 Extra 1 — Dua Hari
- 54 Extra 2 — Kamar 214
- 55 Extra 3 — Pulang reading
- 56 Extra 4 — Rumah
- 57 Extra 5 — Konsultan
- 58 Extra 6 — Empat Warung