Chapter Forty One
Yang Dikembalikan
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Yuni Jumlah kata: ±2.450
Aku ke warung di hari ketiga belas.
Jam sepuluh malam, karena aku tahu warung tutup jam dua belas dan aku tidak ingin ada orang.
Aku salah. Masih ada empat orang.
Jadi aku berdiri di ujung gang selama satu jam lima puluh menit, dengan tas kain di tangan, sampai orang terakhir keluar.
Lalu aku masuk.
Bimo sedang menumpuk kursi.
Dia berhenti waktu pintu berbunyi.
Dan dia tidak berbalik selama dua detik penuh — dan aku tahu persis apa yang dia lakukan dalam dua detik itu, karena aku sudah empat bulan membaca laki-laki ini.
Dia sedang memasang wajahnya.
Lalu dia berbalik.
“Ran.”
“Mas.”
Dan kami berdiri di sana, di warung yang setengah gelap, dengan enam kursi masih di lantai dan sisanya sudah di atas meja.
Dan aku melihat wajahnya.
Dan seluruh kalimat yang sudah kususun selama sembilan jam terakhir hilang dari kepalaku.
Karena dia terlihat buruk.
Bukan buruk yang biasa. Lingkaran di bawah matanya kembali — bukan kembali, lebih gelap dari yang pernah kulihat, bahkan lebih gelap dari malam pertama aku datang ke warung ini.
Dia kurus. Tiga belas hari dan dia kurus, dan aku tahu itu artinya apa.
Dan tangannya, waktu dia menaruh kursi terakhir, bergetar sedikit.
“Kamu makan nggak?”
Kalimat itu keluar dari mulutku sebelum aku sempat menghentikannya.
Bimo tidak menjawab.
“Mas.”
“Duduk,” katanya.
“Aku nggak lama.”
Dan aku melihat sesuatu di wajahnya bergerak, sekali, dan kemudian tenang lagi.
“Oke,” katanya.
Aku menaruh tas kain itu di meja panjang.
“Aku bawain barang kamu.”
Bimo memandangi tas itu.
“Ran—“
“Aku cuma ngembaliin, Mas. Nggak ada apa-apa.”
Dan aku mengeluarkan isinya, satu per satu, karena aku sudah memutuskan bahwa aku akan melakukannya dengan tenang, seperti orang dewasa, seperti transaksi.
Aku salah menghitung kemampuanku sendiri.
Satu. Kaus abu-abu yang kebesaran. Sudah dicuci. Sudah disetrika.
Dua. Celana pendek yang harus digulung dua kali di pinggang.
Tiga. Buku tulis bersampul biru. Pembukuan Warung Sembilan, empat bulan, ditulis tangan, dengan tabel dan grafik dan catatan di margin.
Dan aku menaruhnya di meja panjang, dan aku mendorongnya ke arahnya.
“Ini lengkap sampai tanggal dua puluh,” kataku. “Ada catatan di halaman terakhir. Bon yang belum ditagih ada di daftar terpisah. Mamad bisa lanjutin kalau kamu ajarin.”
Bimo tidak menyentuhnya.
“Ran.”
“Terus ini.”
Dan aku mengeluarkan yang keempat.
Jaket abu-abu itu.
Aku sudah mencucinya. Aku sudah menyetrikanya. Aku melipatnya di kontrakan tadi sore selama entah berapa lama, sampai lipatannya rapi, sampai tidak ada satu pun kerutan.
Aku menaruhnya di meja panjang.
Dan tanganku tidak mau lepas dari kainnya.
Aku berdiri di sana selama mungkin lima detik dengan kedua tangan masih di jaket itu, dan aku bisa merasakan Bimo memperhatikan, dan aku tidak bisa melepaskannya.
“Ran.”
“Sebentar.”
“Ran.”
“SEBENTAR.”
Dan aku melepaskannya.
Dan aku mundur satu langkah.
Warung itu sunyi.
“Itu bukan punya siapa-siapa,” kata Bimo.
“Apa?”
“Jaketnya. Malam pertama.” Suaranya sangat pelan. “Saya bilang bukan punya siapa-siapa.”
“Iya.”
“Itu bohong.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Itu punya saya,” katanya. “Satu-satunya yang saya bawa dari sana.”
Dan aku menutup mataku.
“Mas.”
“Empat tahun saya nggak pernah pakai.” Dia memandangi jaket itu di meja. “Saya taro di gudang. Sama tas itu.”
“Terus kenapa kamu kasih ke aku?”
Dan Bimo berkata:
“Karena tangan kamu dingin.”
Aku harus berbalik.
Aku benar-benar harus berbalik, menghadap tembok, dan berdiri di sana selama sekitar tiga puluh detik dengan tangan menutup mulut.
Dan Bimo tidak bergerak dari tempatnya.
Waktu aku berbalik lagi, dia masih berdiri di sisi meja panjang yang sama, dengan tangan di sisi tubuhnya.
“Mas.”
“Ya.”
“Aku ada satu lagi.”
Dan aku mengeluarkan yang terakhir dari kantong kecil di tas kain itu.
Sikat gigi merah muda.
Dan itu yang menghancurkannya.
Bukan jaketnya. Bukan buku tulisnya.
Aku menaruh sikat gigi itu di meja panjang, dan aku melihat laki-laki di seberangku menutup matanya, dan aku melihat rahangnya bergerak sekali.
“Ran.”
“Aku nggak butuh dua, Mas. Aku punya di kontrakan.”
“Ran—“
“Dan kalau dibiarin di sini, nanti bulunya mekar.”
“Ran.”
Dan dia membuka matanya.
Dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat dalam empat bulan.
Mata laki-laki itu basah.
“Kamu mau saya bilang apa?”
Suaranya tidak keras. Itu yang membuatnya lebih buruk.
“Kamu mau saya bilang maaf?” Dia menunjuk barang-barang di meja panjang. “Saya bisa bilang maaf. Saya udah nyusun kalimatnya tiga belas hari. Ada lima versi.”
Aku memegang tepi meja.
“Tapi maaf saya nggak ngapa-ngapain, Ran.” Suaranya bergetar. “Bapak kamu tetep stroke. Kuliah kamu tetep berhenti. Dan kamu tetep tiga tahun sepuluh bulan di Aurora.”
“Mas—“
“Dan saya nggak bisa balikin satu pun dari itu.”
Aku menangis.
Tentu saja aku menangis. Aku sudah tiga belas hari berlatih tidak menangis di depan siapa pun dan aku gagal dalam waktu kurang dari lima menit.
“Aku nggak minta kamu balikin apa-apa.”
“Terus kamu minta apa?”
“AKU NGGAK MINTA APA-APA, MAS.”
Dan bunyi itu memenuhi warung yang kosong.
“Aku nggak dateng ke sini buat minta.” Aku menghapus wajahku dengan lengan. “Aku dateng ke sini karena aku nggak bisa napas selama tiga belas hari dan aku nggak tau kenapa.”
Bimo tidak bergerak.
“Dan aku pikir kalau aku balikin semuanya, aku bakal ngerti.”
“Terus kamu ngerti?”
Dan aku menatap meja panjang itu — jaket, kaus, buku tulis, sikat gigi merah muda.
“Enggak,” kataku.
Kami berdiri di sana untuk waktu yang sangat lama.
Aku tidak tahu berapa. Aku berhenti menghitung tiga belas hari lalu dan belum mulai lagi.
“Ran.”
“Ya.”
“Boleh saya cerita sesuatu?”
Dan aku mengangkat kepalaku.
Karena selama empat bulan, laki-laki ini tidak pernah sekali pun mengajukan kalimat itu.
Aku mengangguk.
“Malam saya baca beritanya,” katanya.
Dia tidak duduk. Dia berdiri di sisi meja panjang, dengan kedua tangan di kayu, memandangi permukaannya.
“Saya lagi di apartemen. Jam empat pagi. Saya nggak bisa tidur udah beberapa bulan.”
Aku tidak bergerak.
“Namanya Pak Sudirman. Lima puluh tiga tahun. Toko kelontong di Malang.”
Warung itu sunyi.
“Dan saya baca berita itu,” katanya, “dan hal pertama yang saya lakuin bukan nangis.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Saya buka laptop,” katanya. “Dan saya ngitung.”
Aku menutup mulutku.
“Saya ngitung berapa orang lagi.” Suaranya benar-benar datar. “Saya masih punya akses ke dashboard. Saya lihat berapa akun yang overdue di atas sembilan puluh hari. Berapa yang udah masuk ke tim penagihan pihak ketiga.”
“Mas—“
“Empat puluh satu ribu, Ran.”
Aku merasakan sesuatu yang dingin di seluruh tubuhku.
“Empat puluh satu ribu akun.” Dia menatap tangannya sendiri di kayu meja. “Dan saya duduk di apartemen jam empat pagi dan saya ngitung berapa dari empat puluh satu ribu itu yang bakal—“
Dia berhenti.
“Saya berhenti di angka itu,” katanya. “Saya nggak sanggup ngitung yang berikutnya.”
“Terus saya jalan,” lanjutnya.
“Ke mana?”
“Nggak ke mana-mana. Saya jalan keluar apartemen jam lima pagi dan saya jalan terus.” Dia mengangkat bahu. “Empat jam. Sampai kaki saya nggak bisa.”
“Terus?”
“Terus saya sampai di suatu tempat. Gang. Ada warung yang lagi dijual, ada tulisan ‘dikontrakkan’ di kaca.” Dia memandangi ruangan di sekelilingnya. “Dan saya berdiri di depannya, dan saya mikir satu hal.”
Aku menunggu.
“Saya mikir: kalau saya buka warung di sini, saya bisa ngasih makan berapa orang sehari.”
Warung itu sunyi.
“Saya ngitung, Ran.” Suaranya pecah. “Saya berdiri di depan ruko kosong jam sembilan pagi dan saya ngitung berapa piring nasi yang bisa saya kasih per hari, dan saya bandingin sama empat puluh satu ribu.”
“Mas—“
“Dan angkanya nggak masuk,” katanya.
Dan dia menatapku.
“Angkanya nggak akan pernah masuk. Saya udah tau itu dari hari pertama. Saya udah tau bahwa apa pun yang saya lakuin di sini nggak bakal cukup.”
Aku tidak bisa bicara.
“Tapi saya tetep buka,” katanya. “Karena kalau saya nggak buka, saya harus mikirin angka yang satunya.”
Aku berjalan mengelilingi meja panjang.
Aku tidak memutuskannya. Kakiku yang memutuskan, lagi.
Dan aku berdiri di depannya, setengah meter, dan aku mengangkat kepalaku dan menatap laki-laki itu.
“Mas.”
“Ya.”
“Kenapa kamu nggak cerita ini empat bulan lalu?”
Dan Bimo berkata:
“Karena saya nggak mau kamu ngeliat saya kayak gini.”
“Kayak apa?”
Dan dia menatapku.
“Kayak orang yang ngitung nyawa,” katanya.
Aku tidak memeluknya.
Aku ingin. Aku ingin sekali. Tanganku sudah setengah terangkat.
Dan aku menahannya.
Karena ada sesuatu yang belum selesai, dan aku tahu bahwa kalau aku memeluknya sekarang, aku akan tinggal, dan kalau aku tinggal sekarang aku akan tinggal tanpa menyelesaikannya, dan sesuatu itu akan duduk di antara kami selama bertahun-tahun.
Jadi aku menurunkan tanganku.
“Mas.”
“Ya.”
“Aku belum bisa.”
Dan aku melihat sesuatu padam di wajahnya, dan aku benci diriku sendiri.
“Iya,” katanya.
“Bukan karena aku benci kamu.”
“Iya.”
“Aku nggak benci kamu, Mas. Sumpah. Aku udah nyoba tiga belas hari dan aku nggak bisa.”
Dan dia tersenyum — sedikit, jelek, tidak sampai ke matanya.
“Iya,” katanya. “Saya tau.”
Aku mengambil tas kainku yang sudah kosong.
Dan aku berjalan ke pintu.
Dan aku berhenti.
Aku berbalik, dan barang-barang itu masih di meja panjang: jaket, kaus, buku tulis bersampul biru, dan sikat gigi merah muda.
“Mas.”
“Ya.”
“Jangan dibuang.”
Bimo memandangi meja itu.
“Yang mana?”
Dan aku berkata:
“Semuanya.”
Dan aku keluar.
Aku berjalan ke ujung gang.
Dan aku berhenti di bawah tiang listrik, dan aku menoleh ke belakang, dan aku bisa melihat pintu warung itu masih terbuka.
Dan aku bisa melihat sosoknya di dalam, berdiri di depan meja panjang, tidak bergerak.
Aku berdiri di situ selama mungkin lima menit.
Dan aku melihat dia mengangkat sesuatu dari meja.
Jaket itu.
Dan aku melihat laki-laki itu berdiri di tengah warungnya sendiri jam dua belas malam, memegang jaket abu-abu dengan dua tangan.
Dan menekannya ke wajahnya.
Dan berdiri seperti itu selama waktu yang lama.
Aku pulang lima blok.
Dan aku menelepon Yuni jam satu pagi, dan dia mengangkat di dering kedua, dan hal pertama yang kukatakan adalah:
“Yun.”
“Ran? Lo di mana?”
“Yun, aku salah.”
“Salah apa?”
Dan aku berdiri di trotoar jam satu pagi dengan tas kain kosong di tangan.
“Aku ngitung dia,” kataku. “Tiga belas hari aku ngitung dia.”
“Terus?”
“Terus aku baru sadar aku ngitung soal yang salah.”
Yuni diam.
“Soal yang bener apa, Ran?”
Dan aku berkata:
“Bukan ‘dia salah apa nggak’.”
Aku menghapus wajahku.
“Tapi ‘siapa yang bakal ngangkat dia kalau bukan aku’.”
Bersambung ke Bab 42 — “Yang Aku Tahu”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan reading
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi