Chapter Forty Three

Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.550


Warung buka jam lima pagi sekarang.

Itu aturanku sendiri, dari enam minggu lalu, dari buku tulis bersampul biru yang sekarang ada di meja panjang bersama jaket dan kaus dan sikat gigi merah muda.

Jadi jam empat lewat dua puluh, pintunya masih terkunci.

Aku mengetuk.


Butuh empat puluh detik.

Lalu gembok dibuka dari dalam, dan pintu terbuka, dan Bimo berdiri di sana dengan kaus dan celana pendek dan rambut yang jelas baru bangun.

Dia melihatku.

Dan dia tidak berkata apa-apa selama tiga detik penuh.

“Ran.”

“Aku boleh masuk?”

Dan dia mundur satu langkah, membuka pintu lebih lebar, dan aku masuk.


Warung itu gelap.

Cuma lampu kecil di dekat dapur. Kursi masih di atas meja. Kompor mati.

Dan bau warung yang sudah tutup semalaman — bau yang sudah kukenal, bau minyak dan kayu dan sesuatu yang manis dari kaleng gula.

Aku berdiri di tengah ruangan.

“Kamu mau minum apa?”

“Nggak usah.”

“Ada jahe—“

“Mas.”

Dan dia berhenti.

“Duduk,” kataku.


Bimo tidak duduk.

Dia berdiri di dekat meja panjang, dan aku bisa melihat dia mengukur situasi — cara dia berdiri, cara tangannya di sisi tubuhnya, cara dia tidak menyalakan lampu yang lebih besar.

Laki-laki itu sedang bersiap untuk sesuatu yang buruk.

“Mas, duduk.”

“Ran—“

“Aku nggak dateng buat mutusin kamu.”

Dan aku melihat seluruh tubuhnya berubah.

Bukan lega. Sesuatu yang lain, yang lebih dekat ke bingung.

Dia menarik kursi dari atas meja. Menaruhnya di lantai. Dan duduk.


Aku mengeluarkan kertas dari saku jaketku.

Kertas HVS, dilipat empat, dengan tulisan tangan dan angka dan garis-garis.

Aku membukanya dan menaruhnya di atas meja panjang, dan mendorongnya ke arahnya.

“Apa ini?”

“Baca.”

“Ran—“

“Baca, Mas.”

Dan dia mengambilnya.


Aku menonton matanya bergerak.

Cara yang sama seperti waktu dia membaca surat perjanjian Pak Har di Bab sembilan — turun ke tengah, ke sudut kanan, kembali ke atas.

Seratus detik.

Lalu dia menaruhnya di meja.

Dan dia tidak berkata apa-apa.

“Mas.”

“Ini dari mana?”

“Angka warung dari buku aku. Empat bulan data, aku rata-ratain, aku kali seribu empat ratus enam puluh hari.” Aku menunjuk baris berikutnya. “Empat puluh satu ribu itu dari kamu. Kamu yang bilang.”

Bimo memandangi kertas itu.

“Seratus dua ribu piring, Mas,” kataku. “Dua setengah kali lipat.”

Dan aku melihat rahangnya bergerak.

“Ini nggak—“

“Nggak apa?”

“Ini nggak kayak gitu itungannya, Ran.”

“Terus gimana itungannya?”

Dan Bimo membuka mulutnya.

Dan menutupnya lagi.

Karena tidak ada.


“Itu poinnya,” kataku.

Aku menarik kursi dan duduk di seberangnya.

“Nggak ada itungannya, Mas. Nggak akan pernah ada.” Aku menaruh kedua tanganku di meja panjang. “Kamu bilang sendiri malam itu. Angkanya nggak akan pernah masuk.”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu masih ngitung?”

Bimo tidak menjawab.

“Empat tahun, Mas. Kamu buka warung tiap hari dan kamu ngasih makan tujuh puluh orang dan tiap malam kamu duduk di kursi belakang dan kamu ngitung.” Suaraku naik sedikit. “Dan tiap malam angkanya nggak masuk. Dan besoknya kamu buka lagi.”

“Ran—“

“Itu bukan nebus, Mas.”

Dan dia mengangkat kepalanya.

“Terus apa?”

Dan aku berkata:

“Itu nyiksa diri sendiri pakai jadwal.”


Warung itu sunyi.

Aku bisa mendengar kulkas. Aku bisa mendengar motor di gang. Aku bisa mendengar laki-laki di seberang meja yang bernapas dengan cara yang tidak teratur.

“Kamu nggak ngerti.”

“Aku ngerti banget.”

“Ran, kamu nggak—“

“AKU NGERTI BANGET, MAS.”

Dan aku menggebrak meja panjang itu dengan telapak tangan, satu kali, dan bunyinya keras sekali di ruangan yang kosong.

“Tiga tahun sepuluh bulan,” kataku. “Tiap malam aku pulang jam empat pagi dan aku ngitung berapa yang udah masuk dan berapa yang kurang. Dan tiap bulan angkanya masuk. Dan aku tetep nggak berhenti.”

