Chapter Thirty One

Nanti Kamu Nyesel

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.600


Aku tidak datang besoknya.

Aku ingin itu tercatat, karena aku sudah cukup lama menceritakan versi diriku yang lebih berani daripada yang sebenarnya.

Aku bilang “besok aku tanya”, dan besoknya aku tidak datang.

Bukan tiga hari. Bukan empat. Cuma satu malam.

Aku duduk di kontrakanku jam empat pagi dengan lampu mati dan aku menatap langit-langit dan aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku sedang menyiapkan diri.

Itu bohong.

Aku sedang menghitung untuk terakhir kalinya.


Aku menghitung semuanya malam itu. Aku memberi diriku izin untuk menghitung sepuas-puasnya, satu malam terakhir, dan setelah itu selesai.

Yang akan hilang kalau aku bertanya dan jawabannya iya:

Kursi kayu jam empat pagi. Warung yang bisa kumasuki tanpa harus jadi siapa-siapa. Satu-satunya tempat di kota ini di mana aku bukan Ranti-dari-Aurora.

Karena begitu ada nama untuk sesuatu, ada juga cara untuk kehilangannya.

Yang akan hilang kalau aku tidak bertanya:

Dan aku duduk di sana dengan pensil di tangan — pensil sungguhan, di kertas sungguhan, karena aku sudah tidak percaya pada ponselku — dan aku mencoba menulis kolom kedua.

Dan aku menulis satu kata.

Semuanya.

Aku memandangi kata itu selama mungkin sepuluh menit.

Lalu aku meremas kertasnya dan melemparnya ke sudut kamar, dan aku berbaring, dan aku tidur untuk pertama kalinya dalam tiga hari.


Aku datang jam empat pagi keesokan harinya.

Warung kosong. Mamad tidur. Kucing tanpa nama sudah datang dan pergi.

Dan Bimo sedang mengiris bawang, seperti selalu, seperti empat bulan terakhir, seperti mungkin empat tahun sebelum aku ada.

Dia mengangkat kepalanya.

“Kemarin kamu nggak datang.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku berdiri di ambang pintu, dengan sepatu di tangan seperti malam pertama, dan aku berkata:

“Aku ngitung.”

Pisau itu berhenti.

“Ngitung apa.”

“Semuanya.”

Bimo menaruh pisaunya.

Dan mengelap tangannya di serbet — pelan, seperti selalu, karena tangannya tidak pernah kotor dan itu selalu caranya membeli waktu.

“Hasilnya?”

Aku menutup pintu di belakangku.

“Aku kalah,” kataku.


Aku berjalan ke meja panjang.

Bukan ke kursiku. Ke meja panjang, ke sisi yang berlawanan dengannya, dengan kayu tua yang sudah aus di tengahnya di antara kami.

“Mas.”

“Ya.”

“Aku mau nanya.”

Dan aku melihat sesuatu terjadi di bahunya — bukan naik, bukan turun, cuma berhenti.

“Nanya,” katanya.

Aku menarik napas.

Dan aku mengucapkan kalimat yang sudah empat bulan menggantung di antara kami, kalimat yang pernah kuucapkan dua kali sebelumnya dan kutarik kembali dua kali, kalimat yang laki-laki ini janjikan akan dia jawab di ambang pintu yang sama pada malam sandal jepitku putus.

“Kamu suka aku, nggak?”

Warung itu sunyi.

Kipas berputar. Kulkas berdengung. Di luar, ada motor lewat, membelah genangan.

Bimo menaruh serbetnya di meja.

“Ran.”

“Iya.”

“Kamu nanya serius?”

Dan di situlah, empat bulan lalu, aku menjawab enggak, bercanda, iseng, kayak biasa dan menutup pintu yang sempat terbuka sepersekian detik.

Aku menatapnya.

“Iya,” kataku.


Dia tidak langsung menjawab.

Dia berjalan mengelilingi meja panjang — pelan, tanpa terburu-buru — dan berhenti di sisiku, satu setengah meter jauhnya.

Dan berdiri di sana.

Dan aku bisa mendengar jantungku sendiri di telingaku.

“Ran.”

“Iya.”

“Malam pertama kamu masuk ke sini.”

“...Iya?”

“Kamu bawa sepatu di tangan. Kaki kamu basah. Dan kamu berdiri di situ—“ dia menunjuk ke arah pintu dengan dagunya “—selama tiga detik, nunggu saya ngeliatin kamu.”

Aku tidak bergerak.

“Terus waktu saya nggak ngeliatin, muka kamu berubah.” Dia menatapku. “Kayak orang yang nyiapin pidato panjang terus dibilangin acaranya batal.”

Aku menutup mataku.

“Mas—“

“Saya lupa nama saya sendiri malam itu,” kata Bimo.

Aku membuka mataku.

“...Apa?”

“Waktu kamu nanya siapa nama saya.” Dia mengangkat bahu. “Saya harus mikir dulu.”


Aku menutup mulutku dengan tangan.

Aku benar-benar melakukannya — refleks, seperti anak kecil, seperti orang yang tidak punya kendali apa pun atas dirinya sendiri.

“Mas.”

“Iya, Ran. Saya suka kamu.”

Empat kata.

Dan setelah empat bulan penuh godaan, penghindaran, bantal, makanan, kucing, tembok kosong, dan air yang tumpah ke meja — empat kata itu keluar dengan sangat biasa, dengan nada yang sama seperti orang menyebutkan bahwa hari ini hari Rabu.

Dan itu yang menghancurkanku.

Bukan pengakuan besarnya. Bukan pidato.

Bahwa laki-laki itu mengucapkannya seperti fakta.

Seperti sesuatu yang sudah lama benar dan cuma belum sempat disebutkan.


Aku menangis.

Bukan menangis yang cantik. Aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku tidak bisa menangis dengan cantik, dan malam itu adalah versi terburuknya — hidungku berair, bahuku berguncang, dan aku mengeluarkan bunyi yang seharusnya tidak dikeluarkan manusia dewasa.

Bimo bergerak setengah langkah.

Lalu berhenti.

“Ran.”

“Jangan.”

“Oke.”

“Jangan deket dulu.”

“Oke.”

Dan dia berdiri di situ, satu setengah meter jauhnya, dengan tangan di sisi tubuhnya, menunggu.

Aku menghapus wajahku dengan lengan jaket abu-abu yang secara hukum bukan milikku.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu nggak tau apa-apa tentang aku.”

“Saya tau.”

“Kamu nggak tau.”

“Saya tau kamu kerja di Aurora tiga tahun. Saya tau kamu pernah tidur sama beberapa orang. Saya tau kamu ngitung semua hal yang orang kasih ke kamu karena kamu nunggu tagihannya.” Suaranya tetap datar. “Saya tau adik kamu nggak tau kamu kerja apa. Saya tau bapak kamu stroke. Saya tau kamu berhenti kuliah semester lima.”

Aku menatapnya.

“Ada lagi?” katanya.


Dan aku melakukan hal yang paling khas Ranti Wulansari yang bisa dilakukan siapa pun dalam situasi seperti itu.

Aku melawan.

“Aku bakal ngerusak hidup kamu.”

“Nggak.”

“Iya, Mas.”

“Gimana caranya.”

Dan aku membuka mulutku, dan aku menyadari — persis seperti di ruang ganti bersama Yuni — bahwa aku tidak punya jawabannya.

“Orang bakal ngomongin kamu.”

“Iya.”

“Kamu nggak peduli?”

“Nggak.”

“Mas, seluruh gang ini tau aku dari mana tiap jam empat pagi.”

“Iya. Saya juga tau.”

“Terus?”

Bimo mengangkat bahu.

“Terus mereka juga tau saya jual kopi tiga ribu dan nombok tiap bulan,” katanya. “Semua orang di sini tau semua tentang semua orang, Ran. Itu bukan hal baru.”

“Mas—“

“Ran.”

“Nanti kamu nyesel.”

Dan itu keluar dari mulutku dengan suara yang pecah di tengah, dan itu adalah kalimat yang sudah empat bulan kusimpan di bawah lidahku, dan begitu keluar aku tidak bisa berhenti.

“Nanti kamu nyesel. Nggak sekarang. Nanti. Tiga bulan lagi, atau setahun lagi, atau lima tahun lagi. Dan kamu nggak bakal bilang, karena kamu nggak pernah bilang apa-apa. Kamu bakal diem aja dan tetep bikinin aku makan dan tetep nggak bilang apa-apa.” Aku menghapus mataku dengan kasar. “Dan aku bakal tau. Aku selalu tau. Aku tiga tahun kerja baca muka orang, Mas, aku bakal tau hari pertama kamu nyesel.”

Warung itu sunyi.

“Dan hari itu aku bakal—“

Aku berhenti.

“Kamu bakal apa?”

Dan aku berkata, sangat pelan:

“Aku bakal nggak punya tempat lagi.”


Bimo bergerak.

Bukan ke arahku. Dia berjalan ke belakang meja panjang, dan aku pikir dia akan mengambil sesuatu — serbet, gelas, apa pun yang biasa dia pakai untuk melarikan diri.

Dia mengambil kursi.

Dan membawanya kembali, dan menaruhnya berhadapan dengan kursiku, dan duduk.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk.

Setengah meter. Lutut kami hampir bersentuhan.

“Ran, saya mau ngomong sesuatu, dan saya cuma mau ngomong sekali.”

Aku mengangguk.

“Saya nggak bisa janji nggak bakal ada yang berubah.”

Aku menutup mataku.

“Ada hal-hal yang saya belum ceritain ke kamu.” Suaranya sangat pelan. “Dan suatu hari nanti saya harus ceritain. Dan waktu saya ceritain, kamu bakal marah.”

“Mas—“

“Dengerin dulu.”

Aku diam.

“Saya nggak bisa janji itu nggak bakal kejadian.” Dia menatap tangannya sendiri. “Dan saya nggak bisa janji kamu bakal tetep mau duduk di kursi itu setelahnya.”

Aku merasakan sesuatu yang dingin di perutku.

“Tapi ada satu hal yang bisa saya janjiin,” katanya.

Dia mengangkat kepalanya.

“Saya nggak bakal nyesel.”


“Kamu nggak bisa tau itu.”

“Bisa.”

“Mas, kamu nggak bisa—“

“Ran.” Dan dia mencondongkan badan sedikit, dan untuk pertama kalinya dalam empat bulan dia menatapku sambil mengatakan sesuatu yang penting. “Saya udah empat tahun nyesel tiap hari.”

Aku berhenti.

“Tiap hari, Ran. Dari bangun sampai tidur.” Dia mengangkat bahu. “Saya tau rasanya nyesel. Saya hafal banget.”

Warung itu sunyi.

“Dan sejak kamu masuk ke sini bawa sepatu di tangan,” katanya, “ada empat jam tiap malam di mana saya nggak nyesel apa-apa.”


Aku tidak bisa bicara.

Aku duduk di kursi itu, setengah meter darinya, dengan wajah yang basah dan tangan yang gemetar dan seluruh sistem pertahanan yang sudah kubangun selama tiga tahun berbaring di lantai dalam keadaan hancur total.

“Mas.”

“Ya.”

“Aku juga.”

“Kamu juga apa?”

Dan aku menatap laki-laki itu — dengan lingkaran di bawah matanya yang sudah berkurang sedikit karena krim mata yang kutinggalkan, dengan bekas plester yang sudah lama lepas di punggung tangannya, dengan serbet yang masih tersampir di bahunya jam empat pagi.

“Aku suka kamu,” kataku.

“Iya. Saya tau.”

“MAS—“

“Dari lama.”

“KAMU TUH—“

Dan dia tertawa.

Bimo Prayoga tertawa.

Bukan senyum dua milimeter selama satu detik. Tertawa — yang bunyinya keluar, yang bahunya ikut bergerak, yang membuat wajahnya berubah jadi wajah yang belum pernah kulihat.

Dan aku menangis lagi, karena tentu saja aku menangis lagi.


Yang terjadi berikutnya terjadi tanpa ada yang memutuskannya.

Aku tidak ingat siapa yang bergerak duluan. Aku sudah mencoba mengingatnya berkali-kali dan aku tidak bisa, dan Bimo bilang dia juga tidak ingat, dan aku curiga salah satu dari kami berbohong tapi aku tidak tahu siapa.

Yang kuingat: tangannya di rahangku.

Kasar di bagian telapak. Hangat. Ibu jarinya menghapus sesuatu di bawah mataku, dan aku sadar bahwa dia sedang menghapus air mataku dan bahwa aku tidak menepisnya.

Dan aku mengangkat kepalaku.

Dan dia berhenti.

Berhenti benar-benar — bergerak sekitar sepuluh senti dan berhenti, dan wajahnya di sana, dan aku bisa merasakan napasnya.

Menunggu.

Bahkan di detik itu, laki-laki itu menunggu.

Jadi aku yang bergerak.


Ciuman pertama kami rasanya seperti garam.

Karena aku menangis. Karena wajahku basah. Karena tanganku memegang kaus depannya terlalu erat sampai kain itu tergulung di kepalanku.

Dan pelan.

Itu yang tidak kusiapkan. Aku sudah — dan aku minta maaf karena harus menyebutkan ini — aku sudah dicium oleh cukup banyak orang untuk tahu bahwa laki-laki biasanya terburu-buru.

Bimo tidak.

Tangannya di rahangku, dan tangan satunya di belakang leherku, dan dia menciumku seperti orang yang sedang melakukan sesuatu yang sudah dia rencanakan berbulan-bulan dan tidak berniat menyia-nyiakan satu detik pun.

Aku mendengar bunyi kecil keluar dari tenggorokanku sendiri.

Dan aku merasakan dia tersenyum.

“Mas—“

“Hm.”

“Kamu senyum.”

“Iya.”

“Kenapa senyum?”

Dan dia menjauh sedikit, cukup untuk menatapku, dengan tangan masih di rahangku.

“Nggak apa-apa,” katanya.

Dan menciumku lagi.


Kami duduk di dua kursi yang berhadapan di warung yang kosong sampai jam enam pagi.

Tidak melakukan apa-apa. Cuma duduk. Dengan tanganku di tangannya di atas lututnya, dan dahiku di bahunya, dan kaus abu-abu yang bau sabun cuci dan sedikit bawang.

“Mas.”

“Ya.”

“Kita ini apa sekarang?”

“Kamu mau apa?”

“Jangan dibalikin, Mas.”

Dan dia diam sebentar.

Lalu berkata:

“Pacar.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Kamu bilang apa?”

“Kamu denger.”

“Ulang.”

“Nggak.”

“MAS.”

“Nggak, Ran.”

Dan telinganya merah, jam enam pagi, di warung yang kosong, dan aku menariknya lebih dekat dan menciumnya lagi supaya dia tidak sempat mengalihkan pembicaraan ke apa pun.


Mamad muncul jam enam lewat, dengan rambut berdiri ke arah barat laut, dan berhenti mendadak di ambang pintu belakang.

Dia melihat kami.

Dia melihat dua kursi yang berhadapan.

Dia melihat tanganku di tangan bosnya.

Dan anak itu — sembilan belas tahun, yang selama empat bulan mengomentari segalanya, yang tidak pernah dalam hidupnya menyimpan satu pun pendapat untuk dirinya sendiri —

berbalik.

Dan masuk kembali ke belakang.

Dan menutup pintu.

Dan berteriak dari dalam, dengan suara yang teredam tembok:

AKHIRNYA!

Aku tertawa sampai aku harus menutup wajahku dengan kedua tangan.

Dan Bimo menutup wajahnya juga.

Dengan tangan yang satunya, karena yang satu lagi masih memegang tanganku.


Bersambung ke Bab 32 — “Lima Menit”