Chapter Sixteen

Lima Puluh Dua

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Yuni Jumlah kata: ±2.400


BAGIAN II — ZIRAH


Ini terjadi pada hari Kamis, jam sebelas siang, di antrean kasir minimarket.

Bukan di warung. Bukan jam empat pagi. Bukan di tengah percakapan yang penting.

Aku sedang mengantre dengan keranjang berisi sabun cuci, mi instan, dan sekotak susu, dan di depanku ada ibu-ibu yang membayar dengan uang receh, dan aku sedang tidak memikirkan apa-apa.

Lalu mataku jatuh ke rak dekat kasir.

Permen jahe.

Merek yang sudah tua, bungkusnya kuning, yang dulu selalu ada di laci warung kelontong bapakku.

Dan hal pertama yang muncul di kepalaku — bukan kenangan tentang bapakku, bukan tentang toko itu, bukan tentang apa pun dari masa lalu — hal pertama yang muncul di kepalaku adalah:

Bimo suka jahe.

Lalu:

Beliin, deh.

Lalu:

Nanti dia ngeliat, terus dia bilang “buat apa”, terus aku bilang “buat kamu”, terus dia bakal diem terus telinganya merah.

Dan aku berdiri di antrean kasir minimarket dengan keranjang plastik di tangan dan menyadari bahwa aku sudah membayangkan seluruh percakapan itu — ekspresinya, jedanya, telinganya — sebelum aku bahkan mengambil permennya dari rak.

Ibu-ibu di depanku selesai membayar.

Kasir memanggilku.

Aku tidak bergerak.

“Mbak?”

“...Iya. Sori.”

Aku menaruh keranjangku di meja.

Dan tanganku bergetar.


Aku tidak membeli permen jahenya.

Aku ingin sangat jelas soal ini, karena ini bagian yang penting: aku sengaja tidak membelinya.

Aku berdiri di depan rak itu selama mungkin sepuluh detik, dan aku memutuskan, dengan sadar, bahwa aku tidak akan mengambilnya.

Karena kalau aku mengambilnya, itu artinya sesuatu.

Dan aku tidak siap dengan artinya.


Yang terjadi selama tiga hari berikutnya adalah sesuatu yang bisa kudeskripsikan sebagai audit internal.

Aku duduk di kontrakanku, dan aku membongkar delapan minggu terakhir seperti orang membongkar pembukuan yang mencurigakan.

Bukti nomor satu. Aku tahu Bimo tidak minum kopi. Aku tahu dia tidur empat jam. Aku tahu bahunya naik kalau bohong. Aku tahu dia mengelap meja kalau gugup. Aku tahu telinganya merah sebelum wajahnya berubah. Aku tahu ada bekas luka satu senti di alis kirinya dan bekas luka lain di pangkal ibu jarinya.

Aku tidak pernah berusaha mengetahui satu pun dari itu.

Bukti nomor dua. Aku sudah tiga kali menolak diantar pulang oleh orang lain karena “mau mampir dulu”.

Bukti nomor tiga. Aku sudah dua kali berbohong pada Yuni tentang ke mana aku pergi setelah shift, padahal Yuni sudah tahu, padahal berbohong itu tidak ada gunanya sama sekali. Aku melakukannya karena aku tidak mau mendengar suaraku sendiri mengucapkannya.

Bukti nomor empat. Dua minggu lalu, seorang pelanggan di Aurora — laki-laki, empat puluhan, tidak menyebalkan — bertanya apakah aku mau makan malam di luar jam kerja. Aku menolak. Dan alasan yang muncul di kepalaku, sebelum alasan lain mana pun, adalah: nanti nggak sempat ke warung.

Bukti nomor lima. Aku sudah lima puluh dua kali datang dalam delapan minggu.

Yuni yang menghitung. Bukan aku.

Tapi aku mengingat angkanya.


Kesimpulan auditnya keluar di hari ketiga, jam dua pagi, sambil berbaring di kasur menatap langit-langit.

Aku menyukainya.

Bukan tertarik. Bukan penasaran. Bukan senang ada tempat yang nyaman.

Suka.

Dan begitu kata itu terbentuk lengkap di kepalaku, hal berikutnya yang terjadi bukan bahagia.

Aku bangun. Aku duduk di tepi kasur. Dan aku merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menusuk dari dalam perut ke tenggorokanku, dan napasku jadi pendek-pendek, dan tanganku dingin.

Aku tidak tahu ada orang yang bisa panik karena menyadari dia jatuh cinta.

Ternyata bisa.


Aku duduk di lantai kamar mandi selama dua puluh menit malam itu.

Dan aku melakukan hal yang paling kukuasai di dunia.

Aku menghitung.

Kolom kiri: apa yang dia punya.

Warung yang rugi setiap bulan, tapi tetap buka. Tiga puluh orang yang dia hafal namanya. Bu Yatmi yang memarahinya seperti anaknya sendiri. Mamad yang tidur di belakang dan makan empat kali sehari. Pak Sunar yang datang dua tahun tanpa bicara. Kirana yang datang setiap pagi jam tujuh dengan rambut hitam dan sepatu flat.

Reputasi. Di gang ini, laki-laki itu punya reputasi seperti orang suci.

Kolom kanan: apa yang aku punya.

Aku berhenti.

Bukan karena aku tidak punya apa-apa. Aku punya. Aku punya kontrakan yang kubayar sendiri. Aku punya tabungan yang kurancang sejak tahun pertama. Aku punya adik yang sekolahnya tidak pernah telat sehari pun. Aku punya bapak yang obatnya tidak pernah putus dalam tiga tahun.

Aku punya banyak. Aku menang. Secara angka, aku menang.

Yang tidak kupunya adalah ini:

Aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan ”Itu siapa?”

Kalau Bimo berjalan di gang ini dengan aku di sebelahnya, dan seseorang bertanya — Bu Yatmi, Pak Har, Pak Sunar, siapa pun — apa yang harus dia jawab?

Dan lebih buruk lagi: apa pun yang dia jawab, seluruh gang ini sudah tahu jawabannya.

Karena mereka melihatku datang jam empat pagi setiap hari.

Mereka tahu dari mana aku datang jam empat pagi.


Aku tidak datang selama empat hari.

Ini rekor baru. Rekor sebelumnya tiga.

Hari pertama gampang, karena aku sedang marah pada diriku sendiri dan marah itu memberi tenaga.

Hari kedua aku hampir sampai depan gang.

Hari ketiga aku sampai depan warung, berdiri di seberang jalan selama mungkin lima menit, melihat lampunya menyala dan bayangan orang bergerak di baliknya, lalu berbalik dan pulang.

Hari keempat Yuni menemukanku menangis di ruang ganti jam tiga pagi.

“Ran.”

“Nggak apa-apa.”

“Ran.”

“Nggak apa-apa, Yun. Serius. Cuma capek.”

Yuni jongkok di depanku. Menaruh tangannya di lututku.

Dan tidak berkata apa-apa selama satu menit penuh, yang untuk Yuni adalah pengorbanan luar biasa.

“Lo takut?” tanyanya akhirnya.

“...Iya.”

“Takut ditolak?”

Dan aku tertawa. Tawa yang jelek, yang keluar setengah dari hidung.

“Enggak,” kataku.

“Terus?”

Aku menghapus mataku dengan punggung tangan, dan riasan itu luntur ke jariku, dan aku memandanginya.

“Takut nggak ditolak,” kataku.

Yuni diam.

“Kalau dia nolak, gampang, Yun. Aku pulang. Aku nggak ke sana lagi. Selesai. Sakit dua minggu terus lupa.” Aku menarik napas dan bunyinya bergetar. “Tapi kalau dia nggak nolak—“

Aku berhenti.

“Kalau dia nggak nolak, kenapa?”

“Kalau dia nggak nolak, berarti dia beneran mau.” Aku menatap Yuni. “Dan aku harus bilang iya ke orang yang bakal nyesel.”


Aku datang di hari kelima.

Jam empat pagi. Seperti biasa.

Dan sebelum aku sampai pintu, aku sudah memutuskan apa yang akan kulakukan.

Karena begini: aku sudah tiga tahun di Aurora, dan tiga tahun itu mengajariku satu hal yang berguna sekali. Yaitu bahwa ada cara untuk membuat laki-laki menjauh tanpa harus mengusirnya.

Kau tidak perlu kasar. Kau tidak perlu menghina. Kau tidak perlu menyuruhnya pergi.

Kau cuma perlu jadi versi dirimu yang paling murah.

Kau tunjukkan bagian yang mereka pikir mereka inginkan, dan kau tunjukkan terlalu banyak, dan terlalu cepat, dan terlalu terang-terangan — sampai mereka sadar bahwa yang mereka bayangkan dan yang ada di depan mereka bukan barang yang sama.

Aku sudah melakukannya belasan kali di Aurora, kepada laki-laki yang mulai terlalu serius.

Berhasil setiap kali.

Aku membuka pintu.


“Duduk,” kata Bimo.

Dia tidak bertanya ke mana aku selama empat hari. Tentu saja tidak.

Di meja panjang ada panci. Isinya masih penuh.

“Mas masak apa?”

“Rawon.”

“Buat siapa?”

Bimo mengangkat bahu.

Dan aku menelan sesuatu di tenggorokanku dan berkata:

“Empat hari?”

“Tiga. Yang pertama saya nggak sempat.”

Sesuatu di dadaku patah, sedikit.

Aku memasang senyum.

Senyum yang benar. Senyum kerja. Yang sudut mulutnya naik satu senti lebih tinggi di sebelah kiri dan yang membuat mata sedikit menyipit, yang sudah kulatih di depan cermin sampai jadi refleks.

“Kangen, ya?”

“Nggak.”

“Bohong.” Aku duduk di kursi paling dekat meja panjang. Menyandarkan siku. Memiringkan badan. “Ngaku aja, Mas. Nggak apa-apa kok.”

“Ran.”

“Aku juga kangen.” Aku memainkan ujung rambutku. “Kangen banget malah. Semaleman kepikiran terus.”

Bimo menuang rawon ke mangkuk.

“Makan.”

“Kepikiran kamu, loh.”

“Makan, Ran.”

“Kamu nggak mau tanya aku kepikiran apa?”

Dan Bimo menaruh mangkuk itu di depanku, dan mengangkat kepalanya, dan menatapku.

Lurus.

Selama, mungkin, tiga detik.

Dan wajahnya bukan wajah laki-laki yang sedang tergoda, dan bukan juga wajah laki-laki yang sedang risih.

Wajahnya adalah wajah orang yang sedang melihat seseorang melukai dirinya sendiri, dan tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.

“Ran,” katanya.

“Iya?”

“Rawonnya keburu dingin.”


Aku bertahan sekitar dua jam malam itu.

Dua jam menggoda. Dua jam melempar kalimat-kalimat yang biasanya membuat laki-laki mana pun gelagapan atau menjauh atau melihatku dengan cara tertentu.

Bimo tidak melakukan satu pun dari itu.

Dia menaruh makanan. Dia mengisi ulang jaheku. Dia memindahkan kursiku sedikit karena tetesan dari kipas. Dia menjawab dengan satu kata, seperti biasa, tanpa marah dan tanpa terpancing.

Dan menjelang subuh, saat aku sudah kehabisan tenaga dan kehabisan kalimat, dia berkata:

“Ran.”

“Iya.”

“Kamu capek, ya.”

“Nggak.”

“Bohong.”

“Bahuku nggak naik.”

“Kamu ketawanya kekencengan,” kata Bimo. “Dari tadi.”

Aku menoleh.

Dan dia sedang mengelap gelas, tidak menatapku, seperti biasa.

“Kalau kamu ketawa beneran, bunyinya beda,” lanjutnya.

Aku memandangi mangkuk rawonku yang sudah kosong.

“Beda gimana?”

“Lebih jelek.”

“MAS.”

“Iya. Jelek.” Dia menaruh gelasnya. “Tapi itu yang bener.”


Aku pulang jam setengah enam.

Aku berjalan lima blok. Aku sampai di kontrakan. Aku duduk di lantai dengan punggung ke pintu.

Dan aku menyadari sesuatu yang membuatku ingin memukul sesuatu.

Strategiku gagal.

Bukan karena Bimo terlalu sabar. Bukan karena dia terlalu baik.

Tapi karena strategi itu berdasarkan satu asumsi: bahwa laki-laki akan menjauh kalau kau menunjukkan versi dirimu yang paling murah.

Dan asumsi itu cuma bekerja pada laki-laki yang menginginkan versi dirimu yang mahal.

Bimo tidak menginginkan versi mana pun.

Dia sudah tahu bunyi tawaku yang jelek, dan dia lebih menyukai yang itu.


Bersambung ke Bab 17 — “Ukurannya Pas”