Bimo tidak bergerak.

“Empat belas bulan, Mas. Empat belas bulan aku udah lewat target dan aku tetep kerja.”

Aku menghapus mataku dengan lengan.

“Karena aku takut. Karena selama aku masih bayar, aku nggak usah mikirin siapa aku kalau udah lunas.”

Dan aku menatapnya.

“Kamu sama, Mas.”


Bimo menutup matanya.

“Ran.”

“Selama kamu masih buka warung ini, kamu nggak usah mikirin siapa kamu kalau udah selesai.”

“Ran—“

“Dan kamu nggak bakal pernah selesai, karena kamu sendiri yang ngatur supaya nggak selesai.”

Dan dia membuka matanya, dan ada sesuatu di sana yang membuatku ingin berhenti.

Aku tidak berhenti.

“Kopi tiga ribu,” kataku. “Untungnya dua ratus rupiah per gelas.”

“Itu supaya semua orang bisa beli.”

“Iya, Mas. Dan itu bagus.” Aku mencondongkan badan. “Tapi coba jawab satu pertanyaan.”

Aku menatapnya.

“Berapa orang yang bunuh diri gara-gara nggak bisa beli kopi lima ribu?”


Dia tidak menjawab.

“Nol,” kataku. “Nol orang, Mas.”

“Ran.”

“Kopi tiga ribu nggak nolongin siapa-siapa dari hal yang kamu takutin.” Suaraku pecah. “Kopi tiga ribu cuma bikin kamu ngerasa lebih enak.”

“ITU NGGAK BENER.”

Dan dia berdiri.

Dan kursinya jatuh ke belakang, dan bunyinya menggema, dan aku melihat laki-laki itu berdiri di seberang meja panjang dengan dada yang naik turun untuk pertama kalinya dalam lima bulan.

Bagus.

Bagus.

“Terus apa yang bener, Mas?”

“Saya ngasih makan orang.”

“Iya.”

“Saya bantu Pak Har. Saya bantu Bu Rahma. Saya bantu—“

“IYA, MAS. AKU TAU.”

Dan aku juga berdiri.

“Kamu bantu tiga puluh orang di gang ini,” kataku. “Dan itu bagus. Dan mereka sayang sama kamu. Dan kalau kamu pergi dari sini mereka bakal nangis semua.”

Aku menghapus wajahku.

“Tapi ada dua belas ribu orang yang lagi gugat, Mas.”


Warung itu jadi sangat, sangat sunyi.

Bimo tidak bergerak.

“Damar telepon aku hari Senin,” kataku.

Dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya — cepat, tajam.

“Ran, kamu nggak boleh—“

“Aku nutup teleponnya setelah satu pertanyaan.”

“Pertanyaan apa?”

Dan aku menatapnya.

“Aku nanya apa yang kejadian sama dia kalau kamu maju.”

Bimo memegang tepi meja panjang.

“Dan dia jawab jujur,” kataku. “Perdata pasti. Pidana kemungkinan.”

Hening.

“Terus dia bilang satu hal lagi.”

Dan aku melihat laki-laki itu tahu apa yang akan kukatakan, dan aku melihat dia bersiap.

“Dia bilang kalau kamu maju, kamu jatuhin diri kamu sendiri juga.”


“Iya,” kata Bimo.

“Kamu tanda tangan dua puluh tiga dokumen.”

“Iya.”

“Empat tahun kamu diem karena itu?”

Dan dia menatapku.

Dan berkata, dengan suara yang benar-benar datar:

“Nggak.”

Aku berhenti.

“...Apa?”

“Saya nggak diem karena takut, Ran.”

Dan dia mengangkat kepalanya, dan wajahnya adalah wajah orang yang meletakkan sesuatu yang sudah empat tahun dia bawa.

“Saya diem karena saya nggak yakin saya berhak.”


“Berhak apa?”

“Berhak jadi orang yang ngasih kesaksian.”

Aku menatapnya.

“Ran, saya yang bikin barangnya.” Suaranya bergetar. “Saya yang bikin sistem scoring-nya. Saya yang bikin engine-nya jalan. Tanpa saya, nggak ada Ringan.”

“Mas—“

“Terus sekarang saya mau berdiri di pengadilan dan nunjuk orang lain?” Dia tertawa, satu bunyi, jelek. “Saya mau bilang ‘itu dia, bukan saya’?”

Dan aku berjalan mengelilingi meja panjang.

Dan aku berdiri di depannya.

“Mas.”

“Ran, saya nggak—“

“Ibuku bilang sesuatu minggu lalu.”

Dan dia berhenti.


“Aku pulang kampung,” kataku. “Hari Jumat. Aku nanya ke Ibu.”

Bimo tidak bergerak.

“Aku nanya: kalau ada orang yang bikin aplikasi itu, terus dia nggak setuju sama cara nagihnya, terus dia dipecat karena nggak setuju — orang itu salah nggak.”

“Ran—“

“Dan Ibu nanya balik: kamu kenal orangnya?”

Aku menatapnya.

“Dan aku bilang iya.”

Warung itu sunyi.

“Dan Ibu bilang,” kataku, “‘berarti dia bukan yang bikin sistemnya, Ran. Dia yang bikin barangnya. Orang lain yang bikin sistemnya.’”

Dan aku melihat sesuatu retak di wajah laki-laki itu.

“Ran—“

“Ibuku yang bilang, Mas.” Suaraku pecah. “Perempuan yang dipermaluin di depan tetangganya. Yang suaminya stroke enam bulan kemudian. Dia yang bilang.”


Bimo menutup wajahnya dengan satu tangan.

Dan aku berdiri di sana, setengah meter darinya, dan aku tidak menyentuhnya.

Belum.

“Mas.”

“...Ya.”

“Aku mau ngomong satu hal, dan setelah itu aku diem.”

Dia tidak menjawab.

Aku menarik napas.

“Empat tahun kamu jualan kopi tiga ribu buat orang-orang yang keluarganya rusak sama aplikasi itu,” kataku.

Dan aku menunggu sampai dia menurunkan tangannya dari wajahnya.

Dan aku menatapnya.

“Bapakku nggak butuh kamu jualan kopi murah, Mas.”

Warung itu sunyi.

“Bapakku duduk di kursi rotan di kampung dan tangan kanannya nggak bisa gerak dan dia butuh empat detik buat bilang satu kata.”

Aku menghapus wajahku.

“Dan yang dia butuhin bukan kopi tiga ribu.”

Dan aku berkata:

“Yang dia butuhin adalah orang yang bikin barang itu berhenti.”


Bimo tidak bergerak.

Dan aku berdiri di depannya, di warung yang gelap, jam empat lewat lima puluh pagi.

“Kamu punya dokumennya.”

“Ran—“

“Kamu punya dokumennya, Mas.”

“Kamu nggak ngerti apa artinya—“

“AKU NGERTI ARTINYA.”

Dan aku memegang kedua lengannya.

“Artinya kamu ikut jatuh,” kataku. “Artinya kamu mungkin masuk penjara. Artinya semua orang bakal tau nama kamu dan nggak ada satu pun yang bakal inget bahwa kamu yang nolak duluan.”

Aku menggenggamnya lebih erat.

“Aku ngerti, Mas. Aku ngitung juga.”

Dan aku menatapnya.

“Dan aku tetep di sini.”


Dan itu yang membuat laki-laki itu hancur.

Bukan angkanya. Bukan ibuku. Bukan bapakku di kursi rotan.

Empat kata.

Dan Bimo Prayoga — yang tidak menangis waktu warungnya tutup pertama kali, yang tidak menangis waktu Damar duduk di kursinya, yang tidak menangis selama dua belas hari makan sendirian dengan piring kedua di meja —

menunduk.

Dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Dan menangis.

Berdiri.

Di tengah warungnya sendiri, jam lima kurang sepuluh pagi.


Aku menariknya.

Dan dia jatuh — bukan jatuh, tapi berat badannya berpindah, dan aku hampir tidak bisa menahannya, dan kami berdua akhirnya duduk di lantai keramik dengan punggungnya ke kaki meja panjang.

Dan aku memeluk kepalanya ke dadaku.

Dan laki-laki itu menangis selama mungkin dua puluh menit, dengan cara yang paling jelek dan paling berisik dan paling tidak dijaga yang pernah kudengar dari siapa pun.

Empat tahun.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Empat tahun, tiga bulan, dan berapa pun hari, disimpan di dalam satu orang yang tidak pernah mengizinkan dirinya berhenti selama satu hari pun.


Mamad membuka pintu belakang jam lima lewat.

Dan aku menoleh, dan mata kami bertemu, dan anak itu melihat bosnya di lantai dengan wajah di dadaku.

Dan dia menutup pintunya kembali.

Tanpa satu kata pun.

Dan aku mendengar dia menyalakan kompor di belakang, dan aku mendengar dia menuang air, dan aku mendengar anak sembilan belas tahun itu membuka warung sendirian untuk pertama kalinya dalam tiga setengah tahun.


“Ran.”

Jam enam pagi. Suaranya serak.

“Iya.”

“Kalau saya maju.”

“Iya?”

Dan dia mengangkat kepalanya dari dadaku, dan wajahnya bengkak, dan matanya merah, dan dia terlihat seperti seseorang yang baru selesai berjalan sangat jauh.

“Kamu tetep di sini?”

Dan aku memegang wajahnya dengan kedua tangan.

“Mas,” kataku.

“Ya.”

“Aku udah di sini.”


Bersambung ke Bab 44 — “Sikat Gigi”