Chapter Twenty Four
Kalau Kamu Berhenti
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.400
Aku tidak bisa masak.
Aku ingin itu tercatat sebelum aku melanjutkan.
Aku bisa membuat mie instan, telur ceplok, dan nasi goreng yang bisa dimakan kalau kau sedang tidak punya pilihan. Itu saja. Tiga tahun tinggal sendiri dan aku tidak pernah punya alasan untuk belajar lebih dari itu.
Jadi ketika aku berdiri di belakang meja panjang Warung Sembilan, jam empat lewat dua puluh, dengan seorang laki-laki duduk di kursi menatapku, aku menyadari bahwa aku baru saja membuat kesalahan besar.
“Ran.”
“Diem.”
“Kompor kanan agak—“
“DIEM, Mas.”
“...Iya.”
Yang kulakukan berikutnya adalah nasi goreng, karena itu satu-satunya yang bisa kulakukan, dan karena bahan-bahannya sudah ada semua.
Aku menyalakan kompor. Aku menuang minyak.
“Kebanyakan.”
“Mas.”
“Iya, maaf.”
Aku mengurangi minyaknya. Aku memasukkan bawang.
“Apinya—“
“MAS BIMO.”
“Iya.”
“Kalau kamu ngomong sekali lagi, aku pulang.”
Dia menutup mulutnya.
Dan duduk di sana, di kursinya sendiri, dengan tangan di paha, dengan wajah seorang laki-laki yang sedang menyaksikan seseorang menghancurkan dapurnya dan memutuskan bahwa itu harga yang pantas.
Nasi gorengnya jelek.
Aku harus jujur soal ini. Nasinya terlalu basah karena aku menuang kecap terlalu banyak. Bawangnya sebagian gosong dan sebagian lagi masih putih. Telurnya hancur dan tersebar di seluruh wajan seperti debu.
Aku menaruhnya di piring.
Aku memandanginya selama tiga detik.
Dan aku hampir membuangnya.
“Ran.”
“Sebentar.”
“Ran.”
“MASIH JELEK, MAS.”
“Sini.”
Dan dia mengulurkan tangan, dan mengambil piring itu dari tanganku sebelum aku sempat menariknya kembali.
Aku duduk di kursi di seberangnya.
Dan aku menonton laki-laki itu makan nasi goreng terburuk yang pernah dibuat oleh manusia mana pun di gang ini.
Dia makan pelan.
Bukan pelan karena tidak enak. Pelan dengan cara yang lain — cara orang makan sesuatu yang jumlahnya terbatas.
“Mas.”
“Hm.”
“Jelek, kan?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Iya, bohong.”
Aku tertawa. Yang jelek. Yang benar.
“Kecapnya kebanyakan,” katanya. “Terus apinya kegedean di awal.”
“Iya, aku tau.”
“Terus telurnya harusnya duluan, baru nasinya.”
“Iya, iya.”
“Tapi bawangnya bener.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Serius?”
“Iya.” Bimo menyendok lagi. “Kamu potongnya tipis. Bagus.”
“Itu nggak sengaja.”
“Ya udah, nggak apa-apa.”
Dan dia menghabiskannya.
Semuanya. Sampai bersih. Sampai dia mengumpulkan sisa nasi di pinggir piring dengan sendok dan memakannya juga.
Dan waktu selesai, dia menaruh sendoknya, dan berkata:
“Makasih.”
Dan itu — kata yang tidak pernah keluar dari mulut laki-laki itu, yang selalu diganti dengan nggak apa-apa atau nggak usah atau diam saja —
Itu membuatku harus menoleh ke arah tembok selama beberapa detik.
Yang terjadi selama dua minggu berikutnya adalah sesuatu yang tidak pernah kami bicarakan.
Aku mulai datang lebih awal.
Bukan jam empat. Jam dua, kadang jam satu, di malam-malam saat aku pulang lebih cepat.
Dan aku mulai melakukan hal-hal kecil.
Mencuci gelas. Mengangkat piring kotor. Menghitung uang di laci — dan ini yang paling penting, karena Bimo tidak pernah menghitung uangnya dengan benar, dan aku menemukan itu di malam ketiga.
“Mas.”
“Ya.”
“Laci kamu kurang enam puluh ribu.”
“Iya.”
“Kok ‘iya’?”
“Anak-anak ojol.” Dia mengangkat bahu. “Nanti juga dibayar.”
“Kapan?”
“Nggak tau.”
“Mas.”
“Ran.”
“Ini bulan ini aja udah dua ratus lebih.”
Bimo berhenti mengiris.
“Kamu ngitung?”
“Aku lima semester Akuntansi, Mas.”
“Iya, saya tau.”
“Terus?”
Dan Bimo — yang tidak bisa menerima apa pun dari siapa pun — melakukan sesuatu yang membuatku hampir menjatuhkan buku catatan.
Dia berkata: “Ya udah, kamu aja yang pegang.”
“...Hah?”
“Lacinya. Kamu aja yang itung.”
“Mas, aku bukan pegawai kamu.”
“Iya.”
“Kamu nggak bayar aku.”
“Iya.”
“Terus kenapa aku yang itung?”
Bimo kembali ke talenannya.
“Karena kamu lebih jago,” katanya.
Dan begitulah aku, Ranti Wulansari, pemandu karaoke Klub Aurora, memulai pembukuan pertama Warung Sembilan dalam empat tahun tiga bulan.
Aku membeli buku tulis di minimarket. Yang bergaris, yang murah, yang sampulnya biru.
Dan aku duduk di meja panjang setiap malam jam dua sampai jam empat, dengan kalkulator ponsel dan pulpen, dan aku membongkar keuangan warung itu seperti orang membongkar mesin.
Yang kutemukan membuatku diam selama lima menit.
Warung itu tidak rugi.
Aku ulangi: warung itu tidak rugi.
Warung itu untung sekitar tiga juta sebulan dari penjualan.
Dan kemudian setiap bulan, sekitar empat sampai lima juta keluar dari laci untuk hal-hal yang tidak dicatat di mana pun.
Bon yang tidak ditagih. Makanan gratis. Uang yang “dipinjam” dan tidak pernah kembali. Obat untuk siapa pun yang sakit di gang itu. Biaya sekolah anak Pak Har, dua kali. Ongkos rumah sakit istri Pak Sunar, tahun lalu, sebagian.
Aku menemukan semuanya karena aku menemukan buku kecil di laci bawah — bukan buku kas, cuma catatan tanggal dan angka dan nama, dengan tulisan tangan yang jelek sekali.
Tidak ada satu pun yang dicoret sebagai lunas.
Aku menutup buku itu dan duduk di sana untuk waktu yang lama.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu nombok empat setengah juta sebulan.”
Bimo menuang minyak.
“Kira-kira.”
“Selama empat tahun.”
“Iya.”
“Itu dua ratus juta lebih, Mas.”
“Iya.”
Aku menaruh pulpenku.
“Uangnya dari mana?”
Dan warung itu jadi sunyi.
Aku bisa mendengar minyak di wajan. Aku bisa mendengar kipas. Aku bisa mendengar Mamad mendengkur di belakang.
Bimo tidak berbalik.
“Tabungan,” katanya.
“Tabungan berapa?”
“Cukup.”
“Mas.”
“Ran.”
“Berapa?”
Dan dia mematikan kompor.
Dan berdiri di sana, membelakangiku, dengan spatula di tangan.
“Cukup,” katanya lagi.
Dan ada sesuatu di suaranya — bukan marah, bukan mengelak — sesuatu yang jauh lebih dekat ke permohonan.
Aku menutup buku tulisku.
“Ya udah,” kataku.
Malam itu, menjelang subuh, aku melakukan sesuatu yang bodoh.
Aku sedang lelah. Aku sudah tiga jam berkutat dengan angka-angka itu. Dan kepalaku penuh dengan sesuatu yang tidak bisa kususun.
Jadi aku melempar godaan, seperti biasa, karena itu tetap satu-satunya bahasa yang benar-benar kukuasai.
“Mas.”
“Hm.”
