Chapter Nine

Surat

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Pak Har, Mamad Jumlah kata: ±2.400


Pak Har datang jam sebelas malam, dan aku tahu ada yang tidak beres dari cara dia membuka pintu.

Pak Har adalah tukang parkir Aurora. Enam puluh dua tahun, kumis tipis, sandal jepit yang sudah tiga tahun sama. Setiap malam dia datang jam sepuluh, makan nasi rames, minum teh tawar, dan pulang. Selalu jam yang sama, selalu pesanan yang sama, selalu dengan senyum yang menampilkan gigi yang tinggal sebagian.

Malam itu dia datang jam sebelas, tidak memesan apa-apa, dan duduk di kursi paling ujung sambil memegang map plastik.

Bimo melihatnya dari balik meja panjang.

Menaruh serbetnya.

Dan berjalan ke sana tanpa disuruh siapa pun.


“Pak Har.”

“Bim.”

“Kenapa.”

Pak Har tidak langsung menjawab. Dia meletakkan map itu di meja, menggesernya sedikit, lalu menariknya kembali seperti orang yang berubah pikiran tiga kali dalam dua detik.

“Nggak apa-apa. Cuma... anu.”

“Anu apa.”

“Rian.”

“Kenapa Rian?”

“Nggak apa-apa. Sekolahnya.”

Aku duduk tiga meja dari sana, pura-pura sibuk dengan ponselku yang layarnya bahkan tidak menyala.

“Pak Har,” kata Bimo.

“Iya.”

“Mapnya.”

Pak Har memandangi map itu.

Lalu, dengan gerakan seorang laki-laki yang sedang menyerahkan sesuatu yang dia malu memilikinya, dia mendorongnya ke seberang meja.


Bimo membukanya.

Aku memperhatikan dari mejaku, dan yang kulihat berikutnya adalah salah satu hal paling aneh yang pernah kulihat seumur hidupku.

Dia membaca.

Bukan membaca seperti orang biasa membaca — dari atas ke bawah, kata demi kata, kening berkerut. Matanya bergerak dengan cara yang lain. Turun ke tengah halaman langsung. Lalu ke sudut kanan bawah. Lalu balik ke atas. Lalu membalik halaman, tidak dari halaman dua, tapi langsung ke halaman terakhir.

Empat lembar. Kira-kira seratus detik.

Lalu dia menaruh kertas itu dan berkata:

“Ini bukan koperasi.”

Pak Har mengangkat kepalanya. “Lah, katanya koperasi. Ada kopnya.”

“Ada kopnya, tapi bukan koperasi.” Bimo membalik kertas itu, menghadap Pak Har, dan menunjuk satu baris di bagian bawah halaman kedua. “Ini. Yang cetakannya kecil.”

“Saya nggak bisa baca yang segitu, Bim.”

“Bunyinya: dalam hal keterlambatan, denda administrasi harian sebesar dua persen dari sisa pokok.”

“Dua persen doang?”

“Sehari.”

Pak Har berkedip.

“Sehari?”

“Sehari.” Bimo menggeser kertas itu. “Bapak pinjam berapa?”

“Tiga juta. Buat daftar ulang Rian.”

“Cicilannya berapa per bulan?”

“Tiga ratus lima puluh. Sepuluh bulan.”

“Berarti totalnya tiga setengah juta.”

“Iya.”

“Bapak telat berapa hari?”

Pak Har menunduk.

“Dua belas.”

Bimo diam sebentar.

Dan kemudian dia melakukan hal itu.

Dia tidak mengambil kalkulator. Dia tidak mengambil ponselnya. Dia tidak mengambil pulpen dan kertas.

Matanya bergerak ke kiri sedikit, ke arah tidak ada apa-apa, selama mungkin empat detik.

“Dua juta delapan ratus dua puluh ribu,” katanya. “Kurang lebih. Itu dendanya doang, belum pokoknya.”

Pak Har menatapnya.

“Dua... juta?”

“Delapan ratus dua puluh ribu. Kurang lebih.”

“Bim, saya cuma telat dua belas hari.”

“Iya.”

“Dua belas hari kok jadi—“

“Karena dendanya ngitung dari sisa pokok, bukan dari cicilan yang telat.” Bimo mengetuk kertas itu dengan satu jari. “Jadi tiap hari yang dihitung dua persen dari dua juta empat ratus, bukan dari tiga ratus lima puluh. Itu bedanya.”

Pak Har membuka mulutnya. Menutupnya lagi.

Dan aku, dari mejaku, tiga meja jauhnya, dengan ponsel mati di tangan, merasakan sesuatu yang dingin merambat di tengkukku.


Yang perlu kau tahu tentang aku adalah ini: aku lima semester Akuntansi.

Aku bukan ahli. Aku berhenti di semester lima dan aku sudah lupa hampir semuanya. Tapi ada beberapa hal yang tidak pernah hilang, dan salah satunya adalah kemampuan untuk mengenali kapan seseorang menghitung sesuatu di kepalanya dengan benar.

Dan aku tahu — aku tahu dengan pasti, dengan cara yang tidak bisa kubantah — bahwa untuk mendapatkan angka itu, kau harus menghitung bunga berbunga selama dua belas hari.

Bukan perkalian biasa. Kalau dua persen dikali dua belas hari dikali dua juta empat ratus, hasilnya lima ratus tujuh puluh enam ribu. Angka yang jauh lebih kecil.

Untuk sampai ke dua juta delapan ratus, kau harus menggulungnya. Setiap hari dihitung dari saldo hari sebelumnya. Dua belas kali berturut-turut.

Aku pernah mengerjakan soal seperti itu di semester tiga. Butuh kalkulator, kertas, dan empat menit.

Bimo mengerjakannya dalam empat detik sambil berdiri di warung kopi jam sebelas malam.


“Terus saya gimana, Bim?”

“Bapak bawa KTP?”

“Bawa.”

“Besok pagi ke kantor kelurahan. Minta surat keterangan tidak mampu. Habis itu—“

Bimo berhenti.

Berhenti mendadak, di tengah kalimat, seperti orang yang tiba-tiba menyadari sesuatu.

Dan matanya bergerak — ke arahku.

Setengah detik. Cuma setengah detik.

Lalu kembali ke Pak Har.

“Habis itu bawa ke sini,” lanjutnya, dan suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati. “Nanti saya bantu bikinin suratnya.”

“Surat apa?”

“Surat keberatan. Ke perusahaannya.”

“Emang bisa?”

“Bisa.”

“Bim, kamu tau ginian dari mana?”

Warung itu sunyi.

Kipas angin berputar. Kulkas berdengung. Dan aku duduk di mejaku dengan seluruh tubuhku berubah jadi telinga.

Bimo mengumpulkan kertas-kertas itu, merapikannya, memasukkannya kembali ke map.

“Sering ketemu,” katanya.

“Sering ketemu gimana?”

“Banyak yang bawa ke sini.” Dia menyodorkan map itu kembali. “Lama-lama hafal.”

Pak Har mengangguk. Menerima jawaban itu sepenuhnya. Kenapa tidak — itu jawaban yang masuk akal, disampaikan dengan nada yang masuk akal, oleh seorang laki-laki yang selama empat tahun tidak pernah memberinya alasan untuk curiga.

Pak Har pulang jam dua belas lewat, membawa mapnya, dengan bahu yang jauh lebih rendah daripada saat dia datang.

Dan aku tetap duduk di mejaku.


“Kamu belum makan.”

“Mas.”

“Ada ayam. Sebentar.”

“Mas.”

“Ya.”

“Duduk.”

Bimo berhenti.

“Ran—“

“Duduk, Mas.”

Dia berdiri di balik meja panjang selama beberapa detik, memegang serbet, seperti orang yang sedang menimbang apakah lari adalah pilihan yang tersedia.

Lalu dia menarik kursi dan duduk.

“Dua juta delapan ratus dua puluh,” kataku.

“Iya.”

“Kamu ngitungnya berapa lama?”

“Nggak lama.”

“Empat detik.”

“Kamu ngitungin?”

“Iya.”

Bimo menyandarkan punggungnya.

