Chapter Fifty Two

Jam Empat Pagi

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Bu Yatmi, Mbak Ayu, Rika Jumlah kata: ±2.700


Warung Sembilan tutup jam sebelas malam sekarang.

Dan buka jam enam pagi.

Yang berarti ada tujuh jam dalam sehari di mana angka sembilan di atas pintu itu menyala tapi tidak ada siapa-siapa di dalamnya, dan itu adalah tujuh jam yang paling kubanggakan dari seluruh hal yang pernah kulakukan dalam hidupku.

Tapi ada satu pengecualian.

Setiap hari Jumat, warung buka jam empat pagi.


Itu keputusanku, tiga bulan setelah aku membeli lima puluh satu persennya.

Aku mengajukannya di malam Rabu, dengan tabel, seperti biasa.

“Mas.”

“Ya.”

“Aku mau buka jam empat pagi hari Jumat.”

Bimo mengangkat kepalanya dari talenan.

“Kenapa Jumat?”

“Karena Kamis malam paling rame di Aurora dan Melati.” Aku menunjuk tabelnya. “Dan Jumat subuh mereka pulang paling capek.”

Dan aku menaruh pulpenku.

“Dan mereka nggak punya tempat, Mas.”


Bimo memandangi tabel itu.

Dan kemudian dia berkata sesuatu yang tidak kuduga.

“Ran.”

“Ya.”

“Empat tahun saya buka dua puluh empat jam.”

“Iya.”

“Dan kamu yang nyuruh saya tutup.”

“Iya.”

Dan dia menatapku.

“Sekarang kamu yang minta buka lagi.”

Dan aku berkata:

“Iya. Tapi cuma satu hari.”

Dan aku mengangkat kepalaku.

“Dan bukan kamu yang jaga.”


Jadi setiap Jumat jam empat pagi, aku yang membuka warung.

Aku dan Mbak Ayu, yang bekerja shift pagi tapi meminta Jumat khusus, karena dia bilang “saya kan tau rasanya, Mbak.”

Dan Rika, yang tidak diminta tapi selalu datang.

Dan kami bertiga berdiri di balik meja panjang jam empat pagi setiap hari Jumat, dan pintu terbuka, dan perempuan-perempuan itu masuk.

Dengan sepatu di tangan.

Dengan riasan yang sudah menyerah.

Dengan wajah yang sudah dipasang, yang selalu retak sedikit di bagian yang tidak mereka sadari, waktu mereka menyadari bahwa tidak ada yang menilai mereka di ruangan itu.

Dan kami menaruh makanan di depan mereka tanpa mereka memesan.

Hangat. Tidak pedas. Porsi yang tidak terlalu besar.

Karena mereka pulang dalam keadaan perut kosong tapi tidak nafsu makan, dan kalau diberi yang berat tidak akan masuk, dan kalau diberi yang pedas besoknya sakit.

Aku tahu itu.

Aku tahu itu karena aku pernah jadi mereka, dan karena seseorang mengajariku bahwa memperhatikan adalah bentuk kasih sayang yang tidak perlu diumumkan.


Bimo tidur waktu itu.

Setiap Jumat, dia tidur sampai jam tujuh, dan aku tidak membangunkannya, dan dia tidak pernah sekali pun bangun sendiri untuk melihat.

Dan aku bertanya kenapa, sekali, di bulan kedua.

“Mas, kamu nggak mau liat?”

Dan dia berkata:

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dan Bimo, yang sedang mengiris bawang, berkata:

“Karena itu punya kamu.”


Aku hamil di bulan November.

Aku menemukannya hari Selasa, jam enam pagi, di kamar mandi warung, dengan dua garis merah muda di sebuah alat yang kubeli di apotek jam sepuluh malam sebelumnya sambil berpura-pura membeli vitamin.

Dan aku duduk di lantai kamar mandi itu selama sekitar delapan menit.

Dan kemudian aku keluar.

Dan Bimo sedang menyalakan kompor.

Dan aku berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan alat itu di tangan, dan aku membuka mulutku, dan aku tidak bisa mengeluarkan satu pun kata.

Dan dia menoleh.

Dan melihat wajahku.

Dan menaruh korek apinya.


Dia tidak berteriak.

Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah membayangkan seratus versi dari momen itu dan tidak satu pun dari versi itu yang benar.

Bimo berjalan ke arahku.

Dan mengambil alat itu dari tanganku, dan memandanginya selama sekitar empat detik.

Dan kemudian dia menaruh alat itu di meja panjang.

Dan memelukku.

Dan tidak berkata apa-apa selama mungkin dua menit.

Dan aku merasakan tubuhnya bergetar dan aku tahu bahwa laki-laki itu menangis di atas kepalaku dan tidak berniat mengakuinya.

“Mas.”

“...Ya.”

“Kamu nangis.”

“Nggak.”

“Mas.”

“Kamu belum makan,” katanya.

Dan aku tertawa sampai aku juga menangis.


Kami menikah di bulan Februari.

Di halaman rumah orang tuaku, di kampung, di jalan yang ada nomornya, dengan tenda yang dipasang oleh tujuh orang tetangga yang datang jam lima pagi tanpa diminta.

Bapakku duduk di kursi rotannya, dan dia yang menyerahkanku, dari kursi itu, dengan tangan kirinya.

Dan Bu Yatmi memasak untuk tiga ratus orang.

Dan Mamad menangis lebih keras daripada siapa pun di sana, termasuk ibuku, termasuk aku.

Dan Yuni menangkap buket bunganya dan berteriak “SIALAN” di depan seluruh kampung.


Dan aku ingin mencatat satu hal tentang hari itu, karena ini satu-satunya hal yang benar-benar penting.

Tidak ada satu pun orang yang bertanya.

Tiga ratus orang di halaman rumah orang tuaku, dan sebagian besar dari mereka tahu — kampung kecil, tidak ada rahasia, dan aku sudah lama berhenti berpura-pura sebaliknya.

Dan tidak ada satu pun yang bertanya.

Dan Pak RT memberi sambutan, dan dia bicara selama sebelas menit, dan sebagian besar tidak nyambung, dan di akhir dia berkata:

“Ranti ini anak yang dari dulu ngurusin keluarganya.”

Dan itu saja.

Kalimat itu masuk ke telingaku dan aku berdiri di pelaminan dengan kebaya yang terlalu panas dan aku menyadari bahwa aku sudah tiga tahun sepuluh bulan menunggu seseorang mengatakan kalimat sesederhana itu tentangku.


Aku ingin mempercepat.

Karena kalau tidak, aku akan menulis segalanya, dan segalanya adalah hal-hal yang tidak menarik bagi siapa pun kecuali kami.

Jadi: dua tahun.

Anak kami perempuan. Lahir bulan Juli, empat puluh sembilan senti, dua koma sembilan kilo.

Namanya Sumi.

Diambil dari nama ibunya Bimo, yang bernama Sumiyati, dan yang cerewet sekali, dan yang tidak bisa diam kalau sedang masak atau nonton TV atau mungkin tidur.

Dan anak kami — dan ini akan terdengar seperti karangan, tapi aku bersumpah demi apa pun — anak kami tidak bisa diam.

Sejak bulan keempat.

Dia berceloteh sepanjang hari, dalam bahasa yang tidak ada di dunia mana pun, dan dia berhenti hanya kalau tidur.

Dan Bu Yatmi menggendongnya di bulan keenam dan berkata:

“Ya Allah, Bim. Ini ibu kamu.”

Dan Bimo tidak berkata apa-apa selama sekitar sepuluh detik.

Dan kemudian dia masuk ke dapur dan tidak keluar selama lima menit.


Dan sekarang.

Malam Jumat. Jam sebelas lewat sepuluh.

Warung sudah tutup. Mamad sudah pulang ke kamarnya — bukan kamar belakang lagi, dia mengontrak sendiri sekarang, dua gang dari sini, dengan pacarnya yang bernama Fitri dan yang menurut Mamad “nggak sabaran banget, Mbak, kayak Mbak.”

Sumi tidur di kamar belakang, umur satu tahun tujuh bulan, dengan mulut terbuka dan satu kaki keluar dari selimut seperti biasa.

Dan aku sedang menumpuk kursi.


“Ran.”

“Ya?”

Dan aku menoleh.

Dan Bimo berdiri di balik meja panjang dengan serbet di bahunya, seperti empat tahun terakhir, seperti delapan tahun terakhir, seperti mungkin selamanya.

Dan dia berkata:

“Kamu cantik.”


Aku menaruh kursi.

Dan aku berbalik sepenuhnya.

Dan aku berdiri di tengah warung yang setengah gelap dengan tangan di pinggang.

Dan aku menunggu.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Empat.

“...Mas.”

“Ya.”

“Nggak ada lanjutannya?”

Dan Bimo mengambil serbet dari bahunya. Melipatnya. Menaruhnya di meja.

“Nggak,” katanya.


Dan aku menangis.

Di tengah warung, jam sebelas lewat lima belas malam, dengan lima kursi masih di lantai dan sisanya sudah di atas meja.

Bukan menangis yang cantik. Aku sudah delapan tahun bilang bahwa aku tidak bisa menangis dengan cantik dan aku sudah berhenti berpura-pura sebaliknya.

“KAMU JAHAT.”

“Iya.”

“Kamu tuh—“

“Iya.”

“DELAPAN TAHUN, MAS.”

“Iya.”

Dan dia berjalan mengelilingi meja panjang, dan berdiri di depanku, dan mengangkat tangannya dan menghapus wajahku dengan ibu jarinya.

“Sori,” katanya.

“Kamu nggak sori.”

“Nggak,” katanya. “Nggak sori sama sekali.”


Kami duduk di dua kursi yang berhadapan.

Seperti malam itu. Delapan tahun lalu, jam empat pagi, waktu aku bertanya sesuatu dengan serius untuk pertama kalinya.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu inget nggak malam pertama aku ke sini?”

“Iya.”

“Aku bawa sepatu.”

“Iya.”

“Dan kaki aku basah.”

“Iya. Ada keset di kiri.”

Dan aku tertawa.

“Kamu inget banget.”

Dan Bimo mengangkat bahu.

“Saya inget semuanya, Ran.”


Dan kemudian dia berdiri.

Dan berjalan ke sudut ruangan.

Dan aku menoleh, dan aku melihat apa yang dia ambil, dan aku duduk lebih tegak di kursiku.


Gitar itu tidak berdebu lagi.

Sudah dua tahun tidak berdebu.

Bimo membersihkannya malam itu, malam Kirana pamit, dengan lap basah dan lap kering dan kesabaran seorang laki-laki yang tidak terburu-buru.

Dan dia mengganti senarnya seminggu kemudian.

Dan dia menaruhnya kembali di sudut yang sama.

Dan tidak memainkannya selama enam bulan.

Yang pertama kali dia mainkan bukan lagu. Cuma bunyi. Satu senar, dipetik sekali, jam sebelas malam, di warung yang kosong — dan dia berhenti setelah itu dan menaruhnya kembali dan tidak berkata apa-apa dan aku pura-pura tidak melihat.

Yang kedua kali, dua minggu kemudian, dia memetik empat nada.

Dan yang ketiga kali, di bulan kedelapan, aku bangun jam lima pagi dan mendengar sesuatu dari warung, dan aku berdiri di ambang pintu kamar dan mendengarkan seorang laki-laki memainkan lagu yang tidak kukenal sampai selesai.

Dan aku tidak masuk.

Dan aku tidak pernah menyebutkannya.


Sekarang dia duduk di kursi di seberangku dengan gitar itu di pangkuannya.

Dan dia menyetelnya — pelan, dengan telinga, memutar pasak dan memetik dan memutar lagi — dan aku duduk di kursiku dan tidak bergerak sama sekali.

“Ran.”

“Ya.”

“Saya belum pernah mainin ini di depan kamu.”

“Aku tau.”

Dan dia mengangkat kepalanya.

“Kamu pernah denger?”

Dan aku berkata:

“Sekali. Jam lima pagi. Bulan kedelapan.”

Dan Bimo tersenyum.

“Saya tau,” katanya. “Saya denger pintunya.”


Dia memainkannya malam itu.

Aku tidak akan menuliskan lagunya.

Bukan karena aku tidak mau — karena tidak ada gunanya. Karena kalau aku menuliskan judulnya, kau akan mendengarnya di kepalamu dengan versi penyanyi aslinya, dan itu bukan yang kudengar malam itu.

Yang kudengar malam itu adalah seorang laki-laki berumur empat puluh dua tahun yang tangannya masih hafal setelah delapan tahun tidak memainkannya, duduk di kursi kayu di warungnya sendiri jam setengah dua belas malam.

Dan dia bermain dengan buruk.

Ada beberapa nada yang meleset. Dia berhenti di tengah sekali, dan mengulang bagiannya dari awal.

Dan tangannya bergetar di bagian akhir.

Dan dia tidak menyanyi.

Dia tidak pernah menyanyi. Bu Yatmi bilang begitu delapan tahun lalu, dan itu masih benar.

Dan waktu selesai, dia menaruh tangannya di senar untuk menghentikan bunyinya.

Dan warung itu jadi sunyi.


“Ran.”

“Ya.”

“Ibu saya beliin ini waktu saya kelas dua SMA.”

Aku tidak bisa bicara.

“Dan beliau bilang: ‘Bim, kamu belajar terus. Nanti kamu mainin buat Ibu.’”

Dia memandangi gitar di pangkuannya.

“Dan saya nggak pernah,” katanya.

Warung itu sunyi.

“Delapan belas tahun saya nggak pernah mainin buat beliau. Dan pas beliau sakit, saya masak. Saya ngurus. Saya beliin obat.” Suaranya bergetar. “Tapi saya nggak pernah main.”

Dan dia mengangkat kepalanya.

“Sampai malam Lebaran tahun pertama saya di sini.”

Aku menutup mulutku.

“Terus saya berhenti lagi,” katanya. “Empat tahun.”

Dan dia menaruh gitarnya di lantai, bersandar ke kaki kursi.

“Ran.”

“Iya.”

Dan Bimo Prayoga berkata:

“Sumi bakal denger.”


Aku menangis lagi.

Tentu saja aku menangis lagi. Aku sudah delapan tahun begini dan aku tidak akan berhenti dan aku sudah berhenti minta maaf tentangnya.

Dan Bimo berjalan ke kursiku dan berjongkok di depanku, seperti malam tali sandal delapan tahun lalu, dan memegang kedua tanganku.

“Ran.”

“Hm.”

“Kamu belum makan.”

Dan aku memukul bahunya dengan telapak tangan.

“AKU UDAH MAKAN JAM DELAPAN.”

“Bohong.”

“Mas—“

“Kamu ngasih makan Sumi jam delapan. Kamu makan tiga suap terus dia nangis.”

Dan aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Kamu tuh nyebelin banget.”

“Iya.”

“Delapan tahun.”

“Iya.”

Dan dia berdiri, dan menarik tanganku, dan berjalan ke belakang meja panjang.

Dan menyalakan kompor.


Dan aku duduk di kursi kayu di warung yang setengah gelap, jam dua belas kurang sepuluh malam.

Dan aku menonton laki-laki itu memasak.

Punggungnya. Lengan baju yang digulung sampai siku. Bahu yang tidak lagi setegang delapan tahun lalu. Rambut yang sudah ada beberapa helai putih di dekat pelipis, yang pertama kali kulihat dari atas waktu dia jongkok membetulkan sandal jepitku.

Dan gitar di lantai, bersandar ke kaki kursi, tidak lagi di sudut.

Dan di kamar belakang, seorang anak perempuan berumur satu tahun tujuh bulan yang tidak bisa diam.

Dan di lantai dua, dua puluh kursi kosong yang besok pagi akan diisi.

Dan di luar, gang yang bau got dan hujan, dan angka sembilan yang dicat putih dan miring ke kanan, yang dikerjakan oleh orang yang waktu itu tidak terlalu peduli apakah ada yang akan masuk atau tidak.


“Mas.”

“Ya.”

Dan dia tidak menoleh, karena dia sedang memasak, karena dia tidak pernah menoleh waktu sedang memasak.

Dan aku berkata:

“Aku sayang kamu.”

Dan spatula itu berhenti.

Selama, mungkin, dua detik.

Lalu dia melanjutkan.

“Iya,” katanya. “Saya tau.”

“MAS.”

Dan Bimo menoleh.

Dan tersenyum — yang sungguhan, yang sampai ke matanya, yang butuh delapan bulan untuk kulihat pertama kalinya dan sekarang muncul hampir setiap hari.

“Saya juga,” katanya.

Dan dia kembali ke wajannya.

Dan kemudian, pelan sekali, hampir tenggelam di bawah bunyi minyak panas:

“Sayang.”


TAMAT


Catatan penulis:

Untuk Ranti, Bimo, dan semua orang yang jam empat paginya belum menemukan tempat.

Semoga ada warung yang menyala.