“Kalau aku jadi istri kamu, laci kamu nggak bakal bocor.”
Aku mengucapkannya dengan nada bercanda. Ringan. Sambil tertawa.
Dan aku menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutku sekitar setengah detik setelah kalimat itu selesai.
Warung itu jadi sangat, sangat sunyi.
Bimo berdiri di balik meja panjang dengan gelas di tangan.
Dan gelas itu tidak bergerak.
“...Mas.”
Tidak ada jawaban.
“Mas, aku bercanda.”
Dan aku melihat rahangnya bergerak sekali, dan aku melihat gelas itu diletakkan dengan sangat pelan ke meja, dan aku melihat dia mengambil serbet dan mulai melipatnya.
“Mas, aku beneran cuma—“
“Ran.”
Aku berhenti.
“Kamu tuh sebenernya cakep banget kalau—“
Dan aku memotongnya.
Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak merencanakannya. Kalimat itu keluar dari mulutku sebelum otakku sempat menghentikannya, dengan nada yang sangat tajam dan sangat dingin, nada yang tidak pernah kupakai kepada siapa pun di warung ini:
“Kalau apa? Kalau bukan aku?”
Bimo berhenti melipat serbet.
Dan dia menatapku.
Lama sekali.
Aku bisa mendengar jantungku sendiri. Aku bisa merasakan wajahku panas. Aku sudah menyiapkan diri untuk apa pun — untuk dia marah, untuk dia diam, untuk dia menyuruhku pulang.
Dan Bimo berkata, dengan sangat pelan:
“Kalau kamu berhenti ngomong gitu tentang diri kamu sendiri.”
Aku tidak punya balasan untuk itu.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh minggu — untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, sebenarnya, karena aku selalu punya balasan untuk segalanya — aku duduk di kursiku dengan mulut yang tidak bisa mengeluarkan apa pun.
Bimo menaruh serbetnya.
Dan berjalan ke arahku.
Dan berhenti di sebelah kursiku, dan aku tidak berani mengangkat kepalaku, dan aku bisa melihat ujung sandalnya di lantai keramik.
“Ran.”
“...Iya.”
“Saya nggak pernah bilang kamu nggak pantes.”
“Aku tau.”
“Nggak sekali pun.”
“Aku tau, Mas.”
“Terus kenapa kamu bilang itu tiap hari?”
Dan aku mengangkat kepalaku.
Dan aku menatap laki-laki itu — yang berdiri setengah meter dariku, dengan serbet di bahunya dan tiga plester yang sudah mulai mengelupas di punggung tangannya — dan aku berkata sesuatu yang belum pernah kukatakan keras-keras kepada siapa pun seumur hidupku.
“Karena kalau aku yang bilang duluan,” kataku, “nanti nggak sakit waktu kamu yang bilang.”
Warung itu sunyi.
Dan Bimo menutup matanya.
Cuma sebentar. Satu detik, mungkin dua. Seperti orang yang menerima pukulan dan memutuskan untuk tidak menghindar.
Lalu dia membukanya lagi.
“Ran.”
“Iya.”
“Saya nggak bakal bilang itu.”
“Kamu belum tau—“
“Saya nggak bakal bilang itu.”
Dan itu adalah kedua kalinya dalam hidupku aku mendengar laki-laki itu meninggikan suaranya, dan dua-duanya terjadi di ruangan yang sama, dan dua-duanya karena aku.
Aku pulang jam setengah enam.
Dan di ambang pintu, dengan tangan di gagang, aku berbalik.
“Mas.”
“Ya.”
“Yang tadi.”
“Yang mana.”
“Yang ‘kalau aku jadi istri kamu’.” Aku menelan sesuatu. “Itu—“
“Ran.”
“Iya?”
Bimo berdiri di balik meja panjang, dan dia tidak menatapku, karena dia tidak pernah menatapku waktu mengatakan hal-hal yang penting.
“Nggak usah dijelasin,” katanya.
“Tapi aku—“
“Ran.”
Aku berhenti.
“Saya denger,” kata Bimo. “Itu aja.”
Bersambung ke Bab 25 — “Handuk”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti reading
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi