Chapter Twelve

Menu yang Tidak Ada

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Pak Sunar Jumlah kata: ±2.350


Warung Sembilan punya menu.

Aku baru menyadarinya di minggu keempat, dan itu memalukan, mengingat aku sudah hampir setiap malam duduk di sana selama sebulan.

Menunya ditempel di dinding dekat pintu dapur, dicetak di kertas HVS yang sudah menguning, dilaminating dengan plastik yang sudah mengelupas di sudut kanan atas. Delapan belas item. Harga ditulis tangan dengan spidol, beberapa dicoret dan diganti.

Aku berdiri di depannya sambil menunggu Bimo selesai melayani anak-anak ojol.

Nasi goreng. Nasi rames. Mie rebus. Mie goreng. Soto ayam. Bubur ayam. Roti bakar. Pisang goreng. Kopi hitam. Kopi susu. Teh manis. Teh tawar. Jahe. Es jeruk.

Dan seterusnya.

Aku membacanya dua kali.

Lalu tiga kali.

Lalu aku berbalik dan berjalan ke kursiku dan duduk dengan perasaan yang sangat aneh di dada.

Karena dalam empat minggu, aku sudah makan:

Soto — iya, itu ada di menu. Nasi goreng — ada. Bubur kacang hijau — tidak ada. Kolak pisang — tidak ada. Nasi kuning dengan sambal kacang — tidak ada. Ayam suwir dengan telur balado — tidak ada. Bubur sumsum yang dikasih malam Selasa lalu — tidak ada. Sup ayam waktu aku pilek — tidak ada.

Delapan belas item di dinding.

Dan aku sudah makan mungkin sepuluh hal yang tidak satu pun tertulis di sana.


“Mas.”

“Ya.”

“Aku boleh nanya sesuatu?”

“Boleh.”

“Kenapa bubur kacang hijau nggak ada di menu?”

Bimo, yang sedang menuang teh untuk Pak Sunar, tidak berhenti menuang.

“Karena nggak dijual.”

“Terus kenapa aku dikasih?”

“Karena kamu bukan pembeli.”

Aku menaruh gelasku.

“Aku bayar tiap hari, Mas.”

“Nggak tiap hari.”

“Hampir tiap hari.”

“Hampir.” Dia menaruh teko. “Beda.”

“Mas.”

“Hm.”

“Jawab yang bener.”

Bimo mengambil serbet. Mengelap tangannya. Dan aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa mengelap tangan adalah caranya membeli waktu, karena tangannya hampir tidak pernah kotor.

“Menu itu buat orang yang datang sekali,” katanya. “Biar mereka tahu harus pesan apa.”

“Terus yang datang tiap hari?”

“Ya saya udah tahu mereka mau apa.”

Sederhana sekali. Diucapkan seperti fakta tentang cuaca.

Dan aku duduk di sana dan mencerna implikasinya perlahan-lahan, seperti orang yang menuang air panas ke gelas kaca dan menunggu apakah gelasnya akan retak.

Saya udah tahu mereka mau apa.

Bukan cuma aku, kalau begitu.

Aku menoleh ke Pak Sunar, bapak-bapak yang datang jam tiga dan tidak pernah bicara. Di depannya ada teh tawar. Dan di sebelah tehnya, ada sepiring kecil ubi rebus.

Ubi rebus tidak ada di menu.


Malam itu aku menghitung.

Itu kebiasaan lamaku dan aku tidak bisa berhenti, tapi malam itu aku menghitung sesuatu yang berbeda dari biasanya. Bukan uang. Bukan harga. Bukan tagihan yang akan datang.

Aku menghitung berapa orang yang mendapat makanan di luar menu.

Pak Sunar — ubi rebus. Setiap malam. Istrinya meninggal tahun lalu.

Pak Har — nasi ramesnya selalu ada tempe orek tambahan, dan aku baru sadar bahwa itu bukan bagian dari nasi rames karena anak-anak ojol tidak mendapatkannya.

Rizal ojol — mendapat susu putih hangat kalau datang di atas jam dua. Anak itu maag.

Mamad — makan empat kali sehari, selalu pakai kerupuk, karena Mamad tidak mau makan kalau tidak ada kerupuk.

Kucing yang belum punya nama — ikan pindang yang disisihkan tanpa bumbu.

Kirana — sarapan tanpa garam untuk bapaknya yang sakit ginjal.

Perempuan-perempuan Aurora — dan ini yang membuatku berhenti menghitung.

Karena aku baru menyadari bahwa setiap kali salah satu dari mereka datang jam empat pagi, Bimo tidak pernah bertanya mau pesan apa.

Dia menaruh sesuatu di depan mereka. Selalu. Dan selalu makanan hangat yang gampang ditelan, dan selalu porsi yang tidak terlalu besar, dan selalu tanpa sambal.

Aku bertanya pada Mbak Ayu, perempuan berambut pendek yang menyapaku di minggu pertama.

“Mbak, Mas Bimo tuh selalu ngasih makanan yang sama, ya?”

“Iya. Kenapa?”

“Nggak. Cuma nanya.”

Mbak Ayu tertawa. “Kita semua pulang dalam keadaan perut kosong tapi nggak nafsu makan, Mbak. Kalau dikasih yang berat, nggak bakal masuk. Kalau dikasih yang pedes, besoknya sakit.”

“Dia bilang gitu?”

“Nggak pernah bilang apa-apa.” Mbak Ayu menyeruput sotonya. “Tapi udah dua tahun begini.”


Dan di sinilah letak masalahnya.

Karena selama empat minggu, aku sudah menyusun sebuah bangunan kecil di dalam kepalaku. Bangunan yang tidak pernah kuakui keberadaannya, tapi ada di sana, dan pondasinya adalah ini:

Dia memperhatikan aku.

Bubur kacang hijau. Sambal kacang. Minyak angin untuk punggung kanan. Soto tiga sore berturut-turut. Sandal yang dibetulkan sambil jongkok.

Aku sudah menyimpan semuanya. Aku sudah menghitungnya berkali-kali. Aku sudah — dan ini bagian yang memalukan — aku sudah membiarkan diriku merasa seperti pengecualian.

Dan malam itu, sambil memandangi ubi rebus di depan Pak Sunar, aku belajar bahwa aku bukan pengecualian.

Aku cuma satu dari sekitar tiga puluh orang di gang ini yang dihafal detailnya oleh seorang laki-laki yang menghafal semua orang.


Aku pulang jam lima dengan perasaan yang tidak enak, dan aku tidak datang selama dua hari.

Dan aku datang lagi di hari ketiga, karena tentu saja.

Malam itu warung ramai. Ada rombongan anak ojol, ada dua perempuan Aurora, ada Pak Sunar di kursi biasanya. Bimo bergerak cepat di balik meja panjang, dua kompor menyala, Mamad kewalahan mengantar piring.

Aku duduk di kursiku. Menunggu.

Dan aku melakukan sesuatu yang tidak kubanggakan.

Aku memperhatikan.

Bukan memperhatikan Bimo — memperhatikan urutannya. Siapa yang dilayani duluan. Siapa yang mendapat apa. Berapa lama dia berdiri di setiap meja.

Aku sedang mencari bukti bahwa aku benar. Bahwa aku sama seperti yang lain. Bahwa bangunan kecil di kepalaku itu memang harus dirobohkan.

Anak-anak ojol dapat mie goreng. Cepat, banyak, pedas. Perempuan Aurora dapat bubur ayam. Hangat, tidak pedas. Pak Sunar dapat teh tawar dan ubi.

Dan aku dapat—

Tidak ada apa-apa.

Dua puluh menit. Tidak ada apa-apa.

Sesuatu yang dingin turun ke perutku, dan aku mengutuk diriku sendiri karena merasakannya, karena inilah yang kuminta, inilah bukti yang kucari, dan sekarang setelah aku mendapatkannya ternyata rasanya seperti ditinju.

Aku mengambil tasku.

“Ran.”

Aku berhenti.

Bimo berdiri di ujung meja panjang, memegang piring.

“Mau ke mana?”

“Pulang.”

“Belum makan.”

“Nggak laper.”

Dan Bimo — di tengah warung yang penuh, dengan dua kompor menyala, dengan Mamad berteriak dari belakang bahwa mie-nya gosong — menaruh piring itu, mematikan satu kompor, dan berjalan ke mejaku.

Dia menaruh piring itu di depanku.

Ikan bakar.

Bukan ikan pindang yang untuk kucing. Ikan bakar utuh, dengan sambal kecap di sampingnya, dengan irisan jeruk nipis, dengan lalapan.

“Mas, ini—“

“Dua jam.”

“Hah?”

“Bakarnya dua jam. Mulai jam dua.” Dia menyodorkan sendok. “Makanya lama.”

Aku menatap ikan itu.

“Kenapa dua jam?”

“Karena kalau apinya gede, dagingnya kering.”

“Bukan itu maksudku.”

Bimo sudah setengah berbalik untuk kembali ke kompor. Dia berhenti.

“Terus apa maksudnya.”

“Kenapa kamu bikin ikan bakar dua jam?”

Warung itu berisik. Anak-anak ojol tertawa. Mamad berteriak. Kipas berputar. Dan di tengah semua itu, Bimo berdiri di sebelah mejaku dengan serbet di bahunya.

“Kamu nggak datang dua hari,” katanya.

“...Terus?”

“Terakhir kali kamu nggak datang tiga hari, saya bikin soto.” Dia mengangkat bahu. “Sotonya nggak ada yang makan.”

Aku menatap punggung ikan itu, yang kulitnya hitam sempurna di beberapa bagian dan cokelat keemasan di bagian lain, hasil dua jam api kecil dan seseorang yang berdiri di sampingnya.

“Jadi sekarang bikin ikan bakar.”

“Iya.”

“Padahal belum tentu aku datang.”

“Iya.”

“Kalau aku nggak datang gimana?”

Bimo mengambil piring kotor dari meja sebelah.

“Ya besok saya bikin lagi,” katanya, dan kembali ke kompornya.


Aku makan ikan bakar itu sampai habis, sampai tulangnya bersih, di tengah warung yang penuh dan berisik, sambil menahan sesuatu di tenggorokan yang tidak ada hubungannya dengan duri ikan.

Dan aku sadar bahwa aku salah menghitung.

Bukan karena aku pengecualian. Aku memang bukan pengecualian — Bimo memang menghafal semua orang, memang memberi makan seluruh gang ini, memang memperhatikan detail yang tidak diminta siapa pun.

Aku salah menghitung karena aku mengukur hal yang salah.

Semua orang di gang ini mendapat sesuatu dari Bimo.

Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang membuat laki-laki itu memasak sesuatu untuk orang yang belum tentu datang.


Menjelang subuh, waktu warung sudah kosong lagi, aku bertanya.

“Mas.”

“Ya.”

“Pak Sunar dapet ubi rebus tiap malam.”

“Iya.”

“Kenapa ubi?”

Bimo mengelap meja.

“Istrinya dulu jualan ubi rebus,” katanya. “Di depan sekolah. Tiga puluh tahun.”

Aku diam.

“Beliau nggak pernah pesan,” lanjut Bimo. “Malam pertama dia datang ke sini, dia cuma minta teh tawar, terus duduk empat puluh menit, terus pulang. Tiga malam kayak gitu.”

“Terus?”

“Terus saya nanya ke Bu Yatmi.”

“Terus kamu bikinin.”

“Iya.”

“Dia bilang apa?”

Bimo melipat serbetnya.

“Nggak bilang apa-apa,” katanya. “Dua tahun. Belum pernah bilang apa-apa.”

“Tapi dia datang terus.”

“Iya.”

Aku memandangi laki-laki itu di seberang meja panjang, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku bertanya sesuatu yang bukan godaan dan bukan juga tentang aku.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu ngapain, sih, sebenernya?”

Bimo menaruh serbetnya.

“Maksudnya?”

“Kamu ngasih makan seluruh gang. Kamu inget semuanya. Kamu bangun jam enam, tidur empat jam, nggak pernah keluar dari sini.” Aku menatapnya. “Kamu lagi ngapain?”

Warung itu sunyi.

Bimo memandangi meja panjang di depannya, ke arah kayu yang sudah aus di bagian tengah karena dua puluh tahun dilap oleh entah berapa orang sebelum dia.

“Bayar,” katanya.

Satu kata.

Dan kemudian, sebelum aku sempat bertanya apa pun:

“Kamu belum minum. Jahenya udah dingin, saya ganti.”


Aku pulang jam setengah enam dengan satu kata itu di kepalaku.

Bayar.

Dan aku, yang seluruh hidupnya adalah tentang menghitung siapa berutang apa kepada siapa, berjalan lima blok sambil mencoba menyusun soalnya.

Kalau seseorang membayar, berarti ada yang dipinjam.

Kalau ada yang dipinjam, berarti ada yang meminjamkan.

Dan kalau seseorang membayar selama empat tahun, tanpa henti, tanpa pernah keluar dari gang tempat dia membayarnya—

Aku berhenti di bawah tiang listrik.

Berapa besar utangnya?


Bersambung ke Bab 13 — “Skincare”