“Terus?”

“Terus itu bunga majemuk, Mas.”

Ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Sangat halus. Bukan panik. Lebih seperti orang yang menyadari bahwa dia sedang berbicara dengan orang yang salah tentang topik yang salah.

“Kamu tau bunga majemuk?”

“Aku lima semester Akuntansi.”

“...Oh.”

“Iya. Oh.”

Kami saling menatap di seberang meja.

Dan aku menunggu — aku benar-benar menunggu, dengan sabar, dengan seluruh kesabaran yang kupunya — untuk penjelasan yang masuk akal.

“Saya belajar sendiri,” katanya.

“Belajar sendiri.”

“Iya.”

“Bunga majemuk dua belas iterasi. Di kepala. Dalam empat detik.”

“Saya sering ngitung.”

“Ngitung apa?”

“Belanja pasar.”

Aku menatapnya.

“Belanja pasar,” ulangku.

“Iya.”

“Mas.”

“Ya.”

“Bahu kamu naik.”

Bimo tidak bergerak.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tidak punya balasan. Tidak ada bantal. Tidak ada makanan. Tidak ada kucing. Tidak ada kamu belum makan.

Cuma laki-laki yang duduk di kursinya sendiri di warungnya sendiri, dan tidak berkata apa-apa.


Aku bisa mendesak.

Aku menyadarinya dengan sangat jelas malam itu. Aku punya pijakan. Aku punya angka. Aku punya empat detik yang tidak bisa dijelaskan oleh belanja pasar mana pun di dunia.

Kalau aku mendesak sekarang, dia akan retak. Aku tahu itu. Aku sudah tiga tahun belajar kapan seseorang akan retak, dan laki-laki di seberang meja ini sudah berada di ambangnya sejak tiga puluh detik yang lalu.

Aku ingat wajahnya waktu aku memegang gitar itu.

Aku ingat Bu Yatmi. Lagi sembunyi.

Aku ingat, juga, bahwa laki-laki ini sudah tiga minggu tidak pernah sekalipun bertanya kepadaku tentang hal-hal yang tidak ingin kuceritakan.

Enam kali dia punya kesempatan. Enam kali dia tidak mengambilnya.

Aku menarik napas.

“Mas.”

“Ya.”

“Ayamnya jadi nggak?”

Bimo mengangkat kepalanya.

Dan ekspresi di wajahnya saat itu adalah sesuatu yang akan kusimpan cukup lama — bukan lega, bukan syukur, tapi sesuatu yang jauh lebih pribadi dari keduanya, seperti orang yang baru saja diberi sesuatu yang dia tidak tahu dia butuhkan.

“Jadi,” katanya.

Dia berdiri. Berjalan ke kompor.

Dan di tengah jalan, tanpa menoleh, dia berkata:

“Makasih.”

“Buat apa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku tersenyum ke mejaku.

“Sama-sama, Mas.”


Ayamnya datang sepuluh menit kemudian, dan porsinya dua kali lipat dari biasanya, dan ada telur balado tambahan yang jelas-jelas tidak ada di menu.

“Mas.”

“Hm.”

“Ini kebanyakan.”

“Iya.”

“Aku nggak bakal habis.”

“Iya.”

“Kamu nyogok aku, ya?”

Bimo mengelap meja.

“Iya,” katanya.

Aku hampir tersedak.

“Kamu ngaku?!”

“Iya.”

“Kok ngaku?”

“Kamu udah tau.”

“Mas—“

“Makan, Ran.”

Aku makan.

Dan seluruh waktu aku makan, aku memikirkan satu hal, dan hal itu adalah ini:

Aku baru saja memilih untuk tidak tahu.

Aku memilihnya dengan sadar, dengan pertimbangan, dengan seluruh kewarasanku yang tersisa. Aku menukar kebenaran dengan sepiring ayam dan seorang laki-laki yang tidak pernah bertanya lebih dari yang perlu.

Dan aku tidak menyesalinya sama sekali malam itu.

Aku baru menyesalinya tiga puluh bab kemudian.


Bersambung ke Bab 10 — “Perempuan yang Datang Pagi”